
Saat Allard tertidur, aku membereskan bekas sarapan tadi dan bersih-bersih rumah. Ya rumah kami belum ada art nya. Tiba-tiba aku teringat perkataan Allard tadi, aku pun mengambil handphone dan mengeceknya. Benar saja, ada ratusan telepon dari kakek, kak Alvaro, Allard, Merry, Dion, dan Jessica. Tunggu? Jessica? Kenapa Jessica meneleponku?
Aku pun menghubungi Jessica dan menanyakan alasannya. "Halo, ada apa kamu meneleponku kemarin?"
"Alexa! Oh my gosh, thank god you are safe."
"Safe? What do you mean? I'm fine."
"Aku tau kemarin kamu hilang."
"Astaga Jessica, aku bukannya hilang tapi pergi tanpa izin saja."
"You're lying!"
"Aku tidak berbohong, Jessica."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak bisa dihubungi dan aku juga tidak bisa melacakmu?"
"Kamu juga berusaha melacak aku?"
"Of course, aku tidak tau dimana sahabatku berada dan bisa saja kamu dalam bahaya. Maka dari itu aku berusaha melacakmu."
"Jessica, ini aneh."
"Aneh kenapa? Terjadi sesuatu padamu kemarin, kan?? Ayo cepat beritahu."
"Hmm tidak jadi, lupakan."
"Kamu tega padaku? Aku sahabatmu, kamu bisa menceritakan segalanya padaku. Kamu ingat? Dulu kamu sering bercerita banyak hal yang bahkan tidak bisa kamu ceritakan pada keluargamu sendiri."
"Aku ingat. Tapi maaf Jessica bukannya aku tidak mau memberitahumu hanya saja waktunya belum tepat, aku tidak mau berpikiran negatif dulu."
"Baiklah terserahmu saja. Kalau ada apa-apa bilang padaku oke?"
"Iya. Terima kasih, Jessica."
"My pleasure babe. Yaudah aku ada meeting sebentar lagi, aku tutup ya."
"Iya, semangat ya Jessica."
Telepon berakhir.
"Bahkan Jessica yang sudah sering melacakku pun tidak bisa melakukannya kali ini. Sebenarnya bagaimana itu bisa terjadi? Aku harus kembali ke sana dan memastikannya lagi." Aku pun pergi ke mansion kakek Dhanu tapi kali ini aku meninggalkan secarik kertas di atas laci samping ranjang supaya Allard mudah menemukannya. Karena aku juga sedang izin tidak bekerja jadinya aku bebas hari ini.
Sesampainya di mansion kakek Dhanu aku melihat sinyal handphoneku dan ternyata tidak ada satu batang pun muncul malahan ada tanda silang merah disitu. Ini aneh.
Di saat aku ingin bergegas pergi tiba-tiba saja kakek Dhanu muncul. "Halo Alexa, cepat sekali kamu sudah ke sini lagi. Apakah kamu ingin mencoba membuatnya lagi? Kali ini kakek akan membantumu."
Entah kenapa aku merasa takut. Aku ingin segera pulang tapi aku terlalu takut untuk menolaknya. Akhirnya aku menerima ajakannya. Dan di sinilah aku berada, di laboratorium perusahaan Wesley. Di sana ada Regan yang sedang fokus membuat sesuatu.
Aku mendekati Regan. "Hai, lagi ngapain?"
"Halo nona, saya sedang merias kulit buatan yang sudah jadi," jawabnya.
"Wah bolehkah aku mencobanya? Aku bisa merias wajah," pintaku.
"Tentu boleh nona, silakan."
__ADS_1
Saat aku melihat peralatan make up yang dipakai, aku terkejut. "Astaga bisa-bisanya merias kulit buatan ini dengan make up mahal."
"Tentu saja karena seperti yang sudah kakek jelaskan bahwa kulit yang kami pakai seperti kulit asli jadi tidak boleh menggunakan produk sembarangan," jelas kakek Dhanu.
"Hebat sekali," ucapku kagum.
"Jadi kamu ingin tetap di sini bersama Regan atau ikut kakek membuat produknya?" tanya kakek Dhanu.
"Aku di sini sebentar, nanti aku akan menyusul," jawabku.
"Baiklah, kakek ada di ruangan sebelah."
Aku mengangguk.
Aku masih penasaran darimana asal kulit ini, siapa yang memproduksinya? Kenapa bisa semirip itu dengan kulit asli.
Saat sedang fokus berpikir suara Regan memecah fokusku. "Apakah nona penasaran dengan kulit-kulit ini?"
"Hahaha apakah kamu bisa membaca pikiran seseorang? Bagaimana bisa kamu tau apa yang aku pikirkan?" tanyaku.
