Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Allard manja


__ADS_3

***POV ALLARD***


"Allard waktu kita tidak banyak. Mereka semakin bertindak secara terang-terangan," kata kakek.


"Iya, Allard. Koneksi mereka semakin luas selama kita semua sibuk denganmu dan Alexa," timpal Alvaro.


"Tenang saja, aku juga sudah memperkuat kekuatan dan memperluas koneksi," jawabku.


"Tapi musuh kita ini tidak bisa dianggap remeh Allard, entah siapa yang akan mereka incar nantinya."


"Yang pasti aku tidak akan tinggal diam kalau mereka mengincar Alexa."


***POV ALEXA***


Pintu terbuka. "Kalian lagi ngomongin apa? Serius banget kayaknya."


Mereka semua tampak panik saat aku masuk.


"Hah? Tidak ada."


"Kalian kok kelihatan panik saat aku masuk?"


"Biasa aja. Yaudah kakak sama kakek ada urusan jadi kita pergi dulu ya." Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkan kami berdua.


"Aneh," gumamku.


"Kamu lama banget sih," protes Allard.


"Maaf ya tadi banyak pasien yang harus aku urus."


"Kapan aku bisa pulang? Aku tak betah lama-lama di sini."


"Masih lama, lagian tak betah kenapa sih? Ada aku di sini."


"Ada kamu tapi kamunya pergi terus buat apa?"


"Kalau pun kamu di rumah, aku tetap harus berangkat kerja jadi sama aja. Lebih baik kamu di sini, kan? Jadi lebih dekat dan bisa aku pantau terus."


"Kalau aku dirawat di rumah, kamu bisa izin dengan alasan mengurus suami sakit."


Aku mencubit pipinya gemas. "Duh bisa aja ya alasannya."


Dia mengadu kesakitan "Sakit tau."


"Gitu aja sakit, lebay."


Setelah mengatakan itu, mata Allard terlihat berkaca-kaca.


"Loh? Kok nangis sih. Aduh iya iya maaf." Aku memeluknya dan mengusap punggungnya.


Kenapa Allard jadi semanja ini? Apa karena efek sakit?


"Mau pulang," pintanya.


"Tapi kamu masih sakit sayang, nanti ya pulangnya? Janji deh aku temenin kamu terus di sini."


"Tidak mau, di sini tak aman untukmu."


Aku kaget mendengar itu "Tidak aman? Tidak aman kenapa? "


"Banyak orang jahat di sini makanya ayo pulang," rengeknya.


"Ada apa, Alexa?" tanya seseorang yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Merry, tolong aku. Allard minta pulang tapi kondisi dia masih belum diperbolehkan untuk pulang. Aku harus apa?" tanyaku yang sudah kebingungan.


"Itu tuan Allard? Mengapa dia menjadi manja seperti itu?" tanya Merry yang kebingungan saat melihat Allard.


"Aku juga tidak tau."


"No-na, sa-ya dengar tu-an di-rawat," ucap Dion terbata-bata karena kehabisan nafas.


"Dion? Kamu ke sini lari?"


"Ti-dak, saya ke sini naik mo-bil tapi da-ri depan sampai sini saya baru la-ri," jawabnya.


"Merry tolong berikan dia minum dulu!" perintahku.


"Baik, Alexa."


Merry pun membuat segelas es teh untuk Dion dan Dion langsung meminumnya sampai habis.


"Jadi tuan Allard sakit apa sampai harus dirawat?"


"Demam dan maagnya kambuh."


"Setau saya tuan tidak memiliki riwayat penyakit maag."


"Entahlah, mungkin dia terlalu sering telat makan makanya tiba-tiba asam lambungnya naik."


"Kenapa tuan seperti itu?" tanya heran, pasalnya Allard masih di posisi yang sama yaitu memelukku dan menyembunyikan wajahnya di perutku.


"Aku juga tidak tau, dia tiba-tiba menjadi sangat manja seperti ini dan dari tadi merengek ingin pulang."


"Ya wajar saja jika tuan selalu meminta pulang karena dia sudah bosan dengan rumah sakit," celetuk Dion.


Aku menatap bingung ke arahnya. "Bosan dengan rumah sakit? Apa maksudnya?"


"Aku dengar dengan jelas kalau kamu mengatakan Allard bosan dengan rumah sakit."


"Ti-tidak nona, anda salah dengar."


Aku memicingkan mata. "Kamu sangat mencurigakan, kalau pun aku salah untuk apa kamu gugup seperti itu?"


"Karena nona bertanya tiba-tiba, jadi saya terkejut."


Kenapa semuanya aneh akhir-akhir ini? Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku? Tanyaku dalam hati.


Aku melepaskan pelukan Allard secara perlahan supaya dia tidak terusik, pasalnya dia tertidur saat merengek tadi. Setelah pelukannya terlepas aku menidurkannya supaya dia bisa tidur dengan nyaman. Karena hal yang ingin aku lakukan nanti akan mengganggunya.


"Merry, bawa dia ke ruangan saya!" perintahku.


Saat aku menggunakan saya-anda, itu artinya aku sedang serius.


