
Tak lama kemudian kita sampai di sebuah bangunan yang sangat besar.
"Selamat datang tuan, ini surat-surat rumahnya," ucap Dion.
Rumah? Ini bahkan sebesar istana kerajaan, apa masih bisa dibilang rumah? Ucapku dalam hati.
"Kerja bagus, Dion. Kamu bisa pergi sekarang. Uangnya akan saya transfer."
"Baik, saya permisi. Oh iya selamat atas pernikahan kalian berdua," ucapnya.
Kemudian Dion pun pergi.
Allard menggenggam tanganku. "Ikut aku."
Dia membawaku ke suatu ruangan yang sangat besar. "Ini akan menjadi kamar kita. Kenapa masih kosong karena aku menyerahkan semuanya padamu. Kita akan menghabiskan banyak waktu di kamar ini jadi aturlah sesuai keinginanmu. Tapi aku harap jangan gunakan warna merah muda."
"Kenapa aku yang mengatur? Bagaimana kalau nantinya kamu tidak nyaman?"
"Apapun asalkan itu kamu, aku merasa nyaman."
Jantungku berdetak sangat cepat.
Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Apakah aku sakit? Tanyaku dalam hati.
Allard memberikan kartu hitam padaku. "Ini kartu untuk membeli semua yang dibutuhkan. Gunakan saja sesukamu."
"Black card? Aku tidak akan membeli banyak barang untuk apa kamu memberiku ini?"
"Untuk berjaga-jaga saja. Takutnya ada hal lain yang ingin kamu beli."
"Baiklah, terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih, mulai sekarang uangku adalah uangmu juga jadi gunakanlah sesuka hatimu."
Hari demi hari berlalu, akhirnya aku menyelesaikan dekorasi rumah ini. Tentu saja aku tidak melakukannya sendiri, aku dibantu oleh sahabatku, asistenku, kakak, kakek, dan Allard.
Aku pun mentraktir Merry dan Jessica untuk makan di salah satu restoran yang aku sukai. "Terima kasih karena kalian mau membantuku."
"Santai aja, kita ini sahabat."
"Iya nona, sudah sewajarnya saya membantu anda."
"Merry,"
"Ah iya maaf Alexa, aku masih belum terbiasa."
"Sudah lewat beberapa bulan sejak aku memintamu memanggil nama dan kamu masih belum terbiasa?"
"Sudahlah Alexa, kamu juga masih belum terbiasa manggil sayang ke Allard, kan?" ucap Jessica.
Aku yang sedang minum pun tersedak. "Jessica!"
Jessica tertawa. "Hahaha maaf maaf."
"Eh sebentar, handphoneku berdering."
Kulihat nama si penelepon "Dion?"
Aku mengangkat teleponnya. "Halo Dion, ada apa?"
"Maaf mengganggu waktunya, tapi apakah nona bisa ke kantor sekarang?"
"Ke kantor? Untuk apa?"
"Suhu tubuh tuan sangat tinggi dan dia tidak mau istirahat, hanya nona yang bisa meminta tuan Allard untuk istirahat."
"Baiklah aku akan ke sana sekarang. Kirim alamat kantornya."
"Baik, nona."
Telepon dimatikan.
"Kenapa Alexa?" tanya Jessica.
"Allard sedang sakit tapi dia tidak mau istirahat jadi sekarang aku mau pergi ke kantornya," jawabku.
__ADS_1
"Biar saya temani."
"Tidak perlu, Merry. Kamu pulang aja sama Jessica. Jessica, aku minta tolong antar Merry pulang ya."
"Itu pasti, tapi kamu sama siapa ke kantor Allard?"
"Aku akan naik taksi."
"Oh no no, aku anterin kamu baru aku anterin Merry. Tidak menerima penolakan oke."
"Baiklah."
Kami pun naik ke mobil Jessica dan pergi ke kantor Allard. Setelah teleponnya dimatikan, Dion langsung mengirimkan alamatnya.
Tak butuh waktu lama kami sampai di kantornya.
"Di sini?"
"Iya."
"Kamu yakin?"
"Iya, mapsnya berhenti di sini. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyaku bingung.
Pasalnya raut wajah Jessica seperti orang yang tau tentang kantor ini dan raut wajahnya tidak menunjukan bahwa ini adalah hal yang baik. Tapi karena aku juga sedang terburu-buru jadi aku menghiraukannya.
"Ah tidak. Hubungi aku kalau ada sesuatu."
"Iya. Terima kasih, Jessica."
Aku pun langsung masuk.
Sesampainya di dalam, aku menghampiri resepsionis. "Permisi, saya ingin bertemu dengan pak Allard. Apakah beliau ada di ruangannya?"
"Maaf, dengan siapa dan keperluannya apa?" tanya resepsionis itu.
Saat aku ingin menjawabnya, tiba-tiba seseorang memanggilku. "Nona Alexa."
"Dion? Allard dimana?"
"Tuan ada di ruangannya sekarang. Saya akan mengantarkan nona."
"Ini ruangannya. Saya mohon tolong bujuk tuan untuk istirahat."
