Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Mengantar Bella sekolah


__ADS_3

Aku juga sudah pernah mencoba bunuh diri tapi berhasil di gagalkan oleh Jessica yang tiba-tiba saja datang ke kamarku saat itu.


Flashback on.


Hari itu pelayan mengantarkan makananku seperti biasa ke kamar dan secara kebetulan ada pisau di piring itu. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil pisau itu dan menggoresnya ke lenganku, lebih tepatnya ke urat nadiku. Pelayan itu sempat menahanku tapi tenaganya tidak lebih kuat dariku. Sampai datanglah Jessica ke kamar dan langsung melempar pisau yang aku pegang. Dia menahanku untuk mengambil pisau yang terlempar itu.


"LEPASKAN AKU, JESSICA!" teriakku.


"Tidak. Jangan gila Alexa!" bentak Jessica.


"Biarkan aku mati. Aku harus membayar semuanya," ucapku terus memberontak.


"Membayar apa hah?! Jangan bicara omong kosong!" balasnya.


Aku terus memberontak sampai Jessica kesulitan untuk menahanku.


"Panggil tuan Allard. Cepat!" perintah Jessica pada pelayan itu.


Pelayan itu langsung berlari keluar untuk memanggil Allard.


"Tenangkan dirimu, Alexa!" Jessica masih berusaha sekuat tenaga untuk menahanku.


"Lepaskan aku, Jessica! Biarkan aku mati. Aku lelah," ujarku.


Jessica menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan hal itu. Masih banyak yang membutuhkanmu, Alexa."


Allard langsung masuk ke kamar dan mengambil alih diriku. "Biar aku yang tangani Alexa."


Jessica membiarkan Allard yang menanganiku.


Aku masih berusaha melepaskan diri untuk mengambil pisau yang tergeletak di sebelah sana. Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi pisau tadi mengenai urat nadiku tapi digagalkan oleh Jessica.


"Hei hei tenang sayang," ucap Allard lembut.


"Lepaskan aku, Allard!" ujarku yang masih memberontak.


"Aku akan melepaskanmu tapi jangan lakukan hal berbahaya dan kita obati lukamu itu," kata Allard.


"Kenapa kalian semua tidak membiarkan aku mati?!" tanyaku merasa kesal karena mereka tidak membiarkan aku mati.


"Because we love you, Alexa," jawab Jessica.


"Why? I don't deserve to be loved," tanyaku tak mengerti.


"No. You deserve it!" tegas Jessica.


Akhirnya aku berhenti memberontak.


"Kami semua menyayangimu, Alexa. Sudah cukup penderitaan yang kamu alami dulu," ucap Allard sambil memelukku tapi aku tidak membalas pelukannya itu.


"Sekarang kita obati luka ini ya," bujuknya.


Aku mengangguk.


Allard melepaskanku dan mengambil kotak obat lalu mengobati lukaku. Pisau tadi sudah diamankan oleh Jessica.


Flashback off.


Beberapa hari kemudian tibalah harinya dimana Bella akan masuk sekolah.


***POV ALLARD***


"Bella, kamu harus bersikap baik pada guru dan teman-temanmu," nasehatku.


"Siap, daddy," jawab Bella.

__ADS_1


Aku mengelus kepalanya. "Daddy yang akan mengantar dan menjemputmu hari ini."


Tiba-tiba saja Bella menunjukkan raut wajah sedih. Aku yang menyadarinya pun bertanya, "Ada apa? Kenapa sedih seperti itu? Kamu tidak senang di antar sama daddy?"


Bella menggeleng. "Tidak, Bella senang kok di antar sama daddy."


"Lalu kenapa murung?" tanyaku.


"Daddy, apakah mommy benar-benar tidak bisa mengantar Bella? Padahal Bella ingin sekali di antar sama daddy dan mommy di hari pertama Bella sekolah," jawabnya.


"Ada apa ini? Kenapa Bella sedih seperti itu?" tanya nenek.


"Bella sedih karena Alexa tidak bisa mengantarnya," jelasku.


"Bella sama tuan Allard dulu gapapa ya? Kondisi Alexa tidak memungkinkan untuk mengantar Bella sekolah. Jadi Bella tolong mengerti ya," ucap nenek.


Bella pun mengangguk. "Sebelum berangkat, Bella mau ketemu sama mommy dulu."


"Iya. Ayo kita ke kamar." Aku dan Bella pun pergi ke kamar.


Saat membuka pintu kamar, betapa terkejutnya aku melihat Alexa yang sudah berpakaian rapi.


Bella langsung berlari ke arah Alexa dan memeluknya. "Mommy mau kemana dengan pakaian rapi seperti ini?"


"Loh? Bukankah hari ini adalah hari pertama Bella masuk sekolah?" tanyanya.


Bella terkejut mendengar perkataan Alexa, begitu juga denganku.


"Jadi mommy bisa mengantarkan Bella ke sekolah?!" tanya Bella senang.


