
***POV ALVARO***
Setelah mendengar perkataan Alexa, aku langsung menanyakannya pada kakek. Aku sangat terkejut dengan kebenaran yang baru aku ketahui ini. Ternyata kedua orang tuaku meninggal bukan karena kecelakaan.
"Jadi selama ini kakek berbohong padaku?!" tanyaku marah.
"Iya," jawab kakek tenang.
"Kenapa kakek?" tanyaku kecewa.
"Karena itu yang terbaik untukmu. Kamu terlalu kecil untuk mengetahui yang sebenarnya," jawabnya.
"Alexa juga pasti lebih kecil dariku saat itu, tapi dia mengetahui yang sebenarnya," ucapku tak terima.
"Alexa juga awalnya tidak tau yang sebenarnya tapi entah bagaimana ingatannya kembali," jelas kakek.
Aku mengernyitkan dahi. "Apa maksudnya? Aku bingung kakek."
Sebelum mengatakannya, kakek menghela nafasnya. "Alvaro, Alexa bukan saudari kandungmu. Dia adalah putri tunggal dari keluarga Smith dan kakek mengadopsinya."
Mataku membelalak mendengarnya. "Keluarga Smith?! Bukankah itu nama pemilik perusahaan senjata terbesar di Inggris?"
Kakek mengangguk.
"Apakah Alexa mengetahui kebenaran ini?" tanyaku.
Kakek menggeleng. "Tidak. Alexa kehilangan separuh ingatannya saat kecil. Hanya beberapa yang dia ingat dari kejadian di masa lalu."
"Kakek, aku masih tidak mengerti dengan ini semua. Yang aku tau keluarga kita sangat bermusuhan dengan keluarga Smith, lalu mengapa kakek mengadopsi Alexa dan sangat menyayanginya?" tanyaku lagi.
Kakek pun menyuruhku untuk duduk di sampingnya. "Kakek akan ceritakan semuanya. Ini akan menjadi cerita yang sangat panjang, apakah kamu siap mendengarkan kebenarannya?"
Aku ragu tapi aku penasaran dengan ini semua. "Iya, aku siap."
"Walaupun mungkin saja kamu akan membenci Alexa setelah ini?"
Deg...apakah separah itu? Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin tau kebenarannya tapi aku tidak sanggup kalau aku harus memiliki perasaan benci pada adikku sendiri nantinya. "Aku siap, kakek. Aku juga harus tau kebenarannya karena aku adalah penerus keluarga Harrison."
Kakek mengelus kepalaku. "Bagus tapi kakek yakin kalau kamu tidak akan membencinya karena kakek sendiri tidak membenci Alexa walaupun mengetahui yang sebenarnya. Baiklah kakek akan mulai cerita. Alexa adalah putri tunggal dari keluarga Smith. Walaupun dia putri tunggal dari keluarga ternama tapi dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dari kecil, Alexa selalu dilatih untuk menjadi kuat dan menjadi yang terbaik karena dia akan dijodohkan oleh keluarga kerajaan Inggris. Saat itu Alexa bertemu dengan Allard dan Alexa mengatakan kalau dia ingin menikah dengan Allard. Kedua orang tuanya sangat marah mendengar itu dan menyiksa Alexa. Allard yang mengetahuinya mencoba untuk menolongnya tapi dia malah terluka parah saat menolong Alexa. Orang tuanya Alexa semakin marah karena sejak saat itu, Alexa menjadi keras kepala dan selalu membangkang. Orang tua Alexa kemudian mencoba membunuh keluarga Allard tapi selalu gagal. Ibu Allard memberitahu tentang Alexa ke Claudia. Ibumu itu paling tidak bisa mendengar tentang penganiayaan anak kecil. Akhirnya Claudia dan ibunya Allard membuat rencana untuk menyelamatkan Alexa, tentu saja suami mereka membantunya. Namun ternyata ada mata-mata dari keluarga Smith yang memberitahu rencana itu ke Sanjaya Smith, ayahnya Alexa. Alhasil peperangan itu berakhir seri. Tidak ada yang menang."
"Alexa bilang, ayah dan ibu meninggal karena kejadian itu. Apa disa—"
"Iya, di saat pertarungan itu orang tua kalian meninggal. Yang tersisa hanyalah Alexa seorang," potong kakek.
