
"Alexa, bangun sayang."
Aku yang terusik karena suara tersebut, mulai membuka mata.
"Ayo bangun. Nanti kamu terlambat bekerja loh. Kamu bilang hari ini ada jadwal operasi, kan?"
"OH IYA, AKU LUPA!" Aku langsung bangun dan bergegas mandi.
Seseorang yang melihat itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Kakak tunggu di ruang makan sama kakek ya. Cepatlah turun!"
Yapp orang yang tadi membangunkan aku adalah kakak laki-lakiku, Alvaro Sean Harrison.
Setelah selesai bersiap, aku turun ke bawah menghampiri kakak dan kakek yang sudah menunggu di ruang makan.
"Pagi kakek," sapaku sambil mencium pipinya.
"Pagi. Begadang lagi hmm?" tanya kakek.
"Hehe iya semalam keasikan baca buku jadinya begadang," jawabku.
"Jangan sering begadang seperti itu, Al," kata kakak sambil memberikan sepotong roti yang sudah diolesi selai strawberry.
"Iya maaf, kak. Oh iya nanti aku pulang terlambat ya, soalnya hari ini ada tiga operasi yang harus aku lakukan," ucapku pada dua lelaki yang sangat aku sayangi itu.
"Emang tidak ada orang lain? Harus sekali kamu yang melakukan semuanya?" tanya kakak.
"Tidak tau, aku hanya mengikuti arahan dari atasan doang," jawabku.
"Jangan terlalu berlebihan seperti itu dong Al, kakek mengizinkan kamu mengambil kedokteran dulu karena kamu sampai mogok makan. Tapi kalau ujung-ujungnya bikin kamu sakit juga buat apa."
"Iya kakek. Aku akan menjaga kesehatan supaya tidak sakit."
Bagaskara Edric Harrison, pemilik perusahaan terbesar kedua di Indonesia, Harrison. Sosok kakek di luar sana sangat dikagumi karena ketegasannya. Aku mengakui kakek ini memang tegas, apalagi terhadapku. Dia juga sangat posesif kepadaku, kakak juga. Yahh walaupun aku tau alasan mereka seperti ini.
"Nanti kakak antar."
"Tidak perlu, nanti aku jalan kaki aja," tolakku.
"Tidak terima penolakan!" tegas kakak.
Kalau udah seperti ini, aku tidak bisa menolaknya lagi. Pupus sudah keinginan aku untuk menikmati angin pagi hari ini.
Selesai sarapan, aku dan kakak berpamitan ke kakek.
Jalanan hari ini tidak terlalu macet, jadi aku bisa sampai di rumah sakit dalam waktu yang sebentar. Itu juga karena rumah ku tidak terlalu jauh dari tempat aku bekerja. Kalian pasti tau alasannya bukan.
Sesampainya di rumah sakit, aku berpamitan pada kakak dan langsung masuk.
"Masih pagi udah cemberut aja," kata seseorang.
"Tak usah cari ribut. Ini masih pagi, Devan!" ucapku kesal.
"Lagian kamu masih pagi udah cemberut,"
Aku pun menghiraukan kata-katanya dan pergi ke ruanganku.
"Pagi, nona Alexa," sapa asistenku.
"Pagi, Merry. By the way aku udah bilang ke kamu cukup panggil aku dengan nama aja, tidak perlu ada embel-embel nona."
"Maaf nona, saya tidak bisa melakukan itu," tolaknya
"Hei, kakek hanya meminta kamu untuk menjagaku. Selebihnya terserah padaku, jadi aku mau kamu panggil aku dengan nama."
"Baiklah no-, Alexa."
"Bagus. Aku harap tidak mendengar kata nona lagi."
Aku pun mulai melakukan pekerjaanku sebagai dokter.
Malam pun tiba dan aku masih di rumah sakit untuk menjaga pasien-pasienku. Sebenarnya aku udah bisa pulang, tapi aku ingin menenangkan diri di sini. Menjaga pasien membuatku merasa tenang.
"Mau saya buatkan teh no- Alexa?" tanya Merry.
