Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Allard & Alexa pergi


__ADS_3

"Kembalilah Alexa."


"Selesaikan semua hal yang belum terselesaikan, sayang."


Aku bangun dengan nafas terengah-engah. Apa yang baru saja aku mimpikan tadi? Aku turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Aku terdiam cukup lama di dalam kamar mandi sampai merasa sudah tenang barulah aku keluar dari dalam kamar mandi.


Allard dan Bella masih tertidur. Aku memutuskan untuk bermain handphone karena tidak bisa tidur lagi. Aku melihat-lihat sosial media untuk menghilangkan rasa bosan. Tiba-tiba ada satu berita yang mengalihkan perhatianku. Aku membuka berita itu dan membacanya.


"Ahli waris keluarga Smith telah kembali? Tunggu, bukankah ahli waris keluarga Smith itu adalah aku?! Aku masih di sini lalu kenapa berita itu bilang kalau ahli waris keluarga Smith telah kembali."


Aku memutuskan untuk mengirim berita itu pada Jessica dan meminta tolong padanya untuk mencari informasi lebih dalam. Tidak membutuhkan waktu lama, Jessica berhasil mendapatkan beberapa informasinya tapi bukannya menjawab rasa penasaranku, informasi yang didapatkan oleh Jessica malah membuatku semakin penasaran.


Saat sedang berpikir, tiba-tiba saja Jessica meneleponku. Aku pun mengangkat teleponnya.


"Halo."


"Kamu jangan bertindak gegabah, Alexa!"


"Apa? Aku tidak melakukan apapun, Jessica."


"Aku tau kamu penasaran dengan berita itu tapi kita harus membicarakannya dengan keluargamu dan juga suamimu."


"Aku tau."


"Bagus. Omong-omong aku mendengar kalau Bella sakit?"


"Iya."


"Sakit apa?"


"Hanya demam biasa. Saat infusnya habis, dia sudah diperbolehkan untuk pulang."


"Syukurlah."


"Namun ada yang aneh dengannya, Jessica."


"Aneh? Aneh kenapa?"


"Bella terus meracau agar aku dan Allard tidak pergi kemanapun dan meminta kami untuk terus bersamanya sampai dia besar."


"Itu wajar. Saat anak-anak sakit, dia akan mengatakan hal-hal seperti itu."


"Begitukah?"


"Iya. Kalau begitu kita akan bicarakan hal tadi saat kamu pulang."


"Iya. Terima kasih, Jessica."


Jessica pun memutuskan teleponnya.


Keesokan harinya. Bella sudah diperbolehkan untuk pulang.


Sesampainya di rumah aku langsung menceritakan tentang berita itu dan informasi yang didapatkan oleh Jessica ke Allard.


"Sepertinya ada yang sengaja memancingmu untuk keluar," ucap Allard.


"Jadi apakah aku harus menunjukkan diri atau tidak?" tanyaku.

__ADS_1


Allard menggeleng. "Tidak. Ini jelas-jelas jebakan. Kita abaikan saja berita tidak penting itu."


Aku pun mengangguk.


Namun setiap harinya berita itu semakin parah. Mulai dari pengumuman kalau perusahaan Smith akan membagikan senjata secara gratis sampai rencana terjadinya perang besar-besaran.


"Aku tidak bisa tinggal diam. Orang itu semakin menjadi-jadi," ucapku.


Jessica mengelus punggungku. "Tenang, Alexa. Kita tidak boleh gegabah."


"Orang itu jelas-jelas sengaja membuat berita seperti itu agar Alexa keluar," timpal kak Alvaro.


"Kita turuti saja kemauannya," balasku.


"Tidak, Alexa. Kita masih belum tau apa motif orang itu," larang kakek.


Kita semua berpikir keras bagaimana cara untuk mengatasi masalah kali ini. Saat sedang berpikir, handphoneku berdering.


"Siapa?" tanya Allard.


"Nomor tidak dikenal," jawabku.


"Angkat!" perintah kakek.


Aku pun mengangkat teleponnya. "Halo."


"Kembalilah atau aku akan melakukan hal yang diberitakan itu."


