
Lembah Kabut
❄️
❄️
❄️
"Lepasin.... Lepasin aku dasar orang jahat! kembalikan aku ke rumah ka Rara." kata madi sambil memukul-mukul tubuh barda saat ia terbangun dari pingsannya akibat di bius.
Saat itu barda tengah menggendong madi yang baru saja ia culik dari rumah Radit, sepertinya barda akan membawa madi ke sarang kuyang. dimana tempat istana NYI Lasmini berdiri, istana kuyang itu berada di LEMBAH KABUT.
Terlihat barda yang begitu sangat kewalahan, karena ia berjalan sambil menggendong madi yang saat itu selalu saja memberontak sambil memukuli dirinya. ditambah ia harus menyusuri lembah yang pengap, dingin dan jalanan nya susah dilihat, akibat tertupi oleh kabut tebal.
"Diam kau bocah sialan! kalau kau tak mau diam, aku akan berikan kamu ke makhluk makhluk itu, agar jadi santapan mereka."gertak barda sembari menunjukan sekelompok hewan bertubuh manusia namun berkepala serigala.
"Aaaakkk....!! jangan pak, madi takut. madi gak mau kalau harus jadi santapan mereka." madi berteriak, memohon dan menangis, tapi kedua matanya ia tutupi dengan kedua tangannya.
Saat itu madi melihat ada sekelompok makhluk-makhluk berwujud aneh dan menyeramkan, mereka tengah memangsa tubuh seorang anak kecil seumuran denganya. makanya tadi madi menjerit dan ketakutan.
"Makanya kau diam saja dan tidak usah banyak bicara, apalagi menangis seperti itu. telingaku ini akan semakin tuli kalau kau berteriak dan menangis disana." umpat barda dengan ketus.
Akhirnya madi pun hanya bisa diam dan membisu, sambil ia menahan tangisnya karena saat itu ia benar-benar sangat ketakutan sekali.
****
Malam harinya Rara dan Radit, beserta kedua sosok arwah perempuan hebat dan pemberani. yaitu saras dan juga amoy, mereka semua kini tengah bersiap-siap hendak pergi ke lembah kabut untuk segera menolong madi, sekaligus mereka ingin menggagalkan ritual RITUPUSEM yang akan di laksanakan oleh NYI Lasmini tepat di malam purnama kesembilan nanti.
Namun berbeda dengan kinan, malam ini ia tidak bisa ikut bersama Radit dan rara. dikarenakan mendadak tubuh kinan tidak enak badan dan tiba-tiba ia terasa panas dingin. malam ini kinan pun hanya bisa terbaring lemah di atas ranjangnya, dengan diselimuti oleh selimut yang tebal sampai ke lehernya.
"Kinan! kamu kenapa? kamu sakit." tanya Radit menempelkan telapak tangannya di dahi kinan.
__ADS_1
"Iya pak Radit, tiba-tiba saja saya merasa gak enak badan begini, sekujur tubuh saya juga terasa panas dingin. sepertinya malam ini saya juga tidak bisa ikut bersama kalian pergi ke lembah kabut." kata kinan dengan gigi yang bergetar dan mata yang memerah.
"Saya antar kamu ke rumah sakit ya, takutnya penyakit kamu tambah parah." pinta Radit yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan kinan.
"Tidak usah pak. lagi pula malam ini bapak dan Rara harus segera pergi ke lembah kabut, untuk menyelamatkan madi. kalau sedikit saja terlambat, madi bisa celaka pak."tolak kinan.
"Tapi saya khawatir meninggalkan kamu sendirian seperti ini kinan."elak Radit.
"Bapak gak usah khawatir seperti itu dong. lagian di rumah ini saya kan gak sendirian pak, ada mbak emi juga disini. terus kalau misalnya ada apa-apa, saya bisa minta tolong sama dia. nanti saya juga tinggal minum obat dan istirahat, pasti besok pagi udah sembuh."kata kinan sambil menggenggam tangan Radit.
Akhirnya dengan rasa terpaksa dan berat hati, Radit pun meninggalkan kinan berdua saja dengan mbak emi di rumahnya. soalnya ia tidak punya banyak waktu lagi, karena harus segera menolong madi yang akan di jadikan tumbal purnama kesembilan oleh NYI Lasmini. Radit juga sekalian ingin menghabisi NYI Lasmini, agar ia bisa membebaskan kamaya dari jerat dan siksanya si ratu kuyang itu selama ini.
"Gimana ayah, udah siap belom? kalau udah siap hayo kita let's go, soalnya waktu kita gak banyak." kata Rara saat menghampiri ayahnya yang sedang berada di dalam kamar kinan.