"Kakek pasti tau kalau ayah dan ibu berniat melawan Sanjaya Smith. Lalu kenapa kakek tidak menahan atau melarang mereka?" tanyaku.
"Percuma. Kakek sudah melakukannya tapi mereka berdua tidak mendengarkannya," jawab kakek lemah.
"Lalu apa alasan kakek mengadopsi Alexa bahkan sampai menyayanginya? Aku masih tidak mengerti. Kalau menurut cerita kakek, seharusnya kakek membenci Alexa," ucapku.
__ADS_1
Kakek menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. "Claudia menitipkan pesan kalau dia tidak selamat saat menyelamatkan Alexa, dia mau kakek mengadopsi Alexa dan menyayanginya seperti cucu kandung kakek sendiri. Awalnya memang berat melakukan hal itu tapi kakek mengerti kenapa Claudia meminta kakek melakukan itu."
"Kenapa?" tanyaku.
"Seperti yang kakek bilang, Alexa adalah anak yang tidak pernah merasakan cinta kasih dari keluarga. Kematian Claudia dan suaminya bukanlah salah Alexa, itu adalah kesalahan kedua orang tuanya. Kakek tau kalau Alexa memiliki hubungan darah dengan keluar Smith itu tapi bukan keinginan Alexa untuk lahir dari keluarga Smith, kan? Karena itu lah kakek tidak bisa membencinya, sudah cukup dia mendapatkan kebencian dari keluarga kandungnya," jelas kakek.
Aku yang mendengar penjelasan dari kakeknya pun menangis. Ternyata adiknya itu sangat menderita. Untunglah dia tidak mengingatnya.
"Mari kita tetap rahasiakan ini dari Alexa," ucapku.
Kakek mengangguk. "Tentu. Kakek akan selalu merahasiakannya dari Alexa."
Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan bertanya, "Bagaimana dengan Allard? Apakah Allard juga tidak mengingatnya?"
"Allard bukan tidak mengingatnya tapi tidak mengetahuinya. Saat kejadian itu, kakek dan neneknya memberitahu kalau orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat jadi dia tidak melihat jasad kedua orang tuanya dan tidak mencurigainya," jawabnya.
Mendengar jawaban kakek, kekhawatiran muncul di diriku. "Kakek, bagaimana kalau Allard mengetahui yang sebenarnya suatu saat?"
"Entahlah. Namun sejauh ini Allard tidak pernah mencari tau tentang kematian orang tuanya. Bagi dia penjelasan saat itu sudah cukup dan masuk akal. Jadi kakek rasa selama tidak ada yang membangkitkan rasa curiga Allard terhadap kematian orang tuanya, maka Allard tidak akan pernah mencari taunya," jawab kakek.
"Aku harap Allard tidak mengetahuinya sampai kapan pun. Kita tidak tau apa yang akan Allard lakukan pada Alexa kalau dia mengetahui yang sebenarnya," harapku.
Kakek mengangguk setuju. "Iya, kakek juga berharap seperti itu. Alexa nampak sudah lebih nyaman dengan Allard, begitu juga sebaliknya. Kakek harap pernikahan mereka selalu baik-baik saja."
"Oh iya, kakek udah tau kalau Allard lagi di luar negeri?" tanyaku mengganti topik.
Kakek mengernyitkan dahinya. "Untuk apa dia keluar negeri? Bukankah perusahaan dia tidak ada yang bermasalah saat ini?"
"Berarti Alexa sendirian di rumah?" tanya kakek.
Aku menggeleng. "Tidak. Neneknya Bella tinggal di rumah Allard dan Alexa."
"Oh yaudah. Yang penting Alexa tidak sendirian di rumah," jawab kakek.
Aku mengangguk.
Kakek pun mengganti topik pembicaraan. "Oh iya bagaimana kabar pencarian mata-mata itu?"
"Berjalan lancar. Sedikit lagi tikus itu akan masuk ke perangkap kita dan kita bisa melakukan apapun setelahnya," jawabku dengan senyum licik.
"Bagus. Kamu semakin baik menyelesaikan masalah perusahaan," puji kakek.
4 tahun kemudian...
