
Ulang tahun Rara
Happy Reading....😊😊😊
***
Happy Birthday to you.....
Happy Birthday to you.....
Happy Birthday.... Happy Birthday....
Happy Birthday Rara...."ucap kami serempak menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Kami pun serempak menyambut rara yang baru saja pulang dari sekolah, di jemput oleh mang uus tukang ojeg langganan kami.
Hari ini adalah hari ulang tahun putri kami RARA KUMALASARI yang ke 5 tahun. kini putri kecil kami sudah bertambah usianya 1 tahun. sungguh kebahagiaan yang tak pernah ku sangka dan ku bayangkan sebelumnya. semoga aku selalu bisa merayakan ulang tahun rara selanjutnya, hingga dia menginjak remaja.
Perlahan air mata ku meluruh, melihat senyum simpul yang tertata rapi dari wajah rara. kebahagiaan yang aku rasakan setiap tahunnya, tak akan bisa di gantikan oleh apapun. semoga rara selalu menjadi putri kecilku yang selalu ceria dan pandai seperti sekarang ini.
"Selamat ulang tahun sayangnya bunda. semoga apa yang rara cita-cita kan selama ini, akan jadi kenyataan." Ucap istri ku sambil mencium kening rara dan di susul dengan ku.
"Matacih ayah, matacih bunda! yaya ceneng banet." kata rara sumringah.
"Ayah, ada kado buat rara." kata ku sambil menyodorkan sebuah kotak bergambar boneka.
"Tara! Ini kado spesial dari ayah, jangan di buka dulu ya sayang?" ujarku seraya menciumnya.
"Bunda, juga punya kado buat rara, ini dia!" kata istri ku sambil menyodor kan sebuah kotak bergambar mini mouse berwarna merah muda.
"Wahh!" seru rara kagum khas anak anak.
"Ya udah tiup lilin nya dulu yu." ajak istri ku.
Setelah rara meniup lilin, kini rara pun mulai memotong kue ulang tahun nya.
__ADS_1
"Ayo, potongan pertama mau kasih ke siapa?kasih ke ayah atau ke bunda." kata istri ku.
"Bunda dulu, baru ayah!" kata rara sambil menyuapi kue ulang tahunnya kemulut istri ku, dan bergantian dengan ku.
Kami bertiga pun banyak melakukan selfie foto bersama, hari ini akan menjadi sebuah kenang kenangan terindah buat kami bertiga.
"Ayo yah, Ra. kita ambil foto untuk yang terakhir kalinya yu." cetus istriku sambil berkaca-kaca dan mengarah kan kamera gudget nya.
"Ayo! bisa." Ucap ku tanpa mencerna perkataan istriku.
*******
Siang telah berlalu dan berganti dengan malam, kini terdengar pentungan dan teriakan warga. ternyata warga mulai meronda lagi, padahal selama satu minggu ini keadaan sudah aman. namun pada saat dua hari yang lalu tidak melakukan ronda, ternyata kejadian kejam dan memprihatinkan itu kini terulang kembali.
Saat aku hendak memejam kan mata, tiba-tiba terdengar suara isak tangis perempuan.
Hiks Hiks Hiks Hiks
"Kok, seperti ada suara perempuan menangis? bukan nya kamaya lagi ada di kamar rara ya, sedang menidur kan rara di sana."batinku.
"Kamaya, kamu lagi ngapain disitu? ayok tidur sini udah malem." terlihat jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah satu malam.
"Kamaya, sayang, bunda. kamu ngapain nangis disitu?" tegur ku kembali sambil mendekati perempuan itu, namun dia tetap tak bergeming.
Kulihat dari perawakan nya, sepertinya bukan kamaya. karena kamaya badan nya kurus sementara perempuan ini terlihat agak gemuk.
Perlahan perempuan itu bangkit dan berdiri.
"Kamaya!" ucapku lagi memanggil perempuan itu walau lutut ku sudah sangat gemetar.
Perempuan itu perlahan membalikan tubuhnya yang sedang membelakangi ku. betapa terkejut dan terperanjat nya aku. sosok itu terlihat sangat menyeram kan, matanya melotot wajah nya juga pucat. serta banyak darah yang keluar dari mata dan hidung nya, lebih mengerikan nya lagi perempuan itu seperti sedang hamil.
"Bu, Kinar!." Gumam ku dalam hati.
Rasanya saat itu aku ingin berteriak kencng, namun lidah ku kelu dan tenggorokan ku rasa tercekat. dada ku begitu sesak, serta suara ku serasa berada di tenggorokan. jantung ku mulai berdetak dengan begitu cepat, Ingin rasanya aku membaca ayat suci Al-Qur'an, namun suara ku tak bisa keluar sedikit pun pada saat itu.
__ADS_1
Perlahan Bu Kinar, menunjuk-nunjuk ke arah ku "kembalikan anak ku!" teriak bu kinar.
Bu kinar pun memegangi perut nya yang buncit itu, perlahan di tekan-tekannya dengan begitu kuat perutnya. sambil mengeluarkan suara kesakitan yang amat melengking, suara itu membuat telinga ku sakit dan kepala ku pusing.
Namun tubuh ku kaku dan mematung di tempat ku berdiri saat ini. aku tak bisa lari atau pun berteriak. terlihat di bagian ************ bu kinar, keluar darah yang merembes banyak, lalu tak lama terdengar suara tangisan bayi.
Bayi itu pun langsung di gendong oleh bu kinar, namun suara bayi itu perlahan pun menghilang. lalu tubuh bayi bu kinar, mulai berubah menjadi butiran daging yang sudah di cincang.
Kini hanya terdengar suara isak tangis bu kinar yang lirih dan menyayat hati. sambil menimang nimang potongan daging bayi tadi. melihat pemandangan itu rasanya aku begitu terharu, namun sekaligus membuat perutku terasa mual dan ingin muntah saja saat itu juga.
Bu kinar perlahan mendekati ku dan mencekik leher ku. "Kembalikan anakku!" sambil dia menyembur kan cairan darah yang berbau busuk kearah wajah ku. "Tollooooongg." entah mengapa rasanya suara ku sudah bisa keluar dan terdengar sangat lantang.
"Ayah! ayah, bangun." ujar kamaya sambil menepuk-nepuk pipi ku pelan.
Aku pun tersadar dengan nafas yang berat dan juga tersengal sengal. keringat dingin yang bercucuran pun mulai membasahi tubuh ku, ternyata itu semua cuma mimpi. tapi mengapa mimpi itu ko terasa sangat nyata sekali ya?
"Ayah, kenapa? kok teriak-teriak minta tolong begitu?" tanya istri ku sembari memberikan aku segelas air putih.
"A.. ayah tadi itu mimpi buruk Bun." jawab ku dengan nafas yang memburu.
"Emangnya mimpi apa yah?" tanya istriku.
Lebih baik nanti saja aku cerita kan semua ini kepada kamaya, sekarang waktu nya gak tepat. kenapa ya rasanya akhir-akhir ini, aku selalu di teror terus- menerus belakangan ini.
"Bukan apa-apa bun, ayah cuma mimpi di kejar kejar sama banci Bun." Hehe" kata ku ngasal.
"Yang bener yah?" tanya istriku menyelidik.
"Iya Bun, ayok kita tidur lagi." ajak ku.
Istriku pun hanya mengangguk dan langsung merebah kan tubuh nya di samping ku, sementara aku masih beradu dengan otak ku. memikirkan hal-hal yang terasa ganjil dan tak masuk akal belakangan ini, sungguh ini semua membuat ku makin tambah setres saja.
*****
Bersambung......
__ADS_1