
Asal Usul Kamaya
****
"Bun, ayah sudah tau semuanya ko." ujar ku yang masih berbaring membelakangi kamaya.
"Tau apa yah?" sahutnya heran.
Aku pun membalikan tubuh ku lalu menatap lekat wajah kamaya. ku raih tangannya lalu ku pegang dengan erat dan ku tempel kan di depan dadaku, sesak! ada rasa sesak di dalam sana. namun ada banyak pertanyaan juga yang terselubung, selalu menggerogoti lubuk hati ini.
"Bunda, tolong jujur ya sama ayah! sebenar nya bunda siapa?" tanya ku dengan tatapan nanar.
"Maksud ayah? oh ya, bunda ini kan istri ayah masa istri orang." Jawab kamaya berpura-pura.
Aku mendengus pelan beberapa kali, rasa nya tak kuasa untuk berkata-kata lagi. tapi kali ini perbuatan kamaya harus segera di hentikan, karena sudah terlalu banyak korban yang sudah kamaya bunuh dengan sanagtlah keji.
"Bun, ayah sudah tau semuanya. kalau bunda lah kuyang itu!" Lontarku menatap kamaya.
Kamaya langsung melapaskan genggaman tangan ku, air mata nya perlahan meluruh sambil ia menatap ku tajam dan nanar. sorot mata nya kini berubah, mungkin kamaya tak menyangka bahwa aku sudah mengetahui nya.
"Maksud a..ayah apa? bunda makin gak ngerti." ucap kamaya seolah tak mengerti.
Ku hela nafas ku yang terasa sesak berkali-kali, dengan bulir air mata yang mulai berjatuhan. aku mulai beranjak bangun dan duduk di tepian ranjang, ku remas sprei kasur dengan sangat kuat. agar aku bisa menguatkan hati ku, untuk berkata sedemikian rupa kepada kamaya.
"Bun, jujur lah sama ayah! apapun yang terjadi, ayah gak akan ninggalin bunda ko. ayah sudah lihat semuanya Bun, ayah juga sudah tau. kenapa bun? kenapa? jawab bun! apa sebab nya sehingga bunda bisa menjadi seperti ini bun. ayah sayang sama bunda, apa pun yang terjadi ayah akan selalu ada di samping bunda." racau ku sesekali menghapus bulir air mataku.
Kamaya terperanjat mata nya kini mulai terlihat berkaca-kaca, wajahnya datar mata kamaya kini berubah menjadi sayu. kamaya lalu menangis sejadi-jadinya, tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Lalu ku peluk erat tubuh kamaya dan berusaha untuk menenangkan nya.
"Sshhhuttt! bunda tenang ya bun, ceritakan semuanya pelan-pelan. jangan ada yang bunda sembunyikan dari ayah lagi. apapun! Itu?" Ucap ku lirih sambil mendekap kamaya.
Kamaya pun mulai menghapus air mata nya dan ia pun mulai bercerita.
#Flashback masa lalu Kamaya#
Pada tahun 1940 negri kami di jajah oleh bangsa belanda, kami yang tidak mempunyai perlengkapan apapun. sering kali di tindas dan tak bisa berbuat apa-apa, hasil rempah-rempah yang ada di bumi pertiwi kami pun di rampas secara paksa. bahkan untuk makan saja kami harus menyembah, kepada bangsa mereka.
Nama asli ku maria, kelahiran tahun 1923. aku berusia 17 tahun kala itu, namun di usiaku yang masih sangatlah muda ini, aku sudah menjadi perawat di salah satu rumah sakit di daerah ku.
__ADS_1
Namun nasib kami sungguh tidak beruntung, negri kami makin di jajah sedemikian rupa. banyak para pahlawan yang berguguran dan mati dalam medan peperangan. minim-nya perlengkapan dan alat tempur, membuat kami kalang kabut dan hampir saja menyerah.
"Sabar nak, istighfar!" ucap ibuku dengan bibir yang bergetar.
