
Aku pun tersadar.
"Alexa, kamu baik-baik aja?!"
"Mommy, ada yang sakit?"
Jessica dan Bella menatapku dengan wajah khawatir. Aku sudah kembali ke dunia nyata. Yang aku lihat tadi adalah ingatan masa lalu yang telah terlupakan.
"Alexa, katakan sesuatu," desak Jessica.
"Jessica, tolong pesan tiket pesawat ke Italia untukku," ujarku.
Jessica mengernyitkan dahinya. "Untuk apa?"
"Aku harus menemui kakek dan kak Alvaro sekarang," jawabku.
"Kakek dan kak Alvaro sudah pulang," balasnya.
Aku langsung menoleh ke arah Jessica. "Sudah pulang?"
Jessica mengangguk. "Iya, kak Alvaro telepon aku tadi dan menanyakan keberadaan kamu."
"Terus kamu jawab apa?" tanyaku.
"Kita lagi main di mall sama Bella," jawab Jessica.
Aku menghela nafas lega. "Terima kasih, Jessica."
"Mommy, mommy baik-baik aja?" tanya Bella.
Aku menoleh ke arah Bella dan mengelus kepalanya. "Iya, mommy baik-baik aja. Sekarang kita pulang ya?"
Bella mengangguk.
"Ayo, aku akan mengantar kalian pulang," ucap Jessica.
"Tidak perlu, Jessica. Aku dan Bella akan naik taksi. Kamu kembali aja ke kantor," tolakku.
"Setelah kejadian tadi kamu pikir aku akan membiarkanmu pulang sendiri? Tentu saja tidak. Aku akan mengantar kalian pulang, tidak ada penolakan," paksanya.
"Baiklah. Terima kasih dan maaf merepotkanmu," jawabku.
"Tidak usah sungkan denganku," balas Jessica.
***POV AUTHOR***
Sesampainya di rumah. Alexa dan Bella masuk ke rumah dan Jessica mengikuti dari belakang.
Seseorang lari ke arah Alexa dan memeluknya. "Oh my gosh, I really miss you, my little princess."
"Bella sini sayang," perintah nenek. Bella pergi ke sisi nenek.
"Bagaimana kabarmu di sini, Alexa?" tanya kakek.
"Hei ada apa dengan dahimu ini?" tanya Alvaro yang menyadari dahi Alexa di perban.
Allard langsung menghampiri Alexa dan memeriksanya. "Ada apa ini? Kenapa dahimu terluka?"
Alexa menepis tangan Allard dan melangkah mundur agar menjauh dari yang lain. Kakek, Alvaro, dan Allard bingung melihat sikapnya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu bilang kalau kalian sedang main di mall. Kenapa Alexa bisa sampai terluka seperti ini?" tanya kak Alvaro pada Jessica.
Jessica bingung harus menjawab apa.
"Kakek," panggil Alexa.
"Iya, Alexa? Katakan pada kakek kenapa kamu bisa terluka seperti ini?" tanya kakek.
"Kenapa kakek peduli dengan lukaku?" tanya Alexa.
Mendengar pertanyaan Alexa, kakek mengernyitkan dahinya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja karena kakek menyayangimu, kakek tidak mau kamu terluka."
"Untuk apa kakek menyayangiku?" tanyaku.
Semua orang semakin bingung dengan sikap Alexa, bahkan Jessica pun bingung.
__ADS_1
"Alexa, kamu kenapa?" tanya Jessica.
Air mata Alexa luruh begitu saja. Semua orang terkejut melihatnya yang tiba-tiba saja menangis.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Allard yang berjalan mendekati Alexa.
"Jangan ada yang dekati aku!" perintah Alexa.
Allard langsung menghentikan langkahnya.
"Aku bingung bagaimana harus mengatakannya," gumam Alexa.
"Mengatakan? Mengatakan apa, Alexa?" tanya kak Alvaro.
"Kakek, aku ini bukan keluarga kandung kalian, kan?" tanya Alexa pada kakek.
Kakek terlihat sangat terkejut dengan pertanyaan Alexa, tapi kakek berusaha untuk bersikap biasa saja. "Apa yang kamu katakan itu? Tentu saja kamu adalah keluarga kandung kami."
Alexa tertawa. "Hahaha aku udah tau semuanya kakek, jadi kakek tidak perlu menutupi apapun lagi."
"Omong kosong apa yang sebenarnya dari tadi kamu katakan?!" tanya kakek marah.
"Kenapa kakek marah? Alexa hanya ingin menyelesaikan semuanya di sini. Saat semua orang sedang berkumpul," kata Alexa tenang.
Andai kalian tau seberapa takutnya Jessica dan Alvaro sekarang. Mereka takut kalau Alexa telah mengetahui yang sebenarnya tapi mereka berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Alexa, kamu pasti lelah. Aku antar ke kamar ya?" bujuk Jessica.
Alexa menggeleng. "Tidak, Jessica. Ada yang harus aku bicarakan ke kakek, kak Alvaro, Allard, dan juga kamu."
