Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Mencari tau


__ADS_3

***POV ALEXA***


Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, aku pun pulang.


Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya aku melihat Bella yang sedang menangis di gendongan Allard. Aku langsung menghampiri mereka berdua.


"Kenapa Bella menangis?" tanyaku.


"Aku juga tidak tau. Saat aku pulang, Bella sudah menangis seperti ini. Nenek sampai lelah menggendongnya karena Bella tidak ingin diletakkan di tempat tidur," jawab Allard.


Aku segera mengambil Bella dan menggendongnya. "Hei, ada apa anak cantik? Katakan pada mommy."


Bella tetap menangis dan tidak menjawabnya.


"Aku sudah menanyakan itu berulang kali tapi Bella tidak menjawabnya dan terus menangis," sambung Allard.


Nenek menghampiri kami. "Maafkan nenek, Alexa."


Aku yang bingung dengan permintaan maaf nenek pun bertanya, "Kenapa nenek meminta maaf seperti itu?"


"Tadi nenek dan Bella pergi ke supermarket dan di perjalanan pulang, kami bertemu dengan seseorang yang nenek kenali. Orang itu tidak sengaja membentak Bella dan mungkin hal itulah yang membuat Bella menangis sampai sekarang."


"Bagaimana dia membentaknya? Kenapa Bella sampai menangis seperti ini?" tanyaku.


Nenek tidak langsung menjawabnya.


"Katakan saja, nek. Kami berhak tau apa yang membuat Bella menangis sampai seperti ini," ucap Allard.


"Orang itu menghina Alexa dan Bella mencoba membelanya. Namun saat Bella membelanya, orang itu malah membentaknya," jawab nenek.


Aku mengernyitkan dahi. "Menghinaku?"


Nenek mengangguk. "Iya."


"Hinaan apa yang bajingan itu ucapkan?!" tanya Allard yang sudah terpancing emosinya.


"Dia bilang kalau Alexa adalah wanita berbahaya. Dia menyuruh saya dan Bella untuk pergi dari rumah ini supaya tidak terlibat masalahnya Alexa dan..."


"Dan apa?" tanya Allard.


"Dan dia bilang Alexa adalah pembunuh," sambung nenek.


Mendengar itu Allard langsung mengepalkan tangannya hingga urat-urat tangannya terlihat dengan jelas. "Sialan."


"Mo-mommy bukanlah pem-pembunuh. Mommy adalah orang baik," ucap Bella sambil sesenggukan.


Aku mengelus kepala Bella. "Udah Bella, jangan dibahas lagi ya? Sekarang Bella tenang oke? Jangan nangis lagi."


"Bella kesal dengan kakek itu karena menghina mommy. Bella juga takut karena kakek itu memaksa nenek dan Bella untuk pergi dari rumah ini," adu Bella.


"Jangan dengarkan orang itu. Bella dan nenek aman di sini bersama mommy ya? Daddy akan memastikan orang itu tidak akan mendekati kalian berdua lagi," ujar Allard.


Bella mengangguk dan tangisannya perlahan berhenti. "Bella ngantuk mommy."


"Iya sayang, kita ke kamar ya," jawabku.


"Bella mau tidur sama mommy," pintanya.


Aku melirik Allard untuk menanyakan pendapatnya dan Allard mengangguk.


"Iya ayo." Aku membawa Bella ke kamarku dan Allard.


***POV ALLARD***


"Kita harus bicara. Mari ke ruangan saya," ucapku.

__ADS_1


Di ruangan pribadiku.


"Jadi siapa orang yang nenek temui tadi? Katakan yang sejujurnya. Saya tidak mau ada kebohongan karena ini menyangkut Alexa," tegasku.


" Orang itu adalah suami saya. Dhanurendra Leon Wesley," ungkapnya.


"Jadi anda adalah Rosa si dokter kecantikan terkenal asal Amerika," ujarku.


"Mengejutkan, ternyata anda mengetahui identitas saya yang selama ini sudah saya kubur sedalam mungkin," ucap nenek.


Aku terkekeh. "Tidak heran kalau anda tetap terlihat cantik walaupun sudah berumur."


"Anda terlalu memuji, tuan," balasnya.


Aku menatapnya tajam. "Jadi apakah ini semua adalah rencanamu dan si tua bangka itu? Kau sengaja mendekati Alexa dengan menggunakan Bella?"


Nenek langsung menggeleng. "Saya tidak mungkin menggunakan cucu saya untuk melakukan hal-hal seperti itu."


"Benarkah?" tanyaku.


"Tentu. Lagi pula saya sudah lama bercerai dengan Dhanu," jawab nenek.


"Kenapa anda bercerai dengan orang hebat seperti itu?" tanyaku lagi.