Alexa menjawab dengan anggukan. Saking senangnya, Bella sampai menangis di pelukan Alexa.


Alexa menyamakan tingginya dengan Bella dan mengelap air matanya. "Kenapa nangis? Bella tidak senang mommy bisa mengantarkan ke sekolah?"


Bella menggeleng dengan cepat. "Bella menangis karena Bella sangat senang. Terima kasih, mommy."


Bella menggandeng tangan Alexa dan berjalan mendekatiku.


"Allard? Kenapa kamu diam saja?" tanya Alexa.


"Ka-kamu yakin bisa ikut mengantarkan Bella ke sekolah? Kalau ka—"


Alexa menghentikan ucapanku. "Aku yakin. Aku sudah baik-baik saja sekarang."


Aku langsung memeluk Alexa. "I will always be by your side no matter what."


Alexa membalas pelukanku. "Thank you."


"Ayo kita berangkat," ajak Bella.


Aku melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Alexa. Saat turun ke lantai bawah, nenek terlihat terkejut melihat Alexa. Nenek pun menghampiri kami.


"Alexa, kamu baik-baik saja, sayang?" tanya nenek khawatir.


"Iya, Alexa baik-baik aja kok," jawab Alexa.


"Maaf ya," ucap nenek.


Alexa bingung dengan permintaan maaf nenek. "Untuk apa nenek minta maaf?"


"Pasti Bella memaksa kamu untuk mengantarkannya ke sekolah," jawab nenek.


Alexa pun terkekeh. "Tidak kok, nek. Ini keinginan Alexa sendiri." Alexa nampak terdiam sebentar sampai akhirnya dia melanjutkan perkataannya. "Alexa mencoba untuk menerima diri Alexa sendiri sekarang."


Mendengar itu, nenek langsung memeluk Alexa dan menangis. "Syukurlah. Nenek akan selalu menyayangimu."

__ADS_1


Alexa membalas pelukan nenek. "Terima kasih, nek."


Nenek melepaskan pelukannya. "Alexa mau makan apa sayang? Biar nenek masakin."


"Maaf, nek. Allard berniat untuk membawa Alexa jalan-jalan setelah mengantarkan Bella jadi nenek tidak perlu memasak untuk hari ini," ucapku.


"Kemana kamu akan membawaku pergi?" tanya Alexa.


"Nanti juga kamu tau," jawabku.


"Begitu? Ya sudah," balas nenek.


"Daddy mau pergi jalan-jalan tanpa Bella?!" tanya Bella dengan raut wajah kesal.


"Iya, daddy ingin mengajak mommy kencan hari ini," jawabku.


"Huh Bella akan membiarkan daddy untuk kali ini," balas Bella.


"Thank you, sweetie. Daddy akan membelikan sesuatu untukmu nanti," ucapku sambil mengelus kepala Bella.


Aku pun berpamitan pada nenek. "Kalau begitu kita pamit dulu ya, nek."


"Iya, kalian hati-hati ya."


Setelah itu aku dan Alexa pergi mengantarkan Bella ke sekolahnya. Sesampainya di sekolah Bella terlihat sangat senang ketika melihat sekolahnya itu.


"Wah sekolahnya besar sekali," puji Bella.


"Bella harus berteman baik sama semua orang ya," nasehat Alexa.


"Siap, mommy," jawab Bella.


"Kalau begitu daddy dan mommy pergi dulu. Nanti kita jemput lagi," timpalku.


Bella mengangguk. "Daddy dan mommy hati-hati ya."


Aku dan Alexa pun pergi setelah memastikan Bella telah masuk ke sekolahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Alexa.


"Kamu duduk manis aja. Aku yakin tempat itu tidak akan membuatmu kecewa," jawabku.


"Kamu tidak berangkat kerja?" tanyanya lagi.


"Hari ini aku cuti," jawabku.


Mata Alexa membelalak. "Cuti lagi?! Aku tau sejak kejadian itu kamu selalu cuti. Aku tidak akan kabur lagi Allard jadi tidak perlu takut begitu."


"Aku tidak sering cuti. Saat itu aku berkerja dari rumah dan yang aku khawatirkan adalah kesehatanmu, Alexa," balasku.


Wajah Alexa menjadi murung.


"Hei kenapa murung gitu?" tanyaku sambil mengelus pipinya.


"Maaf..." lirihnya.


"Maaf untuk apa?" tanyaku bingung.


"Maaf karena aku selalu merepotkanmu," jawabnya.


Aku menggeleng. "Tidak. Kamu tidak pernah merepotkanku."


"Ta—"


"Sudahlah. Aku mengajakmu jalan-jalan untuk membuatmu senang. Jadi jangan pikirkan yang kemarin-kemarin," ujarku.

__ADS_1


Alexa mengangguk.


Aku mengelus kepala Alexa. "Good girl."


__ADS_2