"Tekad ku sudah bulat bu, aku akan pergi dengan beberapa teman ku yang sudah setuju seperti ku. ini semua demi negara kita bu, aku harus melakukan ini." Ucap ku pada ibuku.
Ibu ku hanya menangis tak rela, melihat anak semata wayangnya yang sudah bertekad bulat untuk pergi ke salah satu tempat ilmu hitam. aku pun segera masuk ke dalam kamarku, untuk mengistirahatkan diri sebelum perjalanan ku besok menuju bukit hitam.
Belum berapa lama waktu berjalan, rumah kami sudah di dobrak oleh prajurit belanda. mereka memaksa orang tua ku untuk membayar pajak. aku yang tengah tertidur pun sontak kaget dan terperanjat, terdengar suara tembakan serta jeritan ibu dan ayah seperti memekik, perlahan suara itu pun mulai semakin menghilang.
Aku yang terbangun dari tidur pun langsung menuju kearah luar kamar, ku lihat ibu dan ayah ku sudah berkelojotan merenggang nyawa. akibat senapan yang di tembak kan ke kepala mereka, aku yang terkejut melihat itu langsung berteriak dan langsung masuk ke dalam kamar.
Mendegar teriakan ku para prajurit belanda itu langsung mengejarku, mereka mendobrak pintu kamar ku hingga hancur. setelah itu mereka langsung memperkosaku secara bergantian dan tak memperdulikan tangis dan ratapan ku.
"Inheemse vrouwen zijn inderdaad erg mooi en lekker. " yang artinya (wanita pribumi itu sangat cantik dan enak)." ucap salah satu pria belanda yang tak pandai berbahasa Indonesia, sambil pria bule berbewok itu memandangi tubuhku yang terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang.
"Gimana kalau kita bunuh saja perempuan ini, lalu mayatnya kita berikan kepada si japra (buaya) untuk makan malamnya nanti." ujar salah satu dari mereka.
"Jangan! biarkan saja dia itu tetap hidup, lalu mengandung benih kita tanpa seorang suami. agar nanti dia di kucilkan oleh sodara sebangsa nya." timpal salah satu lagi teman mereka.
"Benar itu, Good...!!" sahut keduanya.
****
Setelah mereka semua pergi aku hanya bisa meremas rambut ku, aku sangat menjijikan kehormatan ku saat itu. karena sudah berhasil direnggut secara paksa, oleh antek-antek belanda itu. bahkan nyawa ayah dan ibu ku juga sudah di jadikan mainan oleh mereka.
Aku pun bergegas mengemasi pakaian ku, lalu pergi sendirian menuju salah satu bukit yang di kenal angker di daerah ku. walau begitu banyak rintangan saat aku menuju kesana, namun aku tak gentar dan tak pernah putus asa, karena rasa dendam ini harus segera ku balaskan.
Tiga hari tiga malam aku tidak memiliki asupan makanan, aku pun hanya minum air jika aku menemukan sungai atau sumur saja. kini sampai lah aku di sebuah bukit yang aku cari, namun belum sempat aku menemukan dimana rumah dukun itu. mendadak kepala ku pun terasa berat dan mata ku berkunang-kunang, lalu pemandangan sekeliling ku berubah jadi gelap. hingga aku pun tak sadar kan diri, entah itu berapa lama aku pingsan aku juga tak tahu.
"Sudah bangun toh cah ayu." Ucap pria paruh baya saat menghampiri ku.
"Su..sudah. kakek siapa?" tanya ku gugup.
"Akulah orang yang kamu cari." jawab nya sambil memberikan ku segelas minuman.
"Si.. siapa nama mu kek?" tanya ku lagi.
"Namaku Datuk Marajo! aku sudah tahu hajat mu, tapi kau harus menunggu satu bulan lagi. karena kamu juga harus mempelajari banyak ilmu, sebelum kamu belajar dan menerima ilmu kuyang dariku." Ucap nya menjelaskan.
__ADS_1
Mata ku hanya terbelalak, "bagai mana mungkin dia tau maksd dan kedatangan ku ke bukit hitam ini." gumam ku dalam hati.
