
Malam harinya.
Aku menelepon Allard dan langsung dijawab olehnya. Ya seperti itulah Allard, dia akan langsung menjawab telepon dariku.
"Hai."
"Hai, gimana kabar kalian di sana? Everything is fine, right?"
"Ya, kamu sudah menanyakan itu minggu lalu, Alexa."
"Hahaha ya tapi ini sudah seminggu sejak aku menanyakan itu."
"Apakah kamu akan menanyakan itu terus setiap kita teleponan?"
"Of course. Aku ingin memastikan keadaan kalian selalu baik-baik saja."
"Kamu tidak perlu khawatir, Alexa. Aku dan Bella selalu baik-baik saja di sini."
"Itu bagus. Lalu bagaimana keadaan Dion? Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentangnya."
Wajah Allard nampak tak senang saat aku menanyakan keadaan Dion.
"Jangan salah sangka, Allard. Aku hanya ingin tau keadaan bawahan setiamu itu. Bagaimana pun dia pasti lebih sibuk di sana karena harus mengontrol perusahaan dari jauh, yaa begitu pun denganmu."
"Ya, keadaan Dion baik-baik saja. Dia kelihatan senang tinggal di sini sampai aku berpikir haruskah aku menaruhnya di perusahaan sini saja."
"Hahaha jangan seperti itu. Dion akan menangis kalau mendengar ini."
"Akhirnya kamu tertawa juga."
Aku pun terdiam.
"Apa maksudmu?"
"Akhir-akhir ini kamu tidak tertawa maupun tersenyum. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi di sana?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kamu selalu terlihat muram saat teleponan denganku? Apa ada hal buruk yang terjadi?"
"Allard, mari kita sudahi teleponnya. Aku lelah dan ingin tidur lebih awal."
"Baiklah kalau itu mau kamu. Tidurlah yang nyenyak, sayang."
Setelah itu aku langsung mematikan teleponnya.
"Apakah raut wajahku terlihat sangat jelas? Kenapa semua orang mengetahui perubahan suasana hatiku?" tanyaku.
Aku berbaring di tempat tidur dan menutup wajahku dengan selimut. Aku memejamkan mata dan berharap semua yang aku dengar saat itu hanyalah mimpi.
Flashback on.
Hari itu Regan datang dengan tubuh yang penuh luka dan lebam. Karena aku tidak memiliki pasien saat itu, jadi akulah yang menangani Regan dan kebetulan aku juga mengenalnya jadi tidak mungkin aku diam saja saat melihat dia seperti itu.
Dia terlihat merintih kesakitan. Aku bergegas mengobatinya. "Apa yang telah terjadi padamu, Regan?!"
"Saya tidak apa-apa, hanya luka biasa. Jangan memasang wajah seperti itu," jawabnya.
"Tidak apa-apa bagaimana?! Tubuhmu penuh dengan luka dan lebam seperti ini. Siapa yang berani melakukannya?" tanyaku marah.
"Kenapa? Apa nona akan memarahi orang tersebut?" tanyanya.
"Tentu. Berani sekali dia menyakitimu," jawabku.
Regan yang mendengar jawabanku malah tertawa. "Hahaha anda sangat lucu, nona."
"Regan! Aku serius," ucapku kesal. Dia masih bisa tertawa di saat aku sedang mengkhawatirkannya seperti ini?
__ADS_1
"Nona yakin akan memarahi dia?" tanyanya.
"Yakin," jawabku tegas.
"Orang yang membuat saya terluka seperti ini adalah tuan Dhanu," ucapnya.
Aku terkejut mendengarnya. "Kakek Dhanu?! Kenapa kakek Dhanu menyakitimu seperti ini? Apakah kau membuat kesalahan? Namun apapun kesalahan yang kau perbuat, tidak sepantasnya dia menyakitimu sampai seperti ini."
"Anda terlihat sangat khawatir dengan saya, nona," ucapnya.
"Tentu saja, kamu adalah temanku. Aku tidak ingin melihat temanku terluka seperti ini," jawabku.
Regan menatap wajahku lekat-lekat.
"Regan, sebenarnya kesalahan apa yang kamu lakukan? Kakek Dhanu tidak mungkin tega memukulmu," ujarku.