"Boleh dan buatlah satu untuk dirimu juga," jawabku.
Dia mengangguk dan pergi.
__ADS_1
Sambil menunggu Merry, aku bermain game yang ada di ponselku.
Prang! Suara pecahan yang cukup keras membuatku terkejut.
Aku pun segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kulihat Merry yang terduduk di lantai dengan celana yang sudah basah karena terkena teh yang dibawanya.
"Astaga Merry, aku akan mengobatimu," ucapku sambil membantunya berdiri.
"Alexa, sepertinya pria itu lebih membutuhkan pengobatanmu," kata Merry sambil menunjuk seorang laki-laki yang sudah pingsan.
Aku mendekat ke arah pria itu untuk melihat kondisinya. Betapa terkejutnya aku saat melihat dirinya yang penuh dengan luka sayatan. Aku pun bergegas memanggil petugas untuk membantu membawa pria tersebut ke ruanganku. Setelah aku mengobati pria itu, aku pun lanjut mengobati Merry. "Selesai. Lukanya jangan sampai kena air dulu ya!"
"Iya.Terima kasih, Alexa."
"Sama-sama, sekarang kamu boleh pulang. Jam kerjamu sudah selesai."
Dia menggeleng. "Aku tidak akan pulang sebelum kamu pulang. Itu perintah dari tuanku."
"Sudahlah Merry, aku yang akan berbicara pada kakek. Kau terluka dan harus istirahat lebih awal."
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil."
"Tidak, aku tetap memaksa kau untuk pulang. Lagi pula ini sudah sangat larut."
"Ta—" Belum sempat Merry melanjutkan kata-katanya, aku sudah menariknya keluar dan mengantarnya pulang.
Tidak butuh waktu yang lama, kami berdua sampai di rumah Merry.
"Maaf kamu jadi harus repot-repot mengantarku pulang."
"Santai aja, Merry. Aku juga sekalian mau beli makan."
Merry pun menepuk dahinya. "Astaga aku lupa kamu belum makan, maaf Alexa."
Aku yang jengah mendengarkan permintaan maafnya itu pun langsung mencubit pipinya. "Jangan terus meminta maaf Merry. Lagi pula aku tidak lapar tadi."
"Tapi kamu punya maag, apakah maagnya sudah mulai kambuh?" tanyanya khawatir.
"Tidak, yang aku rasakan saat ini hanya lapar. Sudah ya aku pergi dulu, kamu istirahatlah." Setelah mengatakan itu aku langsung bergegas pergi sebelum Merry mengatakan hal lain lagi.
Selesai membeli makanan, aku pun kembali ke rumah sakit.
Saat aku membuka pintunya, kulihat pria tersebut masih tertidur. Sambil menunggu, aku memakan makanan yang sudah aku beli di jalan tadi.
"Dimana saya?" tanyanya.
Aku bergegas menghampirinya dan membantunya duduk. "Anda sedang di ruangan saya." Aku mengambil stetoskop dan memeriksanya.
Dia menepis tanganku dan menatapku dengan tajam.
"Saya hanya ingin memeriksa keadaan anda, tuan."
"Tidak perlu. Saya akan transfer uang untuk biaya rumah sakitnya," katanya sambil berusaha untuk berdiri lagi. Tapi terjatuh lagi.
Aku dengan sigap memegangnya supaya tidak jatuh.
"Duduklah, anda baru saja kehilangan darah yang cukup banyak itulah mengapa kaki anda terasa lemas," jelasku.
Karena dia tidak ingin diperiksa, aku membiarkannya dan memberinya semangkuk bubur yang sudah aku beli tadi. "Makanlah ini. Saya baru membelinya tadi."
Lagi dan lagi dia menolaknya.
"Tolong jangan keras kepala tuan! Anda harus makan supaya mempunyai tenaga. Anda bilang ingin pulang, kan?"
Dia hanya diam. Dengan inisiatif aku menyuapinya dan dia pun terkejut dengan perbuatanku.
"Makanlah, saya akan menyuapi anda pelan-pelan." Anehnya dia tidak menolak. Dia membuka mulutnya dan memakan buburnya.
