Rahasia Istriku Sayang (Ternyata Kuyang)

Rahasia Istriku Sayang (Ternyata Kuyang)
Aku Melihatnya


__ADS_3

Aku Melihatnya


"Batu gunting kertas, batu gunting kertas. ye! aku menang lagi saras kalah." kata rara yang sedang bermain dengan sosok teman tak kasat matanya yang dia bilang bernama saras.


Aku yang tengah asyik menikmati berita di televsi pun tidak terlalu memperhatikan rara.


"Mas! ini minuman-nya." kata kamaya datar seraya memberikan secangkir teh hangat.


"Mas? sejak kapan kamaya memanggil ku dengan sebutan mas."gumam ku heran.


"Ayo di minum teh nya mas, mumpung masih hangat." titah kamaya sambil menatapku.


"Iya Bun."sahutku pelan.


Aku pun ingin menyeruput teh buatan kamaya tadi, tapi baru saja aku ingin meminum nya.


"Ayah, stop! jangan di minum air teh-nya." pekik rara berlari kencang ke arah ku dan langsung membanting gelas yang berada di tangan ku.


"Ra, kenapa di banting teh nya ra, kan ayah mau minum." Ucap ku sambil merasa heran.


"Ayah! Itu bukan air teh, tapi darah." balas rara.


Mata kamaya pun langsung melotot tajam, kamaya berusaha mendekati rara. sepertinya kamaya sudah sangat marah, dengan apa yang di lakukan rara kali ini. rara yang belakangan ini tiba-tiba tidak tidak menyukai ibunya sendiri, membuat ku sangat merasa bingung! padahal selama ini rara sangat dekat dengan kamaya.


Tangan rara seperti ada sesuatu yang menarik, lalu pergi menjauh dari kamaya.


"Iya saras, ayo kita masuk saja ke dalam kamar ku." kata rara mengiyakan.


"Saras, kamu jangan takut lagi ya. tenang saja ada aku kok di sini." Ucap rara kembali.


Rara pun mengangguk anggukan kepala nya, lalu bergegas masuk kedalam kamar, sementara itu kamaya membereskan bekas pecahan gelas yang di pecah kan rara tadi.


****

__ADS_1


"Ayah! Kasian bunda yah sekarang." Ucap rara.


"Memang bunda kenapa ra?" tanya ku heran.


"Rara lihat, bunda di siksa yah dan di cambuk terus menerus, bunda juga nangis kesakitan. rara gak bisa bantu bunda, kata bunda rara harus jaga diri baik-baik yah." rara menangis sesenggukan padahal kamaya baik baik aja.


"Ra, itukan cuma mimpi! mimpi itu hanya bunga tidur Ra, kan bunda baik-baik aja sama kita Ra. tuh lihat, bunda baik-baik saja kan." ucapku.


"Ayah itu bukan bunda yah." bantah Rara.


Mungkin, rara lagi masa pertumbuhan maka nya dia sering berbicara ngaur. apa karena memang hanya berkhayal? seperti tentang saras? mungkin itu hanya imajinasi rara saja.


"Ya sudahlah, ayo rara cepat tidur, apa mau ayah temani dulu?" ujar ku kepada rara.


"Gak ayah! sekarang ada saras kok yang selalu jagain rara. kata saras juga, ayah tidur nya jangan lupa bawa bawang merah ya. rara juga sama di suruh saras pegang bawang merah yah." kata rara. menurut ku rara semakin hari terlihat makin aneh saja sama seperti kamaya.


"Buat apa Ra, bawang merah?" tanya ku menelisik.


"Pokok nya ayah pegang aja yah, nih rara tadi udah ambil di dapur pas bunda lagi gak ada di dapur. kata saras sebelum tidur ayah olesin sedikit kemata ayah." titah rara sembari memberikan 1siung bawang merah kepadaku.


"Iya ayah."timpal rara langsung menarik selimut tebalnya dan mulai terlelap.


******


Di malam yang sepi dan juga gelap ini, aku berjalan menyusuri pepohonan yang sangat besar. aku berada di entah berantah, aku pun belum pernah menginjakan kaki ku disini.


Terlihat dari kejauhan, ada dua orang wanita yang tengah hamil sedang di kejar-kejar oleh kamaya. Ya! wanita itu adalah bu dinar dan bu nina, perlahan wanita itu terlihat mematung dan tak berapa lama mereka pun terjatuh.