"Kenapa beliau tidak mungkin tega?" tanyanya bingung.
"Karena kamu adalah bawahan kesayangan kakek Dhanu," jawabku.
Regan tertawa. "Hahaha benarkah? Bagaimana nona bisa tau? Apakah tuan mengatakannya sendiri pada anda?"
Aku menggeleng. "Tidak, tapi aku bisa mengetahuinya karena kamu satu-satunya orang yang diperbolehkan masuk ke laboratorium selain aku. Kamu yang bilang kalau kakek Dhanu tidak memperbolehkan sembarang orang untuk masuk ke laboratoriumnya."
Regan tersenyum. "Ternyata nona mengingatnya. Tuan memang tidak mengizinkan sembarang orang masuk tapi satu hal yang perlu anda ingat, saya tidak perlu mendapatkan izin dari tuan untuk masuk ke laboratorium itu karena laboratorium itu adalah ide saya sepenuhnya jadi sayalah pemegang hak terbesar untuk laboratoriumnya."
"Wah benarkah? Berarti kakek Dhanu sangat menyayangimu karena beliau membuatkan laboratorium itu," ucapku.
Aku pun telah selesai mengobatinya. "Nah udah selesai."
"Cepat sekali."
"Hah cepat? Lalu kamu mau lama gitu?"
"Iya kalau bisa."
Aku menggelengkan kepala. "Ada-ada aja. Oh iya kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kakek Dhanu menyakitimu seperti ini? "
"Penyakit apa itu?" tanyaku.
"Hmm bisa dibilang penyakit mental. Terkadang perasaan tuan kembali pada beberapa tahun yang lalu jadi saat itu terjadi tuan akan mengamuk dan menghancurkan segala barang yang ada di dekatnya. Dia juga tak segan memukul siapapun yang berada di dekatnya juga. Itulah mengapa saya meminta semua pelayan untuk pergi saat penyakit tuan sedang kambuh," jelasnya.
"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri?" tanyaku lagi.
"Tentu saja saya harus tetap berada di mansion karena tuan membutuhkan seseorang untuk merawatnya," jawabnya.
"Kamu baik sekali," pujinya.
Regan terkekeh. "Anda terlalu memuji saya, nona."
"Bagaimana keadaan kakek Dhanu sekarang? Apakah penyakitnya masih kambuh?" tanyaku untuk kesekian kalinya.
"Sebelum saya ke sini, beliau sudah tidur karena saya beri obat tidur di makanannya. Anda tenang saja, obat tidur itu di bawah pengawasan dokter kok jadi aman," jelasnya.
"Bolehkah aku melihat kakek Dhanu sekarang?" izinku.
"Saya rasa untuk sekarang jangan dulu, nona. Keadaan tuan masih belum stabil, kita tidak tau kapan tuan akan mengamuk lagi dan saya tidak ingin terjadi hal buruk pada anda," tolaknya.
"Tidak apa-apa, Regan. Kebetulan aku pernah menangani hal semacam ini, aku ingin mencoba membantu kakek Dhanu untuk melepas penyakitnya itu tapi kalau memang tidak memungkinkan maka tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa," kataku.
"Apakah nona ingin sekali melihat kondisi tuan?" tanyanya.
Aku mengangguk.
Regan menghela nafasnya. "Baiklah tapi nona harus selalu berada di dekat saya."
"Iya," jawabku.
__ADS_1
"Kalau begitu kita pergi sekarang," ujarnya.
"Aku akan membereskan barang-barang dulu." Aku segera merapikan barang-barangku.
Setelah selesai, Regan dan aku pergi ke mansion kakek Dhanu.
Benar kata Regan, tidak ada siapapun di mansion ini karena semuanya telah pergi atas perintah Regan dan akan kembali saat keadaan kakek Dhanu sudah stabil.
"Anda yakin ingin menemui tuan?" tanya Regan memastikan.
Aku yang jengah dengan pertanyaan itu pun memutar bola mataku malas. "Regan, aku yakin. Sudah berapa kali kamu menanyakan itu?"
"Saya hanya tidak ingin anda menyesal nantinya, nona," ucapnya.
