
Monster itu berbeda dengan monster lain. Monster itu mempunyai dua kepala, yang kiri seperti kambing dengan gigi yang runcing sedangkan yang kanan berupa singa seperti tubuhnya. Ekornya berupa ular.
Ketiga kandidat utama harus menyatukan kekuatan untuk melawan monster ini. Sedangkan aku sendirian... Tidak, aku tidak boleh menyerah. Nyawa warga istana ada ditanganku. Semuanya salahku karena mereka tidak datang karena kuusir.
Julliane menciptakan tali untuk membungkam kedua kepala monster itu. Monster itu menggeliat. Ekornya menyerang Julliane. Carlos yang sudah bangkit menebas ekor itu. Pelindung air diciptakan melindungi wajah Julliane dari cipratan darah. Ellaine pun berlindung di belakang kakaknya dengan terpincang-pincang.
"Jangan jauh-jauh dariku, Elle," ujar Julliane.
"Baik, Kak Juli."
Tali di kepala singa terlepas. Dengan tatapan buas monster itu menerjang ke arah mereka. Julliane membuat pusaran air yang menyayat tubuh monster. Carlos terus berjaga dengan menghunuskan pedangnya.
Pusaran air menghilang menyisakan tubuh monster yang tergeletak. Julliane bernapas lega, sedangkan Ellaine tersujud lemas. Akhirnya mereka selamat.
"Kak Juli sangat hebat, terima kasih karena telah menyelamatkanku."
"Bukan apa-apa, Elle. Sekarang pergilah ke istana. Tempat ini tidak aman."
Ellaine mengangguk. Carlos menggendong tuannya kembali. Tak disangka-sangka monster itu belum mati. Cakar sudah siap menerkam mereka. Secara refleks, Julliane menciptakan pelindung air.
Namun, cakar itu tidak mengenai mereka. Monster itu menggeram kesakitan. Pandangan monster itu teralihkan pada orang yang menyerangnya. Seorang lelaki menghunuskan pedangnya tanpa takut. Matanya sangat tajam, meski tubuhnya dipenuhi dengan luka. Bekas luka di wajahnya mulai terlihat.
Ian?
Ian melirik Julliane lalu berlari menjauhkan monster itu dari kedua putri itu. Julliane berpaling pada Carlos dan Ellaine.
"Cepat ke istana, sebelum monster menyerang lagi."
Carlos mengangguk lantas berlari dengan was-was. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar agar kelengahannya tadi tidak terulang kembali. Begitu sampai di istana Carlos menurunkan Ellaine.
"Bantulah Kak Juli, Carlos."
Carlos menggeleng pelan. "Keselamatan Tuan Putri lebih penting."
"Apa kamu menentang perintahku Carlos?" kata Ellaine tajam.
Carlos memejamkan mata sambil menggertakkan giginya. Ia menatap Ellaine dengan sendu.
"Cepatlah, Carlos," perintah Ellaine.
__ADS_1
Carlos bergeming, ia bimbang mana yang harus dipilih. Keselamatan tuannya atau perintah tuannya.
Terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. "Kak Elle, di mana Kak Juli?"
Edgar daritadi membawa orang-orang untuk berlindung istana sambil mencari-cari kakak-kakaknya. Ia bersyukur bisa bertemu salah satu dari mereka. Setidaknya kakaknya selamat.
"Kak Juli sedang bertarung dengan monster. Bantulah dia, Ed," pinta Ellaine sambil memegang tangan Edgar.
Edgar mengangguk. "Baik, Kak Elle jaga diri baik-baik. Kamu lindungilah Kak Elle." Edgar menatap Carlos sebentar lalu segera mencari Julliane.
"Baik, Pangeran."
Ellaine berpaling ke arah Carlos. Ia kesal karena Carlos lebih menuruti Edgar.
"Kenapa kamu tidak menuruti perintahku, Carlos?" tanya Ellaine geram.
"Maafkan saya, Tuan Putri. Hidup saya adalah milik Tuan Putri. Perintah yang diberikan pada saya adalah melindungi Tuan Putri. Saya siap menerima hukuman apa pun asalkan Anda selamat." Carlos menatap Ellaine lekat-lekat.
Semua kesungguhan Carlos mencapai hati Ellaine. Kekesalannya mulai luntur. Ia memang tidak salah memilih pengawal yang baru. Angan-angan untuk hidup bersama Carlos mulai merasuki dirinya, tetapi segera dibuang jauh-jauh. Ia sudah bertunangan.
