
Istri Pak Komar Meninggal
"Bun cepetan dong.!" teriak ku memanggil kamaya yang tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Iya sebentar lagi yah, lagi nanggung banget nih." sahut nya dari dalam kamar.
"Wahh! nanggung. jangan jangan di dalam kamaya lagi asik main sakura school simulator nih. hehe." canda dikit boleh kali.
"Cepetan dong bun! lama banget sih, bun. emang bunda lagi ngapain gitu?"teriak ku lagi.
"Ada apa sih yah teriak-teriak melulu, perasaan kepo banget deh?"balas istri ku seraya berlarian kecil menghampiri ku di ruang tamu.
"Katanya mau joging, tapi bunda malah bertapa di kamar gak keluar keluar." aku terkekeh pelan.
"Bunda tadi lagi di toilet yah, lagi buang air besar." ucap istri ku agak kesal.
"Lah kok gak ajak-ajak ayah sih, kalau mau ke toilet." ujar ku sambil meliriknya genit.
"Emang ayah mau ikut buang air besar juga sama bunda?"tanyanya dengan nada kesal.
"Hehehe, gak juga sih bun. kan pup bunda itu bau banget." balas ku sambil menahan tawa seraya menutup hidungku.
"Sembarangan aja kalau ngomong! kaya pup nya ayah gak bau aja! Ya udah, kita mau joging apa mau ngobrolin pup nih?" kata istriku ketus.
"Joging lah bun, Kuy lah bun." ucapku menirukan gaya anak gaul.
"Dih lebay, banyak gaya! "ucap istriku meledek.
"Biarin wleekk." balas ku sambil menjulur kan lidah ku kepadanya seperti anak kecil.
****
Baru saja beberapa meter kami melakukan joging, sudah ada masalah lagi menghadang.
saat itu kamaya tak sengaja menendang wadah cat milik pak komar, yang kayanya memang di sengaja dia letak kan di tengah-tengah jalan.
Pak komar ini orangnya terkenal sangat galak dan beringas, pernah dulu ada warga yang anak nya di tampar olehnya. hanya karena anak pak komar gak di pinjam kan mainan, kejam iya memang kejam begitulah watak pak komar.
"Hey! kau tak punya mata kah? sampai wadah sebesar itu gak keliatan." hardik pak komar berteriak dari dalam pagar rumahnya yang saat itu sedang mengecat dalam pagar rumahnya.
"Maaf! Pak saya tidak sengaja, lagian bapak meletakan wadah nya terlalu ke tengah jalan. padahal kan bapak bisa meletakan nya sedikit ke pinggir, lagian pagar rumah bapak kan masih di sisi jalan bukan di tengah jalan kan." sahut istriku mencoba membela dirinya.
__ADS_1
Begitulah watak pak komar, hobby nya memang suka cari masalah dan cari keributan dengan orang lain. sebenarnya dia memang sengaja, meletakan wadah cat itu di tengah jalan. agar nanti jika ada yang tak sengaja menendang wadah itu, dia akan menjadikan orang itu lawan untuk bertengkar dan berargumentasi.
"Berani ya kamu, berbicara seperti itu kepada saya!" ucap nya sambil menunjuk istri ku.
"PLAAKK... !! PLAAKK...!!
Tangan kekar pak komar mendarat di kiri dan kanan pipi istriku, ya pak komar sudah tega dan berani menampar wajah istriku di depan mataku sendiri. hingga membuat kedua belah pipi mulusnya, berubah menjadi merah dan meninggalkan bekas telapak tangannya disana.
Melihat kamaya di perlakukan seperti itu di hadapan ku, otomatis aku gak terima lah. seumur hidup ku saja, tangan ku ini tak pernah sedikit pun berani mengasarinya, apalagi sampai menamparnya keras seperti itu.
Kini tangan orang lain malah menyakitinya, hingga meninggalkan bekas di pipi mulusnya. ku pegang kerah baju pak komar, sembari ku layang kan kepalan tanganku ke wajah nya.
tapi sayang nya tangan ku di cekal oleh istriku.
"Yah! jangan!" ucap istriku pelan.
Ku turun kan kepalan tanganku dan ku arah kan telunjuk ku ke wajah nya.
"Ingat ya pak komar! saya akan segera laporkan kelakuan bapak tadi kepada polisi. saya saja sebagai suaminya, tidak pernah sedikit pun memukul istri saya. apa lagi menamparnya berkali kali seperti itu! Ingat ya pak, kasus ini akan saya bawa ke jalur hukum." ucapku sambil menahan emosi ku yang sudah membara.
"Laporin saja sana kepada polisi, saya sama sekali tidak takut ko." ucap nya menantang.
Sementara itu terlihat bu kinar, yang tengah hamil tua tertawa terbahak-bahak dari depan pagar rumahnya. karena iya melihat kelakuan suaminya itu. OHH! Pantas saja mereka cocok ternyata? suami istri sama saja tidak ada beda nya sedikit pun. rasanya ingin sekali ku lempar wajah mereka berdua dengan pantat wajan yang berwarna hitam pekat.
Baru saja kami ingin pergi dan membalikan badan, tiba-tiba saja pak komar mengangkat kaleng cat milik nya dan menyiram kan nya kebelakang kami berdua.
Aku pun merasa sangat marah dan ingin sekali meninju wajah songong nya itu berkali-kali, tapi lagi-lagi istriku mencekalnya sembari dirinya menggeleng kan kepala nya. agar aku segera meninggalkan pak komar, yang sengaja ingin terus saja mencari keributan dengan kami.
"Ingat pak istri bapak itu lagi hamil! jadi lebih baik bapak jaga istri bapak itu sebelum nanti bapak menyesalinya." ucap istri ku sembari menarik tangan ku untuk menjauh dan pergi.
Terlihat pak komar seperti mulut nya berkomat Kamit memaki kami, bahkan sesekali dia mengucap kan kata-kata yang tidak pantas! seperti kata-kata penghuni kebun binatang serta mengharamkan kami di depan wajah nya.
"Yah! biarin aja nanti juga dia bakalan kena batunya atas perbuatannya itu." ucap istriku dengan santai dan menyeringai misterius.
"Tapi bun! dia itu sudah keterlaluan banget. perlakuan nya gak bisa dibiarkan seperti itu bun, nanti dia bakalan menjadi-jadi!" ucap ku sedikit kesal sambil melempar dan menendang botol air mineral yang ku pegang.
Istri ku hanya menyeringai misterius kepada ku, begitu santainya dia, walaupun sudah di tampar dua kali oleh pak komar. ah sudahlah memang bidadari di depan ku ini, dia sangat lembut bak makhluk halus. ehh maksud nya malaikat gitu.
******
Seperti biasanya sehabis sarapan pagi, aku langsung bergegas meninggalkan rumah dan menuju ke kantor. tapi baru saja beberapa langkah aku keluar dari pintu rumah, sudah terdengar kegaduhan di sebrang jalan sana.
__ADS_1
Terlihat pak komar sedang mengamuk, kepada warga yang berkerumun di depan rumah nya. aku pun merasa kepo dengan pemandangan ku itu, lalu aku sedikit berlari kecil untuk menuju kerumunan di hadapan ku saat ini.
"Ada apa ini pak?" tanya ku kepada pak yanto yang sedang berjalan mundur dari arah rumah pak komar.
"Itu mas Radit, pak komar ngamuk-ngamuk gak jelas!"jawab pak yanto.
"Ngamuk kenapa ya pak?" tanyaku lagi.
"Itu istrinya pak komar meninggal dengan cara yang gak wajar! udah gitu para pelayat yang ingin melayat semuanya diusir!" Ujar pak yanto.
"Loh kok diusir pak, memang nya istri nya meninggal kenapa?" tanya ku lagi antusias.
"Kata warga yang sempat melihat jenazah nya bu kinar sih, kata mereka matanya melotot, terus kakinya juga ngangkang, persis seperti jenazah buk nina waktu itu. pak komar lantas tidak terima, menurut nya istrinya itu dijadikan tumbal pesugihan oleh orang!" ucap pak yanto panjang lebar menjelaskan.
"Lalu anak nya kemana pak?" tanya ku terus sambil menyelidik seperti detektif saja.
"Nah! Itu dia yang aneh pak Radit, anak nya beserta ari-ari bu kinar hilang! sama seperti kejadian bu nina pak." tukas nya sedikit takut.
"Ya tuhan! belum juga ada satu bulan kejadian seperti itu, kini sudah ada kejadian seperti itu lagi. semoga kamaya dan rara di rumah tidak kenapa-napa." gumam ku merasa khawatir.
Aku pun bergegas meninggalkan kerumunan disana, takut nya malah aku yang akan di jadikan sasaran oleh pak komar. soalnya kan kemarin pagi aku sempat bersiteru dengannya.
"Ahh lebih baik aku menghadapi dua singa sekaligus, dari pada harus menghadapi jintomang seperti pak komar. Hihi gumam ku.
"Astagfirullah! orang lagi berduka aku malah gibah sendiri" gumam ku dalam hati berbicara pada pikiran ku sendiri.
****
Bersambung....
Jangan lupa kepoin cerita ku yang lainnya.!
Dendam Arwah Anjani
2.Kiriman Dari Sang Mantan
3.Dua Dunia (Juna & Rania)
4.Catatan Horor Mey
__ADS_1
5.Kisah Si SarMan