
RITUPUSEM
❄️
❄️
❄️
"Ra, gawat Ra! purnama kesembilan ternyata tinggal satu bulan lagi, kita harus secepatnya menyusun strategi."seru saras yang mendadak muncul keluar dari dalam lukisan Rara.
Posisi Rara saat itu sedang membuat tugas prakarya materi ujian dari sekolahnya. rara melukis sebuah gambar pemandangan saat matahari tenggelam. sontak saja rara pun terjengkang, akibat kemunculan saras yang tiba-tiba aja nongol di dalam lukisannya.
"Saras... suka kebiasaan! kan Rara udah berapa kali bilang, jangan suka muncul tiba-tiba. tuh kan gara-gara kamu rambut sama muka aku jadi cemong kaya begini."umpat Rara kesal.
Kini wajah dan rambut Rara penuh dengan cat air berwarna-warni. soalnya saat Rara terjatuh terlentang kebelakang, tangannya sedang memegang pastel berisikan cat air.
"Hhmmpp! sorry Ra, aku kan gak sengaja. tapi serius deh, kamu jadi kece badai kalau kaya begitu." ujar saras meledek rara.
"Kece badai pala mu peyang! awas ya, akan ku lukis wajah mu saras." sahut Rara ketus dan langsung bangun dari jatuhnya.
Lalu akhirnya mereka pun saling kejar-kejaran, karena Rara ingin membalas perlakuan saras yang sudah mengacaukan acara melukisnya. Rara pun mengejar saras sambil membawa kuas yang sudah basah dengan cat air.
****
Saat ini Radit dan kinan sedang duduk berdua di teras belakang rumahnya, mereka juga tengah menikmati indahnya bulan purnama yang bersinar terang menerangi bumi.
Selain itu mereka juga berbincang-bincang, membicarakan tentang perihal pekerjaan. sebenarnya malam ini radit ingin mengutarakan perasaannya kepada kinan, soalnya dia sudah tidak sanggup lagi memendamnya terlalu lama.
"Maaf ya, hari ini saya udah bikin kamu capek. gara-gara kaki saya keseleo, jadinya kamu deh yang handle semua meeting tadi pagi." kata radit malu-malu dengan wajah bersemu.
"Gak papa ko pak Radit, lagi pula kan itu tugas saya sebagai sekertaris bapak."balas kinan dengan senyuman mautnya yang selalu bikin Radit klepek-klepek kaya ikan kekurangan air.
"Waduh kinan.... cenut-cenut hatiku kalau liat senyuman kamu."batin radit.
"Gimana kakinya pak Radit, apa masih sakit. kalau masih sakit, sini saya pijitin lagi." kata kinan menawarkan diri.
"E..e..engga ko, udah enakan."balas radit gugup.
"Hhmm, kinan! begini, saya ingin berbicara empat mata yang serius sama kamu. bisakah kamu lebih mendekat kesini."ucap Radit.
"Ya pak Radit bisa ko, saya pasti akan menjadi pendengar yang baik." kata kinan bersemangat lalu berpindah duduk di samping Radit.
Radit yang awalnya sudah mantap ingin mengatakan tentang semua perasaannya, mendadak nyalinya menjadi ciut kembali. dikarenakan kini kinan terlalu dekat dengannya, bahkan kinan malah menatapnya lekat-lekat. sehingga membuat lidah Radit menjadi kelu.
__ADS_1
"Pak Radit mau bilang apa sih? kenapa malah diem aja, aku kan jadi penasaran."ujar kinan.
"Be...be.. begini kinan. a..a..aku su..su...."ucapan Radit malah berhenti di su, su aja.
"Susah! "timpal kinan.
"Bukan itu."kata Radit.
"Lalu kalau bukan susah apa? oh, saya tau! pasti susu kan? jadi pak Radit ingin di buatin susu."tebak kinan sekenanya.
"Bukan itu kinan!" kata Radit pelan.
"Ya sudah tunggu disini ya, aku ke dapur dulu buatin susu hangat untuk pak Radit." balas kinan sambil mengedipkan matanya.
Baru saja Radit ingin bicara, kinan sudah berlari ke dapur membuatkan susu untuk Radit.
"Aduh radiiittt! kamu ini kenapa sih, selalu saja begitu kalau di hadapan perempuan."oceh Radit pada dirinya sendiri.
Radit memang selalu begitu kalau dihadapan perempuan, nyalinya langsung menciut. dulu saja saat ia akan mengutarakan perasaannya kepada kamaya, selalu gagal lagi gagal lagi. hingga pada akhirnya kamaya mengutarakan perasaannya duluan kepada Radit, lalu Radit baru meneruskan mengutarakan perasaannya juga yang langsung melamar kamaya.
