Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Pelaku sebenarnya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, aku dan Allard langsung pergi ke Inggris menggunakan pesawat pribadi Allard.


Sesampainya di Inggris, bawahan Allard menjemput kami dan membawa kami ke suatu rumah.


"Rumah siapa ini?" tanyaku.


"Ini adalah rumahku," jawab Allard.


"Kamu punya rumah di Inggris?" tanyanya lagi.


"Iya. Dulu aku sering ke sini untuk melakukan bisnis," jawabnya.


Aku mengangguk paham.


"Kamu istirahatlah dulu. Ada hal yang harus aku persiapkan," ucapnya.


"Kamu tidak istirahat Allard?" tanyaku.


Allard menggeleng. "Aku tidak lelah."


"Aku juga tidak lelah," balasku.


"Ta—"


"Aku ikut kamu mempersiapkan hal itu," potongku.


Allard mengangguk pasrah. Allard membawaku pergi ke suatu tempat.


"Kita akan menemui salah satu kenalanku," ucap Allard.


Aku hanya mengangguk.


15 menit kami menunggu, akhirnya orang yang dimaksud Allard datang juga. Aku sangat terkejut melihat orang yang dari tadi kami tunggu. Allard menjabat tangan orang itu.


"Maaf karena aku terlambat," ucapnya.


"Tidak apa-apa," jawab Allard.


"Sudah lama tidak bertemu ternyata nona Alexa semakin cantik," pujinya padaku.


"Jaga matamu, Dion!" kesal Allard.


Dion terkekeh. "Aku hanya bercanda."


"Kenapa Dion ada di sini, Allard?" tanyaku bingung.


"Ah nona Alexa belum tau? Baiklah, aku akan memperkenalkan diri sekali lagi. Perkenalkan aku adalah Dion Hastanta Max."


Mataku terbuka lebar. "Max?! Bukankah itu nama pangeran Inggris yang tidak pernah terlihat di publik?!"


"Terima kasih telah mengenali saya, nona Alexa," balasnya.


Jujur saja saat ini aku benar-benar terkejut. Ternyata Dion bukan orang biasa.


"Bagaimana kamu bisa menjadi asisten Allard?" tanyaku penasaran.


"Aku bersembunyi dari mereka dengan menjadi seorang asisten. Walaupun tanpa disangka-sangka aku malah menjadi asisten dari seorang pemimpin perusahaan terbesar se-Asia," jelasnya.


Aku menoleh ke arah Allard. "Kamu tau hal ini, Allard?"


Allard mengangguk. "Iya. Aku mengetahuinya 3 hari setelahnya."


Dion menghela nafasnya. "Merepotkan. Aku udah ketahuan setelah 3 hari."


"Pantas aku merasa tidak asing saat mendengar namamu," ujarku.


Dion hanya terkekeh. "Jadi bantuan apa yang kalian butuhkan?"


"Saat ini ada seseorang yang mengaku menjadi penerus keluarga Smith. Dia mengancam kalau Alexa tidak kembali maka dia akan melakukan perang," jelas Allard.


Mata Dion membelalak saat mendengarnya. "Perang?! Itu pemberontakan namanya."

__ADS_1


"Saat ini kami belum tau siapa orang itu dan akan motifnya. Sulit untuk menemukan informasinya karena dia orang Inggris. Aku membutuhkanmu untuk mengakses informasi penduduk Inggris," sambung Allard.


"Hanya itu?" tanya Dion.


Allard mengangguk. "Iya. Selanjutnya biar aku dan Alexa yang menyelesaikan."


"Kamu yakin membawa nona Alexa dalam pertarungan ini?" tanya Dion memastikan.


"Alexa yang memintanya. Aku tidak bisa melarangnya," jawab Allard.


Dion mengangguk paham. "Lebih baik seperti ini daripada nona Alexa melakukan hal berbahaya itu sendirian."


Dion mulai membuka akses untuk mengetahui informasi tentang penduduk Inggris. Dengan cepat Allard langsung menemukan orang yang menyamar sebagai ahli waris keluarga Smith.


"Kamu yakin dia orangnya?" tanyaku memastikan. Karena jujur saja aku sangat terkejut saat mengetahui orang yang menyamar sebagai ahli waris keluarga Smith.


"Yakin. Aku mengerti sekarang. Semua yang terjadi bukanlah kebetulan," jawab Allard.


"Apa maksudmu, Allard?" tanyaku lagi.


"Semua yang terjadi di dalam hidupmu telah diatur oleh dokter sialan itu, Alexa. Mulai dari pertemuanmu dengan Bella, tragedi racun di dalam teh, sampai kecelakaan mobil itu," jawab Allard menjelaskan.


"Tidak mungkin. Devan itu baik jadi tidak mungkin dia melakukan hal kejam seperti itu. Lagi pula apa motifnya?" tanyaku tak mengerti.


"Aku juga tidak tau tapi ada kemungkinan karena dia terlalu menyukaimu," jawab Allard.


"Kalau dia menyukai nona Alexa, kenapa dia malah mencelakakan nona Alexa?" tanya Dion.


"Aku juga tidak mengerti. Alexa ayo kita temui pria bajingan itu," jawab Allard.


"Aku ikut," pinta Dion.


"Tidak. Ini urusanku dan Alexa," tolak Allard.


"Aku adalah asistenmu," ucapnya.


"Itu kalau di kantor. Sekarang kita sedang tidak berada di kantor jadi kamu hanya sebatas kenalanku," jawab Allard.


