
Kenyataan Pahit
Hari ini suasana rumah terasa hening, tak ada sarapan yang berjejer, tak ada susu hangat atau hanya sekedar teh manis khas buatan kamaya.
Kamaya kini sudah mulai berubah, jangankan bercanda bahkan untuk tersenyum saja dia sudah sangat enggan sekali. ku lihat kamaya hanya selalu termenung dengan ekspresi muka datarnya, yang sedang memandang kebawah jalanan komplek dari atas balkon rumah kami.
"Bun! ayah mau pergi kerja dulu ya?" ucap ku berpamitan kepadanya.
Kamaya pun hanya diam saja dan mengangguk kaku. kamaya aku rindu kamu yang dulu, istriku yang sangat lemah lembut penyayang dan juga perhatian. kini semuanya telah hilang dan juga lenyap begitu saja, entah bagaimana hari-hari ku dan rara selanjut nya nanti. sekarang saja rasanya sudah sangat terasa hampa dan sepi.
Baru saja beberapa langkah aku keluar dari pagar rumah ku, mengendari mobilku.
"Pak radit tunggu." panggil pak erwin seraya berlarian kecil mengejar mobilku.
"Iya pak, ada apa ya bapak memanggil saya? sepertinya ada hal yang serius sekali." tanya ku heran seraya keluar dari dalam mobilku.
"Iya benar pak radit. ada hal serius yang ingin saya dan para warga diskusikan dengan pak radit."jawab pak erwin singkat padat dan jelas.
"Diskusi apa ya pak?" tanya ku penasaran.
"Apa pak radit bisa ikut saya sebentar, ke rumah pak RT tohir ?" tanya pak erwin yang sesekali menatap ke arah rumah ku.
Aku hanya mengangguk, tanda kalau aku setuju dengan ajakan pak erwin barusan.
"Maaf pak RT tohir, ini pak radit sudah datang." Ucap pak erwin saat memasuki rumah.
"Loh! ada apa ya pak, kok rame banget begini?" tanya ku heran karena di dalam rumah pak RT tohir sudah banyak sekali orang.
"Silahkan duduk dulu pak Radit." Ucap pak tohir sembari memeberi ku segelas teh hangat.
__ADS_1
"Mohon maaf sebelum nya pak radit, kami semua tidak bermaksud untuk menuduh atau pun mencurigai bu kamaya. namun sudah ada beberapa warga yang pernah melihat bahwa kuyang tersebut masuk kedalam rumah pak radit." Ucap pak tohir RT kompleks setempat.
Aku terperanjat, ternyata perbuatan kamaya sudah di ketahui oleh para warga setempat. bahkan sudah sampai ke komplek sebelah.
"Warga semua sudah sepakat, jika pak radit tidak ingin membantu kami semua. atau bapak mau menyembunyikan istri bapak, maka rumah bapak akan kami bakar sampai habis." ucap pak tohir semakin mendesak.
"Kami semua tidak ingin ada jatuh korban lagi pak, sudah cukup istri anda membunuh banyak orang di kompleks ini dan kompleks sebelah. termasuk salah satunya istri saya." timpal pak kaftan suami bu nina.
Saat itu aku pun merasa terpojok, di satu sisi aku sangat menyayangi istri ku kamaya. disisi lain banyak juga nyawa yang akan di bunuh oleh kamaya, jika ini terus saja di biarkan.
"Baiklah pak saya setuju." ucap ku terpaksa.
Walau pun aku tidak menceritakan kepada mereka, bahwa memang benar kamaya lah kuyang tersebut. tapi aku sudah tahu bahwa warga sudah benar-benar yakin, bahwa istri ku kamaya lah kuyang tersebut. aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. maaf kan aku kamaya, jika aku tak bisa menepati janji ku lagi untuk selalu menjaga mu sampai akhir hayatku.
****
"Bun, hentikan semua ini Bun! ayah gak mau sampai terjadi sesuatu sama bunda." ku pegang erat tangan kamaya sembari menatap nanar wajah datar kamaya yang pucat pasi.
"Jika kamu tidak ingin mati, maka lebih baik kamu diam saja!" kamaya pun mencekik leher ku dengan sekuat tenaga nya, hingga membuat ku terangkat keatas. serta kedua kaki ku menendang-nendang hingga mengenai perut kamaya, cekikan itu pun terlepas dari leher ku.