Aku menggeleng. "Tidak akan. Justru kalau aku tidak mencoba menolongnya maka aku akan menyesal nantinya."
"Baiklah. Ingat perkataan saya tadi, tetap berada di dekat saya!" peringatnya.
"Iya iya. Cepatlah buka pintunya!" perintahku.
Regan membuka pintu kamar kakek Dhanu. Di dalam sangat berantakan, banyak barang-barang yang berceceran di lantai. Pot-pot yang hancur dimana-mana. Hanya ada seorang pria paruh baya yang sedang berbaring dengan nafas terengah-engah di kasurnya.
Regan mendekati kakek Dhanu dan mencoba berbicara padanya. "Tuan, ada nona Alexa di sini. Beliau datang untuk melihat keadaan anda."
Perlahan mata kakek Dhanu terbuka. Dia melihat sekelilingnya dan tatapannya berakhir kepadaku. Aku mencoba mendekati mereka secara perlahan dan mencoba berbicara. "Ha-halo kakek. Sudah lama kita tidak bertemu."
Tidak ada jawaban apapun dari kakek Dhanu.
"Mendekatlah nona, mungkin tuan tidak bisa mendengar suara anda," ucap Regan.
Aku menuruti perkataan Regan. Aku berjalan mendekati Regan dan kakek Dhanu.
Saat aku sedikit lebih dekat, kakek Dhanu langsung menarik tanganku dan berteriak. "DASAR ANAK PEMBUNUH! KENAPA KAU HARUS SELAMAT PADAHAL KELUARGA TERKUTUK ITU SUDAH MATI SEMUA HAH?!"
Aku meronta supaya tangan kakek Dhanu melepaskan aku, Regan juga membantu tapi kekuatan kakek Dhanu sangatlah besar.
"Lepaskan nona Alexa, tuan. Keluarga Harrison akan murka kalau mengetahui cucu perempuannya terluka," ucap Regan.
"DIA BUKANLAH KELUARGA HARRISON!" bentak kakek Dhanu.
Aku terkejut mendengar perkataan itu.
"Apa maksud anda, tuan? Apakah anda sudah melupakan nona Alexa?" tanya Regan bingung.
"MANA MUNGKIN AKU LUPA WAJAH DARI ANAK TUNGGAL KELUARGA SMITH INI. KELUARGA PEMBUNUH!!! KAMU SEHARUSNYA MATI SAAT SEMUA ORANG DARI KELUARGA SMITH MATI. KENAPA JUGA KAMU MASIH HIDUP DAN MENJALANI KEHIDUPAN DENGAN TENANG?!! APA KAMU TIDAK TAU BERAPA BANYAK ORANG YANG MATI KARENA KELUARGAMU ITU?!"
Kepalaku sakit mendengar semua ucapan kakek Dhanu. Terlintas ingatan-ingatan masa lalu yang tidak pernah aku ingat.
Regan memukul tengkuk kakek Dhanu hingga pingsan. Pegangan tangan kakek Dhanu pun terlepas. Aku langsung terduduk di lantai dan memegangi kepalaku yang rasanya ingin pecah ini.
Regan langsung menghampiriku. "Anda kenapa nona?!"
"KEPALAKU SAKIT!" teriakku kesakitan.
Aku terus memukul kepalaku dan menjambak rambutku, berharap sakit kepala ini bisa hilang.
"Nona, jangan sakiti diri anda seperti itu," ucap Regan sambil menahan tanganku.
"Sakit. Kepalaku sangat sakit sampai rasanya ingin pecah," ujarku.
"Tenang, nona. Tenangkan diri anda." Regan terus berusaha membantuku untuk menenangkan diri.
Aku terus menangis sambil merintih kesakitan. Regan memelukku dan mencoba menenangkanku. Dia selalu mengucapkan kalau semuanya baik-baik saja hingga aku tenang.
"A-aku ingin pulang, Regan," pintaku.
"Baiklah. Saya akan mengantar anda pulang sekarang." Regan membantuku bangun dan memapahku hingga ke mobil.
__ADS_1
Dia mengantar aku pulang ke rumah dengan selamat.
Flashback off.