
Nenek dari anak itu sangat berterima kasih padaku. "Terima kasih sekali tuan, akhirnya dia mau diperiksa sama dokter lain."
"Tidak perlu berterima kasih," jawabku.
Dari tadi Dion sangat penasaran tentang penyakit yang di derita anak tersebut dan memutuskan untuk bertanya, "Maaf nek kalau boleh tau cucunya sakit apa? Sepertinya saya melihat dia 6 bulan yang lalu di sini. Apakah saat itu dia sudah keluar dan masuk rumah sakit lagi?"
"Ah cucu saya memang sudah lama dirawat di sini. Dia sakit kanker paru-paru stadium akhir," jawab nenek itu.
Aku dan Dion terkejut mendengar jawaban nenek itu.
"Kanker paru-paru stadium akhir?! Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit luar negeri saja? Di sana peralatannya lebih canggih daripada di sini," ujar Dion.
"Kami tidak punya biaya untuk berobat keluar negeri, tuan. Pengobatan ini saja dibantu oleh dokter Alexa. Saya sangat berterima kasih pada beliau, entah apa yang akan terjadi pada cucu saya kalau tidak ada beliau. Omong-omong apakah dokter Alexa benar ada urusan? Soalnya perasaan saya ga enak, saya harap dokter Alexa benar baik-baik saja karena bagaimana pun dokter Alexa sudah saya anggap sebagai cucu saya sendiri."
Aku mengangguk. "Iya, dokter Alexa benar ada urusan."
Dia bernafas lega. "Syukurlah kalau begitu."
"Yaudah nek, kita pamit dulu ya."
"Iya tuan, sekali lagi terima kasih."
Aku dan Dion pun pergi
"Jadi kita harus kemana tuan? Handphone nona Alexa ada di rumah sakit dan asisten nona Alexa tidak bisa dihubungi ataupun dilacak," ucap Dion.
Saat ini pikiranku sangat kalut. Alexa ternyata menghilang dari tadi siang, bahkan asistennya juga hilang entah kemana.
Disaat genting tiba-tiba saja handphone Dion berbunyi. Dia memeriksa handphonenya dan melihatnya. "Nomor tidak dikenal?"
"Angkat!" perintahku.
Dion mengangkat teleponnya. "Halo."
"Ha-halo."
"Maaf ini siapa dan ada urusan apa?"
"Saya Merry, asisten nona Alexa."
Mendengar itu Dion pun berteriak. "MERRY?! KENAPA HANDPHONE ANDA TIDAK BISA DIHUBUNGI?!"
Aku langsung menoleh ke arah Dion dan mengambil handphonenya. "Dimana Alexa sekarang?!"
"Nona ada di rumah sakit pelita."
"Rumah sakit?! Apa yang terjadi dengannya?"
"No-nona Alexa keracunan, tuan."
"Keracunan?! Bagaimana bisa?! Kamu sebagai asistennya kenapa tidak becus menjaganya hah?!"
"Ma-maafkan saya, tuan."
"Saya akan segera ke sana."
Aku pun mengembalikan handphone Dion.
"Bagaimana tuan? Dimana nona Alexa?" tanya Dion.
"Alexa ada di rumah sakit pelita. Kita ke sana sekarang." Aku segera mengendarai mobilnya ke sana. Untungnya rumah sakit itu tidak jauh dari sini, jadi kami bisa sampai dengan cepat.
Sesampainya di rumah sakit, aku pun langsung berlari masuk begitu sampai di rumah sakit. Aku segera menanyakan ruangan Alexa pada resepsionis. "Permisi, ruangan atas nama Alexa Olivia Harrison dimana ya?"
"Nona itu ada di ruangan ICU sekarang, tuan," jawab resepsionis itu.
"Terima kasih." Aku langsung berlari ke arah ruangan ICU.
Di depan ruangan ICU ada Merry, Jessica, dan satu orang yang tidak ku ketahui.