Uhuukk! Uhuukk! aku pun langsung terbatuk batuk dengan nafas yang tersendat, hampir satu menit aku di cekik oleh kamaya. dan kaki ku juga terangkat ke udara, sekuat itu kah tenaga kamaya saat ini. kenapa dulu dia gak ikut pertandingan angkat beban saja, aku yakin pasti dia akan menang. Hehe canda.
Kamaya pun bangkit dan menunjuk wajah ku dengan jari telunjuk nya, "jangan pernah kau ikut campur dengan urusan ku! atau nyawamu yang akan jadi taruhan nya." ancam kamaya.
Aku hanya bisa terdiam, sambil menatap lekat kearah kamaya. kini kamaya mendekati arah cermin, lalu menyisir rambut nya sambil sesekali bersenandung lirih. hingga membuat bulu kuduk ku yang kala itu mendengar suara senandung nya, langsung meremang semua.
Seketika telinga ku terasa panas sekali dan juga sakit, banyak suara jeritan terdengar. seperti jeritan suara minta tolong, hingga suara tangisan bayi yang saling bersahutan.
Sakit sangat sakit, hingga membuat kepala ku terasa berputar putar. sementara itu terlihat mulut kamaya menyeringai misterius, seperti sedang mengunyah sesuatu. terlihat juga cairan merah meleleh dari bibir nya, mata nya juga merah menyala menatap tajam ke arah ku.
__ADS_1
Aku pun tak bisa bergerak, kepala ku juga terasa sangat sakit. suara erangan dan minta tolong seakan akan, berulang-kali mendera telinga ku. pandangan ku perlahan gelap dan buram, lalu akhirnya aku tak sadar kan diri.
"Ayah, bangun ayah!" kata rara sambil menepuk nepuk pipiku pelan.
"Rara! kamu ngapain disini?" tanya ku heran.
"Ayah! kenapa tiduran di sofa? tadi rara mau matiin televisi nya, tapi rara lihat ayah malah ketiduran disini. jadi rara bangunin aja ayah." ucapan rara membuat ku tersentak.
Bukanya tadi aku lagi di dalam kamar bersama kamaya? apakah itu tadi hanyalah mimpi, atau? ya allah! kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali bermimpi buruk seperti itu terus-menerus ya.
"Eh, ayah tadi kecapean banget ra. makanya ayah gak sengaja malah ketiduran disini!" kata ku sedikit berbohong agar rara tak penasaran.
"Tuh kan, remot tv aja masih ayah pegang, itu sih bukan ayah yang nonton tv, tapi tv yang nonton ayah tiduran." Hihi. Ucap Rara cekikikan.
Aku pun merasa malu, kepada anak sekecil rara. ternyata walaupun rara masih kecil tapi rara sudah sangat pintar dalam berbicara.
"Yau dah deh! ayah mau pindah tidur dikamar ya Ra." ucapku lalu berlalu ke kamar.
Hem! rara hanya mengangguk dan kembali ke dalam kamar nya, sambil ia mengayun-ayunkan kedua tangan nya.
Sesampai nya aku di kamar, ku lihat kamaya sedang tertidur dengan pulas. ku tatap lekat wajah putih pucat, yang dulu penuh cinta itu. jujur aku sangat menyayangi nya, walaupun sikap dan sifat nya kini sudah berbeda. namun dia lah dulu yang membuat aku semangat menjalani hari hari ku, sampai rara lahir dan membuat keluarga kami semakin lengkap.
Kemudian ku cium pipi kamaya perlahan, tapi tubuh nya sangat dingin bahkan sedingin es. tak sengaja tangan ku menempel di dada nya, namun aneh! sangat aneh, jantung kamaya sudah tidak berdetak lagi. aku terkejut lalu ku periksa urat nadi nya, namun sama tak ada juga terasa urat nadi nya berdenyut-denyut.
Tapi yang lebih aneh lagi, ku perhatikan nafas kamaya masih naik turun seperti masih hidup. aku bingung apa yang telah terjadi kepada kamaya sekarang. air mata ku pun perlahan mulai meluruh, kala mengingat masa-masa indah dulu saat bersama kamaya dan rara. namun sekarang semuanya sudah hilang, aku bersama raganya tapi tidak dengan jiwanya, hanya itu yang terlintas di fikiran ku sekarang.
Kalian tahu, menangis tanpa suara itu sakit. tenggorokan terasa kering, suara terasa habis. bahkan mata terasa ingin lepas dari tempat nya, itulah yang aku rasakan sekarang saat ini.
****
__ADS_1
Bersambung.