
Sesampainya di ruangan kesehatan, orang itu memberiku masker medis. Aku menerimanya dan memakainya. Kami berdua pun masuk ke ruangan itu. Di dalam banyak sekali karyawan yang terbaring lemah dan wajah mereka nampak pucat pasi. Aku mendekat ke karyawan yang terlihat paling parah. Aku bisa menebak kalau orang ini adalah yang pertama terkena penyakit yang belum diketahui ini. Aku meminta alat-alat untuk memeriksanya dan setelah mendapatkannya aku mulai memeriksanya. "Siapa yang merawat pasien ini?"
"Kebetulan saya sendiri yang merawatnya karena dia adalah orang pertama yang sakit di sini," jawabnya.
Ah tebakanku benar. Dia adalah orang pertama yang sakit.
"Aku minta sampel darah pria ini," pintaku.
"Akan saya ambilkan." Dokter itu pergi dan mengambil sampel darah yang kuminta.
Selama dokter itu pergi, aku memeriksa karyawan lainnya.
"Ini sampel darahnya, nona," ucapnya sambil memberikan sampel darah.
"Aku pinjam laboratoriumnya," ujarku.
Dokter itu mengangguk. "Silakan, nona."
Aku mulai meneliti sampel darah itu.
***POV BELLA***
Aku pun tiba di depan ruangan daddy. Aku ketuk pintu ruangannya dan tak lama keluarlah seorang laki-laki dewasa yang memakai jas kantor seperti daddy.
"Nona Bella?!" ucapnya terkejut.
"Halo, Bella mau ketemu daddy. Daddy ada di dalam?" tanyaku.
"Tuan ada di dalam. Silakan masuk, nona."
Aku masuk ke ruangan daddy dan melihat daddy yang sedang mengerjakan tumpukan kertas-kertas itu. Baru kali ini aku melihat daddy memakai kacamata. Ternyata daddy-ku sangat tampan ya hehe, cocok dengan mommy yang juga cantik.
Aku berlari ke arah daddy dan memeluknya. "Daddy."
Daddy terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba ini. "Bella? Kenapa kamu ada di sini?"
"Bella mau anterin kue buatan mommy." Aku memberikan kue itu ke daddy dan daddy menerima lalu membukanya. "Mommy buat sendiri lohh kuenya."
"Kamu ke sini sama siapa?" tanya daddy.
"Sama mommy," jawabku.
"Lalu dimana mommy?" tanya daddy lagi.
"Mommy pergi ke ruang kesehatan bersama seorang pria yang memakai jas putih tadi," jelasku.
Daddy menatap tajam ke arah pria tadi. "Dion, bukankah tadi saya sudah memerintahkan kamu untuk mengantarkannya ke ruangan itu? Kenapa dia masih berkeliaran di sekitar ruangan saya?!"
Pria itu langsung membungkuk. "Maafkan saya, tuan. Saya sudah mengantarkannya tapi saya juga tidak tau kenapa orang itu ada di sekitar sini."
Daddy menggenggam tanganku. "Bella tunggu sini ya?"
"Daddy mau kemana? Makan dulu kuenya," ucapku.
"Daddy harus mencari mommy. Nanti kita makan kuenya sama-sama ya? Sekarang Bella di sini dulu," jawabnya.
"Bella ikut. Bella bosen kalau harus menunggu di sini," balasku.
Daddy menggeleng. "Tidak. Bella tetap di sini bersama Dion. Di laci dekat meja kerja daddy ada mainan, Bella ambil dan bermainlah bersama Dion oke?"
Aku pun mengangguk.
Daddy mengelus kepalaku lembut. "Good girl."
Setelah itu daddy langsung pergi.
***POV ALLARD***
Setelah mendengar perkataan Bella, aku bergegas ke tempat Alexa berada. Sialan dokter itu, sudah kubilang jangan melibatkan Alexa.
Saat sampai di ruangan kesehatan, aku langsung membuka pintunya dan mencari keberadaan Alexa. Dimana dia? Apakah dia ada di laboratorium? Aku mencoba mencarinya di laboratorium dan ternyata benar, dia ada di sana bersama dokter sialan itu. Aku langsung menarik tangannya. "Apa yang kamu lakukan di sini, Alexa?!"
Alex terlihat terkejut melihatku. "Allard?!"
"Sudah saya katakan jangan melibatkan siapapun!" Aku menunjuk ke arah dokter sialan itu.
