Putri Terkutuk Mencari Jodoh

Putri Terkutuk Mencari Jodoh
Bab 49 Pelarian


__ADS_3

Seluruh dunia Carlos serasa runtuh, tak ada tempat untuk berpijak. Ia tenggelam dalam lubang kegelapan. Begitu Ellaine mengambil keputusan sangat sulit diubah. Keputusan Raja pun tidak bisa diganggu gugat, menyakinkan orang keras kepala sepertinya percuma.


Julliane merasa iba pada lelaki yang tulus pada adiknya yang kini tersujud lemas dan kehilangan semua harapannya. Ada satu cara, tetapi Julliane enggan melakukannya, karena Ellaine harus pergi. Ia tidak ingin berpisah dengan adiknya. Namun, ia sama saja dengan Leroy bila mengurung Ellaine di istana tanpa kebebasan ini. Ini pertama kalinya Julliane merasa sesulit ini merelakan sesuatu.


"Aku akan membantumu. Tetapi berjanjilah padaku kalau kamu akan menjaga Ellaine dengan nyawamu," kata Julliane penuh penekanan, menatap mata Carlos lekat-lekat. 


Cahaya di mata Carlos kembali lagi. Ia mengangguk-angguk sambil terus berterima kasih. "Saya berjanji segenap jiwa dan raga saya hanya untuk Putri Ellaine."


Seandainya di novel Ellaine tahu bahwa Carlos mencintainya setulus ini, apakah dia akan menerimanya? Sudahlah yang terpenting adalah besok.


"Datanglah ke istana besok malam. Aku akan membereskan pengawal. "


Julliane menuturkan seluruh rencananya pada Carlos. Penyelamatan Ellaine harus dilakukan meski orang yang diselamatkan tidak mau diselamatkan.


***


Malam hari besoknya.


Penjaga gerbang istana tergeletak di tanah, sesuai janji Julliane. Carlos melewati mereka tanpa memedulikan rekan seperjuangannya dulu, mereka sama sekali tidak dekat. Lebih tepatnya Carlos tidak dekat dengan pengawal mana pun karena tidak cocok dengan sifat mereka yang bermalas-malasan, tidak sesuai dengan kesatria seharusnya. Ia terus bertahan demi menjadi pengawal pribadi Ellaine, hanya itu tujuannya di istana ini.


Tujuannya berubah, ia akan membawa paksa Ellaine dari istana ini. Carlos menapak di bangunan istana utama. Julliane telah menunggu di ruang tengah, memastikan tidak ada yang mengetahui tindakan mencurigakan mereka. 


"Cepatlah, sebelum ada yang bangun," perintah Julliane.


"Baik, Putri Julliane." Carlos bergegas menuju kamar Ellaine. 


Lorong menuju kamar Ellaine sangat sepi, hanya terdengar suara kaki Carlos yang bergemuruh. Rasa takut menyelimuti Carlos tetapi mudah ditakhlukkan demi orang terkasihnya. Tanpa ragu-ragu ia mendobrak kamar Ellaine.


Ellaine berjengit di kasurnya, menoleh ke arah Carlos yang mengatur napas. Tak ada tanda-tanda Beckett, karena pertunangan Ellaine dan Beckett sudah diumumkan secara resmi jadi tak perlu bertemu diam-diam.


"Kenapa kamu ke sini Carlos?" tanya Ellaine kebingungan.


Carlos meraih tangan Ellaine dengan lembut berusaha tidak melukainya. "Saya akan membawa Tuan Putri dari sini."


Ellaine menepis tangan Carlos, ia pun menjauhinya karena dirinya sudah terikat pada orang lain. "Apa kamu tahu tindakanmu ini akan merugikan dirimu sendiri, Carlos? Aku sudah punya tunangan."

__ADS_1


"Tuan Putri tidak mencintainya."


"Ini bukan masalah cinta, Carlos."


"Setidaknya pikirkanlah perasaan Tuan Putri sendiri, apakah Tuan Putri akan bahagia bersamanya?" Carlos meninggikan suaranya, ia tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menyakinkan Ellaine. Menyeret Ellaine berada di pilihan terakhir, ia tidak ingin melukai orang terkasihnya.


"Aku tidak akan bahagia, tetapi semuanya akan bahagia." Ellaine ikut meninggikan suara. Ia sudah tahu, ia tidak ingin diingatkan, karena bila ingat ia akan berteriak minta pertolongan.


"Tetapi, saya tidak bahagia Tuan Putri," lirih Carlos. Matanya berkaca-kaca.


Wajah Ellaine menegang. Ia memejamkan mata, tak ingin melihat Carlos sesakit itu. Bibirnya digigit hingga berdarah.


Carlos menyeka darah yang mengalir di dagu Ellaine. Tubuh Ellaine berjengit, sontak ia membuka matanya. Matanya beradu dengan mata hijau Carlos menyiratkan kesedihan.


"Saya mencintai Tuan Putri." aku Carlos.


