
Selesai sarapan, aku pun bergegas pulang.
Sesampainya di rumah.
"Kamu istirahatlah dulu, karena kita akan menemui orang penting malam ini."
"Siapa orang itu?" tanyaku penasaran.
"Nanti kamu juga tau," jawab kakek.
"Apa sih kok main rahasia-rahasia," kataku kesal.
"Aduh aduh kenapa wajah adik cantikku ini cemberut," kata kak Alvaro yang tiba-tiba saja datang.
"Loh? Kok kakak ada di sini?" tanyaku heran.
Karena yang aku tau kak Alvaro seharusnya sedang di Italia sekarang untuk mengurus salah satu cabang perusahaan kami.
"Kok kamu kelihatan tidak suka gitu sih lihat kakak pulang cepat?" tanya kak Alvaro balik.
"Bukan gitu kak, urusannya udah selesai emangnya? Ada masalah apa sama perusahaan?"
"Udahlah anak kecil tidak boleh tau. Dah mending sekarang kamu istirahat sana. Kakak tau kamu semalam tidur di rumah sakit. Kebiasaan," kata kakak sambil mencubit hidungku.
Aku mengadu kesakitan. "Aduh sakit tau kak. Pulang-pulang kok jadi ngeselin sih. Udahlah tinggal di Italia aja sana. Kakak kan betah banget di sana, kalau ke sana bisa ga pulang selama berbulan-bulan."
"Itu karena pekerjaan sayang, bukan kakak yang mau," jawabnya.
"Perusahaan di Italia berjalan di bidang apa sih? Kayaknya bermasalah mulu. Lebih baik di jual aja ga sih? Sebelum bangkrut dan menyebabkan kerugian."
"Mau tau aja deh, lagian ga semudah yang kamu bilang. Orang waras pasti ga mau beli perusahaan kita yang di Italia itu."
"Alvaro!" Kakek tiba-tiba memanggil nama kakak dengan mata melotot.
"Aduh kakak ke kamar dulu ya, mau istirahat bye." Setelah mengatakan itu kakak pun langsung lari ke kamarnya.
Aku yang melihatnya bingung. Kenapa juga dengan ekspresi kakek tadi? Banyak sekali hal yang membuatku penasaran saat ini.
Malam pun tiba. Seperti kata kakek tadi siang, aku, kak Alvaro, dan kakek pergi ke restoran untuk bertemu seseorang.
Kami pun bertanya ke meja resepsionis.
"Permisi mba, meja atas nama Allard dimana ya?" tanya kakek.
"Oh atas nama tuan Allard ada di ruang VIP, saya akan meminta pelayan untuk mengantarkan." Resepsionis itu memanggil salah satu pelayan dan dia mengantarkan kami ke tempat tujuan.
"Bukankah sangat sulit untuk memesan ruangan VIP di restoran ini? Tapi orang ini bisa memesannya. Aku jadi penasaran siapa orang yang akan kita temui," gumamku.
Sesampainya ditempat tujuan, pelayan itu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Selamat malam, Allard," sapa kakek sambil mengulurkan tangan.
Orang tersebut pun menerima uluran tangan kakek dan berkata, "Malam Pak Bagas, anda semakin keren saja."
"Kamu bisa saja, Allard. Oh iya perkenalkan ini cucu perempuan saya, Alexa Olivia Harrison," ucap kakek.
Aku hanya tersenyum kepadanya.
"Seperti biasa bibit Harrison tidak pernah gagal, cucu perempuan anda sangat cantik," puji pria itu sambil tersenyum memandangku.
Aku yang tersipu mendengar pujiannya langsung menoleh ke arah lain.
__ADS_1
"Hei hei sudah cukup menggoda adik perempuanku, Allard!" peringat kakak.
"Kau masih saja bersikap posesif pada adikmu, Alvaro."
"Kakak kenal sama orang itu?" tanyaku sambil menunjuk ke arah pria itu.
"Alexa, tidak sopan menunjuk orang seperti itu!" tegur kakek.
Aku terkejut dan meminta maaf kepada pria itu.
"Tidak apa-apa. Iya aku kenal dengan kakak laki-lakimu, bisa dibilang kami teman seperjuangan saat ini," jawab pria itu.
"Teman seperjuangan? Apa maksudnya itu? Aku tidak mengerti," tanyaku lagi.
"Sudah sudah, kita lanjutkan obrolannya nanti. Sekarang ayo kita makan malam terlebih dahulu, kamu belum makan dari siang Alexa," kata kakek.
"Benarkah? Kalau begitu nona harus makan yang banyak karena makanan di sini sangat enak." Kami pun memesan makanan dan menikmatinya.
Selesai makan, kakek dan kak Alvaro izin pulang duluan. Awalnya aku juga ingin ikut pulang tapi kata kakek aku akan pulang di antar oleh pria yang bernama Allard itu. Sejujurnya aku masih sangat canggung dengan pria tersebut, tapi perkataan kakek tidak bisa dibantah. Jadilah sekarang aku pulang bersama pria itu. Tapi aku merasa dia membawaku semakin jauh dari rumah.
"Sepertinya ini bukan arah ke rumahku," ucapku.
Tapi dia tidak menjawabnya.
"Hei, aku sedang berbicara denganmu."
