Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Keinginan Bella


__ADS_3

***POV ALLARD***


Betapa terkejutnya aku saat melihat tubuh Alexa yang gemeteran seperti tadi. Alexa ketakutan hanya dengan melihat beritanya. Aku tidak bisa membayangkan kalau Alexa menyaksikan langsung adegan pembunuhan itu.


Aku harus menjauhkan dokumen-dokumen itu dari Alexa. Berbahaya jika dia melihatnya. Pikirku.


Aku menatap wajah Alexa yang sedang tertidur. "You are too cute to be with me."


Pernah terlintas di pikiranku untuk melepaskan Alexa suatu saat nanti karena aku yakin tidak akan pernah mencintai dia tapi ternyata aku salah. Sekarang aku sangat mencintainya sampai rasanya aku tidak rela melepaskan dia untuk siapapun walaupun aku tau kalau aku tidak layak untuknya.


Aku mengelus kepala Alexa. "Kenapa ini semua terasa sangat sulit? All I want is to be with you."


Aku mencium kening Alexa lama dan berakhir tertidur bersamanya.


Keesokkan harinya.


***POV ALEXA***


Saat bangun, aku tidak melihat keberadaan Allard. "Apa dia udah balik ke kantor ya?" Aku merenggangkan seluruh tubuhku.


Tiba-tiba Allard masuk dengan membawa paper bag di tangannya. "Hai sayang, udah bangun?"


"Udah, baru aja. Kamu darimana? Aku pikir kamu udah balik ke kantor," tanyaku.


"Tidak, tadi aku pulang ke rumah sebentar untuk mengambil bajumu." Allard memberikan paper bag itu ke aku.


Aku menerima paper bag itu. "Thank you."


"Sama-sama. Udah sana mandi, setelah itu kita cari sarapan," ucapnya.


"Kamu udah mandi?" tanyaku.


"Udah tadi di rumah," jawabnya.


"Yahh sayang sekali baru mau ngajakin mandi bareng hehehe," ujarku.


Allard terkejut mendengar perkataanku.


Dia mendekat ke arahku dan aku reflek berjalan mundur. "E-ehh mau ngapain kamu?! Jangan maju-maju begitu!"


"Tadi bilang apa? Coba ulangi!" perintahnya.


"Hah? Tidak, aku tidak ada bilang apa-apa. Kamu salah dengar," elakku.


"Alexa," panggilnya.


"A-apa?" tanyaku takut.


"Ulangi!" perintahnya.


"Ihh aku ga ada bilang apa-apa. Udah ah aku mau mandi." Aku bergegas lari ke kamar mandi tapi Allard segera menahan lenganku.


"Allard! Lepasin aku!" teriakku.


Allard mencium bibirku sangat lama. Tidak ini bukan ciuman singkat yang biasa kita lakukan. Oh my gosh aku mulai kehabisan nafas. Aku memukul dada bidang Allard tapi dia tidak bergeming sedikit pun.


Akhirnya Allard melepaskan ciumannya. Aku segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Allard!"


"Apa?"


"Are you crazy?!"


"Yes, because of you. Jangan bermain-main denganku lagi kalau tidak mau terjadi sesuatu yang lebih dari ini. Mengerti, Alexa?"


Aku hanya berdehem.


"Jawab!"


"Iya."

__ADS_1


"Good girl. Anggap aja itu morning kiss dari aku. Udah sana mandi, aku mau ke ruangan Bella."


"Hati-hati."


"Hati-hati?"


"Iya karena mungkin aja Bella marah denganmu."


"Hahaha she won't be mad at me."


"Huh kamu terlalu percaya diri."


"Kita lihat saja nanti." Allard pun pergi.


Aku juga masuk ke kamar mandi dan memulai rutinitasku.


***POV ALLARD***


Aku masuk ke ruangan gadis kecil yang akhir-akhir ini aku datangi. Gadis kecil itu nampak asik dengan tayangan yang sedang di tontonnya di tv.


