Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Makan bersama


__ADS_3

Saat aku masuk rumah, suasana di dalam sangat gelap.


"Kok gelap?!" tanyaku heran.


Aku mencoba memanggil nenek tapi tidak ada jawaban. Aku yang mulai khawatir langsung mencari handphone untuk menyalakan senter. Tapi saat aku sedang mencari handphone, tiba-tiba saja lampu menyala dan... SURPRISE...


Aku terlalu terkejut hingga tidak tau harus merespon seperti apa. Bella berlari dan memelukku. "Bella kangen banget sama mommy."


Allard mendekat dan menepuk pipiku pelan. "Hei, ada apa? Kamu tidak senang melihat aku dan Bella?"


"Mommy? Mommy kok diam aja?" tanya Bella sambil melihat ke arahku.


Tiba-tiba air mataku turun begitu saja.


Bella, Allard, dan nenek menjadi panik melihat aku menangis.


"Mommy kok nangis?!"


"Sayang? Kamu kenapa? Ada yang sakit? Bilang sama aku biar kita ke rumah sakit sekarang."


"Alexa, kamu kenapa, nak?"


Mereka semua menanyakan alasan aku menangis dengan raut wajah khawatir.


Aku berjongkok dan memeluk lututku. Aku menangis sekeras-kerasnya. Bella yang melihatnya memelukku dan ikut menangis. "Mommy kok nangis sih. Mommy tidak senang lihat Bella ya?"


Allard mengelus kepalaku dan bertanya lagi. "Ada apa, sayang?"


Namun aku masih tidak menjawabnya. Akhirnya Allard menggendongku ala koala dan membawaku ke kamar. Bella mengikuti Allard, sedangkan nenek memberi ruang untuk Allard dan Bella berbicara denganku.


Di kamar.


Aku masih saja menangis. Selama aku menangis, Allard terus memelukku dan mengelus punggungku. Bella juga terus memelukku.


Saat tangisanku mulai reda, barulah aku berbicara, "Ka-katanya pulangnya besok?"


"Bukankah ini udah besok? Lihatlah jam berapa sekarang," ucap Allard.


Aku melirik ke arah jam dinding. Ah ternyata udah jam 1 malam. Tunggu. Jam 1 malam?!


"Kaget? Kamu main tidak ingat waktu. Sahabatmu itu akan aku hukum karena membuatmu pulang larut malam," kata Allard.


Aku pun panik mendengar perkataan Allard.


"E-ehh jangan, Jessica tidak salah apa-apa. Aku aja terlalu asik main tadi dan aku kira masih jam 8 malam."


"Tetap saja harusnya dia mengingatkanmu kalau sudah larut malam. Kalau dia sendiri juga lupa berarti dia juga terlalu asik, kan?" tanyanya.


"Jangan, Allard. Aku yang salah di sini," larangku.


"Tidak, dia tetap harus dihukum," tegasnya.


"Kumohon," pintaku dengan puppy eyes.


Allard menghela nafasnya. "Baiklah, aku maafkan kali ini. Tidak ada lain kali."


Aku mengangguk.


"Jadi kenapa kamu menangis tadi?" tanya Allard.


"Iya, kenapa mommy menangis tadi?" timpal Bella.


"Ah itu karena mommy terlalu terkejut melihat kalian berdua di sini," jawabku.


"Hanya itu?" tanya Allard tak percaya.


"Iya. Aku juga sangat senang melihat kalian berdua pulang. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu. Lihatlah Bella sudah sangat besar sekarang," ucapku sambil mencubit pipi gembul Bella.


"Iya. Selama di sana Bella tidak pernah membantah perkataan dokter ataupun daddy dan Bella juga makan yang banyak," cerita Bella.


"Good girl," pujiku.


Aku turun dari tempat tidur dan mengambil barang aku yang beli tadi. Aku memberikannya ke Bella dan Allard. "Ini untuk kalian. Mommy menghabiskan banyak waktu untuk memilihnya jadi mommy harap kalian menyukainya."