Dokter itu membungkuk. "Maafkan saya, tuan. Seperti yang saya katakan kalau saya tidak mampu menemukan petunjuk ini sendirian."
"Undurkan diri kalau kamu tidak mampu!Jangan memaksa orang lain untuk membantumu!" bentakku.
Alexa menahan lenganku. "Allard tenanglah. Aku melakukan ini atas kemauanku sendiri."
Alexa yang menyadari kalau aku tidak menggunakan masker pun mulai mengomel. "Kenapa kamu tidak memakai masker saat masuk ke sini, Allard?! Kamu tidak tau kalau kamu bisa saja tertular penyakit yang belum diketahui ini?!"
__ADS_1
"Apakah sekarang kamu pantas mengomel padaku? Sekarang ikut aku." Aku menarik tangan Alexa tapi dia menahannya.
"Izinkan aku berada di sini sebentar lagi. Kumohon," pinta Alexa.
"Apakah kamu tidak mengerti yang aku ucapkan?! Ini bukanlah urusanmu!" tegasku.
"Selama aku bisa menanganinya maka ini menjadi urusanku. Lagi pula masalahmu adalah masalahku," jawabnya.
"Aku tidak berniat berbagi masalah denganmu," balasku.
Saat aku dan Alexa sedang berdebat, tiba-tiba saja ada yang meledak. Aku hendak melindungi Alexa tapi dia melindungiku lebih dulu. "Alexa?!"
***POV ALEXA***
"Sial, ini lebih buruk dari dugaanku," gumam Alexa.
"Hei kamu, sekarang keluarlah dari sini bersama Allard tapi sebelum itu sterilkan dulu tubuh kalian!" perintahku pada dokter itu.
"Ada apa? Kenapa saya harus keluar dari sini?" tanya dokter itu.
"Jangan banyak tanya! Sekarang keluarlah dan suruh semua orang untuk pergi dari sini. Cepat!" ucapku.
"Apa yang terjadi? Hal apa yang meledak tadi?" tanya Allard.
"Allard, aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci. Yang pasti kamu harus segera menyuruh semua orang keluar dari sini," jawabku.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya lagi.
"Aku akan tetap di sini," jawabku.
Mata Allard membelalak."Kamu gila?! Aku tidak peduli hal gila apa yang terjadi tadi tapi aku tidak akan membiarkanmu berada di sini. Kamu juga harus ikut keluar bersamaku!"
Aku menggeleng. "Tidak, Allard. Akan berbahaya kalau aku tidak menyelesaikan ini semua."
"Aku akan membakar gedung ini," putusnya.
Aku menatapnya tajam. "Are you crazy?! Banyak nyawa yang ada di dalam sini. Kamu tidak bisa membakar gedung ini begitu saja!"
"Aku tidak peduli. Lagi pula mereka dalam keadaan sekarat dan kemungkinan kecil kalau mereka akan sembuh," jawabnya.
"Kamu tidak memikirkan keluarganya kalau membunuh mereka semua?!" tanyaku.
"Aku akan memberikan kompensasi pada keluarga mereka semua," jawabnya.
Allard tidak menjawabnya dan pergi tapi sebelum Allard keluar dari ruangan ini, aku menyuntikkan obat bius kepadanya.
"Alexa, apa yang ka—" Allard pun pingsan.
"Apa yang anda lakukan pada tuan?" tanya dokter itu khawatir.
"Aku hanya memberinya obat bius," jawabku.
Aku mengambil handphoneku di saku celana dan menelepon Dion.
"Halo nona, anda dan tuan dimana? Nona Bella mulai mencari kalian berdua."
"Dion, suruh semua orang yang ada di gedung ini untuk pergi termasuk Bella. Setelah itu kamu kemarilah untuk membawa Allard."
"Apa yang terjadi dengan tuan?"
"Allard pingsan."
"Pingsan? Bagaimana bisa?"
"Jangan banyak tanya. Cepat lakukan yang aku katakan tadi. Pastikan Bella dan yang lainnya aman!"
Aku langsung mematikan teleponnya. Aku membawa Allard keluar dari ruangan kesehatan dengan bantuan dokter itu.
Sebelum keluar, kami semua sudah disterilkan terlebih dahulu. Aku pun menunggu Dion di depan ruangan kesehatan. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Dion pun datang.
"Apa yang terjadi nona?" tanyanya.
"Jangan banyak tanya! Bawalah Allard pulang dan dokter ini juga!" perintahku.