"Hello baby girl, do you miss me?"


Bella langsung memelukku. "Yes, I really miss you."


Aku mengernyitkan dahi. "Kamu mengerti bahasa inggris?"


"A little," jawabnya.


"That's good," pujiku.


Bella tersenyum. "Bella mempelajarinya dari bu dokter saat sedang bosan. Bu dokter sangat baik dalam menjelaskannya jadi Bella cepat paham."


Aku mengelus kepalanya. "Lanjutkan belajarnya. Saat Bella sudah sembuh, aku akan membawamu jalan-jalan ke luar negeri. Mau?"


Bella menggeleng.


"Kenapa? Kamu tidak mau jalan-jalan?" tanyaku.


"Apa alasannya?" tanyaku lagi.


"Karena Bella mau jadi seperti bu dokter. Menyelesaikan pendidikannya di luar negeri dan kembali ke Indonesia menjadi dokter hebat," jawabnya senang.


"So, Bella mau jadi dokter seperti Alexa?"


"Iya."


"Wow that's a great plan, sweetie."


"I know hehe, tapi Bella rasa tidak akan bisa menggapainya."


"Why do you talk like that?"


"Bella tau biaya hidup di luar negeri tidaklah murah dan kakak juga tau kalau penyakit Bella kemungkinan untuk sembuhnya sangatlah kecil."


Aku merasa kagum dengan anak kecil ini. Di umurnya yang masih sangat dini ini, dia sudah memikirkan rencana untuk masa depannya.


"Hei Bella dengarkan aku."


Bella menatap mataku.


"Katakan padaku apa yang sangat kamu inginkan saat ini."


Bella terdiam.


"Just say it."


"Be-bella...ingin sekali sembuh. Bella ingin bermain dan belajar seperti anak-anak lainnya tapi Bella tau kalau itu adalah hal yang mustahil."


"Dokter Alexa pernah bilang kalau Bella bisa sembuh, kan?"


Bella mengangguk.

__ADS_1


"Lalu kenapa Bella bicara seperti itu?"


"Bu dokter memang bilang kalau Bella bisa sembuh tapi Bella harus dirawat di rumah sakit luar negeri. Rumah sakit ini aja biayanya sudah sangat mahal bagi kami apalagi rumah sakit luar negeri. Bella tidak mau menyusahkan nenek lebih dari ini. Sebenarnya Bella sudah sangat lama ingin menyerah tapi nenek selalu bilang kalau Bella harus kuat dan bertahan. Nenek bilang kalau Bella pergi, nanti nenek sendirian di sini," jelas anak kecil itu.


Tiba-tiba Alexa masuk dan memeluk Bella. "Bella, bu dokter udah pernah bilang kan ga perlu pikirin soal biaya rumah sakitnya. Biar bu dokter yang mengurus semuanya, yang penting Bella ada keinginan untuk sembuh dan berjuang."


Bella menggeleng. "Bella ga mau merepotkan bu dokter lebih dari ini. Ini juga udah cukup."


"Bu dokter tidak pernah merasa direpotkan oleh Bella dan nenek. Kalian berdua sudah seperti keluarga bagi bu dokter," jawab Alexa.


"Bu dokter bekerja karena sedang membutuhkan uang, kan? Kalau Bella melakukan itu maka bu dokter tidak akan punya uang," balasnya.


"Kata siapa? Kalau bu dokter mau, bu dokter tidak perlu bekerja. Namun ada anak cantik di sini yang membuat bu dokter semangat untuk bekerja dan banyak pasien-pasien bu dokter yang membutuhkan bu dokter juga," jelas Alexa.


"Jadi bu dokter orang kaya?" tanya Bella.


Alexa mengangguk. "Iya, sayang. Karena Bella udah tau kalau bu dokter orang kaya, jadi Bella mau kan berobat ke luar negeri? Bella ga perlu pikirin biayanya. Bu dokter akan menjamin semuanya dan nenek tidak perlu bekerja keras untuk membayarnya."