Nenek Bella yang merasa kalau ini adalah urusan keluarga Alexa pun memutuskan untuk menghindar supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
"Nenek dan Bella izin ke kamar ya," pamit nenek.
"Nenek tidak perlu menghindar. Ada yang ingin Alexa katakan juga pada nenek," ucap Alexa.
"A-alexa sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" tanya Alvaro.
"Aku bukan keluarga kandung Harrison. Aku adalah putri tunggal dari keluarga Smith, musuh keluarga Harrison," ungkap Alexa.
Bagai disambar petir, ketakutan yang dirasakan oleh Jessica dan Alvaro menjadi kenyataan. Alexa telah mengetahuinya, tapi dari mana dia mengetahui hal itu? Mereka berusaha untuk bersikap tenang.
Alexa menatap kakak laki-lakinya itu. "Kenapa? Kakak mau membunuh orang itu dan menghilangkan jejaknya? Percuma kak. Aku tau karena ingatan di masa laluku telah kembali sepenuhnya."
"Sebenarnya apa maksud semua ini?" tanya Allard yang masih tidak mengerti.
"Allard, yang kamu tau orang tuamu meninggal karena kecelakaan pesawat, kan?" tanya Alexa.
Allard sangat terkejut mendengarnya. "Bagaimana kamu tau kalau orang tuaku meninggal karena kecelakaan pesawat? Aku tidak pernah menceritakannya padamu."
"Itu salah. Orang tuamu meninggal bukan karena kecelakaan pesawat tapi karena kedua orang tuaku," sambung Alexa tanpa mempedulikan pertanyaan Allard tadi.
"Apa maksudmu? Om Oliver dan tante Claudia tidak mungkin tega membunuh orang tuaku," sanggah Allard.
"Kamu tidak dengar yang aku ucapkan di awal? Aku bukanlah keluarga Harrison, Allard. Keluarga Harrison mengadopsiku dan membesarkan aku layaknya keluarga kandung mereka sendiri." Sebelum melanjutkan perkataannya, Alexa menghela nafasnya. "Aku sampai bingung bagaimana mereka bisa tetap bersikap baik padaku padahal aku adalah penyebab kematian orang yang mereka sayang."
"Alexa, itu tidak benar," ucap kakek.
"Apa? Kakek mau berbohong seperti apa lagi? Kenapa kakek tidak membunuhku saat kakek belum menyayangi aku?! Kenapa kakek harus luluh terhadap surat ibu dan malah jadi sayang padaku?" tanya Alexa.
"SEBENARNYA APA SEMUA OMONG KOSONG INI?!" teriak Allard.
"Kamu masih tidak mengerti Allard?! Aku adalah anak pembunuh! Akulah penyebab orang tuamu dan orang tua kak Alvaro meninggal! Mereka berusaha mati-matian untuk membebaskan aku dari neraka itu tapi mereka malah kehilangan nyawa saat menyelamatkan aku. Allard, bekas luka di punggungmu itu juga disebabkan oleh papa kandungku. Kita saling mengenal sejak kecil. Kamu pernah berjanji untuk mengeluarkanku dari sana," jelas Alexa.
Tiba-tiba ingatan masa lalu Allard kembali. Allard juga mulai mengingat apa yang pernah terjadi padanya dulu. Allard memegang kepalanya yang terasa sangat sakit sampai rasanya ingin pecah itu.
"Apakah kamu mengingatnya sekarang? Kita seharusnya tidak saling mengenal saat kecil, Allard. Jadi kamu tidak akan menderita karena aku," ujar Alexa pelan.
Bukannya membenci Alexa, Allard malah berlari ke arahnya dan memeluknya. "Tidak, Alexa. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Aku tidak pernah menyesal telah mengenalmu dari kecil."
"Jauhi aku, Allard! Kamu harusnya membenciku!" ucap Alexa sambil mendorong Allard.
"No! I will never hate you!" tegas Allard.
Di luar dugaan Jessica dan Alvaro, ternyata Allard tidak membenci Alexa walaupun telah mengetahui yang sebenarnya. Bahkan Allard masih mencintai dan menyayanginya.
__ADS_1
"Kami tidak akan membencimu. Memang kenapa kalau kau anak dari keluarga Smith? Saat ini kamu adalah keluarga Harrison secara sah," ucap Alvaro.
Dengan tatapan kosong, Alexa bertanya pada Alvaro. "Kenapa kak? Kenapa kakak selalu baik padaku?! Aku penyebab orang tuamu meninggal."
Alvaro menggeleng. "Tidak, Alexa. Orang tua kita tidak meninggal karena kamu."
"Iya, Alexa. Om dan tante menyayangimu, karena itulah mereka menerima apapun konsekuensinya," timpal Jessica.
"TIDAK! KENAPA KALIAN TIDAK MENGERTI?!" teriak Alexa.
"Tenanglah, Alexa. Kamu jangan seperti ini," ucap Allard.
"Lepaskan aku, Allard!" Alexa terus memberontak.
Bella yang merasa takut melihat Allard dan Alexa bertengkar pun langsung berlari menghampiri Alexa dan memeluknya. "Mommy, jangan seperti ini. Bella takut."