Ellaine menangkupkan kedua tangan. Ia berdoa agar kakak dan adiknya kembali dengan selamat.
***
Pandangan Ian mulai kabur. Memanfaatkan kelengahan Ian, monster besar itu menyerang. Ian menghindarinya tetapi cakar monster berhasil menggores pipinya sedikit.
Monster-monster kecil mulai menerjangnya, Ian menghindar dan menyerang balik mereka. Napasnya terengah-engah. Ia kesulitan mempertahankan kesadarannya.
Mulut monster besar itu mendekati Ian. Tak mampu bergerak lagi, Ian memasrahkan nyawanya.
Maafkan aku, Ayah, Ibu, sepertinya aku tidak bisa menjadi Raja. Maafkan aku Juli, tindakanku waktu itu sangat bodoh.
Tubuh monster besar itu terhenti. Keempat kakinya terikat. Kedua kepalanya meraung-raung. Monster besar itu terangkat ke udara diselimuti oleh gelembung air.
Julliane menciptakan arus dalam gelembung berusaha meremukkan tubuh monster besar itu. Tak ingin pemimpin mereka mati, monster-monster kecil menyerang Julliane. Julliane menghempaskan pengganggu kecil. Ian menodongkan pedangnya pada monster-monster itu sambil melindungi Julliane.
Tak ingin berlama-lama lagi, Julliane mengumpulkan kekuatannya menghancurkan tubuh monster besar. Para pengikut monster besar itu mulai gemetaran. Julliane memanfaatkan ketakutan monster-monster itu dengan menghabis mereka.
Mata Jullaine mencari-cari monster yang tersisa. Tidak ada, semuanya telah mati. Julliane menjatuhkan dirinya untuk beristirahat. Ian pun mengikutinya. Suara helaan napas lega terdengar. Mereka berdua pun tertawa.
__ADS_1
"Kenapa kamu ke sini Ian, bukannya tidak ingin bertemu denganku lagi?" goda Julliane sambil menolehkan kepala pada Ian.
"Aku khawatir padamu. Dan lupakanlah pertengkaran kita waktu itu." Ian memalingkan wajahnya untuk melihat Julliane.
Julliane bangkit. Tangannya menangkup wajah Ian sambil mengarahkannya ke kiri dan ke kanan.
"Bagaimana ini? Wajah tampanmu terluka."
Ian mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku tampan?"
Wajah Julliane memerah, ia meletakkan kepala Ian lantas berbalik. "Kamu salah dengar, wajahmu jelek."
Ian terkekeh pelan. Ia bangkit sambil tersenyum. Julliane juga tertarik padanya hanya saja tidak ditunjukkan dengan jelas. Harapaannya untuk dimaafkan semakin bersinar terang.
"Apa kamu sudah memaafkanku, Juli?"
"Belum," jawab Julliane singkat.
"Aw..." ringis Ian.
Julliane segera berbalik lagi melihat Ian yang memegangi wajahnya. Ia menyingkirkan tangan Ian dari luka.
"Jangan disentuh nanti akan infeksi. Ini harus segera diobati agar tidak menimbulkan bekas luka. Jangan menggunakan riasan untuk menutupi luka yang masih terbuka, tunggu sembuh dulu," celoteh Julliane panjang lebar.
Ian tertawa sampai mengeluarkan air mata. Luka kecilnya tidak perlu dirisaukan sampai sejauh itu. Jullaine merasa kesal karena perhatiannya tidak diindahkan.
"Terserahmu saja, aku harus kembali."
Julliane membersihkan gaunnya, ia menuju istana. Ian pun menghentikan tawanya mengikuti di belakangnya.
"Kenapa kamu mengikutiku, Ian?" tanya Julliane masih melanjutkan langkahnya.
"Aku butuh istirahat. Aku tidak tidur karena terus memacu kuda sampai ke sini," jawab Ian jujur.
"Baiklah, akan kusiapkan kamar, setelah itu kamu bisa kembali," balas Julliane ketus.
Mereka sampai di depan istana. Beckett, Kyler dan Lionel berkumpul di sana bersama dengan Leroy dan Edgar. Seorang lelaki meringkuk penuh dengan luka. Ian terkesiap segera menghampiri lelaki itu tetapi dihalangi Kyler dan Lionel. Beckett menyeringai ke arah Ian.
__ADS_1
"Ada apa, Ayah?" tanya Julliane.
Leroy mengalihkan pandangan tajamnya pada Ian sambil mengepalkan tangan. "Penyerangan monster ini ulah Kerajaan Constain."