
Sesampainya di kantor, aku bergegas masuk. Aku terkejut karena suhu di dalam sini sangat rendah. Sepertinya air akan langsung membeku kalau dibiarkan di dalam sini. Aku berlari menuju ruangan kesehatan dan membuka pintunya. Tapi ternyata pintunya sudah membeku yang mengakibatkan sulit untuk dibuka.
Aku mendobrak pintunya dan pintu itu pun terbuka lebar.
Seorang wanita yang tadinya sedang fokus sampai menoleh karena mendengar suara yang keras. "Allard?!"
"****, what are you doing?!"
Alexa masih dalam keterkejutannya.
Aku pun menghampirinya. "Kamu ingin mati kedinginan di dalam sini hah?!"
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Obat bius yang kuberikan padamu harusnya bertahan selama 10 hari," ucapnya bingung.
Dion berlari masuk dengan nafas terengah-engah. "Maafkan saya, nona. Saya tidak bisa menahan tuan Allard."
"Jawab aku, Alexa!" Aku menggenggam lengan Alexa dan aku merasakan kalau tangannya sangat dingin. "Your hands are so cold."
Alexa segera menarik tangannya dan menggenggamnya. "I'm fine, Allard."
"Go home with me, right now!" perintahku.
"I can't," jawabnya.
"Oke hal hebat apa yang harus kamu lakukan lagi? Hal apalagi yang akan kamu korbankan untuk menyelamatkan semua karyawan tidak berguna itu?" tanyaku.
"Tidak ada hal yang aku korbankan, Allard. Aku baik-baik saja," jawabnya.
"Tangan sedingin es seperti ini kamu bilang baik-baik saja?" tanyaku lagi.
"Ini hal yang wajar karena suhu di sini sangat rendah," jawab Alexa.
"That's it. Kalau kamu di sini lebih lama lagi itu akan berbahaya untukmu," balasku.
Alexa menggeleng. "No, I'm fine."
Aku memijat pelipisku. "I don't know what to do with you anymore, Alexa."
***POV ALEXA***
Tiba-tiba salah satu karyawan itu terbangun. Aku langsung menghampirinya dan menanyakan kondisinya. "Bagaimana perasaan anda, tuan?"
"Apa yang telah terjadi?" tanyanya bingung.
Secara bersamaan, karyawan lainnya juga terbangun. Aku melihat yang lainnya.
"I did it," gumamku.
"Anda sangat hebat, nona," puji Dion.
Aku terduduk dan menangis. "Aku berhasil, Allard. Usahaku tidak sia-sia. Aku berhasil."
Allard tidak mengatakan sesuatu dan hanya memelukku.
Aku langsung memeriksa semuanya dan mereka telah baik-baik saja sekarang.
Allard menggenggam tanganku. "Selesai? Pulang sekarang!"
"Ta—"
"Aku sudah cukup bersabar, Alexa. Mereka semua akan dirawat oleh perawat kantor. Tugasmu telah selesai sekarang."
Aku pasrah dan pulang bersama Allard.
Saat sampai di rumah, Bella langsung berlari memelukku. "Mommy."
"Jangan peluk mommy dulu, Bella," larangku.
"Bella rindu sama mommy. Mommy kemana aja selama 5 hari ini?" tanyanya.
"Astaga nak, kamu darimana aja?" Nenek mendekatiku dan menggenggam tanganku. "Tanganmu dingin sekali."
__ADS_1
"Alexa baik-baik aja, nek," jawabku.
"Nenek akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi," ucap nenek.
"Tidak perlu, nek," tolakku.
"Sudah kamu diam saja." Nenek benar-benar menyiapkan air hangat untukku mandi. Aku pun mandi dengan air yang disiapkan oleh nenek dan langsung tidur.
Setelah hari itu, Allard benar-benar tidak mengizinkanku untuk keluar rumah. Bella diantar oleh supir yang Allard rekrut baru-baru ini. Kakek, nenek, kak Alvaro, dan Jessica sangat marah saat mengetahui hal itu. Mereka juga mendukung Allard untuk mengurungku di rumah. Aku tidak menyesal melakukan itu karena Dion bilang kalau semua karyawan di kantor telah sembuh sepenuhnya dan mereka merasa sangat berterima kasih padaku. Mereka ingin mengucapkannya secara langsung tapi Allard melarang mereka untuk menemuiku.
Sudah berhari-hari aku terkurung di dalam rumah tanpa diperbolehkan jalan-jalan keluar. Allard bilang jalan-jalan di sekitar rumah saja sudah cukup. Memang rumah kita memiliki halaman yang luas tapi aku ingin pergi jalan-jalan keluar.
Tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Aku menerima telepon itu karena nenek sedang pergi.
"Halo."
"Selamat siang. Bisakah saya berbicara dengan orang tua dari ananda Bella?"
"Ya, saya ibunya."
"Ah begini ibu Bella. Sejak pagi, suhu tubuh Bella sangat tinggi. Saya sudah bilang pada Bella untuk pulang saja tapi dia tidak mau dan sekarang tubuhnya menggigil."
Aku pun terkejut mendengarnya.
"Saya akan menjemputnya sekarang. Ibu tolong jaga putri saya sampai saya datang."
"Baik."
Aku bergegas mengambil sweater dan kunci mobil. Saat ingin keluar rumah, penjaga menahanku. "Maaf nyonya, anda tidak diperbolehkan untuk keluar rumah oleh tuan."
"Aku hanya ingin menjemput Bella sebentar aja," jawabku.
