Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Keberangkatan Bella


__ADS_3

***POV ALEXA***


Beberapa minggu kemudian. Prosedur pemindahan rawat inap Bella telah selesai. Akhirnya Bella sudah bisa diberangkatkan ke Amerika untuk mendapatkan pengobatan yang intensif dan hari ini adalah hari keberangkatan Bella. Aku, Allard, Nenek Bella, Dion, Devan, dan Jessica telah berada di bandara. Bella akan ditemani oleh Allard dan Dion selama di sana.


Aku dan Allard tidak akan bertemu selama beberapa tahun karena Allard juga ada kepentingan di Amerika. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa beberapa tahun? Karena salah satu perusahaan Allard yang ada di Amerika mengalami masalah yang sangat besar dan pastinya akan sangat sulit dan menghabiskan waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Sebenarnya cukup berat untukku ditinggal jauh oleh Allard dalam waktu yang lama tapi Allard mengatakan kalau dia akan pulang beberapa bulan sekali untuk menemuiku.


"Bella dengarkan ucapan tuan Allard ya? Jangan membantahnya, kamu harus patuh selama di sana!" ucap nenek memberi pesan.


"Siap nenek. Bella akan menjadi anak baik dan tidak merepotkan kakak di sana," jawab Bella.


"Halo anak cantik, wah pak dokter bakal kangen banget sama kamu," ucap Devan.


"Bella juga bakal kangen banget sama pak dokter," balas Bella.


Mata Devan berbinar mendengarnya. "Benarkah?"


"Bohong hehe. Ngapain juga Bella kangen sama pak dokter, malah Bella iri sama pak dokter karena sekarang pak dokter bisa menguasai bu dokter sepuasnya," jawabnya.


Devan tertawa mendengar perkataan Bella. "Iya juga hahaha."


"Kalau Bella udah sembuh dan kembali ke Indonesia, Bella ga bakal biarin pak dokter deket-deket sama bu dokter!" tegasnya.


"Wah kalau begitu pak dokter harus memanfaatkan waktu ini dengan baik dong sebelum Bella pulang," ledek Devan.


Bella langsung memelukku. "Bu dokter jangan sering-sering ketemu sama pak dokter ya!"


"Mana bisa begitu, bu dokter harus bekerja jadi bakal ketemu sama pak dokter terus," jawabku.


"Ya kalau ketemu, bu dokter menghindar aja. Lewat jalan lain atau sembunyi dulu," balasnya.


Aku tertawa mendengar ucapannya itu. "Hahaha kamu ada-ada aja. Lagian kenapa kamu ga mau kalau bu dokter ketemu sama pak dokter?"


Aku sangat penasaran kenapa Bella terlihat tidak suka saat Devan dekat-dekat denganku.


"Soalnya pak dokter genit. Semuanya digodain sama pak dokter dan Bella ga mau kalau bu dokter tergoda juga sama pak dokter genit itu," jawab Bella.


"Ya ampun Bella ternyata kamu diam-diam suka memperhatikan pak dokter ya," goda Devan.


"Ihh pak dokter jangan lebay gitu deh. Gimana Bella ga lihat, orang pak dokter godain kakak perawatnya di dekat Bella," kesal Bella.


Kami semua tertawa melihat perdebatan Devan dengan Bella.


"Nenek harus jagain bu dokter ya. Pokoknya jauhin bu dokter dari pak dokter genit ini!" peringatnya.


Nenek hanya mengangguk.


Jessica menyamakan tingginya dengan Bella dan mengelus kepalanya. "Bella cantik, tenang aja ya. Ada kak Jessica di sini. Kakak bakal jagain bu dokter supaya ga tergoda sama dokter genit itu."


"Kak Jessica janji?" tanya Bella.


"Janji dong. Nah Bella fokus aja sama kesembuhan Bella di sana ya," ucap Jessica.


Bella mengangguk tapi matanya mulai berkaca-kaca. Jessica menjadi panik. "Be-bella kok nangis sayang?"


Bella terus menangis. Aku mencoba menenangkannya tapi Bella masih juga menangis. Akhirnya aku menggendongnya dan menepuk pantatnya pelan. "Cup cup anak manis. Kenapa Bella menangis?"


"Be-bella bakal kangen banget sama bu dokter dan nenek," jawabnya.

__ADS_1


"Bu dokter dan nenek juga bakal kangen banget sama Bella tapi ini semua demi kebaikan Bella. Gapapa ya kita berpisah sebentar? Kita pasti ketemu lagi saat Bella sudah benar-benar sembuh dan sesuai janji bu dokter, kalau Bella sembuh kita main sama sama dan pergi kemana pun yang Bella mau ya," jelasku.


Bella mengangguk.


"Udah dong nangis. Coba mana senyum manisnya." Bella menunjukkan senyum termanisnya. Aku pun ikut tersenyum melihatnya.


Allard mendekat. "Ayo Bella, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat."


Bella beralih ke gendongan Dion.


"Jaga diri kalian baik-baik di sana ya," ucapku.