"Lalu bagaimana dengan anda?" tanyanya lagi.
"Aku harus berada di sini. Ada yang harus aku selesaikan," jawabku.
"Tuan akan marah kalau tau anda melakukan hal yang berbahaya," ujarnya.
"Aku akan menyelesaikannya dengan baik sebelum Allard sadar. Jadi dia tidak bisa memarahiku," balasku.
"Tapi no—"
__ADS_1
"Jangan banyak bicara lagi, Dion! Cepatlah bawa Allard keluar dari sini!" potongku.
Dion pun melakukan yang aku suruh, dia membawa Allard pergi dengan bantuan dokter itu.
"Saya berhutang budi pada anda, nona," ucap dokter itu sebelum pergi.
Setelah memastikan semua orang telah pergi, aku menurunkan semua suhu ruangan yang ada di gedung ini. Suhu yang sangat rendah ini berguna untuk membunuh bakteri ataupun virus yang ada supaya tidak menyebar kemana-mana lagi. Aku juga memastikan kalau semua pintu dan jendela telah tertutup rapat. Sekarang aku tinggal menyembuhkan para karyawan yang sakit. Sulit untuk bekerja di suhu serendah ini tapi ini satu-satunya cara agar bakteri dan virus tidak berkembangbiak dan menular ke yang lain.
***POV ALLARD***
Aku terbangun di kamar tidurku. Tunggu, bukankah aku ada di kantor tadi? Kenapa aku ada di kamar sekarang? Aku bangun dan hendak keluar kamar tapi kamarnya terkunci.
"Siapapun tolong buka pintunya." Aku menggedor-gedor pintu tapi tidak satupun orang menjawabnya.
Aku mencari handphone tapi tidak ada. Apa-apaan semua ini? Sebenarnya apa yang terjadi sampai aku terkunci di dalam kamar seperti ini. Dimana Alexa? Aku memecahkan jendela kamar dan lompat dari situ.
"Tuan?"
"Dimana Alexa?!" tanya pada Dion.
"Anda lompat dari lantai dua?!" tanyanya terkejut.
"Jangan banyak bertanya sialan. Dimana Alexa?!" Aku menarik kerah kemeja Dion dengan ekspresi marah.
"Nona Alexa..."
Sebelum Dion menjawabnya, tiba-tiba saja Bella berlari ke arahku dan memelukku. "Daddy."
"Bella?"
"Daddy tidurnya lama sekali. Bella rindu dengan daddy," ucapnya.
Dahiku mengkerut. "Daddy tertidur?"
Bella mengangguk. "Iya. Sudah 5 hari daddy terus tidur dan tidak bangun-bangun."
"Akhirnya anda sadar juga. Saya sangat mengkhawatirkan anda," ucap nenek.
"Nenek? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku.
"Dion membawa anda dalam keadaan pingsan dan anda tidak sadarkan diri selama 5 hari," jawab nenek.
Aku terkejut mendengarnya. "5 hari?! Lalu dimana Alexa?"
"Alexa tidak pulang sejak saat itu tapi Dion mengatakan kalau Alexa baik-baik saja," jelas nenek.
"Kalian berdua masuklah ke rumah!" perintahku.
Nenek dan Bella masuk ke rumah dan sekarang tinggal ada aku dan Dion.
"Jawab saya dengan benar, Dion. Dimana Alexa?!" tanyaku.
Dion tidak kunjung menjawab.
"Dion! Saya adalah tuanmu!" tegasku.
Dion mengangguk. "Saya tau, tuan."
"Lalu kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya?! Karena Alexa melarangmu?" tanyaku.
"Itu..."
"Jawab saya, Dion!" desakku.
"Nona Alexa ada di kantor, tuan," jawabnya.
Mataku membelalak. "Sedang apa dia di sana?!"
Dion tidak menjawabnya.
"Apakah dia terus di sana sejak hari itu?"
Dion menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah yang menandakan kalau dia membenarkan ucapanku.
"Kamu harusnya menyeret dia pulang!" bentakku.
"Saya tidak bisa melakukan hal tidak sopan itu," jawabnya.
"Antarkan aku ke kantor sekarang!" perintahku.
"Tapi tu—"
"Antarkan aku atau berikan aku kunci mobilnya?!" potongku.
__ADS_1
"Baik, tuan. Saya akan mengantarkan anda. Silakan masuk ke mobil." Aku masuk ke mobil dan Dion melajukan mobilnya menuju kantor.