Mata Bella berbinar. "Wah hadiah. Bella boleh buka sekarang?"


"Boleh dong," jawabku.


Bella dengan semangat membuka semua hadiahnya. Dia sangat senang dengan semua itu.


"Bella suka?" tanyaku.

__ADS_1


Bella mengangguk cepat. "Suka mommy. Terima kasih, Bella akan menjaga semua hadiah dari mommy."


Berbeda dengan Bella, Allard hanya menatap ke arahku.


"Ada apa, Allard? Kenapa kamu malah menatap wajahku bukannya membuka hadiahnya?" tanyaku bingung.


"I really miss you, honey," ucap Allard tanpa melepaskan pandangannya padaku.


Aku tersenyum dan memeluk Allard. "Me too, Allard."


"Mommy, Bella ingin tidur dengan mommy malam ini," pinta Bella.


"Boleh dong," jawabku dengan senang hati.


"Tidak, Bella. Tidurlah di kamarmu sendiri malam ini," tolak Allard.


"Bella rindu sama mommy jadi mau tidur sama mommy," ucap Bella.


"Daddy juga merindukannya. Biarkan daddy melepaskan rindu terlebih dahulu dengan mommy," balas Allard.


"Tidak mau," tolak Bella.


"Bella!" peringat Allard.


Bella tetap bersikeras menolaknya. "Bella tidak mau, daddy. Daddy udah besar jadi ngalah dong sama Bella."


Sebelum perdebatan mereka tambah besar, aku langsung melerai keduanya. "Udah udah malam ini biarkan Bella tidur di sini."


Bella bersorak kegirangan sedangkan Allard menunjukkan raut wajah tak senang.


"Sayang," rengek Allard.


"Hanya malam ini, Allard. Lagi pula aku belum membersihkan kamar untuk Bella," ujarku.


Akhirnya Allard mengalah. "Baiklah tapi hanya malam ini ya."


Aku menyuruh Allard dan Bella untuk mengganti pakaiannya dan menggosok giginya. Setelah selesai kami semua naik ke kasur dan tidur. Tentu saja sebelum tidur ada perdebatan kecil lagi yaitu posisi tidurnya. Namun semuanya sudah selesai dengan aku yang tidur di tengah-tengah Allard dan Bella.


Keesokkan harinya.


"Ayo mommy," rengek Bella.


"Lain kali aja ya, sayang? Mommy sangat malas keluar hari ini," ucapku.


Dengan cepat aku menggeleng. "Tidak. Kita akan pergi tapi di lain hari."


"Bella maunya sekarang. Mommy juga bilang kalau akan mengabulkan keinginan Bella saat Bella sembuh. Bella mau jalan-jalan, mommy." Bella terus merengek untuk diajak jalan-jalan.


Aku tidak bisa marah padanya karena memang aku yang sudah menjanjikannya.


"Ada apa ini?" tanya Allard yang baru saja datang.


"Mommy tidak mau jalan-jalan bersama Bella," adu Bella.


"Kenapa sayang? Apakah kamu sakit?" tanya Allard khawatir.


"Aku tidak sakit, Allard. Aku hanya sedang malas keluar hari ini," jawabku.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lagi.


Aku menggeleng. "Tidak ada. Aku memang sedang malas keluar akhir-akhir ini."


"Walaupun Bella sudah memintanya sampai seperti ini?" tanya Allard.


Aku melihat ke arah Bella. Ah gadis itu nampak kecewa karena aku tidak mengabulkan permintaan pertamanya itu.


Aku menghela nafas. "Baiklah tapi kita akan pergi nanti malam ya? Karena terlalu panas kalau pergi sekarang."


Bella mengangguk senang dan langsung tersenyum sumringah. "Terima kasih, mommy."


Aku mengelus kepala Bella dan tersenyum padanya.


"Oh iya nenek dimana? Aku belum melihatnya dari tadi," tanyaku.


"Nenek ada di kamar," jawab Bella.


"Apakah kalian sudah makan siang?" tanya Allard.


"Belum. Aku baru aja mau memesan makanan," jawabku.