"Pasti. Kamu juga baik-baik di sini ya. Hubungi aku kalau ada sesuatu," kata Allard sambil mencium keningku.


Tak terasa air mataku mulai turun.


"Hei kenapa sekarang malah kamu yang nangis?" tanya Allard sambil mengelap air mataku.


"Aku sedih karena akan berpisah dengan kalian dalam waktu yang lama," jawabku.


Allard mengelus kepalaku. "Kamu sendiri yang bilang kalau ini demi kebaikan Bella, kan?"


"Iya sih tapi tetap saja selama ini aku yang mengurus dan merawatnya tapi tiba-tiba dia akan pergi dan dirawat oleh orang lain, itu membuatku sedih," jelasku.


"Iya iya. Nanti kamu akan bertemu dengan Bella yang sudah sembuh dari penyakitnya. Apa kamu tidak menginginkan hal itu?" tanyanya.


"Tentu saja aku mau," jawabku.


"Kalau begitu berhentilah menangis. Bella akan menangis lagi kalau melihatmu seperti ini," ucapnya.


Aku mengangguk dan mengusap air mataku.


Dion menurunkan Bella dari gendongannya dan Bella menghampiriku. "Ada apa bu dokter?"


"Bu dokter mau minta satu hal sama kamu boleh?" tanyaku.


Bella mengernyitkan dahinya. "Apa itu?"


"Bisakah kamu memanggil bu dokter dengan mommy? Sekali saja sebelum kamu pergi," pintaku.


Bella memelukku. "Ya mommy."


Aku menangis mendengarnya, padahal aku yang memintanya. "Terima kasih, sayang."


"Ada yang ingin Bella katakan," ucapnya.


"Apa itu sayang?" tanyaku.


"Nanti. Saat kita bertemu lagi, Bella akan mengatakannya," jawabnya.


Setelah itu Bella, Allard, dan Dion pergi.


"Ayo kita pulang, nek," ajakku.


"Iya, dokter," jawab nenek.


"Tolong panggil nama saya saja, nek," ucapku.

__ADS_1


"Saya ti—"


Aku menggenggam tangan nenek Bella. "Aku udah menganggap nenek sebagai nenek aku sendiri."


Nenek mengangguk. "Iya, Alexa."


Aku pun memeluk nenek dan nenek membalas pelukanku.


"Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu dan nenek," ucap Jessica.


"Tidak perlu, Jessica. Aku dan nenek akan naik taksi," tolakku.


"Kamu mau melihat aku dibunuh oleh tuan Allard?"


Aku terkejut mendengar ucapan Jessica. "Apa maksudmu?"


"I-itu aku hanya bercanda hahaha. Tuan Allard akan memarahiku kalau tau aku tidak mengantarkanmu dan nenek pulang," jawab Jessica.


"Alexa dan nenek bareng aku aja. Kebetulan aku bawa mobil," ucap Devan.


"Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan buaya darat sepertimu mengantar Alexa pulang. Lagian kenapa orang yang tidak berkepentingan ada di sini? Mengganggu saja," kesal Jessica.


"Maaf nona, tapi dari awal yang tidak berkepentingan adalah anda. Anda ada hubungan apa dengan Bella? Kalau saya sih udah jelas ya, saya adalah dokter yang merawat Bella saat Alexa tidak ada," balas Devan.


"Aku adalah teman Bella, jadi sudah sewajarnya aku mengantarnya," jawab Jessica.


Devan meneliti Jessica. "Teman? Hahaha cocok sih kalau nona menjadi teman Bella karena sikap nona tidak jauh darinya."


Aku segera menghentikan perdebatan antara Jessica dan Devan sebelum makin parah. "Udah udah, aku sama nenek naik taksi aja. Terima kasih atas tawarannya."


"Al—"


"Jessica, kamu bilang ada meeting penting siang ini, kan? Kembalilah ke kantor, sebentar lagi jam makan siang jadi kamu harus makan dulu sebelum meeting itu. Dan Devan, kamu punya pasien di rumah sakit, kembali ke rumah sakit sekarang! Jangan jadikan aku sebagai alasanmu untuk telat kembali ke rumah sakit," ucapku.


"Baiklah. Hubungi aku kalau ada sesuatu," ujar Jessica.


"Iya. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Jessica," jawabku.


"Kamu yakin Alexa?" tanya Jessica khawatir.


"Yakin. Aku akan menghubungimu kalau sudah sampai supaya kamu tidak khawatir lagi oke," jawabku.


Jessica mengangguk dan setelah itu dia pun pergi.


"Kamu juga cepatlah pergi, Devan!" usirku.


"Kamu mengusir aku?" tanyanya.


"Kamu ingin berlama-lama di sini?" tanyaku balik.


Devan menggeleng. "Tidak sih tapi kamu yakin tidak mau aku antar pulang?"


"Yakin, udah cepat pergi sana." Setelah itu Devan juga pergi.


"Nah bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang" ajakku


"Nenek ikut saja," jawab nenek.

__ADS_1


"Oke ayo kita cari tempat makan." Aku dan nenek pergi dari bandara itu dan mencari tempat makan.


__ADS_2