"Saya berhak untuk tidak menjawabnya karena itu adalah privasi saya. Yang perlu anda tau adalah saya tidak menggunakan Bella untuk hal apapun karena saya benar-benar menyayanginya," jelasnya.


"Lalu, apakah sebelumnya kau mengetahui identitas Alexa yang sebenarnya?" tanyaku mengganti topik.


"Tidak. Semenjak saya meninggalkan Dhanu, saya sudah tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Saya hanya ingin hidup dengan damai dan aman dengan cucu perempuan saya," jawabnya.


"Saya harap apa yang anda katakan hari ini adalah kejujuran karena saya tidak mentolerir kebohongan apapun," ujarku.


Nenek mengangguk. "Tentu, tuan. Anda bisa memeriksanya sendiri kalau saya sudah lama tidak berhubungan dengan Dhanu."


"Baiklah, anda bisa keluar dan jangan ceritakan ini pada siapapun terutama Alexa. Kalau sampai Alexa mengetahui ini, lihat saja apa yang akan saya lakukan pada anda," ancamku.


Aku mengambil handphone dari saku celana dan menghubungi seseorang.


"Halo tuan."


"Awasi neneknya Bella mulai dari sekarang. Laporkan kalau ada yang mencurigakan."


"Apa yang telah terjadi?"


"Lakukan saja perintahku!"


"Baik, tuan."


Aku mematikan teleponnya.


"Tadi nenek menyebut Dhanu. Sepertinya Alexa juga pernah menyebut nama Dhanu. Aku harus menyelidikinya juga."


Aku menelepon Dion lagi dan memberikannya perintah lagi. "Cari orang-orang yang berhubungan dengan Dhanurendra akhir-akhir ini dan awasi gerak-geriknya."


"Baik, tuan."


***POV ALEXA***


Butuh waktu yang lama untuk menidurkan Bella. Bella selalu tidak mau tidur karena takut aku meninggalkannya tapi pada akhirnya Bella tertidur juga. Aku turun dari tempat tidur secara perlahan agar tidak membangunkan Bella. Aku mengambil handphone dan menghubungi seseorang.


"Halo Al."


"Jessica, aku ingin minta tolong sesuatu padamu."


"What's that? Just say it, aku pasti akan membantumu."

__ADS_1


"Aku butuh informasi tentang keluarga Harrison."


"Kenapa kamu membutuhkan informasi tentang keluargamu sendiri? Bukankah kamu bisa menanyakannya langsung pada kakek atau kak Alvaro jika ingin menanyakan sesuatu?"


"Menurutmu mereka akan memberitahu kalau aku menanyakannya?"


"Hmm tidak sih."


"Maka dari itu tolong bantulah aku."


"Aku akan membantumu tapi aku masih belum mengerti untuk apa kamu melakukan itu."


"Aku akan menjelaskannya padamu nanti."


"Baiklah, aku akan mengabarimu kalau sudah menemukannya."


"Terima kasih, Jessica."


"Sama-sama."


Sejak kejadian kakek Dhanu waktu itu, perasaanku mulai tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku selalu diliputi perasaan resah dan takut. Aku tau yang kakek Dhanu katakan itu hanyalah emosi sesaat tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang aku lupakan.


Tak lama kemudian, Jessica mengirimkan sebuah file padaku. Aku langsung membuka file itu dan membacanya.


Deg... jantungku berdetak sangat cepat.


Aku menelepon Jessica untuk memastikannya.


"A-apakah itu benar Jessica?"


"Aku tidak tau tapi itulah yang aku temukan. Kamu harus menanyakan langsung pada kakek dan kak Alvaro, Alexa."


"A-aku takut, Jessica. Ba-bagaimana kalau itu benar?"


"Aku akan selalu di sisimu. Tidak peduli siapa dirimu, kamu adalah sahabat terbaikku."


"Terima kasih, Jessica."


"You're welcome, babe. I will always be by your side no matter what."


Aku mematikan teleponnya dan menghubungi orang lain.


"Halo."


"Halo Regan. Ini aku, Alexa."


"Nona Alexa? Ada apa?"


"Apakah kakek Dhanu ada di mansionnya?"


"Iya, tuan sedang bersantai di mansionnya."


"Aku ingin menemui kakek Dhanu sekarang. Bisakah kau menyampaikan padanya?"


"Kebetulan sekali, tuan juga berniat memanggil anda ke mansionnya."


"Ada apa kakek Dhanu memanggilku?"


"Anda akan mengetahuinya saat bertemu dengannya."


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang."


"Apakah anda perlu supir untuk ke sini?"


"Tidak, aku akan membawa mobil sendiri."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, nona."


"Iya."


__ADS_2