Rahasia Istriku Sayang (Ternyata Kuyang)

Rahasia Istriku Sayang (Ternyata Kuyang)
Akhir yang Menyedihkan 2


__ADS_3

Akhir Yang Menyedihkan 2


Karena tak kuasa melihatnya, aku pun mencari dompet dan kunci mobilku lalu ku masukkan kedalam saku celana ku. karena aku tak akan mampu jika harus melihat kamaya menderita seperti itu, lebih baik aku pergi dan menjauhi pemandangan yang teramat kejam ini.


TUNG..! TUNG..! TUNG..!


Terdengar suara keras pentungan dari arah luar rumah ku, pak dodo dan pak ulus pun langsung membereskan tubuh kamaya, lalu memasukan nya kembali kedalam lemari pakaian ku.


"KUYANG..! KUYANG..! itu disana kuyangnya!" terdengar teriakan para warga dengan begitu nyaring dan keras, pak dodo dan pak ulus pun segera bersembunyi di bawah kolong ranjang ku, sementara aku masuk kembali kedalam selimut dan berpura-pura sedang tertidur.


Tak berselang lama dari teriakan para warga tadi, terlihat sekelebat bayangan yang masuk dari arah jendela kamar ku. aku berusaha agar tetap terdiam, walau air mata ku kini terus saja berjatuhan membasahi kedua pipiku.


Kini terlihat kamaya yang hanya kepalanya saja mulai masuk lagi kedalam lemari, tak berapa lama terdengar suara lengkingan yang amat keras bahkan memekakan gendang telinga.


Aaaaakkkk.... Aaaaaaakkkk


Aku tak kuasa mendengar jeritan kamaya yang amat memilukan itu, lantas aku pun bergegas bangun dan membuka pintu lemari pakaian ku. terlihat banyak sekali darah segar mengalir dari dalam lemari, kamaya ternyata telah memaksa kan kepala dan organ tubuhnya masuk kedalam badan nya yang sudah terisi pecahan beling.


Namun usahanya itu sangatlah sia-sia, karena sudah banyak sekali pecahan beling di dalam badan kamaya. sehingga membuat hancur semua organ tubuh dalam kamaya.


Sementara itu darah terus saja keluar melalui leher kamaya, kepala dan badan yang tak bisa menyatu itu pun terus saja kamaya paksakan. mungkin semua organ dalam kamaya kini sudah hancur dan remuk, saat itu aku hanya bisa menangis sejadi jadinya.


"Pak radit! ayo kita segera keluar dari sini." ajak pak ulus seraya menarik tangan ku.


"Rara! iya, aku harus membawa rara juga keluar dari rumah ini." aku pun langsung berlari ke kamar rara, dengan langkah yang tertatih-tatih.


Ku kuat kan lutut ku yang mulai gemetaran ini, untuk menuju kamar rara.

__ADS_1


Di dalam kamar terlihat rara yang sedang pulas tertidur, sembari memeluk kotak hadiah dari kamaya. ku gendong rara, beserta kotak yang di peluk nya menuju keluar rumah. agar aku tak melihat sakaratul maut kamaya yang begitu sadis di depan mataku saat ini, aku juga ingin menenangkan otak ku sejenak walau tangisku sampai saat ini tak kunjung padam.


Ku keluar kan mobil dari dalam pagar rumah ku, lalu ku letakan rara di bangku belakang mobil, agar rara tidak terbangun. karena mendengar suara geger para warga di depan rumah ku, aku pun ingin kembali lagi masuk kedalam rumah, hanya ingin melihat keadaan kamaya disana.


"Kalian semua kejam! aku harus menyelamat kan istriku." bentak ku yang sudah tak bisa menahan emosiku lagi.


Namun kedua tangan ku di cekal oleh pak ulus dan pak dodo mereka menahan ku, terlihat pak Irfan memberikan kode ke beberapa warga. lalu para warga-warga itu pun melempari rumah ku dengan obor yang mereka bawa, hingga membuat rumah ku dan seisi nya di lahap api, beserta tubuh kamaya yang ada di dalam nya.


"Kamaya!" aku menangis, aku juga berteriak sekencang-kencangnya. dada ku pun terasa sesak sekali, aku juga sangat merasa emosi. aku tak menyangka, ternyata mereka sekejam ini dan dengan tega telah membakar rumah ku. terlihat senyum merekah di wajah pak irfan, sepertinya dia sangat puas telah membuat kamaya mati dengan cara mengenaskan.


