
Sesampainya di rumah, Alexa langsung lari ke dalam rumah. Aku dan Bella yang melihat hal tersebut ikut lari menghampirinya. Ternyata Alexa pergi ke kamar mandi, dia memuntahkan semua isi makanan yang masuk ke perutnya. Kupijat tengkuk Alexa guna membantunya memuntahkan semuanya. Setelah memuntahkan semua makanannya, Alexa hampir terjatuh karena lemas. Untung saja aku berhasil menangkapnya.
"Ada apa, sayang?" tanyaku khawatir.
"Mommy, mommy kenapa?" tanya Bella yang juga khawatir.
"Aku mual," jawabnya dengan suara lemas.
"Kita ke rumah sakit ya?" ajakku.
Alexa menggeleng. "Tidak mau. Aku bisa tambah mual kalau berada di dalam mobil."
"Kalau begitu aku akan memanggil dokter ke sini," ucapku.
Aku menggendong Alexa dan menidurkannya di tempat tidur. Bella juga ikut naik ke tempat tidur dan terus mengelus tangan Alexa.
Tak lama nenek datang membawa segelas teh hangat dan memberikannya pada Alexa. "Diminum dulu tehnya. Supaya meredakan mualnya."
Alexa pun meminumnya.
"Ada apa, nak? Nenek mendengar kamu muntah-muntah tadi dari bawah," tanya nenek sambil mengelus kepala Alexa.
"Alexa juga tidak tau, nek. Tiba-tiba saja perut Alexa sangat mual," jawab Alexa.
"Apakah kamu ada salah makan hari ini?" tanya nenek sambil memijat tengkuk Alexa.
Alexa menggeleng. "Tidak ada. Alexa hanya makan bersama Allard dan makan es krim tadi."
Omong-omong tentang es krim. Mungkinkah itu penyebabnya? Hari ini Alexa makan es krim sangat banyak, mungkin saja karena itu perutnya menjadi mual.
"Sepertinya ini karena kamu makan es krim terlalu banyak tadi," celetukku.
Alexa mengangguk. "Mungkin."
"Yaudah kamu tiduran aja dulu. Dokternya sedang menuju kemari," ujarku.
Alexa pun kembali berbaring dan aku mengelus perutnya itu. Tiba-tiba handphoneku berdering, aku menghentikan pergerakanku dan hendak pergi untuk menjawab telepon tapi Alexa menahan lenganku. "Jangan pergi."
"Sebentar aja, sayang. Aku harus menjawab telepon ini," ucapku sambil mengelus kepala Alexa.
Alexa menggeleng dan merengek. "Tidak mau. Perut aku mual lagi saat kamu berhenti tadi."
"Mualnya membaik saat aku mengelus perutmu?" tanyaku.
"Iya, karena itu tetaplah di sini dan elus terus perutku," jawabnya.
Akhirnya aku kembali duduk dan mengelus perutnya lagi. Nenek yang melihat itu pun teringat sesuatu dan bertanya pada Alexa. "Alexa, kapan terakhir kali kamu datang bulan nak?"
"Hmm sepertinya 2 bulan yang lalu," jawab Alexa.
Nenek terkejut mendengarnya. "Kamu telat datang bulan?!"
Alexa mengangguk. "Iya, Alexa memang sering seperti itu. Jadi tidak heran kalau kali ini pun Alexa telat datang bulan."
Ah raut wajah nenek terlihat kecewa. Aku paham mengapa nenek menanyakan hal tersebut karena aku juga sempat memikirkan hal yang sama.
"Nenek, datang bulan itu apa?" tanya Bella.
Oh kita melupakan kehadiran Bella di sini. Bagaimana nenek akan menjawabnya? Untung saja bukan aku yang bertanya.
"Hmm Bella mau makan kue? Nenek tadi baru aja membuat kue," ucap nenek mengalihkan.
"Mauu," jawab Bella semangat.
"Yaudah ayo kita ke bawah. Biarkan Alexa istirahat." Nenek menggandeng tangan Bella dan pergi. Untunglah Bella bisa dialihkan perhatiannya.
Tak lama kemudian, dokternya pun datang dan segera memeriksa Alexa.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanyaku.
__ADS_1
"Istri anda tidak mengalami hal serius, hanya mual biasa karena maag. Tolong jangan biarkan istri anda telat makan, tuan," jawab dokter itu.
"Ah ternyata maag. Syukurlah tidak ada masalah yang serius," ucapku lega.
"Saya akan buatkan resep obatnya, untuk menghilangkan mualnya," ujarnya.
Aku mengangguk "Baik, terima kasih, dokter."
"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pun pergi.
"Makan dulu ya? Aku beliin bubur," kataku.
"Iya tapi yang beli orang lain aja ya? Aku mau perutnya dielus terus sama kamu supaya tidak mual," jawabnya.
Aku mengangguk menuruti permintaan Alexa. Aku pun menelepon Dion dan menyuruhnya untuk membeli bubur.
Dion pun segera datang dengan membawa buburnya.
"Ini buburnya, tuan," kata Dion sambil memberikan bubur yang telah dibelinya.
Aku menerima buburnya.
"Sebentar ya, aku pindahin buburnya ke mangkuk dulu," ucapku.
Lagi lagi Alexa menahan lenganku. "Jangan pergi."
"Sebentar aja. Aku cuma mau pindahin buburnya ke mangkuk. Tidak baik makan di styrofoam seperti ini," jawabku.
