Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Selesai


__ADS_3

Aku lari lagi ke dalam dan mencari Allard. "Allard, dimana kamu?"


Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah barat. Aku pun segera berlari ke sana. Ternyata Allard dan Dion dikepung oleh sekumpulan penjaga mansion ini. Aku langsung menembak kaki dan tangan para penjaga itu dan mereka pun mulai berjatuhan ke lantai. Setelah semuanya sudah tumbang, barulah aku mendekati Allard dan Dion.


"Astaga kalian luka parah!" ucapku terkejut.


"Ini karena mereka semua memegang senjata sedangkan kami tidak," jawab Dion.


"Ayo kita segera keluar dari sini," ujar Allard.


"Bagaimana dengan penipu itu?" tanya Dion.


"Dia sakit. Aku tidak akan mempedulikannya," jawabku.


"Dia akan menjalankan perang," ucap Allard.


Seketika aku berhenti. Aku melupakan itu.


"Harusnya aku bunuh saja dia," gumamku.


Mendengar itu, Allard pun terkejut. "Alexa?! Apa yang kamu katakan itu?!"


Aku menatap tajam ke arah Allard. "Apa?! Dia benar-benar sakit jiwa, Allard. Bahkan membunuhnya saja tidak akan cukup."


Seketika aku merasakan perasaan membara di hatiku. Ingin sekali rasanya aku bunuh bajingan itu.


"Kalian tunggu di sini!" perintahku.


"Kamu mau kemana?" tanya Allard.


"Kamu benar Allard. Kita tidak bisa meninggalkannya di sini karena dia akan menyebabkan perang," jawabku.


"Apa yang akan anda lakukan, nona?" tanya Dion.


"Aku akan membunuhnya." Aku pun segera lari ke lantai atas dan mencari pria gila itu. Ternyata dia masih berdiam diri di atas sambil memandang ke arah jendela.


"Ternyata kamu kembali, Alexa," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.


"Aku kembali untuk membunuhmu, Devan," jawabku.


Dia tertawa mendengar ucapanku. "Hahaha membunuhku? Apa yang gadis kecil sepertimu bisa lakukan untuk membunuhku?"


Aku langsung menembak ke arah perut Devan.


Dia melihat ke arah perutnya dan memegangnya. "Sialan." Devan langsung mengeluarkan senjatanya dan menembak ke arah aku. Beruntung aku bisa menghindarinya tapi tak ada tempat untukku sembunyi sampai akhirnya kakiku tertembak.


"Gadis kecil sepertimu tidak akan bisa membunuhku, Alexa," ucapnya sambil mendekat.


"Sadarlah Devan! Kamu tidak mencintaiku tapi terobsesi padaku!" teriakku.


"Artikan saja sesuka hatimu. Lagi pula kamu akan mati hari ini bersamaku," jawabnya.


"Aku tidak akan mati apalagi bersama bajingan sepertimu!" bentakku.


Seketika dia langsung mengarahkan senjatanya padaku dan bersiap menembak kepalaku.


DORRRR!!!


Aku mulai membuka mata perlahan. Kenapa tidak ada rasa sakit sama sekali? Saat mataku terbuka sempurna ternyata Allard sudah berdiri di depanku. Dia menggantikan aku menerima tembakan itu.


"Sialan, beraninya kau menyentuh istriku!" Allard menembak balik Devan tepat di titik vitalnya.


Saat Devan terjatuh, Allard juga terjatuh. Dengan cepat aku menghampiri Allard dan memangku kepalanya.


"Bodoh! Kenapa kamu melakukan itu?!" kesalku.


"Aku tidak mungkin membiarkan kamu menerima itu," jawabnya.


Aku menangis sekeras-kerasnya saat melihat darah terus mengucur dari dada Allard. Aku sangat berharap kalau peluru itu tidak mengenai titik vitalnya.


Tiba-tiba Dion datang dan langsung menghampiri kami.


"Apa yang terjadi dengan tuan?" tanyanya.


"Allard tertembak," jawabku.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit," ucap Dion.


Dion langsung memapah Allard dan membantunya berjalan. Dengan sekuat tenaga, aku juga berusaha untuk berjalan.


Kita segera menuju ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Allard langsung di tangani oleh dokter dan aku juga diobati oleh dokter lain.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan anda?! Untunglah bayi di dalam kandungan anda baik-baik saja," ucap dokter itu.


"Bayi?" beoku.


"Iya, bayi. Apakah anda tidak tau kalau anda sedang hamil?" tanyanya.


Aku mengangguk.