***POV ALEXA***
Selama 4 tahun ini, aku habiskan dengan bekerja, jalan-jalan dengan neneknya Bella, mengobrol dengan Allard, Alvaro, dan kakek lewat telepon. Sesekali aku juga mengobrol dengan Bella lewat telepon Allard, walaupun itu sangat jarang dilakukan karena Bella harus fokus pada perawatannya. Bella selalu merengek ingin pulang saat melihat wajahku dan nenek lewat handphone dan berujung kesehatannya selalu menurun. Itulah sebabnya aku dan Allard sepakat untuk tidak sering memberi Bella handphone untuk menghubungiku ataupun nenek.
Saat ini aku dan nenek sedang duduk santai di halaman rumah. Kebetulan cuaca sedang bagus dan aku juga sedang tidak bekerja.
__ADS_1
"Tidak terasa tahun depan Bella dan tuan Allard akan pulang," ucap nenek.
Aku mengangguk. "Iya ya. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Bella. Allard bilang perkembangan Bella sangat baik. Penyakit Bella perlahan membaik dan tidak sering kambuh. Kalau terus seperti ini mungkin saja dalam beberapa bulan Bella dan Allard sudah bisa kembali ke Indonesia."
"Nenek harap begitu. Nenek cuma bisa berdoa yang terbaik untuk kesembuhan Bella. Nenek harap penyakit anak itu cepat sembuh dan dia bisa beraktivitas seperti anak lain pada umumnya," tutur nenek.
"Iya, Alexa juga," sahutku.
"Oh iya Alexa, ada yang ingin nenek tanyakan padamu. Kenapa akhir-akhir ini kamu tidak bekerja? Seperti sekarang, bukankah hari ini harusnya kamu bekerja?" tanyanya.
"Alexa hanya ingin istirahat. Alexa ingin menemani nenek lebih sering di rumah," jawabku.
Nenek menyipitkan matanya. "Kamu yakin?"
"Nenek mengira kalau aku berbohong?" tanyaku.
Nenek menggeleng. "Bukan begitu, nenek hanya merasa akhir-akhir ini kamu tidak seperti biasanya."
Aku terkekeh. "Tidak seperti biasanya gimana? Aku seperti biasa tuh, tidak ada yang berubah"
Nenek menggenggam tanganku. "Kalau ada sesuatu, ceritakan saja pada nenek ya? Kamu sudah nenek anggap seperti cucu sendiri. Jadi jangan sungkan untuk bercerita pada nenek."
Aku mengangguk dan memeluk nenek. "Tentu. Terima kasih, nenek."
"Nenek yang berterima kasih padamu dan tuan Allard," balasnya.
"Sudah kubilang jangan mengucapkan terima kasih lagi untuk itu. Allard sudah bilang kalau dia menyayangi Bella jadi Allard pasti menginginkan yang terbaik untuk Bella. Alexa pun menyayangi Bella jadi Alexa juga ingin yang terbaik untuk Bella," ucapku.
"Nenek juga menyayangi kalian berdua," jawab nenek.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Oh iya nek, maaf kalau Alexa menanyakan ini."
Nenek melepaskan pelukannya. "Ada apa? Tanyakan saja."
"Apakah nenek benar-benar hanya tinggal berdua dengan Bella? Apakah tidak ada keluarga yang lain?" tanyaku.
Nenek Bella nampak terdiam sejenak, lalu dia pun menjawabnya. "Iya, nenek dan Bella hanya tinggal berdua saja."
"Nenek yakin? Kalau nenek sendiri juga tidak tau, Alexa bisa meminta tolong pada Allard untuk mencari informasi tentang keluarga nenek," sambungku.
Nenek terlihat panik saat aku mengucapkan itu. "Jangan! Nenek yakin tidak ada keluarga yang lain karena mamanya Bella yang menitipkan langsung Bella kepada nenek dan nenek hanya seorang nenek yang sebatang kara. Jadi nenek mohon jangan meminta tolong apapun pada tuan Allard tentang nenek. Nenek tidak ingin menyusahkannya lebih dari ini."
Aku mengangguk. "Baiklah, Alexa mengerti."
Kemudian nenek mengalihkan pembicaraan dengan mengajak aku masuk ke rumah. "Cuaca semakin dingin, ayo kita masuk ke dalam."
"Langitnya masih indah. Di sini sebentar lagi ya?" pintaku.
"Sudah mulai sore. Sebaiknya kita masuk," tolaknya.
__ADS_1
Akhirnya aku menurut dan ikut masuk ke rumah.