Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Pertemuan Nenek Bella dan Kakek Dhanu


__ADS_3

***POV NENEK***


"Bella, nenek mau ke supermarket sebentar ya," pamitku pada cucu perempuanku itu.


"Bella ikut," pinta Bella.


"Bella di sini aja ya? Bella mau titip apa? Nanti nenek pasti belikan," bujukku.


"No no. Bella mau pilih sendiri jadi Bella mau ikut," tolaknya.


Aku menghela nafas. "Yaudah tapi jangan bepergian sendirian oke? Tetaplah di dekat nenek."


"Iyaa," jawabnya.


"Yaudah ayo kita berangkat." Aku dan Bella pun pergi ke supermarket.


Sesampainya di supermarket, Bella dengan semangat langsung memilih segala makanan yang dia mau. Aku juga mulai memilih barang-barang yang dibutuhkan di rumah. Tuan dan Alexa belum berbelanja untuk bulan ini karena mereka terlalu sibuk jadi aku ingin membantunya dengan berbelanja duluan. Supaya saat tengah malam Alexa ingin makan, bahan makanannya sudah tersedia di kulkas.


Selesai berbelanja, aku segera membayarnya dan pulang. Di perjalanan pulang, seseorang tidak sengaja menabrakku hingga belanjaanku terjatuh.


"Ah maafkan saya," ucapnya sambil membantu aku membereskan belanjaan yang terjatuh.


"Tidak tidak, maafkan saya. Biar saya yang membereskannya sendiri," ucapku merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, belanjaannya terjatuh karena saya menabrak anda tadi," ujarnya masih membantuku.


Belanjaannya rapi dengan cepat.


"Terima kasih, tuan," kataku.


"Sama-sama dan tolong sekali lagi maafkan saya. Apakah ada yang luka?" tanyanya.


"Saya baik-baik saja," jawabku.


Aku menatap wajah orang yang menabrakku tadi dan betapa terkejutnya aku kalau orang yang telah menabrakku tadi adalah mantan suamiku.


"Rosa?!" ucapnya terkejut.


Aku menarik Bella dan bergegas pergi tapi orang itu langsung menahan lenganku. "Tunggu dulu, Rosa."


"Lepaskan tangan saya, tuan!" perintahku.


"Rosa, dimana aja kamu selama ini? Aku telah mencarimu bertahun-tahun," tanyanya.


Aku tidak menjawabnya.


"Rosa, jawab aku!" desaknya.


"Dimana saya berada itu bukanlah urusan anda dan tolong jangan pernah mencari saya lagi. Kita sudah selesai dari beberapa tahun yang lalu," jawabku.


Dia menggeleng. "Tidak. Kita tidak pernah selesai. Kamu yang pergi tiba-tiba saat itu jadi kamu masih istri sah aku."


"Nenek, dia siapa?" tanya Bella.


Orang itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah Bella. Aku segera menyembunyikan Bella ke belakang tubuhku.


"Apakah dia cucu kita?" tanya pria itu.


"Bukan cucu kita tapi cucu saya," jawabku ketus.


Orang itu menyamakan tingginya dengan Bella dan menyapanya, "Halo anak manis, siapa namamu?"


"Nama aku, Bella," jawab Bella.


"Nama yang cantik," pujinya.

__ADS_1


"Kakek ini siapa?" tanya Bella.


"Aku adalah kakekmu," jawabnya.


Dahi Bella mengkerut. "Kakek Bella?"


Dia mengangguk. "Iya sayang."


"Jangan dengarkan dia, Bella! Yang dia ucapkan hanyalah omong kosong. Ayo kita pulang, Alexa pasti sudah menunggu kita di rumah," ajakku.


Mendengar nama Alexa, orang itu pun bereaksi. "Alexa? Kamu kenal dengan Alexa?" tanyanya.


"Saya kenal dengannya atau tidak itu bukanlah urusan anda," balasku.


Karena tidak mendapat jawaban dariku, orang itu bertanya pada Bella. "Kalian mengenal wanita yang bernama Alexa?"


"Iya, dia adalah mommy Bella," jawab Bella.


"Mommy? Bukankah Alexa belum memiliki anak?" tanyanya bingung.


"Iya tapi bu dokter udah Bella anggap sebagai mommy Bella. Mommy baik banget sama Bella dan nenek. Mommy memberikan tempat tinggal yang nyaman dan makanan yang enak untuk Bella dan nenek," jelas Bella.


"Kalian tinggal bersama Alexa?" tanyanya lagi.


Bella mengangguk.


"Segera keluar dari rumah itu Rosa!" perintahnya.


"Anda tidak berhak mengatur saya, tuan!" bentakku.


Pria itu meremas bahuku. "Jangan keras kepala Rosa! Alexa adalah wanita yang berbahaya!"


"Jangan menghina mommy!" ucap Bella kesal.


"Bella, orang itu bukanlah ibumu dan orang seperti dia tidak layak menjadi ibumu! Dia adalah wanita pembunuh!" bentaknya pada Bella.


"A-aku tidak bermaksud untuk membentaknya," ucapnya merasa bersalah.


Orang itu hendak menyentuh Bella tapi aku menepis tangannya. "Jangan sentuh dia!"


"Aku hanya ingin menenangkannya," ujarnya.


"Kamu tidak akan bisa menenangkannya. Kamu hanya akan membuatnya bertambah takut," jawabku.