"Biarkan Dion yang melakukannya. Kamu jangan pergi. Perut aku mual," ucapnya hampir menangis.
Alexa sudah seperti itu, mana mungkin aku menghiraukannya. Akhirnya Dion yang memindahkan buburnya. Setelah buburnya telah dipindahkan, Dion memberikan bubur itu padaku dan aku pun menyuapi Alexa.
"Nona sakit apa? Jarang sekali melihat nona manja seperti ini," tanya Dion.
"Maag Alexa kambuh. Aku juga tidak tau kenapa dia sangat manja, biasanya tidak seperti ini," jawabku.
Alexa yang mendengar ucapanku pun menjadi kesal. "Jadi kamu tidak suka kalau aku manja seperti ini?!"
"Bohong! Kamu jahat, Allard." Air mata Alexa mulai menetes.
Aku dengan panik menaruh buburnya di meja dan langsung mengelap air matanya itu. "Jangan menangis, sayang."
"Ka-kamu jahat," ucapnya sambil menangis.
Aku segera mengangguk. "Iya iya aku jahat. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Sekarang berhentilah menangis oke?"
"Kamu tidak suka aku bermanja padamu," sambung Alexa.
"Suka, sangat suka. Sekarang berhenti menangis dan lanjutkan makannya ya," ujarku.
Alexa menggeleng "Aku sudah kenyang."
"Makan lagi ya? Buburnya sedikit lagi habis kok," bujukku.
"Aku kenyang, Allard," jawabnya.
Aku menghela nafas. "Oke oke selesai. Sekarang minum obatnya ya."
"Tidak mau," tolaknya.
"Kenapa tidak mau?" tanyaku.
"Obat itu pahit. Aku tidak suka," jawab Alexa.
"Semua obat itu pahit, sayang," balasku.
"Pokoknya aku tidak mau minum obat!" ujarnya.
"Tuan, mungkinkah nona Al—"
__ADS_1
"Bukankah sudah aku katakan tadi? Maagnya hanya kambuh, itu saja," potongku.
"Bisa saja dokternya melakukan kesalahan, tuan," sambung Dion.
Aku juga berharap seperti itu tapi tidak mungkin dokter itu melakukan kesalahan karena dokter itu adalah dokter kepercayaanku yang sudah sangat lama bekerja denganku. Jadi tidak mungkin dia melakukan kesalahan.
"Sudahlah, Dion. Dokter itu tidak mungkin salah," jawabku.
"Ada baiknya anda memeriksanya langsung," usulnya.
"Jangan membuatku berharap. Sekarang aku harus fokus untuk kesembuhan Alexa. Kamu pulanglah, aku akan mentransfer uangnya nanti," ujarku.
Dion mengangguk. "Baiklah kalau anda berkata seperti itu. Saya pamit dulu, tuan."
Oke sekarang aku harus membujuk Alexa untuk meminum obatnya. Aku bingung harus membujuknya dengan apa karena tidak mungkin aku membujuknya dengan makanan.
Saat aku sedang berusaha membujuk Alexa, Bella masuk dan menunjukan gambarnya. "Daddy mommy, lihat gambar Bella. Bella menggambarnya sendiri loh."
"Wah itu adalah gambar yang sangat bagus Bella," puji Alexa.
"Hehehe terima kasih, mommy. Kalau daddy? Bagaimana menurut daddy gambar Bella ini?" tanyanya padaku.
"Bagus kok. Kamu sangat berbakat dalam menggambar rupanya," pujiku.
Bella tersenyum senang. "Terima kasih, daddy."
"Sekarang tidurlah. Ini sudah malam," ucapku.
Bella mengangguk. Bella mencium pipi Alexa dan juga pipiku sebagai ucapan selamat malam. Aku juga mencium kening Bella. "Good night, sweetie."
Bella pun keluar dari kamar kami.
Aku kembali membujuk Alexa. "Ayo sayang, minum obatnya setelah itu tidur."
Anehnya kali ini raut wajah Alexa sangat cemberut. Apakah dia kesal karena dari tadi aku terus memaksanya untuk minum obat?
"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu? Apakah kamu kesal karena aku terus memaksamu untuk minum obat?" tanyaku.
Alexa tidak menjawab.
"Aku juga tidak ingin memaksamu tapi kalau kamu tidak minum obatnya, rasa mual itu tidak akan hilang. Jadi minum obatnya ya?" bujukku.
"Aku juga mau ciuman darimu." Setelah mengatakan itu, Alexa kembali menangis.
"Oke oke i will give you a kiss," jawabku.
"Kalau begitu berikan padaku, cepat," desaknya.
"Tidak semudah itu. Kamu harus minum obatnya setelah itu aku baru akan memberikan ciumannya untukmu," ujarku.
Alexa langsung mengangguk. Aku memberikan obatnya dan dia meminumnya.
"Good girl," pujiku.
"Where's the kiss for me?" pintanya.
Aku tersenyum dan mencium kening Alexa. "This is a gift for you because you have been a good girl."
Alexa hanya tertawa senang.
"Sekarang tidurlah," perintahku.
"Tidurnya mau sambil peluk kamu," pintanya.
"Aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan," jawabku.
"No, you want to see me cry again?" tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Baiklah." Aku memposisikan diriku dengan nyaman dan memeluknya.
__ADS_1
"Elus perut aku lagi," pintanya.
"Iya iya." Aku mengelus perutnya sampai dia benar-benar tertidur.