Rahasia Istriku Sayang (Ternyata Kuyang)

Rahasia Istriku Sayang (Ternyata Kuyang)
Akhir yang Menyedihkan


__ADS_3

Akhir Yang Menyedihkan


"Gimana pak radit apakah anda sudah siap?" tanya pak tohir kepada ku.


Walau sebenarnya hati ini sangat berat, tapi aku harus melakukannya, sebab jika tidak dilakukan akan jatuh lebih banyak korban lagi.


Kenangan indah masa-masa dulu, kini seakan mulai berputar-putar dalam memori ingatan ku. terlintas sebuah bayangan saat aku pertama kali melamar kamaya dulu, bahkan di saat pertama kalinya kami bertemu. wajah cantik dan lugu kamaya, dengan rambutnya yang khas di kuncir dua setiap kali kita bertemu.


Belum lagi kebahagiaan saat pertama kali rara di lahir kan, hati ku sangat bahagia luar biasa. bahkan aku sempat berlarian dan tertawa kegirangan, saat berada di ruangan bersalin karena terlalu merasa gembiranya aku.


Air mata ku pun mulai meluruh, sembari aku memasukan pecahan beling ke dalam karung. tak sengaja ku remas pecahan beling itu, sehingga membuat tangan ku sedikit berdarah.


"Pak radit itu tangan nya berdarah." tegur pak erwin yang kala itu berada di samping ku.


Lamunan ku pun langsung buyar, aku pun terisak pelan. rasanya dada ku ini sangat sesak hatiku terasa sakit sekali, jelas tak lama lagi aku yang akan menghabisi istriku sendiri.


"Ah, gak apa-apa ko pak erwin, luka ini tidak seberapa dibanding aku harus kehilangan kamaya nantinya."ucapku lirih.


Saat itu aku pun langsung menangis tertahan, ingin rasanya aku menyelamat kan kamaya dan membawanya pergi jauh dari sini. tapi aku tak tega jika aku harus menyelamat kan istriku, lalu aku membiarkan anak dan istri orang lain mati di tangan kamaya nantinya.


"Lastri, kamu sudah siap kan untuk menjadi umpan." Ucap pak tohir dan di balas anggukan oleh bu lastri yang tengah hamil 7 bulan.


"Dodo, ulus! kalian sudah siap siaga kan untuk berjaga di depan rumah pak radit. jika suatu saat pak radit butuh bantuan, kalian harus siap siaga disana." kata pak tohir yang sudah yakin dan mengatur rencana dengan matang.


Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa menangis saat ini. mata ku mulai sedikit sembab, bahkan aku tak memperdulikan para warga yang tengah antusias untuk menghabisi nyawa istri ku. aku harus kuat, aku harus bisa, aku harus merelakan orang yang paling ku sayangi, demi melindungi banyak jiwa.


"Baiklah, sekarang semua sudah selesai. waktu juga sudah mau menjelang maghrib. lebih baik kita pulang dulu ke rumah masing-masing, lalu tengah malam nanti kita mulai beraksi." kata pak tohir kepada warga dan membubarkan diri.


Setelah waktu yang direncanakan pun telah tiba, semua orang kinj sudah bersiap siaga menunggu tengah malam nanti.

__ADS_1


****


"Rara, kamu lagi ngapain nak, ko belum tidur sih?" tanya ku kepada rara.


"Ini rara lagi pake kalung hadiah dari ayah, rara sayang banget sama hadiah ini, yah." ucap rara sambil membuka tutup liontin love yang berada di leher nya itu.


Ah, sakit sekali mendengar perkataan rara barusan, aku tak tega melihat rara jika ia tidak memiliki ibu lagi. namun harus bagaimana lagi, kelakuan kamaya sudah sangat keterlaluan.


"Itu kotak apa ra?" tanya ku menelisik.


"Ini tuh kado ulang tahun dari bunda yah."jawab rara mulai terlihat berkaca-kaca.


Aku pun mulai membuka isi kotak yang di berikan kamaya kepada rara.


"Kaset!" ucap ku heran.


"Kata bunda rara harus memutar kaset itu, tapi kalau rara sudah lulus dari sekolah SD, SMP dan SMA yah."balas rara sedikit lirih.