"Ne-nenek, Bella takut..." lirih Bella.


Aku berusaha menenangkannya. "Tenang Bella, nenek ada di sini."


Aku menatap pria itu. "Saya permisi tuan."


Dhanu menahan lenganku lagi. "Tunggu dulu ,Rosa."


"Apa lagi?!" tanyaku kesal.


"Kamu harus keluar dari rumah itu secepatnya!" perintahnya.


"Jangan mengaturku!" jawabku.


"Ini demi kebaikanmu," balasnya.


"Kamu selalu berkata seperti itu tapi selama ini hanya kamu yang diuntungkan. Kamu tidak pernah berubah Dhanu!" bentakku.


"Kali ini aku serius mengucapkan ini. Di sana berbahaya, Alexa terlalu berbahaya untuk Bella," balasnya.


Aku menatapnya tajam. "Tau apa kamu tentang Alexa?!"

__ADS_1


"Aku tau semua hal tentangnya. Dia adalah wanita berbahaya, Rosa. Menjauhlah darinya sebelum kau juga ikut terseret dalam masalahnya," jelasnya.


"Be-bella ingin pulang," rengeknya.


Aku mengangguk. "Iya iya kita pulang sekarang."


"Rosa, tolong dengarkan aku kali ini saja. Ini demi kebaikanmu dan Bella," pintanya.


"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu. Aku percaya dengan apa yang aku rasakan sendiri. Alexa adalah anak yang baik." Setelah mengatakan itu, aku segera pergi dari sana dan meninggalkan Dhanu sendirian.


***POV DHANU***


Setelah pertemuan singkat dengan Rosa, aku pulang dengan perasaan marah dan khawatir.


"Ada apa, tuan? Kenapa anda terlihat marah dan khawatir seperti itu?" tanya Regan.


"Aku bertemu dengan istri dan cucuku tadi di jalan," jawabku.


"Anda menemukan nyonya Rosa?! Dimana beliau sekarang? Kenapa anda tidak membawanya pulang ke sini?" tanya Regan beruntun.


Aku menghela nafas. "Dia tidak mau mendengarkanku."


"Sayang sekali. Padahal selama ini anda selalu mencarinya dan secara kebetulan kalian bertemu di jalan hari ini. Tapi tuan, tadi anda menyebutkan cucu? Apakah nona Nara sudah mempunyai anak? Bukankah beliau..." Regan menghentikan ucapannya karena dia tau kalau itu adalah hal sensitif bagi tuannya.


"Aku belum pernah menceritakannya padamu. Sebenarnya Nara bunuh diri setelah melahirkan anaknya karena laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab," ungkapku.


"Apakah anda tau siapa laki-laki itu tuan?" tanya Regan.


Aku menggeleng. "Tidak. Kalau aku tau akan aku pastikan kalau dia tidak akan bisa melihat dunia lagi. Yang aku tau kalau laki-laki itu satu universitas dengan Nara dan dia berasal dari jurusan kedokteran."


"Tuan, izinkan saya membantu anda dalam kasus ini," ujarnya.


Aku menoleh ke arahnya. "Kamu bisa?"


Regan mengangguk. "Iya, tuan. Kebetulan saya bisa meretas informasi orang lain."


"Baiklah. Aku serahkan semuanya padamu. Tolong ya, Regan," ucapku.


Tiba-tiba Regan terdiam, aku yang melihat itu pun bingung dan bertanya, "Ada apa, Regan?"


"Ti-tidak ada apa-apa, tuan," jawabnya.


"Kalau begitu cepatlah cari informasi tentangnya," ucapku.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Regan kembali sambil membawa beberapa kertas di tangannya.


"Silakan dibaca, tuan. Semua informasi tentangnya ada di situ," ucap Regan sambil memberikan kertas-kertas itu.


Aku menerimanya dan membacanya. "Jadi laki-laki bajingan itu bernama Devan Danendra dan sekarang bekerja di rumah sakit harmoni."


Mendengar nama yang tak asing, Regan pun berkata, "Rumah sakit harmoni? Bukankah itu tempat kerja nona Alexa juga? Dan lagi seingat saya, beliau juga mempunyai rekan kerja bernama Devan. Apakah mereka adalah orang yang sama? Tapi tidak mungkin."


"Kenapa tidak mungkin?" tanyaku.


"Karena tuan Devan adalah orang yang baik dan polos. Tidak mungkin orang sepertinya berani memperkosa seorang gadis. Dan lagi beliau sangat mencintai nona Alexa. Terlihat dari matanya yang selalu menatap nona Alexa itu," jelas Regan.


"Regan, dapatkan rambut orang yang bernama Devan itu. Aku akan melakukan cek DNA," kataku.


"Anda juga memerlukan rambut cucu anda kalau ingin melakukan tes DNA," ucapnya.


"Aku mempunyainya. Aku mengambil rambutnya saat bertemu dengan mereka tadi," jawabku.


"Baik, tuan. Saya akan melakukan perintah anda."


Regan berhasil mendapatkan rambut laki-laki itu dalam waktu singkat. Aku langsung melakukan cek DNA terhadap rambut Bella dan rambut laki-laki itu.

__ADS_1


"Tuan, hasilnya cocok. Itu artinya mereka berdua adalah ayah dan anak."


Melihat hasilnya, aku mengepalkan tanganku dengan erat. "Suruh Alexa ke kediamanku secepatnya!"


__ADS_2