Ellaine tak mampu berkata-kata. Ucapan yang selalu didambakannya sekarang terucap dari bibir Carlos. Seandainya keadaan tidak begini, seandainya dirinya dan Carlos bukanlah majikan dan bawahan ia akan senang mendengar pernyataan cinta itu. Tidak, Ellaine pun senang, sangat senang hanya saja otaknya terus menentang.


"Bila lelaki lain bisa membuat Tuan Putri bahagia, saya rela. Tetapi masa depan Tuan Putri bersama Pangeran Beckett hanya ada kesedihan di dalamnya. Saya tidak ingin melihat Tuan Putri menderita."


"Jika Tuan Putri tidak ikut, saya tetap akan di sini. Putri Julliane juga sudah bersusah payah membantu saya. Saya tidak akan menyia-nyiakannya."


'Bahkan Kak Juli, juga...' batin Ellaine.


"Saya akan melayani Tuan Putri selama di desa. Membuatkan makanan, membersihkan kamar, menyiapkan segala sesuatu yang Tuan Putri butuhkan."


"..."


"Jika itu belum cukup, saya akan membelikan perhiasan dan gaun mewah.  Sebisa mungkin saya akan mencari uang agar Tuan Putri bisa hidup seperti di istana. Jadi tolong jangan buang kebahagiaan, Tuan Putri," pinta Carlos dengan putus asa. 


"Carlos..." Ellaine mendekatkan tangannya ke wajah Carlos.


Hati Ellaine menang. Bibirnya melekat pada bibir Carlos. Kecupan itu sangat singkat. Tahu-tahu Ellaine sudah melepasnya. Tak tahu apa yang terjadi, mata Carlos terbelalak. Pikirannya kosong. Tubuhnya mematung. Ia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ellaine menciumnya, cintanya yang bertepuk sebelah tangan, telah terbalas.


Air mata mengalir di pipi Ellaine. Bukan karena kesedihan, tetapi karena kebahagiaan. Senyum tercerah yang bisa disunggingkan terpampang di bibirnya. Pengorbanan Carlos untuknya tidak akan ia sia-siakan. Ellaine berjanji.

__ADS_1


Ellaine meraih kepala Carlos menyentuhkan dahi mereka, merasakan napas Carlos yang sama memburu dengan dirinya. 


"Aku juga mencintaimu Carlos. Panggil namaku."


"Elle..."


Tak mampu menahan kebahagiaannya lagi, Carlos mendekatkan bibirnya ke Ellaine. Dengan lembut ia mencium tuannya seolah-olah terbuat dari kaca yang mudah pecah. Memeluk pinggang Ellaine tak ingin merelakannya pergi.


Air mata terus membanjiri wajah Ellaine, tetapi ia tidak ingin menyekanya. Semua perasaan yang selalu dipendamnya akan ia tunjukkan pada Carlos tanpa penghalang apa pun.


"Kenapa lama sekali?"


Julliane tiba di kamar Ellaine karena khawatir rencananya tidak berjalan lancar. Sontak ia berbalik dengan wajah yang memerah melihat dua sejoli yang bermesraan itu.


Carlos dan Ellaine pun malu terpergok. Mereka sampai melupakan alasan kedatangan Carlos kemari. Ellaine segera menyeka air matanya.


"Maaf, aku mengganggu kalian," kata Julliane menjauhi kamar Ellaine.


"Ti-tidak, ki-kita harus cepat keluar," balas Ellaine yang tergagap karena gugup. 


Carlos pun mengangguk menggandeng tangan Ellaine. Tak ada lagi keraguan di hati Ellaine, ia sudah memilih hidup bersama Carlos.


Di ruang tengah, Julliane menutup wajahnya dengan kedua tangan. Padahal bukan dirinya yang melakukan hal memalukan, lalu ia pun pernah melihat orang berciuman di film dan pesta pernikahan, di novel romansa juga tidak luput dari adegan seperti itu, tetapi kenapa Julliane malah merasa malu? 


Tidak kusangka, adikku bisa seperti itu juga. Padahal umurnya baru 17 tahun lewat 1 hari. Dasar anak-anak jaman sekarang. Bukan, anak-anak jaman kerajaan.


Ellaine dan Carlos menuruni tangga di ruang tengah menghampiri Julliane. Ellaine tak tahu harus berkata apa, jadi Carlos-lah yang membuka suara.


"Kami pergi dulu, Putri Julliane."


"Cepat pergi dan bermesraan saja di rumah," kata Julliane sambil mengibas-ibaskan salah satu tangannya, dan tangan lain masih memegangi wajahnya.


Wajah Ellaine semakin memerah sampai ke lehernya. Tak mau lama-lama berada di sini, Carlos pun menariknya keluar dari istana. Semua harapan mereka sirna begitu melihat dua orang berdiri di depan istana utama.


Halangan terburuk sudah siap menghadang. Leroy dan Ophelia siap mengurung Ellaine kembali.

__ADS_1


__ADS_2