"Iya, akan aku usahakan." Aku pun masuk ke dalam.
"Bukankah sudah saya katakan bahwa saya baik-baik saja? Kamu berisik sekali, Dion." ucap Allard yang masih fokus dengan tumpukan dokumen tersebut.
"Allard."
Mendengar suara yang tak asing Allard pun menoleh ke sumber suara. "Alexa? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Dengan langkah ragu aku mendekati Allard. "Kata Dion kamu sakit?"
"Bedebah itu mengatakan hal omong kosong lagi."
Dengan sedikit keberanian yang tersisa, aku memegang dahi Allard. Panas. "Allard?! Badan kamu panas banget. Sebentar, aku akan mengecek suhu tubuhmu."
Aku mengambil termometer yang selalu aku bawa di tas dan mengeceknya pada Allard. Aku melihat angka di termometer itu. "45°C?! Tinggi banget. Sekarang kita ke rumah sakit."
"Tidak usah berlebihan, Alexa. Ini hanya panas biasa."
"Allard! Kamu demam tinggi dan kamu perlu dirawat!" kataku yang tanpa sadar menggunakan nada tinggi.
"Alexa! Saya tidak suka kamu menggunakan nada tinggi seperti itu!" bentaknya.
Aku terlonjak kaget dan tanpa sadar air mataku turun. Allard yang melihat itu langsung menghampiriku dan memelukku.
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya tidak suka dengan nada tinggimu itu. Don't cry, please. I'm sorry."
"Kita ke rumah sakit ya?" pintaku perlahan.
Allard mengangguk pasrah. "Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, tapi tunggu sebentar ya? Masih ada beberapa dokumen penting yang harus aku selesaikan hari ini."
Aku mengangguk.
__ADS_1
Allard menarikku untuk duduk di pangkuannya.
"Allard jangan seperti ini. Nanti kalau ada yang masuk gimana? Aku malu," ucapku sambil berusaha melepaskan diri darinya.
"Malu kenapa? Kita sudah menikah. Lagi pula tidak akan ada yang berani masuk tanpa izin dari aku."
"Ya ya ya terserah kamu. Cepat selesaikan pekerjaanmu."
"Iya sayang."
Sambil menunggu Allard menyelesaikan pekerjaannya, aku memainkan rambut Allard.
Setelah semua pekerjaannya selesai, aku langsung membawa Allard ke rumah sakit dan benar saja dia perlu dirawat.
"Makanya jangan terlalu berlebihan dong. Uang banyak tapi kamunya sakit seperti ini untuk apa?"
"Untuk kamu"
Aku menghela nafas. "Allard, aku juga bekerja jadi aku punya penghasilan sendiri juga."
"Ya itu kamu tabung dan uangku kamu pakai saja untuk membeli semua kebutuhanmu."
"Terserah kamu sajalah. Aku keluar dulu, mau lihat pasien yang lain."
Allard yang tidak ingin ditinggalkan langsung menahan lenganku. "Tidak boleh! Jangan pergi."
"Loh? Tidak boleh kenapa? Aku dokter di rumah sakit ini jadi udah sewajarnya aku memeriksa pasien yang lain."
"Tapi suamimu ini lagi sakit loh, kamu tega ninggalin aku?"
"Tega, lagian tadi siapa yang bilang cuma panas biasa hmm?"
"Iya maaf aku salah, tapi jangan tinggalin aku ya?" pintanya memohon.
"Sebentar aja, nanti kalau udah selesai aku langsung ke sini kok."
"Tidak mau."
"Kamu kok jadi manja gini sih?"
"Manja sama istri sendiri gapapa, kan?"
"Iya sih tapi aku harus kerja."
"Izin aja."
"Buat apa izin? Kamu dirawat di rumah sakit tempat aku bekerja."
"Pokoknya tidak boleh pergi!"
"Sebentar aja ya, sayangku."
Tiba-tiba seseorang mendobrak pintu.
"ALEXA KAMU SAKIT APA?!"
"Kakak?!"
"Kamu sakit? Sakit dimana? Kasih tau kakak," ucapnya sambil mengecek seluruh tubuhku.
"Tenang kak, aku tidak sakit. Yang sakit itu Allard."
"Allard? Astaga kamu bikin kakak jantungan Alexa." Kakak terduduk lemas.
"Lagian dengar informasi dari siapa sih? Salah tuh yang ngasih informasi."
"Alexa, kakek ingin berbicara sebentar dengan Allard."
"Yaudah, aku juga mau keluar kok. Mau cek pasien aku yang lain. Kakek dan kakak tolong jaga Allard selama aku pergi ya."
"Tentu."
"Apa sih, kamu kok ngomongnya kayak orang mau pergi lama aja," gerutu Allard.
"Loh? Aku cuma minta tolong jagain kamu supaya tidak kabur."
__ADS_1
"Tapi cara bicara kamu seolah-olah mau pergi lama tau dan aku tidak suka hal itu!"
"Perasaan kamu aja. Udah ya aku mau pergi." Aku pun pergi meninggalkan mereka bertiga.