Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Terungkap


__ADS_3

Aku segera bersiap-siap dan turun ke bawah.


"Mau kemana kamu?" tanya Allard.


"Ketemu Jessica sebentar," jawabku bohong.


"Aku akan mengantarmu," ucap Allard.


Namun aku segera menolaknya. "Tidak perlu. Aku akan membawa mobil sendiri karena Jessica minta dijemput."


"Baiklah, hati-hati oke. Kabari aku kalau ada sesuatu," ujarnya.


"Iya, aku pergi dulu ya. Tolong jaga Bella selama aku pergi, dia baru saja tertidur setelah lama menangis," jawabku.


Allard mengangguk.


Aku mengambil kunci mobil dan mengendarai ke tempat mansion kakek Dhanu. Aku terpaksa berbohong pada Allard karena kalau Allard tau tujuanku yang sebenarnya, dia tidak akan mengizinkannya.


Saat sampai di mansion kakek Dhanu, aku melihat Regan sudah menunggu di depan pintu mansion.


"Selamat datang, nona. Tuan telah menunggu anda," sambutnya.


"Tolong antarkan aku ke tempat kakek Dhanu berada," ucapku.


Regan mengantarku ke kakek Dhanu.


Di taman.


"Nona Alexa telah sampai tuan," kata Regan.


"Tinggalkan kami berdua. Jangan ada yang ke sini sampai aku memanggil!" perintah kakek Dhanu.


"Baik, tuan." Regan pun pergi.


"Halo Alexa, sudah lama kita tidak bertemu ya. Terakhir kali kita bertemu adalah sebelum kamu koma," ucap kakek Dhanu membuka pembicaraan.


Bagaimana kakek Dhanu bisa tau kalau aku koma? Tanyaku dalam hati.


"Tidak usah bingung seperti itu. Aku tau semua yang terjadi padamu," jawabnya.


"Sayangnya anda salah, tuan. Terakhir kali kita bertemu adalah saat anda sedang sakit. Saat itu saya menjenguk anda tapi saya menyesal sekarang," jawabku.


Kakek Dhanu tertawa. "Hahaha jadi waktu itu bukanlah mimpi. Baguslah kalau itu bukanlah mimpi, jadi aku tidak perlu menjelaskan lagi siapa dirimu sebenarnya."


"Apa yang anda tau tentang saya, tuan?" tanyaku to the point.


"Panggilanmu terhadap aku sudah berubah ternyata. Tidak apa-apa, aku juga tidak sudi dipanggil kakek olehmu," ujarnya.


"Tolong jawab pertanyaan saya, tuan!" desakku.


"Kamu ini sangat tidak sabaran, persis seperti ayahmu," gumamnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Anda kenal dengan ayah saya?"


"Tentu. Aku mengenal kedua orang tua kandungmu," jawabnya.

__ADS_1


"Tolong beritahu saya semuanya," pintaku.


"Apa imbalan yang aku dapatkan?" tanyanya.


"Apapun itu selama saya bisa memberikannya maka akan saya berikan," jawabku.


Kakek Dhanu terdiam sejenak. "Kalau begitu bebaskan Rosa dan Bella. Berikan mereka padaku."


Dahiku mengkerut. "Bebaskan? Saya tidak mengurung mereka dan mereka bukanlah barang yang bisa saya berikan semau saya."


Kakek Dhanu menatapku tajam. "Kau bilang akan memberikan apapun yang aku mau."


Aku mengangguk. "Tentu. Saya akan mempersilakan nenek dan Bella pergi kalau itu yang mereka mau."


"Kau licik, Alexa. Kau pasti telah mencuci otak mereka berdua untuk membenciku!" hinanya.


Aku semakin bingung dengannya. "Apa yang anda bicarakan? Saya saja tidak mengetahui hubungan antara anda dan mereka berdua. Jangan berbicara seolah-olah saya yang jahat di sini."


"Kau memang wanita jahat!" cerca kakek Dhanu.


"Wanita jahat? Kenapa anda menyebut saya seperti itu? Bahkan saya tidak tau kesalahan apa yang telah saya perbuat sampai anda menyebut saya seperti itu," kataku bingung.


"Ah iya kedatanganmu ke sini adalah untuk mengetahui identitas aslimu, kan? Sebelum aku memberitahumu, ada hal yang ingin aku tanyakan, kenapa kamu tidak menanyakan pada keluarga yang kamu sayangi itu? Kenapa kamu malah datang dan bertanya padaku? Oh jangan-jangan, kau tidak mempercayai mereka berdua?" tebaknya.


"Tentu saja saya mempercayai kakek dan kak Alvaro, tapi saya ingin mendengarnya dari anda terlebih dahulu. Karena anda memanggil saya wanita jahat dan wanita pembunuh. Saya ingin tau alasan apa yang membuat anda memanggil saya seperti itu. Saya merasa tidak pernah melakukan hal keji sampai harus dipanggil seperti itu," jelasku.


"Apakah kau yakin ingin mengetahuinya? Setelah mengetahuinya, kehidupanmu tidak akan sama lagi seperti dulu," peringatnya.


"Saya yakin karena saya harus tau apa yang terjadi di masa lalu," jawabku tegas.


Jantungku rasanya ingin meledak karena berdetak terlalu cepat. Aku takut tapi aku harus tau yang sebenarnya.


"Kamu ke sini pasti karena telah menemukan informasi kalau sebenarnya keluarga Harrison hanya memiliki satu pewaris laki-laki yaitu Alvaro. Tidak disebutkan di sana kalau keluarga Harrison memiliki anak perempuan, kan? Itu karena kamu bukanlah bagian dari keluarga Harrison. Kamu adalah anak tunggal dari keluarga Smith," ungkapnya.


