
Tak lama kemudian aku sampai di rumah.
"Hai sayang, udah lebih baik?" tanyaku saat melihat Allard yang sedang duduk di ruang tamu.
"Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba berbicara manis seperti itu?" tanyanya heran.
"Sepertinya kamu udah baikan dilihat dari cara bicaramu," balasku.
Tiba-tiba teleponku berbunyi.
Ah udah ada sinyal lagi. Ucapku dalam hati.
Aku pun mengangkat telepon itu.
"Halo."
"Halo nona Alexa."
"Merry? Kamu ganti nomor?" tanyaku, pasalnya nomor yang menghubungiku saat ini adalah nomor tidak dikenal.
"Tidak, saya meminjam handphone salah satu karyawan rumah sakit karena tadi handphone anda tidak bisa dihubungi."
"Kalau begitu bukankah sama saja walaupun kamu meminjam handphone orang lain? Karena tadi handphoneku memang tidak ada sinyal."
"Iya juga, saya lupa."
"Hahaha kamu kenapa sih Merry."
"Oh iya saya menghubungi nona karena ingin menyampaikan kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengan nona."
"Bertemu denganku? Siapa?"
"Nona ingat orang yang pernah saya ceritakan?"
"Temanmu yang ahli daun teh itu?"
"Iya, dia setuju bertemu dengan nona dan meminta saya untuk bertanya kapan nona bisa bertemu dengannya."
"Besok, saat jam makan siang di cafe dekat rumah sakit."
"Baiklah, saya akan menyampaikannya. Omong-omong darimana nona tadi? Kenapa anda tidak bisa dihubungi?"
"Hmm aku habis dari luar dan tadi sinyalnya memang sedang buruk."
"Nona yakin tidak ada sesuatu yang terjadi? Katakan pada saya kalau ada yang terjadi."
"Iya, aku yakin."
"Baiklah."
Setelah itu panggilan berakhir.
"Siapa?" tanya Allard.
"Merry, dia memberitahuku kalau seseorang yang ingin aku investasikan setuju untuk bertemu," jawabku.
"Untuk apa kamu berinvestasi padanya?" tanyanya bingung.
"Tidak untuk apa-apa sih, aku hanya ingin berinvestasi padanya siapa tau dia sukses di masa depan dan bisa menjadi tabunganku kelak," jelasku.
"Untuk apa kamu punya tabungan? Ada aku, kamu tidak akan kekurangan uang," balas Allard.
"Tidak ada yang tau dengan masa depan, Allard. Siapa tau di masa depan kita akan berpisah dan kalau itu terjadi tentu saja aku harus punya tabungan sendiri."
__ADS_1
Allard menghela nafasnya. "Kamu berpikir terlalu jauh. Ingat baik-baik istriku sekarang, besok, dan seterusnya hanya kamu, Alexa. Aku tidak ada niat sedikit pun untuk berpisah denganmu."
Aku tersipu mendengarnya. "Walaupun kamu tidak mencintaiku?"
"Iya, karena aku tidak berniat memiliki banyak pasangan di hidupku," jawabnya.
Mendengar itu perasaanku menjadi sedih.
Jadi Allard tidak mencintaiku? Tanyaku dalam hati.
"Sudahlah jangan membahas perpisahan seperti itu. Sekarang jawab pertanyaanku, darimana saja kamu?" tanyanya.
"Aku habis dari luar sebentar," jawabku.
"Sebentar? Kamu pergi selama 3 jam dan kamu bilang itu sebentar? Darimana kamu sebenarnya?!" tanyanya lagi dengan nada tinggi.
"Aku juga punya privasi, Allard! Tidak semua hal tentangku harus kamu ketahui," ucapku kesal.
"Aku suamimu, tentu saja aku harus tau semua hal tentangmu," balasnya.
Aku tertawa. "Hahaha benarkah? Kamu pasti udah tau banyak hal tentangku sedangkan aku belum tau sedikit pun tentangmu. Aku bahkan sudah mencarinya di internet tapi tidak sedikit pun informasi aku dapatkan. Siapa sebenarnya kamu?! Kamu bisa dengan mudah mencari tau tentangku tapi tidak denganku."
Dia terkejut mendengar ucapanku. "Kamu mencari informasi tentang aku?"
"Iya. Seseorang yang tidak aku kenal tiba-tiba saja menjadi calon suamiku dan tentu saja aku harus mencari tau tentangnya tapi aku tidak berhasil menemukan apa-apa tentangnya," jelasku.
"Kamu melakukan hal tidak berguna. Itu hanya membuang-buang waktumu." Setelah mengatakan itu Allard hendak pergi, tapi aku menahan tangannya. "Siapa dirimu sebenarnya, Allard? Mengapa sulit sekali mencari informasi tentangmu?"
Allard menghempas tanganku. "Kamu tidak perlu tau."
"ALLARD, AKU ISTRIMU. AKU BERHAK TAU SEMUA HAL TENTANGMU!" teriakku.
Tapi Allard menghiraukannya. Aku terduduk dan menangis.
Setelah puas menangis, aku pun tertidur sampai besok pagi.
Keesokkan harinya.
Aku bangun dalam posisi yang sama.
"Ughh badanku pegel semua," keluhku sambil merenggangkan tubuh.