Pantas saja sikap dan sifat kamaya akhir-akhir kemarin, seperti orang yang tak ku kenal. Takut! itu lah yang aku rasakan sekarang, apa lagi aku harus tidur sekamar dengan setan.


Tak ada percakapan apapun saat aku berada di dalam kamar, ku lihat kamaya sudah tertidur pulas. rasa marah, kesal, kecewa, sakit, cinta dan sayang bercampur aduk menjadi satu.


Bagaimana tidak, di depan mataku saat ini sedang terbujur tubuh kamaya orang yang sangat ku cintai. namun jiwa nya yang sekarang ini, bukanlah jiwa kamaya. melainkan iblis yang telah mengambil alih tubuh kamaya. tangis tertahan, hanya itulah yang bisa aku lakukan siang dan malam.


*****


Jam sudah menunjukan pukul 00:30 hampir tengah malam, kamaya pun sudah mulai bangun dan beranjak dari tidurnya. sementara aku masih berpura-pura tertidur di dalam selimut yang menutupi seluruh tubuh ku, lalu ku rasakan ada tangan yang meraba di atas selimut, namun mengenai bagian tangan ku.


Kukunya sangat panjang sekali dan sedikit menggores tangan ku, hampir saja aku ingin berteriak namun segera ku bekap mulut ku.

__ADS_1


Perlahan kamaya berjalan menuju arah lemari dan masuk kedalam nya, tak berapa lama keluar lah kuyang itu melalui jendela kamar.


Pak dodo dan pak ulus sudah mengintai dari luar rumah, sementara yang lainnya sudah berjaga jaga di rumah nya bu lastri. tak berapa lama kuyang itu pun pergi, pak dodo dan pak ulus mulai masuk kedalam rumah ku.


Karena saat itu pintu depan sengaja tak ku kunci, agar mereka mudah untuk segera masuk kedalam rumah ku. karena aku tak sanggup untuk melakukan nya seorang diri, makanya aku meminta pak dodo juga pak ulus agar membantu ku melakukan itu semua.


Pak dodo dan pak ulus pun masuk kedalam rumah ku, sambil menggendong karung yang berisikan pecahan pecahan beling tersebut.


"Dimana badan kuyangnya pak radit?" tanya pak dodo sambil meletakan karungnya.


Sejenak aku hanya terdiam kaku tanpa suara, rasanya aku tak rela untuk membiar kan mereka membunuh kamaya. di karenakan aku sangat menyayangi kamaya, aku tidak bisa kalau harus kehilangan nya secepat ini.


"Pak radit! dimana badan nya, kita tidak punya banyak waktu lagi pak. atau kuyang itu akan segera kembali lagi ke sini."ucap pak ulus.


Aku hanya menangis dan menunjuk kearah lemari bajuku, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. dada ku terasa sakit, benar-benar sangat sakit, hatiku hancur sehancur-hancur nya.


Setelah ini tak akan ada lagi senyuman manis, setiap pagi hari yang menyambut ku. serta tak akan ku lihat wajah datar yang pucat pasi, belakangan ini menghiasi wajah kamaya.


"Ayo! cepat kita masukan beling-beling ini kedalam tubuh bu kamaya." ucap pak ulus.


Mereka berdua pun langsung memasukan, satu persatu pecahan beling kedalam tubuh kamaya yang sudah bolong itu. karena mereka harus berhati-hati, agar tak mengenai tubuh yang lain.


Melihat pemandangan seperti itu, bulir air mata ku tak henti-hentinya terus berjatuhan membasahi kedua pipiku. sekejam itu kah aku kepada istriku sendiri, aku menangis sambil membekap dada ku dengan kedua tangan ku.


Aku tak sanggup melihat pemandangan ini semua, aku tak kuat melihat orang yang sangat kucintai berakhir hidupnya seperti ini. kamaya... maafkan aku, selamanya kau akan tetap ada di dalam hati dan ingatanku.


****


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa dukungnya, dengan cara vote, like and komentar nya ya. apalagi kalau dikasih hadiah atau koin, makin semangat dech..😊😊


Jangan lupa masukin novel ini di list favorit kalian ya, terimakasih.


__ADS_2