"Kenapa nona Alexa ada di ICU?" tanya Dion.
__ADS_1
"Nona Alexa meminum racun dan untungnya dosis yang diminumnya sedikit. Menurut perkataan dokter, nona Alexa telah meminum racun lebih dari sekali," jawab Merry.
"Nona Alexa meminum racun? Bagaimana mungkin beliau melakukan itu?!" ucap Dion tak percaya.
"Kemungkinan besar ada seseorang yang memberinya tanpa nona Alexa sadari. Saya masih berusaha mencari tau siapa orangnya. Kalau saya sudah temukan orangnya, mereka akan habis ditangan saya karena telah membuat nona Alexa koma," jelas Merry.
"Koma?! Racun apa yang telah diminum oleh nona Alexa?" tanya Dion lagi.
"Sayangnya para dokter belum mengetahui jenis racun tersebut dan karena nona Alexa juga tidak menunjukkan gejala apapun jadi sulit menebak kemungkinan racun yang diminum olehnya," jawab Merry pelan.
"Bagaimana nona Alexa bisa meminumnya? Bukankah tuan Alvaro selalu melarangnya menerima apapun yang diberikan oleh orang tak dikenal?" tanya Dion untuk kesekian kalinya.
"Kata dokter racun tersebut diminum bersamaan dengan teh. Nona Alexa tidak pernah bisa menolak seseorang yang memberinya teh," jawabnya.
"Sepertinya orang yang memberinya teh bukanlah orang biasa. Kalau dia bisa mendapatkan racun yang masih belum diketahui jenisnya berarti dia mendapatkan barang tersebut di pasar gelap," gumam Dion.
"Iya tapi kita akan kesulitan mencarinya mengingat belum banyak orang yang mengetahui keberadaan nona Alexa," balas Merry.
Mendengar itu pikiranku mendadak kosong. Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang? Alexa dinyatakan koma? Baru kemarin dia marah-marah kepadaku dan sekarang dia terbaring lemah di kasur rumah sakit.
"Tuan, kita harus secepatnya menemukan pelaku tersebut. Kita tidak tau apa yang dia inginkan dengan membuat nona Alexa seperti ini," ucap Dion.
"Dion, bilang pada saya kalau ini hanyalah mimpi," ujarku dengan tatapan kosong.
"Saya juga berharap seperti itu, tapi ini kenyataan, tuan. Nona Alexa ada di dalam dan terbaring lemah. Para dokter tidak bisa melakukan apa-apa karena nona Alexa tidak menunjukkan gejala apapun," jawab Dion.
Tiba-tiba seseorang mendorong dan menampar pipiku. "Puas anda?!"
Dion pun menahan Jessica dan mencoba menenangkannya. "Tenang, nona. Ini rumah sakit, jangan membuat keributan."
"Puas anda melihat Alexa koma hah?! Jangan menikahinya kalau anda tidak mencintainya, tuan! Kenapa anda menikahi Alexa padahal anda tau dengan trauma Alexa?!" bentaknya.
Dion yang mendengar itu pun bingung. "Trauma?"
"Iya. Alexa trauma dengan hal kotor yang selalu kalian lakukan setiap harinya itu. Hal kotor itu merebut kedua orang tuanya dan meninggalkan kenangan buruk dihatinya. Anda tau itu tapi tetap menikahi Alexa?! Apa yang anda inginkan dari sahabat saya tuan?Kekayaan? Sosok istri yang cantik? Atau koneksi?" ujar Jessica.
"Maaf nona, tuan pun baru mengetahuinya sekarang," bela Dion.
"Keegoisan anda membuat Alexa jadi seperti sekarang. Saya yakin Alexa tidak mengetahui identitas kalian," ujarnya.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Ternyata Alvaro yang meneleponku.