Teleponnya pun langsung terputus. Aku mencoba menelepon nomor itu lagi tapi tidak aktif.


"Siapa?" tanya Jessica.


"Sial," umpat kak Alvaro.


"Mau dipikirkan bagaimana pun, jawabannya hanya satu yaitu aku datang menemuinya," ujarku.


"Aku akan ikut dengan Alexa," timpal Jessica.


"Apa? Jangan bercanda. Apa yang bisa kalian lakukan? Kalian hanya seorang perempuan," ucap kak Alvaro.


"Jangan remehkan perempuan, kak!" kesal Jessica.


"Aku akan ke Inggris bersama Alexa," putus Allard.


"Jangan gegabah, Allard," tutur kakek.


"Di Inggris juga ada orangku jadi kakek tidak perlu khawatir," timpal Allard.


"Inggris adalah wilayah Smith," balas kakek.


"Aku keluarga Smith. Mereka tidak mungkin melakukan apapun terhadap ahli waris yang sebenarnya," ucapku percaya diri.


"Benar. Mereka tidak mungkin membunuh satu-satunya penerus Smith," timpal Allard.


"Tidak ada hal yang tidak mungkin," sambung kak Alvaro.


Allard menepuk bahu kak Alvaro. "Kamu tenang aja. Aku akan menjaga Alexa selama di sana, Alvaro. Percayalah padaku."

__ADS_1


Kalau sudah seperti ini, mereka pun tidak bisa membantahnya lagi. Keputusan akhirnya adalah aku dan Allard.


Malam ini aku dan Allard mulai mengemas pakaian.


"Terima kasih, Allard," ucapku.


Allard mengernyitkan dahinya. "Kenapa kamu berterima kasih?"


"Karena kamu mendukung keputusanku," jawabku.


Allard menghentikan kegiatannya itu dan menatap mataku. "Sebenarnya aku tidak setuju dengan pilihanmu tapi aku sadar kalau aku mengekangnya, kamu malah akan bertindak sendirian."


"Maaf..." lirihku.


Allard mengelus kepalaku. "Tidak apa-apa. Lebih baik kita hadapi ini bersama-sama."


Aku memeluk Allard.


"Mommy daddy," panggil Bella dari lantai bawah.


"Ya sayang? Mommy dan daddy ada di kamar," sahutku.


Bella menghampiri kami dan terkejut melihat koper-koper yang tergeletak di lantai.


"Mommy dan daddy mau pergi kemana?" tanya Bella.


Aku menatap Allard. Allard pun menghampiri Bella dan menyamakan tingginya.


"Mommy dan daddy mau pergi sebentar, sayang," jawab Allard.


"Pergi kemana, daddy?" tanyanya lagi.


"Ke luar negeri," jawab Allard.


"Bagaimana dengan Bella?" tanya Bella.


Allard mengelus kepala Bella. "Bella di sini dulu sama nenek ya?"


Bella langsung menggeleng. "Bella tidak mau."


Aku pun menghampiri mereka berdua.


"Bella nurut ya? Mommy sama daddy pasti pulang secepatnya kok," ucapku.


"Bella mau ikut, mommy," rengeknya.


"Mommy dan daddy pergi bukan untuk bermain sayang. Ada pekerjaan yang harus kami lakukan di sana," jelas Allard.


Namun Bella terus saja merengek. "Bella akan jadi anak yang baik maka dari itu izinkan Bella untuk ikut."


Aku dan Allard diam. Bella menangis sangat keras karena kami tidak memperbolehkannya untuk ikut.


Aku pun memeluknya dan mengelus rambutnya. "Mommy janji akan pulang secepatnya, sayang."


Bella mengeratkan pelukannya dan menggeleng. "Mommy sama daddy ga boleh pergi kemana pun tanpa Bella."


Allard mengelus rambut Bella. "Maaf baby girl. Daddy dan mommy tetap harus pergi."

__ADS_1


Mendengar perkataan Allard, Bella semakin menangis. Kami tak mengatakan apa-apa lagi dan membiarkan Bella menangis sepanjang malam. Membiarkannya mengeluarkan semua kesedihan.


__ADS_2