Secara tiba-tiba, Alexa malah mendorong Bella. Beruntung reflek Allard sangat bagus sehingga Allard bisa menangkap Bella sebelum Bella terjatuh.
"Apa yang kamu lakukan Alexa?!" tanya Allard marah.
"I'm not your mom!" bentak Alexa ke Bella.
"Mommy? Apa yang mommy katakan? Mommy adalah mommy Bella. Maaf kalau Bella selalu nakal, Bella tidak akan nakal lagi tapi mommy jangan bicara seperti itu," ucap Bella yang mulai menangis.
Allard langsung menggendong Bella. "Jangan menangis, Bella."
"Mommy, maafin Bella," racau Bella.
"Berhenti memanggilku mommy!" perintah Alexa.
Tangis Bella semakin keras.
"Alexa, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?!" tanya Allard.
"Dari awal Bella memang bukan anakku," jawab Alexa.
"Kita sepakat akan mengadopsinya dan kamu menyetujui hal itu bahkan kamu senang karenanya," ujar Allard.
"Itu dulu. Saat aku belum mengetahui yang sebenarnya," jawab Alexa.
"Mengetahui apa lagi? Fakta apa lagi yang akan kamu bicarakan kali ini?" Allard mulai muak dengan ini semua. Apapun yang Alexa bicarakan pada akhirnya tidak akan membuatnya membenci gadis itu.
Alexa mengalihkan pandangannya. "Nenek."
"Iya Alexa?" tanya nenek.
"Nenek memiliki putri bernama Nara, kan?" tanyanya.
Nenek terlihat terkejut dengan pertanyaan Alexa. "Bagaimana kamu tau?"
"Nara adalah kakak tingkat Alexa di kampus tapi Nara meninggal karena bunuh diri. Nenek tau penyebab Nara bunuh diri? Itu karena Alexa, nek. Karena Alexa, Nara bunuh diri," jawab Alexa.
"Nenek tidak mengerti, Alexa," balas nenek.
"Bella adalah anaknya Nara dan Devan. Devan tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkan Nara karena Devan menyukai Alexa dan terus mengejar Alexa. Alexa tidak pernah menolaknya dengan tegas padahal Alexa tau kalau Nara mencintai Devan. Karena itulah Nara memilih menyerah setelah melahirkan Bella," jelas Alexa.
Nenek terlihat sangat terkejut mendengar hal itu. Selama ini dia tidak pernah mengetahui alasan putrinya itu meninggal. Dia hanya tau kalau putrinya itu menitipkan anaknya padanya.
"Hahaha sekarang Alexa tau kenapa Bella sangat tidak suka pada Devan. Nalurinya berjalan. Dia tau kalau Devan adalah bajingan tapi di satu sisi hanya Devan dokter yang cocok dengan Bella selain Alexa karena naluri Bella tau kalau Devan adalah ayah kandungnya," ucap Alexa sambil tertawa.
"TIDAK! DOKTER DEVAN BUKAN AYAH BELLA!" teriak Bella.
Ya Bella mendengar semuanya. Dia sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang dari tadi dibicarakan oleh Alexa.
"Itu kenyataannya Bella. Kamu harus menerima kalau Devan adalah ayah kandungmu. Aku dan Allard bukanlah orang tuamu," kata Alexa.
"Tidak. Orang tua Bella hanya daddy Allard dan mommy Alexa!" Bella memeluk erat Allard seakan dia tak mau daddy-nya itu menjauhinya seperti mommy-nya.
"Kenapa kamu masih menginginkan aku padahal akulah pembunuh ibu kandungmu, Bella?" tanya Alexa.
"Bella lahir tanpa mengenal apa itu sosok ibu. Bella hanya mengenal nenek tapi saat Bella bertemu dengan mommy, Bella jadi tau apa itu ibu dan Bella bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari mommy. Ditambah lagi saat Bella bertemu dengan daddy. Daddy membuat Bella merasa aman setiap saatnya. Kalian berdua sudah membuat Bella merasakan kasih sayang orang tua seutuhnya. Mommy, Bella mohon jangan seperti ini ya? Bella hanya ingin kalian berdua. Bella tidak peduli dengan orang tua kandung Bella," jelas Bella.
"Terima kasih karena berkatmu, nenek jadi tau alasan Nara meninggal tapi Alexa, nenek tidak pernah benci padamu walaupun kamu bilang kalau kamu adalah penyebab kematian Nara. Bukan salahmu kalau Nara memilih untuk bunuh diri," timpal nenek.
"Nek, kalau Alexa menolak Devan dengan tegas saat itu mungkin sa—"
__ADS_1
"Itu di luar kuasa kamu. Walaupun kamu sudah menolak Devan dengan tegas tapi tidak bisa dipastikan kalau Devan akan menyerah, kan? Nenek sudah lama mengikhlaskan kepergian Nara, nak. Maka dari itu kamu juga maafkanlah masa lalumu itu," potong nenek.
Setelah itu Alexa terus menangis. Tidak ada yang berani mendekat selain Bella. Bella terus memeluk Alexa sampai akhirnya Alexa tertidur karena kelelahan.