"Tenanglah, saya tidak akan menculik anda. Jadi tolong diam."
Perkataannya itu tidak menjawab rasa penasaranku sama sekali.
"Kemana anda akan membawa saya?"
tanyaku yang tanpa sadar menggunakan bahasa formal.
"Memberitahu? Memberitahu apa?" tanyaku tak mengerti.
"Anda akan dijodohkan dengan saya," jawabnya.
"DIJODOHKAN?!" teriakku.
"Berbicaralah dengan pelan nona, telinga saya masih berfungsi dengan baik!"
"Kenapa kita dijodohkan? Kita bahkan tidak saling kenal dan tidak pernah bertemu."
"Saya hanya mengikuti wasiat kedua orang tua saya. Nona bisa tanyakan ke pak Bagaskara soal itu. Omong-omong, apakah nona tidak ingin turun?"
"Hah?" Aku bingung mendengar perkataannya tapi saat aku menoleh ternyata kamu sudah sampai di depan rumahku. Aku pun turun dari mobil.
"Terima kasih atas tumpangannya, tuan," kataku.
Dia hanya mengangguk, kemudian pergi.
Setelah memastikan mobil pria itu tidak terlihat lagi, aku masuk ke rumah.
"Darimana kamu?" tanya kak Alvaro.
"Tidak tau, tadi aku tanya tapi tak dijawab sama dia. Eh tau tau udah sampai aja di depan rumah," jawabku.
"Yaudah, kamu mandi sana setelah itu istirahat." Aku mengangguk dan pergi ke kamar.
Keesokan harinya.
__ADS_1
"ALEXA BANGUN!" teriak seseorang
"Apa sih, kakek? Masih pagi ini," ucapku.
"Ayo bangun, Allard sudah menunggumu di bawah."
"Ya terus apa hubungannya sama aku?"
"Masih nanya? Kamu harus siapin untuk keperluan pernikahan dari sekarang."
Seketika aku duduk dan membuka mataku lebar. "PERNIKAHAN?!"
"Iya, makanya sekarang cepat bangun dan mandi."
"Tunggu tunggu, kakek bahkan belum ngomong apa-apa soal ini. Aku cuma baru dikasih tau sama pria itu kalau kita dijodohin, lalu kenapa tiba-tiba langsung menikah? Aku tidak mau!"
"Allard! Dia mempunyai nama. Soal itu kakek lupa memberitahumu dan kamu tidak bisa menolak."
"Loh? Tidak bisa gitu dong, hidup aku tentu aja aku yang atur. Dengan siapa aku akan menikah itu akan menjadi pilihanku. Kakek tidak bisa mengatur aku tentang itu."
Kakek duduk di sampingku dan menggenggam tanganku. "Alexa, kapan kakek pernah meminta sesuatu padamu hmm?"
Aku menunduk. "Tidak pernah."
"Ini pertama kalinya kakek meminta sesuatu kan? Apakah sulit untuk mengabulkannya?"
"Tapi aku tidak mencintai Allard."
"Alexa, cinta datang karena terbiasa sayang. Jalani dulu ya? Kalau memang tidak cocok kamu boleh membatalkannya. Lagi pula persiapan pernikahan tidak sehari dua hari, jadi kamu masih ada waktu untuk mengenal Allard."
"Baiklah. Tapi kakek janji ya, kalau aku masih tidak mencintainya maka aku boleh menolak perjodohan ini."
"Iya, kakek janji. Udah sana siap-siap." Kakek pun keluar dari kamarku.
Setelah kakek keluar, aku menangis sejadi-jadinya. Tidak pernah terbayangkan bahwa ini akan terjadi dalam hidupku. Aku benci ini. Yang aku inginkan adalah memilih pasangan hidup sendiri, karena aku harus tau latar belakang pria yang akan aku nikahi. Aku tidak mau menikah dengan pria yang memiliki hubungan dengan " hal " itu. Setelah puas menangis, aku pun mandi dan merias diri. Aku merias diri untuk menutupi mataku yang sedikit memerah akibat menangis tadi.
"Alexa, ayo sini sarapan dulu."
"Iya."
Aku memilih duduk disebelah kakak karena masih canggung kalau berdekatan dengan Allard.
"Ini rotinya, sudah kakak olesi dengan selai kesukaanmu."
"Terima kasih, kak."
Kami pun sarapan bersama pagi ini.
Selesai sarapan, aku dan Allard pergi ke salah satu toko perhiasan terkenal.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya pelayan itu ramah.
"Saya ingin membeli sepasang cincin pernikahan," jawabku.
Kemudian pelayan itu langsung mengeluarkan segala bentuk cincin pernikahan yang sedang populer belakangan ini. "Silakan dilihat dulu, nona."
Saat sedang melihat semua cincin itu, mataku tertuju pada satu jenis cincin yang menurut aku simple karena hanya memiliki satu permata dan permata itu adalah jenis permata terkenal dengan harganya yang fantastis.
"Bagaimana dengan ini?" tanyaku pada Allard.
"Hmm itu bagus," jawabnya.
__ADS_1
Akhirnya kami memutuskan untuk membeli yang itu. Setelah itu kami pergi ke tempat lainnya untuk mengurus hal lain lagi.