"Iya, Bella ma—"


Belum selesai Bella mengatakan jawabannya, neneknya Bella masuk dan memarahi Bella. "Tidak Bella. Kita tidak bisa merepotkan dokter Alexa lebih dari ini! Nenek yakin kamu bisa sembuh tanpa harus pergi ke rumah sakit di luar negeri."


"Nenek jangan seperti itu. Alexa tidak merasa direpotkan oleh kalian," ucap Alexa.


Nenek menggeleng. "Maaf dokter, tapi kami sudah banyak berhutang budi dengan dokter dan kami tidak ingin merepotkan lebih dari ini."


Aku mendekati nenek Bella dan menggenggam tangannya. "Nenek, biar saya yang membayar semua perawatan Bella di Amerika."


Nenek Bella melepaskan genggaman tanganku. "Tidak, tuan. Terima kasih atas tawarannya, tapi seperti yang saya bilang, saya tidak mau merepotkan dokter Alexa ataupun anda. Saya yakin Bella adalah anak yang kuat dan dia bisa sembuh di bawah perawatan dokter Alexa."


"Nenek, saya hanya mampu mencegah penyakit Bella untuk tidak bertambah buruk," ucap Alexa.


"Tidak apa-apa, dokter. Itu sudah cukup," jawab nenek.


"Tidak nek, itu belum cukup. Bella menginginkan kehidupan yang normal seperti anak-anak lainnya," ujarku.


"Saya tau. Saya sangat tau kalau Bella menginginkan bermain dan belajar seperti anak-anak lainnya tapi itu semua mustahil dengan keadaan Bella yang sekarang," tutur nenek.


"Tidak. Bella bisa sembuh kalau kita membawanya ke rumah sakit di Amerika. Di sana saya mengenal dokter hebat yang akan menyembuhkan penyakit Bella," balasku.


"Ta—"


"Percaya sama saya. Saya pasti akan berusaha membuat Bella sembuh dan bisa menjalani kehidupan sesuai dengan keinginannya!" tegasku.


Nenek menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa anda begitu baik, tuan?"


"Karena saya menyayangi Bella. Bella adalah anak baik dan pintar, jadi saya ingin menyembuhkannya dan menjadikan dia anak yang sukses nantinya. Bella sudah mengatakan kepada saya, kalau dia ingin menjadi dokter seperti Alexa dan saya akan mendukungnya dengan memberikan semua fasilitas yang dia butuhkan," jelasku.


Neneknya Bella menangis. Dia merasa sangat senang karena cucunya bisa sembuh dan hidup seperti anak-anak lain. "Terima kasih banyak, tuan. Saya tidak tau bagaimana harus membalas kebaikan anda ini."


"Saya hanya membantu sedikit. Selebihnya Bella harus berusaha keras untuk mewujudkan keinginannya," jawabku.


Bella menarik ujung jasku. "Kakak, apa Bella benar-benar akan sembuh dan bisa bersekolah?"


Aku mengelus kepala Bella. "Tentu, kamu bisa bersekolah dengan tenang dan melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi."


"Bagaimana dengan biayanya?" tanyanya khawatir.


"Aku yang akan membayar semuanya jadi cepatlah sembuh dan belajar dengan giat supaya kamu bisa seperti dokter Alexa oke? Kamu akan sekolah di tempat yang kamu inginkan," jawabku.


Bella memelukku. "Terima kasih, kakak."


Aku membalas pelukan Bella. "You're welcome, baby girl."


"Huh aku tidak diajak berpelukan?" ujar Alexa.


Bella tertawa. "Hahaha sini bu dokter. Ayo kita berpelukan."


Aku merentangkan sebelah tanganku. "Kemarilah sayang."


Alexa berlari ke pelukanku. Kami pun berpelukan dan neneknya Bella melihatnya dengan raut wajah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2