Mereka terlihat ingin berteriak, namun mulut mereka berdua seperti terkunci rapat. ku lihat kamaya mulai mendekati mereka berdua, lalu tangan kamaya merayapi ************ bu dinar. kemudian kamaya memasukan jari-jari tangan nya ke dalam ******** bu dinar, hingga masuk sampai pergelangan tangannya.


Bukan hanya satu tangan tapi dengan dua tangan sekaligus, bu dinar pun meraung-raung kesakitan. ia juga meringis dan meminta pertolongan, tak berapa lama tangan kamaya pun keluar dengan bayi di tangan nya. bayi itu pun langsung menangis, tapi tangisan itu mendadak terhenti, ketika kamaya langsung melahap bayi itu dengan sangat rakus.


Dan begitu juga dengan bu nina, kamaya melakukan hal yang sama dengannya. nafas ku terasa sesak kerongkongan ku juga rasanya tercekat. lidah ku terasa kelu, air mata ku tak bisa ku bendung lagi. betapa kejam nya kamaya kepada kedua wanita itu, bu dinar dan bu nina pun melambai kan tangan ke arah ku.

__ADS_1


"Toloonngg! Tolooonngg!!


"Aaaaaaa!. Astagfirullah haladzim"


Aku terbangun dengan nafas yang memburu, tenggorokan ku terasa kering dan aku berasa sangat haus sekali. jam di dinding kini sudah menunjukan pukul 00:30 tengah malam, tangan ku mencoba meraba saklar lampu yang berada di dinding, lalu aku menghidupkannya


"Kamaya kemana dia?" Gumam ku.


Lalu ku dekati arah lemari bajuku, dan ternyata disitu sudah ada badan kamaya, namun tak ada kepala nya seperti biasanya.


"Ya allah! kamaya, kamu pergi kemana lagi sih, bun?" aku panik, aku takut jikalau kamaya sampai ketahuan oleh warga lagi.


"Apakah aku harus mencarinya?" gumam ku sendiri sambil mondar-mandir di dalam kamar.


Tak berapa lama, terlihat sekelebat bayangan dari arah jendela. perlahan bayangan itu mendekat dan masuk lewat jendela kamar ku.


Aku terkejut, tubuhku hanya bisa mematung tak bisa berbuat apa-apa. makhluk yang ada di depan ku itu sangat mengerikan. wajah nya rusak, rambut nya gimbal dengan taring yang lumayan panjang. dia tidak mempunyai badan selain organ dalam yang selalu di bawa-bawa bergelantungan. dia membawa bayi lengkap dengan ari-ari nya, yang berada di mulut nya.


Ya allah! aku takut sungguh sangat takut, lutut ku pun mulai bergetar. rasanya aku ingin sekali pingsan namun diriku enggan.


Makhluk itu pun masuk kedalam lemari bajuku, tanpa perduli dengan keberadaan ku di sana. tak berapa lama keluar lah kamaya, dengan menggendong bayi yang sudah tak bernyawa itu. bayi itu pun di bawa kamaya ke arah dapur.


Aku mengikutinya, sampai ku lihat kamaya memasukan nya ke dalam toples yang lumayan besar. lalu dimasukan kamaya ke dalam lemari, ternyata bukan hanya satu tapi ada beberapa toples yang berisikan bayi, sebagian sudah ada yang berulat dan berbau sangat busuk.


Perut ku terasa di remas, dengan bau yang menyeruak ketika kamaya membuka salah satu toples yang berada di lemari itu. mungkin isi di dalam nya sudah lumayan lama, karena banyak belatung bangkai di dalam toples itu.


Kamaya pun mengumpul kan belatung itu, lalu memisahkan nya dari bangkai bayi yang sudah lumayan hancur itu. kemudian kamaya mulai mencincang bangkai bayi itu lalu memasak nya, sementara belatung yang dia kumpulkan disantap nya begitu saja dengan sangat lahap.


Huuueeekk!. "mungkin kah ini alasan rara melarang ku untuk memakan, makanan yang selalu di buat kamaya? pantas saja rara selalu menyuruh ku untuk berbelanja makanan di luar saja."batinku masih terus mengintip kamaya.


Mata kamaya pun mendelik tajam, dia seperti menyadari keberadaan ku. aku pun bergegas menjauh dan pergi masuk kedalam kamar ku. hingga sampai pagi aku tak bisa memejam kan mataku kembali, karena masih terus terbayang pemandangan mengerikan semalam.


****

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa vote, like and komentar positif nya ya readers smuanya...😊😊😊


__ADS_2