__ADS_1


Dokter itu memijat pelipisnya.


"Berapa usia kandungannya, dokter?" tanyaku.


"Usianya sudah 3 bulan," jawabnya.


Air mata turun begitu saja ke pipiku. Aku tak tau harus merasa senang atau sedih. Kenapa aku harus mengetahui bayi ini saat keadaan Allard sedang kritis?


"Jagalah diri anda baik-baik, nona. Kandungan anda masih sangat rawan," peringat dokter itu.


Aku pun mengangguk. "Terima kasih, dokter."


Setelah itu aku keluar dari ruangan itu dan pergi ke ruangan Allard.


"Bagaimana dengan kaki anda, nona?" tanya Dion.


"Kaki aku sudah diobati," jawabku.


Aku berjalan ke arah pintu dan melihat Allard dari kaca yang ada di pintu itu.


"Dokter bilang peluru itu nyaris mengenai organ vital tuan Allard tapi untungnya belum," jelas Dion.


"Jadi Allard tidak dalam bahaya?" tanyaku.


"Tuan Allard tidak dalam bahaya karena peluru itu tapi dia dalam bahaya karena sempat kehilangan banyak darah," jawab Dion.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan Allard.


"Bagaimana keadaan suami saya?" tanyaku pada dokter itu.


"Tuan Allard sudah melewati masa kritisnya tapi belum bisa dipastikan kapan beliau akan bangun," jawab dokter itu.


"Apakah saya boleh masuk?" izinku.


Dokter itu mengangguk. "Silakan."


Aku segera masuk ke ruangan Allard dan duduk di kursi yang berada di sampingnya. Aku menggenggam tangannya dan menciumnya. "Bangunlah Allard. Ada berita baik yang ingin aku sampaikan."


Aku menatap wajah Allard lama. Sangat menyakitkan melihatnya seperti ini.


"Aku hamil, Allard. Ternyata perubahan suasana hatiku kemarin benar karena hamil. Jadi cepatlah bangun dan elus perutku lagi. Anak ini meminta dielus lagi oleh ayahnya."


Beberapa hari kemudian. Kakek, kak Alvaro, dan Jessica datang ke Inggris karena mendapatkan kabar tentang Allard.


Mereka langsung menanyakan semuanya setelah sampai ke sini. Dion menggantikan aku untuk menceritakan semuanya.


Mereka sangat terkejut saat tau pelaku dari ini semua adalah Devan, teman kerjaku.


Beberapa minggu kemudian. Belum ada tanda-tanda Allard bangun. Setiap harinya aku selalu menangis karena takut terjadi sesuatu padanya. Walaupun dokter mengatakan kalau Allard sudah melewati masa kritisnya tapi dia belum juga bangun dan itu membuatku khawatir.


"Allard, kapan kamu akan bangun? Kamu tidak merindukanku?" tanyaku sambil memegang tangannya.


Aku meneteskan air mata lagi karena melihatnya seperti ini terus. Aku memejamkan mata dan terus menangis tapi tanpa aku sadari, tangan Allard mulai bergerak dan matanya mulai terbuka.


"Alexa," panggilnya dengan suara lemah.


Aku pun mengangkat kepalaku dan menatap ke arah Allard. Mataku langsung berbinar saat melihat Allard yang sudah sadarkan diri. Aku langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Tak lama dokter segera datang dan memeriksa keadaannya.


"Tuan Allard sudah baik-baik saja. Tinggal dirawat beberapa hari lagi dan beliau boleh pulang," ucap dokter itu.


Aku mengangguk paham. Dokter itu pun pamit pergi dan meninggalkan aku dengan Allard di kamar.


Aku langsung memeluk Allard dan menangis. "Aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Maaf..." lirih Allard.


Aku menggeleng. "Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah baik-baik saja sekarang."


Dion, kakek, kak Alvaro, dan Jessica tiba-tiba saja masuk. Mereka langsung ke sini setelah mendengar Allard yang sudah sadarkan diri. Hari itu semuanya bisa bernafas dengan lega.


"Ada yang mau Alexa katakan," celetukku.


Mereka semua menoleh ke arahku.


"Alexa hamil dan usia kandungannya sudah 3 bulan," sambungku.


Mata mereka langsung terbuka lebar mendengarnya. Jessica mendekatiku dan memelukku. "Aku akan menjadi aunty"


Aku mengangguk. "Iya Jessica."


Setelah Jessica melepaskan pelukannya, kakek dan kak Alvaro memelukku. "Selamat Alexa."


"Terima kasih."