Mau disuapin ternyata. Badan doang besar tapi sifatnya seperti anak-anak haha. Kataku dalam hati.
Tak lama kemudian buburnya pun habis. Aku meletakan mangkuknya dan memberinya obat. Dia meminum obat itu.
Hmm?? Kok langsung mau? Udah jinak kayaknya. Kataku lagi dalam hati.
"Sekarang tidurlah lagi. Ini masih malam. Saya akan menjaga anda," ujarku.
"Tidak, aku akan pul—" Belum selesai dia berbicara, tiba-tiba tubuhnya tumbang.
__ADS_1
"Kenapa pria ini selalu ingin pulang? Untung saja aku memberinya obat tidur tadi, jadi dia bisa istirahat dulu."
Aku memandang kota melalui jendela ruanganku. "Sudah lama sekali kalian meninggalkan aku. Terkadang aku masih sulit menerima ini," gumamku.
Tak terasa air mataku mulai jatuh.
Tak lama aku pun tersadar dan menepuk pipi ku dengan keras dan berkata, "Tidak boleh seperti ini! Nanti mereka sedih."
Aku pun duduk untuk mengerjakan laporan.
Keesokan harinya.
"Alexa,"
Aku mendengar samar-samar ada seseorang yang memanggil dan aku pun membuka mata.
"Merry? Sedang apa kamu di sini?" tanyaku bingung.
"Kamu bermalam lagi di sini?" bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
Aku hanya berdehem.
Kulihat Merry menghela nafas panjang. Ah ini pertanda buruk, aku yakin akan ada ceramah panjang kalau aku tidak segera menghentikannya.
"Merry, aku lapar. Ayo kita sarapan bersama di kantin," ajakku dengan puppy eyes. Kalau sudah seperti ini, Merry pasti tidak bisa menolak. Dia hanya bisa mengangguk pasrah. Sebelum kami pergi, aku ingin memastikan keadaan pasienku. Semua sudah membaik kecuali satu orang.
"Merry,"
"Ya?"
"Saat kau ke sini, apakah kamu melihat seorang pria yang terluka semalam?" tanyaku, pasalnya pria itu tidak ada di tempatnya.
"Tidak, saat aku masuk hanya ada dirimu," jawabnya.
"Ujung-ujungnya kabur juga," kataku menghela nafas.
"Ada apa Alexa?" tanya Merry bingung.
"Tidak ada apa-apa, yaudah ayo kita sarapan."
Pagi itu aku sarapan dengan perasaan tidak tenang. Selain karena memikirkan pria yang kabur itu, aku juga merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
"Alexa, tuan ingin berbicara padamu," kata Merry sambil menyerahkan handphone nya.
Aku pun mengambilnya.
"Halo kakek," sapaku.
"Alexa, kemana kamu semalam? Kenapa tidak pulang? Apa kamu tidak tau kalau kakek khawatir huh?" tanya kakek secara beruntun.
"Tenanglah kakek. Aku bermalam di rumah sakit dan aku baik-baik saja," jawabku.
"Kenapa tidak memberitahu kakek?"
"Karena aku tau kakek tidak akan mengizinkannya."
"Kamu keras kepala sekali, inilah kenapa kakek tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu."
"Kakek, aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Pulanglah sekarang!"
"Aku tidak bisa, aku masih ada pekerjaan di sini."
"Alexa, kakek tidak menerima bantahan. Jadi pulanglah sekarang!"
"Tolong mengertilah kakek. Aku akan pulang setelah pekerjaanku selesai."
"Tidak. Kakek akan memperkenalkanmu pada seseorang dan kamu harus sudah di rumah siang ini."
Setelah mengatakan itu, teleponnya pun dimatikan. Aku tidak bisa membantah kalau kakek sudah seperti ini.
"Kamu bisa pulang sekarang, Merry," kataku.
"Kenapa? Bukankah jam pulang aku masih lama?" tanyanya.
"Aku disuruh kakek untuk pulang sekarang. Jadi aku akan langsung pulang setelah ini," jawabku.
__ADS_1
Merry hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi.