Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Begadang


__ADS_3

***POV ALEXA***


Aku meraba kasur di sebelahku tapi aku tidak merasakan adanya seseorang yang aku cari. Aku pun membuka mata dan mencari sosok pria itu. Ah ternyata dia sedang di meja kerjanya. Apa yang dia lakukan di tengah malam begini? Aku mendekat ke arah pria itu dan memeluknya dari belakang.


Dia terkejut dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arahku. "Kenapa bangun?"


"Aku tidak bisa menemukan dirimu di sampingku," jawabku.


"Maaf, ada kerjaan yang harus aku urus. Kamu tidurlah lagi, ini masih larut malam," balasnya.


"Sejak kapan?" tanyaku.


Allard mengernyitkan dahinya.


Aku mengulangi pertanyaannya. "Sejak kapan kamu mengerjakan pekerjaan kantor larut malam seperti ini?"


Dia tidak menjawabnya.


"Apakah sejak aku mual-mual?"


Dia masih tidak menjawabnya.


"Jawab aku, Allard," desakku.


Allard mengangguk.


"Maafkan aku," ucapku murung.


Allard langsung mengelus rambutku dan berkata, "Hey it's okay. Kamu tidak perlu minta maaf."


Aku menggeleng. "Tidak, ini kesalahanku. Karena aku terlalu menempel padamu, jadinya kamu harus mengerjakan semua pekerjaanmu di malam hari. Pasti aku sangat merepotkan dirimu, kan?"


"Tidak, sayang. Aku malah senang kamu bersikap manja padaku. Itu artinya kamu bergantung denganku," jawabnya.


"Namun karena aku, kamu jadi harus begadang terus," ujarku pelan.


Allard mendekatkan tubuhku dan memelukku.


"I'm sorry..." lirihku.


"Don't apologize. You didn't do anything wrong," balasnya.


"Oke sebagai hukumannya aku akan menemanimu begadang!" tegasku.


Allard terkejut dengan ucapanku. "Tidak perlu. Tidurlah, aku juga akan tidur sebentar lagi."


"Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu sampai pekerjaanmu selesai," kataku.


"Tidak, Alexa. Aku janji sebentar lagi aku akan tidur tapi kamu tidurlah duluan," balasnya.


Aneh. Kenapa Allard bersikeras menyuruhku untuk tidur duluan? Bukankah dia harusnya senang karena ada yang menemaninya begadang?


Aku memicingkan mata. "Kenapa kamu bersikeras menyuruhku tidur duluan? Tidak ada bedanya kalau aku tidur sekarang atau nanti. Lagi pula bukankah menyenangkan kalau ada yang menemani? Kecuali kamu menyembunyikan sesuatu dariku."


Dengan cepat Allard menggeleng. "Aku tidak menyembunyikan apapun darimu."


"Lalu kenapa aku tidak diperbolehkan untuk menemanimu begadang?" tanyaku.


"Aku takut kamu sakit," jawabnya.


"Ayolah, aku bukannya tidak pernah begadang, kan? Saat aku masih bekerja di rumah sakit, aku juga sering begadang jadi tidak masalah bagiku untuk begadang. Aku tidak akan berisik. Aku hanya akan duduk tenang," ujarku.


"Baiklah. Janji untuk duduk tenang dengan manis oke?"


Aku mengangguk senang. Aku segera mengambil kursi di meja riasku dan duduk di sebelah Allard.


"Allard."


"Apa?"


"Kenapa kamu mengerjakan pekerjaanmu larut malam seperti ini? Bukankah kamu bisa mengerjakannya saat siang hari? Aku pasti akan duduk diam dan tidak merepotkanmu."


"Aku lebih fokus mengerjakannya saat tengah malam."


"Benarkah?"


"Iya."


"Baguslah. Aku pikir kamu tidak fokus kalau ada aku karena kamu mengerjakan pekerjaannya juga saat aku tertidur."


Keadaan pun hening.


"Allard, kalau di kantor kan kamu mengerjakan pekerjaannya saat siang hari. Itu kamu bisa fokus tuh."

__ADS_1


"Bukankah tadi kamu berjanji hanya akan duduk diam dengan manis?"


"Upss maaf hehe."


Namun bukan Alexa namanya kalau bisa berdiam diri sangat lama. Akhirnya aku pun bertanya lagi. "Apa yang sedang kamu kerjakan?"


"Aku sedang memeriksa data kesehatan para karyawan. Akhir-akhir ini kesehatan para karyawan menurun dan anehnya gejala mereka itu sama," jawabnya masih fokus dengan layar laptop.


"Apa gejala yang mereka alami?" tanyaku.


"Demam yang berkepanjangan, menggigil, dan muntah darah," jawabnya.


"Itu masalah yang sangat serius. Penyakit jenis apa yang menyerang mereka?" tanyaku lagi.


"Entahlah. Saat ini dokter perusahaan masih berusaha mencari tau," jelasnya.


Aku memeriksa dahi Allard dengan menempelkan dahiku ke dahinya. Allard yang terkejut dengan tindakanku pun bertanya, "Apa yang kamu lakukan?!"


"Aku sedang memeriksamu. Aku takut kamu juga terkena penyakit seperti mereka. Sekarang biarkan aku periksa detak jantungmu." Aku mendekatkan telingaku ke dadanya.


Allard langsung menjauhkanku dari dadanya. "Stop."


"Tunggu sebentar. Biarkan aku memeriksa detak jantungmu dulu," paksaku.


"Bukankah kamu harus menggunakan alat yang bernama stetoskop?" tanyanya.


Aku menepuk dahi. "Ah iya, aku lupa. Aku akan mengambilnya dulu."


Aku melihat Allard yang menghela nafas lega. Setelah aku mengambil stetoskopnya, aku langsung memeriksanya. Untunglah detak jantungnya normal. "Syukurlah detak jantungmu normal, Allard. Itu artinya kamu tidak terinfeksi oleh karyawanmu."


Allard mengernyitkan dahinya. "Terinfeksi? Apakah kamu tau penyakit yang dialami oleh karyawanku?"


"Aku hanya bisa menebak dari gejala yang kamu sebutkan tapi aku tidak bisa janji kalau itu adalah hal yang pasti karena aku harus memeriksanya secara langsung," jawabku.


"Apa itu?" tanyanya.


"Aku rasa mereka keracunan dan racun itu telah menyebar ke karyawan lainnya," jawabku.


"Bagaimana itu bisa menyebar? Bukankah racun tidak menular?" tanyanya lagi.


"Ada dua kemungkinan. Itu racun yang bersifat menular atau...emang ada seseorang yang sengaja menyerang para karyawanmu itu," jelasku.


"Aku akan memberitahu ini ke dokter perusahaanku. Terima kasih, sayang." Allard mencium keningku.


"Senang bisa membantu," ucapku sambil tersenyum.


Aku menggeleng. "Tidak mau. Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menemanimu sampai pekerjaanmu benar-benar selesai?"


Allard melirik ke arah jam dinding. "Ini hampir jam 3 pagi."


"Tidak apa-apa. Mungkin sekalian saja kita tidak perlu tidur," jawabku.


Allard nampak sangat terkejut mendengarnya. "Tidak perlu tidur? Lalu apa yang ingin kamu lakukan sambil menunggu pagi datang?"


Aku mengangkat kedua bahuku. "Entahlah. Apa kamu punya ide?"


Allard tidak menjawabnya tapi dia malah menutup laptopnya dan membuka kancingnya satu per satu.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membuka kancing bajumu seperti itu?" tanyaku.


Dia mengangkat sebelah alisnya. "Karena kamu tidak tau apa yang harus dilakukan, bagaimana kalau kita berolahraga? Sudah lama kita tidak berolahraga bukan?"


Allard semakin mendekat dan menarik tengkukku. Dia menciumku dan menahan tengkukku supaya ciumannya tidak terlepas.


Saat aku hampir kehabisan oksigen, barulah dia melepaskan ciumannya.


"Aku tidak mau!"


"Terlambat, sayang. Bukankah sudah aku katakan untuk tetap duduk diam dengan manis hmm? Kenapa kamu tidak menurutinya?"


"A-aku tidak tau kalau kamu akan melakukan ini."


"Ah kamu tadi bertanya kan kenapa aku selalu melakukan pekerjaan saat kamu telah tidur? Itu karena selama ini aku selalu menahan nafsu untuk tidak menyerangmu. Kalau kamu terus menempel padaku sampai tengah malam maka aku tidak akan pernah bisa menahannya selama ini."


"Ta-tapi kamu selalu berhasil menahannya, kan?"


"Kamu hanya tidak mengetahuinya, sayang. Setiap kamu sudah tidur, aku selalu melepaskannya terlebih dahulu sebelum mengerjakan pekerjaan menyebalkan itu."


Mataku membelalak. "Kamu memperkosaku saat aku tidur?!"


Allard tertawa. "Hahaha tidak, sayang. Aku tidak mungkin melakukan hal menjijikan itu. Tidak nikmat kalau aku tidak melihat ekspresi dan tidak mendengar suara desahanmu."


"Lagi pula kita adalah sepasang suami istri jadi kalau pun aku melakukannya saat kamu tertidur itu bukan berarti aku memperkosamu tapi kamu tenang saja, seperti yang aku katakan tadi kalau aku tidak mungkin melakukan itu saat kamu tidur. Lebih nikmat kalau kamu dalam keadaan sadar seperti sekarang," sambungnya.

__ADS_1


"Tidak, Allard. Aku tidak mau," tolakku.


"Terlambat, kamu telah membangunkan singa yang tertidur. Nikmati saja oke? Sudah lama juga kita tidak melakukannya," jawabnya.


"Ta-tapi ada nenek dan Bella di kamar sebelah."


"Kamar ini kedap suara," ungkapnya.


"Kedap suara?!" tanyaku terkejut mendengar fakta itu.


"Iya jadi mendesahlah sekeras mungkin, babe." Allard langsung menggendongku dan mendudukkanku di pangkuannya.


Kami pun melakukannya sampai matahari terbit. Kalau tidak ingat ada nenek dan Bella di rumah ini, mungkin Allard akan melakukannya sampai malam lagi. Karena aku melihat kalau dia masih belum puas dengan ini.


***POV ALLARD***


Setelah sekian lama tidak ke kantor, akhirnya pagi ini aku bisa ke kantor. Ini berkat permainan panas yang kita lakukan semalam jadinya Alexa tertidur sangat pulas. Sebenarnya aku masih belum puas bermain dengannya tapi tidak apa-apa, aku akan menyerangnya lagi nanti malam. Dia tidak akan menolaknya karena dia tidak bisa jauh dariku.


Sesampainya di kantor, aku langsung memanggil dokter perusahaan dan memberitahukan yang Alexa katakan semalam. Dokter itu tau kalau ini mungkin karena racun tapi jenis racunnya masih belum diketahui.


"Siapa yang mengatakan itu pada anda, tuan?" tanyanya.


"Siapa yang mengatakannya tidaklah penting. Yang terpenting kita telah mendapatkan titik terangnya," jawabku.


"Ini saja tidak cukup untuk menemukan jenis racunnya. Saya membutuhkan orang itu untuk membantu saya menemukan jenis racunnya," ujarnya.


"Apakah kamu bodoh sampai memerlukan bantuan orang lain?! Kamu saya gaji di sini untuk bekerja dengan benar!" bentakku.


"Maaf tuan tapi kita harus cepat menemukan jenis racunnya karena keadaan karyawan yang lain semakin mengkhawatirkan," balasnya.


Aku berdecak mendengarnya. "Aku tidak ingin melibatkannya."


"Saya mohon, tuan. Beliau satu-satunya harapan saya untuk menemukannya," ucapnya sambil bersujud.


"Beritahu saja tuan, kita harus cepat menemukannya," ucap Dion.


Namun aku masih enggan untuk memberitahunya.


"Memang siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Dion berbisik.


"Kamu tau orangnya, Dion," jawabku.


"Jangan bilang...nona Alexa?!" tanyanya terkejut.


"Pelankan suaramu!" bentakku.


Kekhawatiranku terjadi, dokter itu mendengar perkataan Dion.


"Nona Alexa?! Bukankah beliau adalah dokter muda lulusan universitas terbaik di Amerika yang berhasil lulus dengan nilai sempurna?!" tanyanya terkejut.


"Kamu mengenalnya?" tanyaku.


"Siapa yang tidak mengenal dokter muda cantik itu. Banyak prestasi yang telah dia raih dan bukan hanya itu, dia juga meraih penghargaan terbanyak dan terpuji di usia yang muda itu," jawabnya dengan semangat.


"Wah saya tidak tau kalau nona Alexa begitu hebat," ucap Dion terpukau.


"Apa hubungan anda dengan nona Alexa, tuan?" tanya dokter itu.


"Saya hanya sekedar pernah bertemu dengannya," jawabku bohong. Aku menebak kalau dokter itu tidak tau hubungan aku dan Alexa yang sebenarnya karena dia menanyakannya padaku.


Wajahnya berubah menjadi murung. "Ah sayang sekali anda tidak memiliki hubungan khusus dengan nona Alexa itu."


"Kenapa memangnya?" tanyaku.


"Karena itu akan menguntungkan kita jika dia bekerja dengan kita. Semua masalah kesehatan pasti akan dengan mudah dipecahkan dengan otak jeniusnya itu tapi bagaimana nona Alexa bisa mengatakan hal itu pada anda? Bukankah anda bilang kalau kalian berdua tidak memiliki hubungan apapun?" tanyanya setelah mengucapkan banyak omong kosong.


"Kamu banyak tanya, keluarlah dari ruangan saya!" perintahku.


"Tuan tolong bawalah nona Alexa ke sini," pintanya lagi.


"Dion bawa dokter ini keluar dari ruangan saya!" perintahku.


Dion menyeret dokter itu keluar dan sampai luar pintu pun masih terdengar rengekannya itu.


Aku memijat pelipisku. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku benar-benar harus membawa Alexa ke sini? Tidak. Aku tidak akan pernah melibatkannya dalam pekerjaanku.


Dion pun kembali setelah mengantarkan dokter itu. "Dokter itu ternyata sangat menyebalkan! Bagaimana bisa dia terus memaksa saya untuk membujuk anda membawa nona Alexa ke sini?!"


"Biarkan saja dia," sahutku.


"Tuan, kenapa anda tidak mengatakan kalau nona Alexa adalah istri anda?" tanya Dion.


"Aku tidak mau dia semakin berisik," jawabku.

__ADS_1


Dion mengangguk. "Ah saya mengerti maksud anda."


"Lagi pula aku tidak ingin melibatkan Alexa dalam pekerjaanku," sambungku.


__ADS_2