Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Mengantarkan kue


__ADS_3

***POV ALEXA***


Saat ini aku sedang di dapur bersama nenek. Kami sedang membuat kue bersama. Kebetulan hari ini aku tidak merasa ingin terus bersama Allard jadi Allard bisa pergi ke kantornya. Aku harap terus seperti ini karena aku tidak ingin merepotkan Allard.


"Yang Alexa lakukan ini benar, kan?" tanyaku pada nenek.


"Iya itu udah benar. Setelahnya kita tunggu adonannya hingga mengembang," jawab nenek sambil melihat ke adonan yang telah aku buat.


Aku mengangguk. "Oke. Tinggal ditutup dan tunggu sampai mengembang hehe."


"Nenek senang kamu masih ingin berbicara dengan nenek setelah mengetahui semuanya." Nenek tersenyum ke arahku.


Aku memeluk nenek. "Justru Alexa yang senang karena nenek masih mau menerima Alexa dan bersikap seperti biasa. Terima kasih untuk semuanya dan maaf."


"Tidak. Nenek yang harusnya mengucapkan terima kasih," jawabnya.


"Alexa akan selalu menyayangi Bella seperti anak Alexa sendiri," sambungku.


Nenek mengangguk. "Omong-omong bagaimana dengan mualnya? Apakah sudah membaik?"


"Iya. Entah kenapa sekarang Alexa merasa biasa saja. Tidak mual ataupun ingin terus berada di sisi Allard," jawabku.


"Syukurlah kalau begitu," balas nenek.


"Oh iya nek, kenapa nenek memanggil Allard dengan sebutan tuan? Apakah Allard yang meminta nenek untuk memanggilnya seperti itu?" tanyaku penasaran.


"Tidak. Ini murni keinginan nenek sendiri," jawab nenek.


Aku mengernyitkan dahi. "Kenapa? Anggaplah Allard seperti cucu nenek sendiri. Allard adalah anak yang manis."


"Nenek tidak bisa. Nenek merasa sungkan dengannya," jelas nenek.


Aku mengangguk paham. "Yaudah senyaman nenek aja."


Aku dan nenek pun berbicara hal lain sambil menunggu adonan kuenya mengembang.


Setelah 30 menit, adonan kue itu pun mengembang sempurna. Aku segera memasukkannya ke oven dan memanggangnya selama 45 menit.


Sambil menunggu kuenya matang, aku bersiap untuk menjemput Bella.


Waktunya pas. Aku selesai bersiap, kuenya pun matang. Aku memasukkan kuenya ke dalam kotak bekal untuk dibawa ke kantor Allard. Iya, aku membuatnya untuk Allard.


Aku berpamitan pada nenek dan pergi menggunakan mobil. Dalam 15 menit, aku pun sampai di sekolah Bella. Aku turun dari mobil dan menghampiri Bella yang sedang mengobrol bersama temannya.


"Bella," panggilku.


"Mommy." Bella berlari ke arahku dan memelukku.


"Bella lagi ngobrol sama teman ya?" tanyaku.


Bella mengangguk. "Iya. Mommy perkenalkan, dia adalah Lucy teman baik Bella."


"Hai Lucy, aku mamanya Bella. Terima kasih udah mau berteman dengan Bella," ucapku pada anak kecil itu.


"Halo tante. Lucy senang kok berteman dengan Bella," jawabnya.


"Syukurlah kalau begitu, tante senang mendengarnya. Semoga kalian selalu berteman dengan baik ya," harapku.


"Iya," jawab mereka berdua bersamaan.


Karena Lucy belum dijemput, aku memutuskan untuk menunggunya. Sekalian supaya Bella bisa mengobrol dan bermain lebih lama dengan temannya itu. Ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama. 10 menit kemudian, Lucy dijemput oleh supirnya. Lucy berpamitan padaku dan juga Bella.


Setelah Lucy pergi, aku dan Bella juga pergi.

__ADS_1


"Mommy, kita mau kemana?" tanya Bella.


"Ke kantor daddy," jawabku.


"Ngapain?" tanya Bella lagi.


"Mommy mau memberikan kue yang baru aja dibuat tadi," jelasku.


"Kue? Wah Bella juga mau," pintanya dengan mata berbinar-binar.


"Nanti kita makan bareng-bareng ya," ujarku.


Bella mengangguk senang. "Iya. Oh iya mommy, perut mommy sudah tidak mual lagi?"


Aku menggeleng. "Tidak. Maaf ya selama perut mommy mual, Bella jadi tidak bisa diantar oleh daddy dan mommy."


"Tidak apa-apa, mommy. Bella ngerti," jawabnya.


Aku tersenyum dan mengelus kepala Bella.


Akhirnya kami pun sampai di kantor Allard. Aku dan Bella langsung masuk dan bertemu dengan resepsionisnya.


"Selamat siang, nyonya," sapa resepsionis itu. Karena kejadian saat itu, sekarang resepsionisnya telah mengenal diriku.


"Selamat siang. Allard ada?" tanyaku to the point.


"Tuan ada di ruangannya, nyonya," jawabnya.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan ke ruangannya," ucapku.


"Biar saya panggilkan karyawan lain untuk mengantarkan anda," tawarnya.


"Tidak perlu. Saya bisa sendiri," tolakku.


Aku menggandeng tangan Bella dan berjalan ke ruangan Allard.


Di perjalanan aku tidak sengaja menabrak seseorang hingga kertas-kertas yang dibawa olehnya jatuh berantakan ke lantai. Aku langsung membantunya merapikan kertas-kertas itu. Tentu saja Bella juga ikut membantu.