****
"Madi Kaka mau nemuin ayah dulu ya, kamu lanjutkan saja belajarnya."kata Rara.
Malam ini Rara sedang membantu madi mengerjakan PR berhitung dari guru privatnya. ya walaupun madi belum bisa bersekolah di sekolahan pada umumnya, tapi dia tidak akan ketinggalan pelajaran. karena Radit sudah memanggil guru les privat ke rumahnya.
"Wah, tante lagi bikin apa? kayaknya enak tuh." tanya dan ucap Rara lalu mendekati kinan.
"Tante lagi bikin pisang goreng keju Ra, cobain deh enak apa gak?" kata kinan menyuapi Rara pisang goreng keju yang sudah ia buat.
"Emmhh, enak banget tante. Rara mau dong Tan..."ujar Rara memelas.
"Boleh ko Ra. yuk makan bareng di belakang sama ayah kamu, soalnya tadi ayahmu minta di buatin susu. jadi sekalian aja deh tante buat cemilannya juga, kebetulan tadi ada pisang dikulkas."kata kinan sambil membawa nampan berisikan dua gelas susu hangat dan juga kopi.
"Sejak kapan ayah suka susu?"Rara membatin.
Rara, Radit dan juga kinan, mereka makan dan minum bersama sambil menikmati indahnya bulan purnama yang bersinar terang. mereka bertiga pun asik berbincang dan bercanda bersama, sudah seperti satu keluarga saja.
Sebenarnya Radit ingin mengatakan kepada kinan, kalau tadi ia tidak ingin dibuatkan susu. lagi pula Radit itu tidak suka susu, karena bagi dia yang suka minum susu itu anak kecil aja. tapi karena malam ini dia merasa sangat bahagia, jadi Radit tak mempermasalahkan. Radit tetap menghargai apa yang udah Kinan lakukan untuknya, dengan terpaksa ia pun menenggak habis susunya tanpa bernafas.
"Ayah aku lupa, sebenarnya aku tadi lagi nyari ayah mau membicarakan sesuatu." pekik Rara sehingga membuat kaget Radit dan kinan.
"Ini anak suka kebiasaan, selalu ngagetin orang tua aja."gemes Radit mencubit pipi Rara.
__ADS_1
"Memangnya Rara nyariin ayah mau bicara tentang apa?"tanya Radit antusias.
"Gini loh yah, setelah rara hitung dari kejadian tante kinan dan ayah waktu itu. sepertinya purnama ke sembilan tinggal satu bulan lagi yah, kita harus secepatnya mengatur strategi untuk mengalahkan NYI Lasmini."cerita rara.
"Apa iya ya, soalnya ayah gak ngitungin sih jadi ayah lupa."balas Radit.
"Memangnya Rara punya ide strategi apa untuk mengalahkan NYI Lasmini."tanya kinan.
"Sebenarnya sih ini sangat membahayakan nyawa seseorang, tapi hanya ini satu-satunya cara."ujar Rara dengan lemas dan sedih.
"Maksudnya nyawa seseorang gimana sih Ra?" tanya Radit menelisik.
"Kita terpaksa harus melibatkan madi sebagai umpan, agar kita bisa tau dimana NYI Lasmini dan barda melakukan Ritupusem itu."jelas Rara.
"Ritupusem itu apa Ra?
"Iya apa Ra Ritupusem itu?
tanya Radit dan kinan secara bergantian.
"Ritupusem itu, ritual purnama kesembilan." jawab Rara sambil menatap ke arah purnama.
Rara, Radit dan kinan, malam itu membicarakan tentang strategi mereka untuk mengalahkan NYI Lasmini. saat purnama kesembilan nanti tiba, NYI Lasmini membutuhkan darah anak laki-laki yang masih suci untuk acara ritualnya. pasti barda akan mencari-cari madi untuk dia jadikan sesembahan ritual ratu kuyang itu.
****
"Kinan.... Kinan.... bangunlah. cepat kau ikuti suara ku ini kinan, hayo kinan bangunlah... bangun.. kinan." ucap suara tak berwujud.
Kinan yang saat itu sedang tertidur pulas pun langsung terbangun, karena mendengar suara mendayu-dayu seseorang yang memanggilnya. seperti orang yang sedang terhipnotis, tanpa sadar dengan mata terpejam, kinan berjalan mengikuti suara yang tengah memanggilnya.
Kinan pun berjalan keluar dari kamarnya lalu ia menuju keluar lewat pintu belakang.
❄️
❄️
❄️
Jangan lupa Favorit, Vote, Like and koment yang banyak ya....
Jangan lupa juga mampir di novel ku yang lainnya... salam HORROR LOVERS..😍😍
__ADS_1