Aku melihat sekeliling dan tidak ada tanda-tanda Allard pulang.
"Jadi seharian kemarin dia tidak pulang?"
Aku cukup sedih mengetahui kalau Allard tidak pulang tapi aku tidak bisa terus bersedih karena aku masih harus melakukan pekerjaanku dan lagi hari ini aku sudah memiliki janji untuk bertemu dengan temannya Merry.
Aku bangun dan mandi. Setelah mandi aku langsung berangkat ke rumah sakit. Aku sengaja tidak sarapan karena sedang tidak nafsu.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung ke ruangan para pasien dan mengeceknya.
"Pagi bu dokter, kok kemarin ga kelihatan?" tanya seorang pasien.
"Iya, kemarin saya izin untuk tidak bekerja karena suami saya sedang sakit," jawabku.
"Ah jadi bu dokter udah menikah?" tanya terkejut.
Aku mengangguk. "Iya, belum lama ini saya menikah dengan seseorang yang kakek saya pilihkan."
"Wah kakeknya bu dokter pasti sayang banget sama bu dokter makanya membantu memilihkan calon yang baik," pujinya.
"Hahaha tapi bukankah lebih baik calon suami saya yang pilih sendiri?"
__ADS_1
"Saya tau bu dokter pasti kecewa sama kakek bu dokter, tapi maksud kakeknya bu dokter baik kok. Beliau tidak ingin bu dokter salah memilih."
Aku hanya mengangguk. Setelah selesai dengan satu pasien itu, aku beralih ke pasien selanjutnya. Pasien yang selanjutnya adalah anak kecil.
"Halo, gimana keadaannya? Ada yang sakit?" tanyaku ramah.
Dia menggeleng.
"Apa masih suka mual perutnya dan dadanya masih suka sesak?" tanyaku lagi.
Dia menggeleng lagi.
Kenapa dia tiba-tiba tidak berbicara? Tanyaku dalam hati.
Aku duduk di dekatnya dan menggenggam tangannya.
"Aduh ada apa ini? Kenapa gadis cantik ini tidak mau berbicara denganku? Aku sedih sekali," ucapku pura-pura murung.
Dia menoleh ke arahku. "Bu dokter sedih ya kalau Bella tidak berbicara dengan bu dokter?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Tentu saja, bu dokter akan sedih sekali kalau kamu tidak mau berbicara dengan bu dokter."
"Oke, Bella akan terus berbicara dengan bu dokter," ucapnya.
"Gitu dong, emangnya kenapa kamu ga mau berbicara dengan bu dokter tadi?" tanyaku dengan bahasa yang lebih santai.
"Bella kesal sama bu dokter soalnya beberapa hari ini bu dokter tidak datang dan periksa Bella. Selalu aja dokter lain yang datang, padahal Bella maunya sama bu dokter. Namun kalau Bella menolak diperiksa, nenek pasti marah," jelas anak kecil itu.
"Pastinya nenek marah karena kamu ga boleh ga mau diperiksa. Gadis manis dengarkan bu dokter ya, siapapun yang memeriksa dirimu nanti, kamu harus nurut oke?"
Dia mengangguk. "Iya, tapi kalau bisa Bella maunya diperiksa terus sama bu dokter."
"Iya, sayang. Kalau bu dokter bisa pasti bu dokter kok yang periksa kamu, biar kamu cepat sembuh juga. Bu dokter kan punya kekuatan super jadi bisa bikin pasien-pasien bu dokter cepat sembuh," ucapku.
"Benarkah?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
Aku terkekeh melihat reaksinya. "Tentu, tapi mereka harus makan yang banyak soalnya kekuatan bu dokter bisa bekerja kalau mereka banyak makan."
"Umm Bella akan makan yang banyak biar kekuatan bu dokter bisa bekerja," ucapnya semangat.
Aku mengelus rambutnya. "Good girl. Yaudah bu dokter tinggal dulu ya, soalnya bu dokter mau makan hihi udah lapar."
"Bu dokter ga sarapan?" tanyanya khawatir.
Aku menggeleng.
"Ih bu dokter ga boleh melewatkan sarapan. Kata guru Bella, sarapan itu penting. Bu dokter kan dokter masa gitu aja ga tau sih!" kesalnya.
"Hahaha iya iya bu dokter tau tapi tadi buru-buru jadinya lupa deh," jawabku.
"Tetap saja harus sarapan. Besok-besok jangan diulangi lagi ya, bu dokter!" peringatnya.
"Siap bos." Aku pun pergi tapi sebelum itu aku mencium kening anak kecil itu.
"Merry, kira-kira apa yang harus aku berikan ke anak itu nanti?" tanyaku pada Merry.
"Tidak perlu nona, karena dia sendiri sudah sangat senang bisa bertemu dengan seseorang yang ingin bekerja sama dengannya," jawab Merry.
"Begitukah? Baiklah. Tapi kenapa kamu kembali memanggilku nona?" tanyaku heran
"Ternyata saya tetap tidak terbiasa memanggil anda dengan nama," jawabnya.
"Sayang sekali tapi yaudah panggil aku dengan senyamannya," balasku.
__ADS_1
"Terima kasih atas pengertiannya, nona." Aku dan Merry pergi ke tempat janjian.