"Saya tidak bisa membaca pikiran seseorang, hanya saja rasa penasaran nona terlihat jelas di wajah nona," jawabnya.
"Begitukah? Ah kalau begitu dari tadi kamu memperhatikan wajahku?" godaku.
Trangg! Regan tidak sengaja menyenggol wadah alumunium itu.
"Astaga Regan, aku kaget. Kamu baik-baik saja?" tanyaku khawatir.
"I-iya nona, saya baik-baik saja," jawabnya.
Regan langsung menutup wajahnya dan berkata, "Ti-tidak, saya hanya sedang kepanasan. Kalau begitu saya izin keluar sebentar, silakan nona lanjutkan."
Aku tertawa melihat tingkahnya, sungguh dia sama menggemaskannya seperti Allard. Ah iya Allard, sudah berapa lama aku di sini?
Aku menghampiri kakek Dhanu. "Kakek, aku izin pulang dulu ya. Allard sedang sakit jadi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian terlalu lama di rumah."
"Wow Allard bisa sakit? Sungguh mengejutkan."
Aku mengangkat sebelah alisku. "Apa maksud kakek? Tentu saja dia bisa sakit, dia juga manusia."
"Manusia macam apa yang tidak mati saat terkena pisau beracun?"
"Apa?! Apa maksudnya itu?"
"Ah tidak, kakek hanya asal bicara. Oh iya minumlah dulu teh ini, tadi kakek membuatnya sendiri. Teh ini bagus untuk meredakan pegal-pegal. Badanmu pasti pegal karena duduk di posisi yang sama selama berjam-jam."
Dengan perasaan ragu aku menerima teh itu.
"Minumlah, kakek jamin rasanya sangat enak sampai mau meninggal hahaha."
"Hahaha apa sih kata-kata kakek seperti anak mudah zaman sekarang aja yang suka bilang begitu saat makan makanan yang enak."
"Iya dong, kakek kan gaul hahaha. Cepatlah minum sebelum tehnya dingin, setelah ini kakek akan menyiapkan supir untukmu."
Aku pun meminumnya sampai habis. Hebat! Pegal-pegalku benar-benar hilang.
"Lebih baik bukan? Dan tentu saja rasanya enak."
__ADS_1
"Ternyata selain ahli di bidang teknologi anda juga ahli di bidang daun teh."
"Tentu saja. Tapi kenapa kamu jadi berbicara formal padaku?" tanyanya bingung.
"Ah maaf aku tidak sengaja berbicara formal. Ini sudah kebiasaan, saat bertemu seseorang yang sangat hebat tanpa sadar aku mengubah cara bicaraku."
Kakek Dhanu mengangguk. "Begitu."
"Hmm kakek, aku berencana menginvestasikan uangku ke anak umur 15 tahun. Bagaimana menurut kakek?" tanyaku meminta pendapat.
"Apa yang anak itu kuasai?"
"Daun teh, sama seperti kakek Dhanu."
"Alexa, aku hanya tau beberapa jenis daun teh saja."
"Begitukah?"
"Iya."
Dan daun teh yang aku ketahui adalah jenis daun teh berbahaya. Batin kakek.
"Jadi bagaimana menurut kakek?"
"Boleh saja, tapi apa tujuanmu berinvestasi padanya?"
"Well aku cuma ingin membantunya, karena sayang keahliannya terpendam begitu saja, kan?"
"Apakah kamu sudah memastikan secara langsung keahliannya itu?"
"Belum, tapi mendengar cerita asistenku rasanya aku ingin menolong dia."
"Kamu anak yang baik. Pastikan dulu kemampuannya barulah kamu bisa memutuskan apakah dia benar-benar layak atau tidak."
"Bagaimana kalau seandainya dia tidak layak?"
"Maka jangan berinvestasi padanya karena itu hanya membuang-buang uang dan waktumu saja."
"Bukankah tidak masalah? Yang penting dia sudah berusaha."
"Tidak layak dan gagal ada dua hal yang berbeda Alexa. Kamu tidak bisa menutup matamu hanya karena kasian padanya. Salah-salah itu bisa berimbas padamu juga jadi buatlah keputusan dengan bijak," nasehatnya.
"Baiklah."
"Apakah yang menceritakan anak itu adalah Merry asistenmu?"
"Iya, ada apa?"
"Tidak, kakek hanya bertanya."
"Yaudah kalau gitu aku pamit pulang ya."
"Iya, supir kakek sudah menunggumu di depan. Datanglah lagi lain kali."
Itu pun kalau kau masih bertahan. Batinnya.
Aku pun pergi.
__ADS_1