"Halo Allard. Sorry ganggu malam-malam, aku hanya ingin bertanya, Alexa baik-baik aja, kan? Kakek tadi cerita kalau dia bermimpi buruk tentang Alexa dan entah kenapa perasaanku juga jadi ga enak."
Aku ingin menjawab tapi lidahku terasa kaku.
"Allard? Kamu dengar aku, kan?"
"Alexa koma dan sekarang kita semua ada di rumah sakit pelita."
Setelah mengatakan itu, aku memutuskan panggilan teleponnya.
Aku memukul tembok dan mengacak rambut frustasi. "Arghhh kenapa selalu orang yang aku sayangi yang terluka?!"
Dion mencoba menahanku. "Tenang, tuan. Nona Alexa pasti bertahan dan akan segera sadar."
"Dion, apa benar saya terlalu egois?"
"Tidak. Anda melakukan hal itu karena anda mencintai nona Alexa. Anda tidak ingin kehilangannya, itulah mengapa anda mengikat nona Alexa dalam pernikahan."
"Kalau Alexa tidak menikah denganku pasti dia tidak akan menjadi sasaran para musuhku."
"Anda salah, tuan. Keluarga Harrison juga memiliki musuh jadi beliau tetap akan menjadi sasaran orang-orang jahat itu. Tapi dengan adanya anda itu sangat membantu dalam menjaga nona Alexa."
Tak lama Alvaro dan kakek datang.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya kakek.
"Allard, apa yang kamu maksud ditelepon tadi? Itu bohong, kan?!" tanya Alvaro marah.
"Itu benar. Alexa di dalam sana dan keadaan dia koma," jawabku.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa Alexa bisa koma?" tanya Alvaro yang masih bingung dengan ini semua.
"Merry, jelaskan apa yang terjadi!" bentak kakek.
"Nona Alexa meminum racun. Walaupun dosisnya kecil tapi menurut perkataan dokter, nona Alexa telah meminumnya lebih dari sekali. Dokter masih belum tau jenis racun apa yang diminum dan tidak bisa menebaknya karena nona Alexa belum menunjukkan gejala apapun sampai saat ini. Beliau hanya seperti orang yang sedang tertidur," jelasnya.
Kakek hampir terjatuh dan Merry berhasil menahannya tapi tanpa disangka kakek mendorong Merry hingga terjatuh. "Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu selalu tidak becus menjaga cucu perempuan saya?!"
Gadis yang aku tidak tau siapa itu langsung menghampiri Merry dan membantunya bangun tapi Merry menolak bantuannya dan berlutut di hadapan kakek. "Maafkan saya, tuan. Saya ceroboh dalam menjaga nona Alexa. Saya siap menerima hukuman dari anda."
Kakek pun menendang Merry. Alvaro dengan cepat menahan kakek. Dia tidak menyangka kakeknya itu berani menendang seorang wanita. Karena yang dia tau kakeknya adalah orang yang lembut walaupun tegas. "Kakek?! Apa yang kakek lakukan?! Merry seorang perempuan."
"Saya tidak peduli! Dia sudah lalai menjaga cucu perempuan saya!" Kakek terus menendang Merry.
"Merry bisa mati, kakek." Alvaro terus berusaha menahan kakek.
"Biarkan dia mati, hidup juga tidak ada gunanya," balas kakek.
"Alexa akan marah kalau tau kakek memperlakukan asisten kesayangannya seperti ini," ucap Alvaro.
"Lebih baik seperti itu, tapi kamu lihat, kan? Adikmu bahkan tidak sadarkan diri sekarang! Dia koma, Alvaro!" bentak kakek.
Gadis itu pun berlutut di hadapan kakek. "Tuan, ini bukanlah salah Merry tapi salah saya. Saya yang ceroboh memberi teh yang tidak saya ketahui kepada nona Alexa."
Kakek bingung melihat seseorang yang tidak dia tau. "Siapa kamu? Apa maksudnya memberi Alexa teh yang tidak kamu ketahui?"