Tanpa berusaha untuk memadam kan api yang sangat besar itu, mereka semua pun meninggal kan ku sendirian disana. rumah ku adalah rumah tunggal yang di pinggiran nya tanah lapang, jadi mereka tidak khawatir kalau api itu akan menyebar kerumah yang lainnya.


Saat itu aku hanya bisa jatuh tersungkur dan harus menerima kenyataan, kalau tubuh kamaya kini sudah habis di lahap api. kaki ku melangkah dengan gontai menuju ke mobil ku yang terparkir di sebrang jalan, ku peluk tubuh rara dengan sangat erat, dengan dada yang masih terasa begitu menyesakan.


"Ayah! kenapa ayah menangis? kok kita di mobil sih yah." tanya rara merasa heran.


"Terus bunda dimana yah?"tanya rara panik.


"Bunda! masih di dalam rumah, Ra." tangis ku pun pecah seketika melihat rara yang masih sangat membutuh kan ibunya.


"Bunda!"tangis rara pecah." ayah hayo kita selamatin bunda yah. walaupun bunda itu sekarang jahat, tapi rara tetap sayang sama bunda yah. ayah ayo buruan selamatin bunda yah." rara menangis meraung-raung memintaku agar segera menyelamatkan ibunya.


Lalu ku peluk saja erat tubuh rara, aku berusaha untuk menenangkan nya.


"Rara, yang sabar ya sayang, kita ikhlasin saja kepergian bunda. semoga bunda bisa tenang di alam sana dan dosa-dosan nya bisa diampuni oleh allah ra." Ucap ku menenangkan rara.


Untuk saat ini aku tak tau harus kemana lagi, sementara rumah ku sudah habis di lahap oleh si jago merah, aku pun menyetir mobil dengan isak tangis yang tak henti-hentinya.

__ADS_1


"Ra, malam ini kita ke rumah bude ya." ucapku.


Rara hanya mengangguk pelan sambil rebahan di belakang jok mobil.


"Saras, aku sedih tau bunda ku udah pergi jauh ras."ucap lirih rara di belakangku.


"Ras, kamu jangan tinggalin aku ya seperti bunda udah ninggalin aku sekarang. aku sudah gak punya siapa-siapa lagi ras, selain kamu dan ayah." isak rara sambil sesenggukan.


Mendengar perkataan rara barusan, membuat hatiku sangat teriris. aku sudah tak mempunyai orang tua lagi, karena mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. yang aku punya hanyalah seorang kakak perempuan, namanya mbak rima, dia adalah seorang janda namun tak memiliki anak.


TOK..! TOK..! TOK..! "assalamualaikum mbak" aku mengetuk pintu rumah mbak Rima.


"Waalaikumsalam, Loh! radit, ngapain kamu pagi-pagi sudah kesini?" tanya mbak rima.


"Rumah radit kebakaran mbak." ucap ku sambil menggendong rara yang sudah letoy karena mengantuk dan menangis.


"Innalilahi! Radit, lalu dimana istrimu kamaya? Em, kamu masuk dulu deh baru nanti kamu ceritain semuanya kepada mbak." Ucap mbak rima mempersilah kan ku masuk.


Aku pun menceritakan semuanya kepada mbak Rima, segala apa yang terjadi dan bagaimana rumah ku bisa kebakaran. Mbak Rima hanya bisa terdiam kaku, tak bisa berkata apa-apa lalu menangis sejadi jadinya.


Akhirnya, aku pun di berikan tinggal di rumah mbak rima untuk beberapa waktu, semua uang tabungan ku dan surat tanah habis terbakar di rumah ku itu. kini aku sudah tidak punya barang dan harta apa-apa lagi, selain uang yang berada di ATM ku yang tak seberapa banyak, namun aku yakin masih cukup untuk 1 tahun ke depan dan memodali perusahaan garment ku.


****


Bersambung.....


Dukung terus ya readers ceritanya, dengan cara vote,like and komentar positif nya. masukan juga novel ku ini di list favorit kalian, agar kalian dapat tahu dan tidak ketinggalan cerita selanjutnya.😊😊😊

__ADS_1


apalagi kalau dikasih hadiah dan koin, makin semangat deh ngelanjutin ceritanya.😊😊👍👍


__ADS_2