Allard sudah jengah dengan paksaan Dion. Akhirnya dia memutuskan untuk mengizinkannya.


Kami semua bergegas pergi menuju mansion Smith. Seperti sudah tau, para penjaga gerbang langsung mempersilakan kami masuk setelah mengetahui namaku.


Kami di antar oleh pelayan ke suatu tempat.


"Tuan ada di dalam. Tuan bilang yang boleh masuk hanyalah nona Alexa," ucap pelayan itu.


"Apa?! Tidak. Aku juga harus masuk," paksa Allard.


"Tidak boleh. Tuan melarang siapapun untuk masuk selain nona Alexa," tolaknya.


"Siapa peduli?! Aku tinggal mendobrak pintu ini" tantang Allard.


"Menurutlah, tuan. Tidak ada untungnya kalau kalian memberontak karena ini adalah wilayah kekuasaan keluarga Smith," ucapnya.


Yang diucapkan pelayan itu benar. Kami tidak boleh gegabah karena ini bukanlah wilayah kekuasaan kami. Akhirnya aku membujuk Allard untuk tenang dan membiarkan aku masuk sendiri.


"Kamu gila?! Kita tidak tau apa yang ada di dalam sana," kesal Allard.


"Di dalam hanya ada tuan Devan," timpal penjaga itu.


"Diam kamu!" bentak Allard pada penjaga itu.


"Allard, kumohon. Kita tidak bisa berlama-lama di sini," pintaku.


"Ta—"


"Aku akan baik-baik saja. Aku janji," potongku.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Allard mengangguk. Aku tersenyum melihatnya dan memeluknya.


"Aku akan mendobrak pintu ini kalau terjadi sesuatu denganmu. Jadi berteriaklah kalau dia melakukan sesuatu padamu," perintahnya.

__ADS_1


Aku mengangguk. Kemudian aku masuk ke ruangan itu.


"Hai Alexa," sapanya.


Aku benar-benar masih tak percaya kalau dalang dari semuanya adalah Devan.


"Sebenarnya kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku to the point.


"Kenapa ya? Aku juga tidak tau," jawabnya.


"Aku serius, Devan!" ujarku.


"Aku juga serius, Alexa. Tiba-tiba itu semua terlintas di pikiranku," ucapnya.


"Kamu sakit!" hinaku.


Devan terkekeh. "Iya. Aku sakit karena ditolak olehmu beberapa tahun yang lalu. Tidakkah kamu tau kalau aku sangat menderita sejak saat itu?"


"Kamu akan lebih menderita kalau aku menerimamu tanpa rasa suka," jawabku.


"Aku tidak peduli. Asalkan kamu bersedia bersamaku maka aku sudah sangat senang, Alexa," balasnya.


"Devan, kamu harus berhenti. Sampai kapanpun kita tak akan bisa bersama. Aku sudah memiliki suami dan anak," tuturku.


"Anak? Maksudmu Bella?" tanyanya.


Aku mengangguk dan kemudian Devan tertawa sangat keras. "Bella adalah anakku, Alexa."


Mataku membelalak. "Darimana kamu tau?!"


"Aku baru tau beberapa minggu yang lalu walaupun aku sudah mencurigainya sejak lama," jelasnya.


"Jangan lakukan apapun dengan Bella!" tegasku.


"Kenapa? Bella adalah anakku jadi aku bebas melakukan apapun padanya," jawabnya santai.


"Dia tidak tau apa-apa, Devan. Bella tidak ada hubungannya dengan kita," balasku.


"Ada. Kalau saja anak itu tidak lahir ma—"


"Bella tidak pernah minta untuk dilahirkan, Devan!" bentakku.


"Karena itu aku akan mengantarnya ke tempat Nara berada," sambungnya.


Aku sangat terkejut mendengarnya. "Kamu gila?!"


"Iya. Aku gila karenamu, Alexa." Perlahan Devan mendekat ke arahku.


Melihat itu, aku perlahan mundur dan menggapai gagang pintu. Saat aku ingin membukanya ternyata pintunya dikunci.


"Hahaha kamu tidak akan bisa kabur dari sini, Alexa," ucapnya.


Aku terus mencoba membuka pintunya tapi tak bisa. Aku pun berteriak memanggil Allard tapi tak ada jawaban darinya.


"Suamimu itu mungkin sudah mati sekarang, Alexa," tuturnya.


"Apa yang kau lakukan pada Allard?!" tanyaku.


"Tidak ada. Aku hanya bermain-main dengannya," jawabnya.


"Dasar gila! Kamu benar-benar sakit, Devan!" Aku terus menggedor-gedor pintu berharap pintu ini akan terbuka.


"Percuma saja. Pintu itu tak akan terbuka semudah yang kamu bayangkan," ujarnya.


"Lepaskan aku, Devan!" perintahku.


Dia tertawa. "Melepaskanmu? Setelah aku bersusah payah untuk menjebakmu dan suamimu itu ke dalam sini."


"Aku menyesal karena tak mendengarkan ucapan Allard," gumamku.


Devan memegang tanganku dan mengunci pergerakanku. "Haruskah kita bermain sayang?"

__ADS_1


"Jangan panggil aku sayang, brengsek!" Aku menendang *********** dan mengambil senjata yang tak sengaja kulihat tadi. Aku menembak ke arah jendela yang ada di sebelahku sampai hancur. Setelah itu aku lompat dari sana. Beruntung aku ada di lantai 2 jadi lompat dari sana tak terlalu berpengaruh apapun padaku.


__ADS_2