Dion juga mengucapkan selamat padaku tapi dia tak memelukku karena ada seseorang yang melarangnya.


Mereka pun keluar kamar dan memberikan waktu untuk aku dan Allard berbicara.


"Jadi di dalam sini ada anak kita?" tanya Allard sambil mengelus perutku.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Iya. Kamu akan menjadi seorang ayah, Allard."


Mata Allard mulai berkaca-kaca. Dia benar-benar senang mengetahui kabar ini. Dia pun memelukku erat. "Terima kasih, sayang."


Aku mengelus kepalanya dan menciumnya.


Beberapa hari kemudian, Allard diperbolehkan pulang dan keadaannya benar-benar sudah membaik. Karena itulah kita memutuskan untuk segera pulang ke negara asal kita. Aku dan Allard sudah tak sabar bertemu dengan Bella dan memberitahunya kalau dia akan segera menjadi kakak.


Sesampainya di rumah, Bella langsung memelukku dan Allard. "Bella merindukan kalian."


"Kami juga merindukan Bella," balasku dan Allard.


"Oh iya Bella, ada sesuatu yang mau mommy katakan," ucapku.


"Apa itu?" tanya Bella.


"Bella akan segera menjadi seorang kakak," jawabku semangat.


Mata Bella berbinar. "Benarkah?!"


Aku mengangguk.


Bella langsung memelukku. Nenek yang mendengarnya juga ikut memelukku.


Setelah semuanya mengetahui tentang kehamilanku, mereka menjadi sangat posesif. Aku tidak boleh keluar sendirian, makan makanan sembarangan, tidur larut malam, dan masih banyak lagi.


9 bulan kemudian. Tak terasa hari aku melahirkan datang juga. Sekarang aku sudah berada di ruangan persalinan dengan Allard di sampingku.


"Kamu pasti bisa, sayang," ucap Allard.


Aku mengangguk.


Kemudian, dokternya pun datang. "Baiklah nyonya, kita akan mulai persalinannya."


Dokternya mulai memberikan aba-aba padaku dan aku mengikuti aba-aba darinya.


20 menit berlalu, akhirnya anak kami lahir juga.


"Anak anda berjenis kelamin perempuan," ucap dokter itu sambil meletakkannya di atas dadaku.


Aku melihatnya dengan tatapan terharu. Aku tidak menyangka bisa melahirkan anak secantik ini.


"Terima kasih telah berjuang untuk melahirkan anak kita, sayang," kata Allard sambil mencium keningku.


Allard mengelus pelan kepala bayi cantik itu dan menyapanya, "Halo anak cantik."


Bayi itu tersenyum seakan mengerti ucapan Allard.


Aku dipindahkan ke ruang inap. Setelah bayinya selesai dimandikan, bayi itu diberikan padaku untuk aku beri asi.


"Aku juga mau," pinta Allard.


"Jangan aneh-aneh, Allard. Ini rumah sakit!" tegurku.


Tiba-tiba kakek, kak Alvaro, nenek, Jessica, dan Bella datang.


Dengan semangat Bella melihat bayi itu.


"Wah jadi itu adik Bella?" tanyanya.


Allard menggendong Bella agar dia bisa melihat bayinya lebih jelas.


"Iya sayang. Ini adalah adik Bella," jawabku.


"Adik bayinya cantik," puji Bella.


"Benar. Dia sangat cantik," timpal Jessica.


"Iyalah. Ibunya juga cantik," jawabku.


Mendengar ucapanku, Jessica memutar bola matanya malas.


"Selamat Alexa," ucap kakek.


"Terima kasih, kakek," balasku.


"Adik kecilku sekarang sudah menjadi seorang ibu," tutur kak Alvaro.


Aku hanya terkekeh.


"Selamat ya sayang," ucap nenek.


Semuanya melihat bayiku dengan kagum. Mereka sangat senang dengan kehadiran anggota keluarga baru ini.


Akhirnya semua selesai dengan damai. Pelaku dari semuanya telah tiada. Kakek Dhanu juga telah meminta maaf secara pribadi padaku dan Allard. Tidak ada lagi permusuhan antara kakek Dhanu dengan keluarga Harrison dan Alexandro.


Untuk keluarga Smith, aku memutuskan menghilangkannya saja dari sejarah. Sekarang kediaman itu benar-benar sudah dihancurkan dan dibangun dengan rumah baru. Tak ada lagi keluarga yang bernama Smith sekarang.


Aku senang semuanya selesai dengan bahagia. Semoga terus seperti ini selamanya.

__ADS_1


...End...


__ADS_2