Kakek Dhanu memberikan sebuah map coklat padaku. "Bacalah ini."


Aku membuka map coklat itu dan membaca dokumen yang ada di dalamnya.


"I-ini bohong kan?" Aku terkejut saat membaca isi dari dokumen itu.


"Tidak ada gunanya aku berbohong," jawabnya tenang.


Aku menatapnya tajam. "Ini pasti bohong! Bagaimana bisa aku adalah pewaris tunggal dari perusahaan senjata terbesar di Inggris sedangkan aku tidak pernah memegang senjata sedikitpun. Ini semua pasti tipuan."


"Kamu yakin tidak pernah memegang senjata sama sekali?" tanyanya.


"Aku yakin. Untuk apa aku memegang senjata sedangkan aku sendiri takut kalau itu bisa melukai seseorang," jawabku cepat.


"Kamu bukan tidak pernah tapi melupakannya. Ingatlah kebenarannya, Alexa. Kamu tidak bisa terus berlari dari masa lalumu. Tanggung jawab orang tua kamu ada pada dirimu sekarang," tuturnya.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Ini tidak mungkin!"


Tiba-tiba kakek Dhanu tertawa. "Hahaha lucu sekali. Kamu bisa mengobati dan bisa melukai seseorang kapan pun kamu mau. Pilihan ada di tanganmu, Alexa."


"Aku tidak bisa mempercayai ini," gumamku.

__ADS_1


"Tanyalah pada kakek dan kakak kesayanganmu itu," jawab kakek Dhanu.


"Lalu apa alasan anda selalu memanggil saya wanita jahat?" tanyaku.


Kakek Dhanu terdiam sejenak. "Kamu mengenal laki-laki yang bernama Devan Danendra?"


Aku mengangguk. "Iya. Devan adalah rekan kerjaku di rumah sakit."


"Apa hubunganmu dengan laki-laki itu di masa lalu?" tanyanya.


Dahiku mengkerut. "Masa lalu? Devan hanyalah kakak tingkat di kampusku."


"Hanya itu? Apakah kalian tidak pernah menjalin hubungan sama sekali?" tanyanya lagi.


"Tidak. Sebenarnya kenapa anda tiba-tiba membawa nama orang yang tidak ada hubungannya ini?" tanyaku bingung.


Kakek Dhanu menatapku. "Apakah pernah mendengar nama Nara?"


"Nara Inez? Iya, aku mengenalnya. Nara adalah kakak tingkatku di kampus juga. Dia seangkatan sama Devan jadi aku mengenalnya," jawabku.


"Kalian pernah berbicara?" tanya kakek Dhanu.


"Iya. Nara selalu bercerita padaku tentang Devan. Saat itu Nara sangat menyukai Devan tapi Devan selalu menempel padaku maka dari itu Nara selalu meminta bantuan padaku supaya bisa dekat dengan Devan," jawabku.


"Devan menyukaimu tapi bagaimana denganmu? Apakah kamu menyukainya juga?" tanyanya untuk kesekian kalinya.


Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak berminat untuk memiliki hubungan dengan siapapun saat itu. Ada apa sebenarnya? Kenapa dari tadi kita membicarakan orang yang tidak memiliki hubungan sama sekali?"


"Nara adalah putriku. Dia sudah lama meninggal karena bunuh diri," ungkapnya.


Mendengar itu aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. "Bunuh diri?! Bagaimana bisa? Nara adalah anak yang baik dan ceria."


"Dia dan laki-laki itu berhubungan dan karena itu Nara pun hamil. Tapi laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab. Laki-laki itu mencampakkan Nara begitu saja. Setelah melahirkan anaknya, Nara pun bunuh diri," jelasnya.


Aku terkejut mendengar cerita kakek Dhanu. Namun masih ada hal mengganjal di hatiku. Apa hubungannya ini semua denganku? Aku masih tidak mengerti kenapa kakek Dhanu memanggilku dengan wanita jahat. Aku tidak bisa menemukan alasannya di ceritanya itu.


"Lalu apa alasan anda memanggil saya wanita jahat? Saya tidak menemukan jawabannya dari cerita anda itu," tanyaku.


"Kamu juga penyebab Nara bunuh diri! Devan meninggalkan Nara karena dia menyukaimu. Devan lebih memilihmu dibandingkan Nara!" jawabnya dengan nada tinggi.


Aku mendelik. "Kenapa juga itu karena aku? Aku tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain terhadapku."


"Kalau kamu dengan tegas menolak Devan saat itu, mungkin dia tidak akan meninggalkan Nara. Kamu teman baiknya Nara tapi kenapa kamu tega menusuknya dari belakang? Kamu tau kalau Nara mencintai laki-laki itu tapi kamu tetap berhubungan baik dengan laki-laki yang dicintai oleh teman baikmu sendiri."


Yang dikatakan kakek Dhanu memang masuk akal. Saat itu aku tidak pernah menolak Devan dengan tegas. Kakek Dhanu benar, kalau saja aku menolaknya dengan tegas mungkin Nara tidak akan bunuh diri dan meninggal.


"La-lalu dimana anaknya Nara?" tanyaku.


"Di rumahmu," jawabnya singkat.


Aku mengernyitkan dahi. "Rumahku?"


"Iya karena Bella adalah anak yang dilahirkan oleh Nara dan neneknya Bella itu adalah istri yang selama ini aku cari selama bertahun-tahun. Jadi aku mohon kembali mereka padaku, Alexa," ucap kakek Dhanu memohon.


"A-aku permisi dulu." Aku pun pergi dari mansion kakek Dhanu.

__ADS_1


__ADS_2