"Kinan, saya berangkat dulu ya. kamu hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa panggil mbak emi." pamit Radit sambil mengusap rambut kinan.
"Tante, Rara juga pamit ya. ingat! kalau Rara pulang nanti tante harus udah sembuh." timpal Rara sambil mencium punggung tangan kinan.
Radit dan Rara pun segera keluar dari kamar kinan dan bersiap-siap menuju mobil. lalu mereka segera meluncur ke kota tranggek, yang terletak di ujung kulon hutan antasari. soalnya di tengah-tengah hutan antasari itu, dulunya terdapat sebuah desa kecil yang asri. namun ada sebuah peristiwa menyeramkan, akhirnya desa itu malah dipenuhi aliran air hitam pekat dengan kabut yang cukup tebal. makanya desa itu dinamakan lembah kabut.
"Ra, ko aku ngerasa ada yang aneh deh sama tante kamu itu. kaya beda gitu auranya."ujar amoy sedikit berbisik di telinga Rara.
"Aneh gimana maksudnya moy? perasaan aku gak ada yang aneh deh. cuma tante kinan lagi sakit aja, makanya kelihatan beda." balas Rara langsung duduk di samping Radit.
"Perasaan aku juga sama kaya si amoy, ngerasa ada yang aneh gitu Ra sama tante kinan. tapi ya sudahlah kita gak usah bahas itu dulu. yang paling terpenting itu, kita harus fokus sama rencana dan tujuan awal kita." timpal saras.
Posisinya rara sudah naik ke dalam mobilnya. ia duduk di samping ayahnya, sedangkan saras dan amoy duduk di kursi belakang. Rara pun agak sedikit meresapi ucapan kedua sosok arwah temannya tadi, namun Rara segera menghalaunya. soalnya benar apa kata saras mereka harus fokus sama rencana dan tujuan awal mereka datang ke lembah kabut. lagi pula Rara juga ingin segera membebaskan ibunya.
****
Tepat jam 12 malam, kinan yang saat itu tengah terbaring dan tertidur pulas di atas ranjangnya. tiba-tiba saja ia terbangun karena merasakan hawa panas membakar di sekitaran lehernya, serta lehernya itu seperti terasa tengah diiris-iris oleh benda yang sangat tajam sekali. kinan juga merasakan sakit yang tidak terkira di lehernya, ia juga merasakan seolah kepalanya itu berasa ingin terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Sehingga membuat dirinya menjadi kacau, kinan pun berteriak-teriak dan mengacak-acak seluruh isi ruangan kamarnya. karena suara gaduh yang dibuat oleh kinan, mbak emi yang saat itu sudah tertidur pun langsung terbangun. mbak emi pun langsung bangkit dan segera berlari mengecek ke dalam kamar kinan.
"Bu, bu kinan kenapa?" tanya mbak emi agak sedikit takut saat masuk ke kamar kinan.
Posisi kinan saat mbak emi masuk ke dalam kamarnya, kinan kinj tengah berdiri di depan jendela sembari membelakangi mbak emi. kondisi tubuhnya juga sudah semrawut, baju yang ia kenakan banyak sekali bercak darah, serta rambutnya juga terlihat acak-acakan.
"Cepat pergi dari sini mbak! kalau bisa mbak pergilah sejauh mungkin dan jangan kembali lagi kesini." kata kinan dengan suara yang terisak masih tetap membelakangi mbak emi, kinan juga memberikan sebuah amplop coklat berisikan sejumlah uang di dalamnya.
"Tapi kenapa saya harus pergi bu, nanti kalau pak Radit nyariin saya gimana?" sahut mbak emi masih berdiri di tempatnya.
"Kamu tidak usah banyak tanya, cepatlah pergi dari rumah ini!" kinan berteriak sambil melemparkan barang-barang ke arah mbak emi.
"Saya gak bisa pergi dari sini bu, saya khawatir sama keadaan bu kinan. sepertinya leher ibu terluka, saya bantu obati ya bu." ujar mbak emi memberanikan mendekat ke arah kinan.
"Sudah saya bilang kamu harus pergiiii!!!!!" teriak kinan lalu berbalik ke arah mbak emi.
"Aaaaakkkkk.......!!!!!!
Jangan lupa Vote yang buanyak, like serta komentarnya jangan ketinggalan, favorit juga.
Serta kepoin juga novel othor yang lainnya :
Dendam Arwah Anjani
HORROR STORIES
Kiriman Sang Mantan
Kisah Si SARMAN
__ADS_1