"Aku tau! apapun yang ada dibenak mu, bukan kah kehormatan mu sudah di renggut. dan kini di dalam rahim mu sedang memproses janin, dari hasil perbuatan mereka. yang sebentar lagi akan kau tumbalkan." Ucap nya dengan lantang.
"Apa?" aku tak bisa berkata apa-apa lagi lidah ku kelu saat itu, bagaimana mungkin dia tau semuanya." batin ku lagi-lagi terkejut.
Satu bulan pun kini berlalu, aku sudah banyak mempelajari ilmu yang diberikan Datuk Marajo. mulai dari pengasihan, hingga membalikan penglihatan orang lain serta ilmu kasih sayang .
Malam ini tepat nya aku akan mempelajari ilmu kuyang, memang sangat berat aku harus bertapa di bawah air terjun yang sangat deras. tentu saja membuat tubuh ku menggigil dan kedinginan, tanpa makan dan minum sedikit pun rasanya badan ku sangat lemas, hingga di titik akhir selesai aku pun pingsan kembali.
Badan ku semakin hari semakin kurus saja, karena makan dan minum yang tidak teratur. perut ku juga mulai terasa sangat mual sekali, mungkin benih dari prajurit belanda itu sudah mulai tumbuh. karena kepala ku sering sekali terasa pusing, dan ingin makan yang masam.
"Ini minumlah ramuan nya." Ucap Datuk Marajo menyodorkan sebuah gelas dari bambu.
Tanpa berfikir panjang aku pun langsung meminumnya, lalu tiba-tiba perut ku terasa sakit dan juga keram di beberapa bagian. perlahan keluar darah yang terasa hangat merembes dari ******** ku, rasa nya sangat sakit sekali dan aku tak bisa menahan erangan yang keluar dari mulut ku, serta bulir air mata yang terpaksa keluar secara bersamaan.
Dengan pandangan yang sedikit buram, ku lihat datuk marajo menampung sedikit darah yang keluar dari ************ ku. lalu diambil nya gumpalan kecil yang menyerupai kelereng, namun berwarna merah darah.
Lalu diletakan nya di atas sesajen dan di baca kan mantra oleh datuk marajo, tiba-tiba saja angin berhembus kencang memasuki ruangan. lalu munculah sosok kepala tanpa badan yang mendekat ke arah sesajen itu, sosok itu sangat seram mata nya merah wajah nya kehitaman.
"Masuklah." Ucap Datuk Marajo.
Kala itu aku yang tengah lemas, seperti ada yang masuk melalui ubun ubun ku, leher ku juga terasa kaku dan ada rasa sakit seperti ngilu dan panas terbakar pada leher ku.
"Sekarang semuanya sudah selesai, besok pagi kamu sudah boleh pulang dan membalaskan semua dendam mu. ingat maria! kamu harus mencari bayi yang masih dalam kandungan, untuk memberi makan NYI Lasmini."ucap lirih Datuk Marajo di telingaku.
"Baiklah Datuk." jawab ku datar.
****
Saat aku kembali lagi ke desa ku, aku pun banyak membunuh noni-noni belanda terutama mereka yang sedang hamil. keadaan itu berjalan kurun waktu 5 tahun lebih, hingga indonesia menjadi merdeka seperti sekarang.
Namun sayang nya ilmu kuyang itu tidak bisa di putus sebelum aku mempunyai keturunan, tapi aku tahu akan sangat sulit sekali mendapatkan keturunan. jika aku tidak mendapatkan laki-laki yang benar-benar tulus mencintaiku.
Aku bahkan sudah menikah kurang lebih 7 kali, rata-rata suamiku ada yang meninggal dan juga bercerai. namun aku tak bisa mempunyai sama sekali keturunan, hingga aku bertemu dan menikah dengan mu Raditya Wiryawan laki-laki yang benar-benar tulus mencintai diriku.
****
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and komentar nya ya, setelah membaca kelanjutan ceritanya.😊😊