"Saya Risa. Anak yang dianugerahi pengetahuan tentang daun teh oleh Tuhan tapi saya ceroboh memberikan teh yang saya beli kepada nona Alexa. Saya bersalah karena langsung memberikannya begitu saja tanpa meneliti teh tersebut terlebih dahulu."
"Setelah kejadian ini kamu tau jenis teh tersebut?" tanya kak Alvaro.
"Sayangnya saya tidak tau tuan. Karena teh tersebut pas sekali untuk sekali seduh jadi saya tidak memiliki sisa daun teh itu," jawabnya.
"Tunggu, kamu bilang tadi kamu adalah anak yang memiliki pengetahuan tentang daun teh? Jadi kamu orang yang diinvestasikan oleh Alexa?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Benar, tuan."
"Kenapa kamu bisa ceroboh kepada seseorang yang akan membantumu?!" bentakku.
"Maafkan saya, tuan. Nona Alexa terlihat antusias saat melihat daun teh yang saya beli itu dan meminta saya untuk membuatkan teh tersebut. Karena terlalu senang jadi saya langsung menurutinya," ucapnya.
"Sial," umpatku.
Kenapa orang-orang disekitar Alexa tidak ada yang benar? Semuanya hanyalah orang bodoh. Batinku.
"Sepertinya ada yang sengaja menargetkan Alexa. Teh kali ini juga pasti sudah direncanakan," ucap Jessica.
"Saya bersumpah nona kalau saya tidak merencanakan hal tersebut," ucap Risa.
"Aku tau. Yang aku maksud adalah orang lain, pasti ada seseorang yang sengaja menjual daun tehnya kepadamu karena dia tau kalau kamu akan menemui Alexa dan orang itu pasti tau kalau Alexa sangat menyukai teh makanya dia memasukan racun itu lewat teh," jelasnya.
"Seperti yang saya bilang kalau akan sulit menemukan pelakunya karena tidak banyak yang mengetahui nona Alexa dan data-data tentang nona Alexa pun sudah dikunci jadi tidak sembarang orang bisa membukanya," ucap Merry.
"Sekarang yang mengetahui kalau Alexa sangat menyukai teh hanya kakek, aku, Allard, Jessica, Merry, dan Risa," kata Alvaro.
"Kita semua sudah jelas bukan pelakunya. Ada orang luar yang pasti berhubungan dengan Alexa baru-baru ini. Merry, siapa saja yang Alexa temui belakangan ini?" tanya Jessica.
"Tidak ada. Nona Alexa hanya sibuk mengurus pasiennya di rumah sakit," jawab Merry.
Aku teringat sesuatu. "Sejak Alexa menghilang waktu itu, kadang-kadang dia suka pergi dan hanya izin lewat kertas. Dia tidak pernah izin secara langsung padaku."
"Petunjuk! Orang yang Alexa temui itu pastilah pelakunya!" ucap Jessica.
"Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu, Jessica," kata Alvaro.
"Tidak kak, aku yakin," tegasnya.
"Kenapa kamu bisa yakin? Kalau orang itu memang berniat membunuh Alexa kenapa ga dari awal ketemu langsung dibunuh?" tanya Alvaro.
"Alvaro! Jaga bicaramu!" peringatku.
Jessica menghela nafasnya. "Kakak ini otak dari perusahaan tapi gitu aja ga ngerti. Tentu saja dia sengaja menyakiti Alexa secara perlahan seperti sekarang. Karena itu akan membuat musuhnya terpuruk dalam waktu yang cukup lama dan pastinya sangat menyiksa bagi sang musuh tersebut. Di saat musuhnya lengah barulah dia akan menyerang. Itu lebih efisien dibandingkan harus bertarung habis-habisan, kan?"
__ADS_1
Aku tarik ucapanku tadi. Ternyata tidak semua orang disekitar Alexa itu bodoh. Ditengah-tengah kepanikan seperti ini dia masih bisa berpikir jernih.