Merry yang peka dengan suasananya pun memanggilnya seperti semula. "Baik, nona."


Merry memegang tangan Dion sangat erat supaya dia tidak melarikan diri.


"A-apa ini?" tanya Dion ketakutan.


Tidak, dia tidak takut dibunuh atau semacamnya tapi dia takut jika saja dia keceplosan mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan. Jujur jika bisa memilih, Dion akan memilih untuk dibunuh saja daripada dia mengatakan hal yang salah nantinya.


Sesampainya di ruanganku, Merry langsung mengunci pintunya.


"Baiklah, tuan Dion. Anda tidak bisa berbohong di sini. Jadi saya harap anda berbicara jujur."


"Tidak bisa berbohong? Kenapa? Di sini hanya ada 2 nona muda, apa yang perlu saya takutkan?" ujarnya berusaha tenang.

__ADS_1


"Anda terlalu menganggap saya remeh, tuan Dion. Baiklah kalau kamu rasa tidak apa-apa untuk berbohong. Maka kamu akan berurusan dengan dia," ucapku sambil menunjuk ke arah anjing peliharaan yang sangat aku sayangi.


"Hah ternyata anjing. Apa-apaan ini nona? Nona kira saya takut dengan anjing?" ucapnya percaya diri. Tapi aku bisa melihat tangannya yang gemeteran itu.


"Well baguslah kalau anda tidak takut, kebetulan anjing saya sedang bosan dan biasanya kalau sedang bosan dia suka menggigit sesuatu loh. Oh iya anjing saya belum mempunyai nama, apa mungkin saya beri nama Dion saja ya? Karena mungkin saja setelah ini kalian menjadi satu."


Dimana nona muda yang lembut dan baik hati? Saat ini saya hanya melihat nona yang sadis. Ucap Dion dalam hati.


Kalau kalian tanya apakah Dion takut dengan anjing atau tidak, jawabannya adalah iya. Karena ada moment menyeramkan antara dia dengan anjing yang memberikan rasa takut luar biasa sampai saat ini.


"Bagaimana tuan Dion? Apakah anda masih tidak mau jujur kalau saya bertanya nantinya? Saya tidak masalah kalau anda masih tidak mau jujur nanti."


"Ten-tentu saja."


"Huh bahkan anda belum tau apa yang akan saya tanyakan nantinya, untuk apa anda bersikeras tidak ingin menjawabnya dengan jujur?"


"Nona, jika ada yang ingin nona tanyakan silakan tanyakan langsung kepada tuan Allard, tuan Bagaskara, atau pun tuan Alvaro. Mereka akan menjawab semua pertanyaan nona."


"Kakek dan kak Alvaro juga tau sesuatu?!"


Mati sudah, niat hati ingin lari dari pertanyaan nona nya tapi setelah ini dia akan habis oleh tuannya.


Jadi kakek dan kak Alvaro terlibat sesuatu? Aku harap sesuatu itu bukan " hal " yang sangat aku hindari. Ucapku dalam hati.


Setelah mendengar perkataan Dion, aku langsung berlari keluar dan berniat pergi untuk menemui kakek dan kakak. Aku langsung memberhentikan taksi yang lewat depan rumah sakit dan masuk ke taksi tersebut. Aku bahkan menghiraukan teriakan Merry dan juga Dion yang memanggilku.


"Mau pergi kemana, nona?" tanya supir itu.


"Saya mau ke perusahaan Harrison," jawabku.


"Perusahaan yang dimana, nona? Soalnya perusahaan Harrison banyak cabangnya."


"Hmm perusahaan yang dekat sini aja, pak."


"Baik, nona. Sebelumnya mohon maaf, jika saya boleh tanya, nama nona siapa?"


Aneh. Itulah yang kupikirkan saat mendengar pertanyaan supir itu tapi aku tidak mau berburuk sangka. "Nama saya Alexa, ada apa ya bapak menanyakan hal itu?"


"Tidak apa-apa, nona. Saya hanya ingin tau nama nona cantik ini." Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya.


"Ketemu"


Sesampainya di salah satu perusahaan Harrison, aku langsung turun dari taksi dan membayarnya.


"Apakah nona ingin saya menunggu? Soalnya setau saya di sini agak susah transportasi kalau tidak membawa kendaraan pribadi," tawarnya.


"Begitu ya? Hmm boleh deh pak, saya juga masih belum tau daerah sini. Tolong tunggu sebentar ya, pak."


"Baik nona, santai saja."


Aku langsung masuk ke dalam gedung tinggi itu dan berjalan ke meja resepsionis.


"Permisi mba, apakah pak Bagaskara dan tuan Alvaro ada di sini?" tanyaku to the point.


"Kebetulan mereka baru saja pergi nona," jawabnya.


"Baiklah, terima kasih."


Sudah aku duga, mereka pasti tidak ada di sini. Itulah mengapa aku menerima tawaran supir taksi tadi untuk menungguku.


"Loh? Kok cepat, nona?" tanya supir itu bingung.


"Karena orang yang saya cari sedang tidak di sini," jawabku.

__ADS_1


Kami pun pergi dari situ.


__ADS_2