"Jangan pesan di luar. Makanan dari luar tidak baik untuk kesehatan," larang Allard.

__ADS_1


"Biar aku yang masak,"sambungnya.


"Kamu bisa masak?" tanyaku terkejut. Pasalnya aku tidak tau kalau Allard bisa masak.


"Tentu saja," jawabnya percaya diri.


"Daddy akan memasak untuk hari ini?" tanya Bella.


Allard mengangguk. "Iya. Bella ingin makan apa?"


"Bella mau nasi goreng," jawabnya senang.


"Siap, daddy akan buatkan yang enak. Kamu mau makan apa Alexa?" tanya Allard.


"Samain aja," jawabku.


"Yaudah aku ke kamar dulu sebentar untuk ganti baju," ucapnya.


"Kamu tidak lelah? Kamu baru aja pulang dari kantor loh," tanyaku khawatir.


"Tidak. Saat pulang ke rumah dan melihat kalian berdua, rasa lelahku menghilang," jawab Allard.


"Cepat daddy, cacing-cacing di perut Bella sudah berdemo," rengek Bella.


"Hahaha iya iya. Yaudah aku ganti baju dulu, kamu temani Bella main ya." Allard pun pergi ke kamar.


Setelah selesai berganti baju, Allard langsung pergi ke dapur dan membuatkan nasi goreng untuk aku dan Bella.


"Bagaimana rasanya? Apakah sesuai dengan selera kalian?" tanya Allard meminta pendapat.


"Enak. Ini nasi goreng paling enak yang pernah Bella makan. Terima kasih, daddy," puji Bella.


Allard mengelus kepala Bella. "Sama-sama."


Berbeda dengan Bella yang sangat menikmati nasi gorengnya. Aku merasa ada sesuatu di dalam nasi goreng ini. "Kamu memasukkan kencur ke nasi gorengnya?"


"Iya, kenapa? Tidak sesuai dengan seleramu?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Bukan begitu tapi...aku alergi terhadap kencur, Allard."


Setelah mengatakan itu, nafasku menjadi sesak dan secara tidak sengaja aku menjatuhkan sendoknya. Allard langsung menghampiriku. "Alexa?!"


"To-tolong ambilkan obat alergiku di meja samping kasur, Allard," ucapku.


Allard berlari ke kamar untuk mengambilkan obatku.


"Mommy kenapa?" tanya Bella khawatir.


Aku tidak menjawabnya karena aku harus menjaga agar nafasku tidak menjadi lebih buruk dari ini.


Allard datang dengan membawa sebotol obat. "Ini obatnya."


Aku langsung mengambil obat itu dan meminumnya. Perlahan sesak nafasku pun menghilang. Akhirnya aku bisa bernafas dengan baik.


"Sudah lebih baik?" tanya Allard.


Aku mengangguk.


"Maafkan aku karena tidak mengetahui tentang alergimu," sesal Allard.


"Tidak apa-apa. Ini juga salahku karena tidak memberitahumu. Aku tidak menyangka kalau kamu akan menambahkan kencur di nasi goreng," jawabku.


"Tidak tidak. Di sini aku yang salah karena tidak tau alergi istriku sendiri. Maafkan aku, Alexa," balasnya.


"Apa yang terjadi pada mommy tadi?" tanya Bella dengan raut wajah khawatir.


"Alergi mommy kambuh tapi sekarang sudah tidak apa-apa karena mommy sudah minum obat tadi," jawabku.


"Nafas mommy tidak sesak lagi?" tanya Bella.


"Iya. Bella lanjutkan makannya ya. Mommy baik-baik saja sekarang," ucapku.


Bella mengangguk dan kembali duduk di kursinya.


"Aku akan membuatkan nasi goreng lagi ya? Kali ini tidak pakai kencur," tawa Allard.


Aku menggeleng. "Aku mau roti saja."


"Baiklah. Aku akan membuatkan roti untukmu. Selai strawberry, kan?" tanyanya.


Aku tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Allard membuatkan roti untukku dan aku memakannya dengan lahap.


__ADS_2