"Nona Bella akan diantar jemput oleh supir," balasnya.
"Bella sedang sakit jadi aku yang harus menjemputnya. Bapak jangan menahan saya deh. Saya sedang buru-buru," kesalku.
"Aduh maaf nyonya tapi tuan meminta saya untuk menahan anda kalau mau keluar rumah," jawab penjaga itu.
Aku sangat kesal saat ini. Bukan kesal dengan penjaga rumah tapi kesal dengan keadaan dimana aku tidak boleh keluar rumah.
"Saya telepon tuan dulu untuk menanyakan hal tersebut," ujarnya.
Aku menghela nafas. "Kelamaan pak. Allard pasti mengizinkan kok."
"Sebentar aja, nyonya," ucapnya.
Akhirnya aku mengangguk setuju. Penjaga itu pergi ke posnya dan mengambil handphone untuk menghubungi Allard. Bukan Alexa namanya kalau patuh terhadap seseorang. Aku pun langsung masuk ke mobil dan menjalankannya. Dengan kecepatan tinggi, aku pergi ke sekolah Bella.
Sesampainya di sekolah Bella, aku bergegas masuk dan mencarinya di uks. "Dimana putri saya?"
"Bella baru saja tertidur. Saya telah memberikannya obat penurun panas," ucap guru itu.
"Terima kasih telah menjaga Bella," ujarku.
"Sama-sama," jawabnya.
Aku pun menggendong Bella. "Kalau begitu saya dan Bella pamit pergi ya, bu."
Guru itu mengangguk.
Aku dan Bella pun pergi. Dengan hati-hati, aku meletakkan Bella di kursi samping.
Selama perjalanan, Bella selalu mengigau dalam tidurnya. "Jangan pergi, mommy."
Aku mengelus kepalanya. "Hei mommy di sini sayang."
Bella terus mengigau dan sesekali meneteskan air mata. Aku memutuskan untuk membawa Bella ke rumah sakit karena suhu tubuhnya masih sangat tinggi.
Sesampainya di rumah sakit, Bella langsung diperiksa sama dokter. Ternyata Bella hanya demam biasa. Aku merasa sangat lega saat mendengarnya.
Tiba-tiba, handphoneku berdering. Aku sangat takut mengangkat telepon itu karena aku tau siapa yang sedang menghubungiku.
__ADS_1
Dengan nyali yang sangat kecil, aku pun menerima telepon itu.
"Halo."
"Dimana kamu?!"
"A-aku di rumah sakit."
"Rumah sakit?! Astaga apa yang terjadi denganmu?"
"Tidak terjadi apa-apa denganku."
"Lalu untuk apa kamu di rumah sakit?"
"Bella sakit, Allard."
"Kirimkan aku lokasi rumah sakitnya."
"Iya."
"Kamu jangan berani pergi kemana-mana. Aku akan meminta penjelasan lengkapnya darimu nanti."
Allard pun mematikan teleponnya.
Tidak butuh waktu lama, Allard sampai ke rumah sakit.
"Gimana kondisi Bella?" tanyanya.
"Udah lebih baik dari sebelumnya," jawabku.
"Ceritakan semuanya sekarang!" perintahnya.
"Kamu ga mau lihat keadaan Bella dulu?" tanyaku.
"Nanti. Biarin Bella istirahat," jawabnya.
Aku pun menghela nafas panjang. Ternyata memang tidak bisa lari dari perintahnya. Aku mulai menceritakannya tanpa ada kebohongan sedikitpun karena Allard tidak menyukainya.
"Jadi kamu kabur?" tanya Allard.
"Bukan kabur Allard. Aku hanya pergi dengan buru-buru," jawabku.
"Penjaga rumah kita belum selesai menelepon aku dan kamu udah pergi. Itu namanya kabur," balasnya.
Aku pun memutar bola mata malas. "Terserah kamu."
Aku dan Allard masuk ke ruangan Bella dan memeriksa keadaannya. Aku menyentuh kening Bella untuk memastikan apakah panasnya sudah turun atau belum. Saat aku menyentuh keningnya, mata Bella terbuka dan tangannya memegang tanganku.
"Mommy," panggilnya dengan suara lemah.
"Iya Bella. Mommy di sini. Apa yang kamu butuhkan sayang?" tanyaku menatap Bella.
Bella tidak menjawabnya dan menatap ke arah Allard. Allard yang mengerti pun mendekatinya.
Bella memegang tangan Allard dan menyatukan tangan kami. "Bella sayang sama kalian. Bella mau sama mommy dan daddy terus."
Aku mengelus kepala Bella dengan tangan yang satunya lagi. "Iya sayang. Mommy dan daddy akan terus bersama Bella."
Tiba-tiba saja Bella menangis.
"Hei kenapa anak manis?" tanya Allard.
"Mommy sama daddy jangan pernah tinggalin Bella. Mommy sama daddy harus sama Bella sampai Bella besar," ucap Bella.
Entah mengapa mendengar ucapan Bella membuatku ikut menangis. Ada perasaan aneh di hatiku saat mendengarnya.
"Iya sayang. Daddy ga mungkin ninggalin kalian berdua," ucap Allard.
"Sekarang Bella tidur ya? Istirahat," bujukku.
"Mommy sama daddy harus temenin Bella di sini," pinta Bella.
__ADS_1
"Iya sayang," jawabku.
Aku dan Allard berbaring di sisi Bella. Beruntung tempat tidurnya sangat besar jadi cukup untuk kami bertiga.