"Maafkan saya, tuan," ucapku.


"Tidak tidak. Saya yang salah karena tidak perhatikan jalan," jawabnya.


Setelah semuanya rapi, pria itu melihat ke arahku. "Nona Alexa?!"


"Ya? Anda mengenal saya?" tanyaku bingung.


"Anda adalah Alexa dokter lulusan terbaik dari universitas terbaik di Amerika, kan?" tanyanya.


Aku hanya tersenyum canggung saat mendengarnya. Tidak kusangka kalau ada yang tau tentang itu. Ah ini gara-gara surat berita yang seenaknya menyebarkan berita tentangku tapi aku juga tidak bisa marah karena pihak kampus menyuruh para wartawan untuk datang saat itu.


Aku tidak menyangka karyawan Allard ada yang tau hal itu.


"Ah kebetulan sekali saya bertemu dengan anda di sini. Apakah ini pertanda kalau kita jodoh?" ujarnya senang.


Aku tertawa canggung. "Hahaha anda bisa saja, tuan."


"Saya serius, nona. Kebetulan saya mencari anda," ucapnya.


Dahiku mengkerut. "Mencariku? Untuk apa?"


"Saya membutuhkan bantuan anda," jawabnya.


"Maaf tuan tapi saya bukan karyawan di perusahaan ini. Saya permisi dulu." Aku bergegas pergi sambil menggandeng Bella tapi orang itu menahan lenganku.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, nona. Saya tau kalau anda tidak bekerja di sini tapi saya benar-benar memerlukan bantuan anda," katanya memohon.


Aku bingung sekali, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membantunya?


"Kenapa anda mencari saya? Belum tentu saya bisa memecahkan masalah yang ada di perusahaan ini," ujarku.


"Saya mengikuti berita tentang anda. Anda adalah dokter muda yang berhasil memecahkan segala permasalahan yang ada di dunia kedokteran. Saya mohon pada anda, nona," pintanya.


"Maaf tuan, tapi saya tidak bisa," tolakku.


Dia pun berlutut dan memohon lagi kepadaku.


"Jangan berlutut, tuan," ucapku sambil membantunya berdiri tapi dia tidak kunjung berdiri "


"Anda berhasil membuat saya mendapatkan titik terangnya dan saya yakin kalau anda melihat secara langsung, anda akan mengetahuinya," tuturnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Tunggu, tadi kamu bilang apa? Kamu mendapatkan titik terangnya karena aku? Kapan kita pernah bertemu?"


"Tadi pagi tuan Allard memberitahu saya satu hal tentang kemungkinan masalah yang terjadi di sini dan karena itulah saya tersadar. Namun sedikit aneh bukan kalau tuan Allard mengatakan hal itu karena pemikirannya? Walaupun kita tau kalau tuan Allard adalah pemuda jenius tapi hal itu tidak bisa di dapatkan karena pengalamannya berbisnis. Maka dari itu saya bertanya darimana dia mendapatkan pemikiran itu dan tuan Dion berkata itu adalah nona Alexa," jelasnya.


Jangan-jangan permasalahan di perusahaan ini adalah yang semalam Allard ceritakan?! Kalau begitu bukankah aku harus membantunya? Ucapku dalam hati.


"Saya mohon, nona." Orang itu masih berlutut dan memohon kepadaku.


"Mommy, tidak bisakah mommy menolongnya?" tanya Bella.


Aku juga ingin menolongnya tapi banyak hal yang harus aku pikirkan. Resiko apa yang akan aku dapatkan di masa depan nanti? Eh? Sejak kapan aku ragu seperti ini untuk menolong orang? Ah Alexa jangan seperti ini, kamu harus menolong siapapun. Pikirku.


Dia masih terus memohon. "Saya sangat memohon kepada anda."


Aku menghela nafas. "Baiklah tuan tapi saya mohon berdirilah. Jangan berlutut seperti itu."


"Benarkah?" tanyanya masih berlutut.


Aku mengangguk. "Iya, cepat berdirilah."


Dia langsung berdiri tapi karena cukup lama dia berlutut, akhirnya dia kehilangan keseimbangan. Beruntung aku dengan cepat menangkapnya jadi dia tidak terjatuh.


"Ah terima kasih, nona. Kalau begitu mari kita ke ruangan kesehatannya," ucapnya.


"Ayo mommy," ajak Bella.


Oh iya aku melupakan Bella. Bella tidak boleh ikut ke sana karena bisa saja dia tertular penyakit itu walaupun masih belum dipastikan kalau itu adalah hal yang menular.


Aku pun meminta Bella untuk mengantarkan kuenya ke Allard. "Oh iya Bella antarkan kue ini ke daddy ya? Ruangan daddy hanya tinggal lurus dari sini. Ruangannya yang paling ujung ya."


"Nanti aja. Kita anterin bareng-bareng. Bella juga mau ikut ke sana sama mommy," jawabnya.


"No, Bella. Di sana berbahaya," larangku.


"Bella kuat kok. Bella udah sembuh," balasnya.


"Mommy bilang tidak boleh tetap tidak boleh!" tegasku.


Kekecewaan muncul di wajah manis Bella. Ah aku tidak suka melihatnya kecewa tapi aku juga tidak bisa membiarkannya ikut ke sana. "Nanti mommy segera menyusul ke ruangan daddy kok."


"Janji?"


"Janji."


"Yaudah Bella akan mengantarkan kue ini ke daddy."


"Terima kasih, anak cantik."

__ADS_1


Bella berjalan ke ruangan Allard. Aku juga tidak membuang waktu, kami langsung pergi ke ruangan kesehatannya.


__ADS_2