Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Kondisi Alexa


__ADS_3

Jessica langsung berangkat menuju rumah sakit yang telah diberitahu Merry. Selama perjalanan Jessica selalu berdoa agar sahabat baiknya itu baik-baik saja. Saat ini dia tidak tau apa yang menyebabkan sahabatnya itu bisa masuk rumah sakit.


Tak butuh waktu lama untuk Jessica sampai di rumah sakit pelita. Dia langsung masuk dan berlari ke ruangan UGD. Di depan ruangan itu ada Merry dan satu orang perempuan yang tidak dia kenali.


"Bagaimana? Apa sudah ada kabar?" tanya Jessica dengan nafas terengah-engah.


"Duduklah dulu, nona. Atur nafas anda," ucap Merry.


"Jangan banyak basa-basi, Merry! Bagaimana kondisi Alexa sekarang?!" bentak Jessica.


"Masih belum ada kabar. Dokter masih menangani nona Alexa di dalam," jawabnya.


Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. Jessica, Merry, dan Risa langsung menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan nona Alexa, dokter?" tanya Merry.


"Apakah ada keluarga pasien di sini? Saya harus berbicara dengannya," ucap dokter itu.


"Saya kakaknya, apa yang terjadi dengan adik saya dokter?" tanya Jessica.


"Begini nona, adik anda meminum racun dan untungnya dalam dosis sedikit. Tapi ternyata daya tahan tubuh adik anda sangatlah lemah, walaupun racun yang diminum adik anda dosisnya sedikit tapi itu sangat berpengaruh bagi kesehatannya. Dan sepertinya adik anda tidak sekali atau dua kali meminumnya," jelas dokter itu.


Jessica, Merry, dan Risa terkejut mendengar penjelasan dari sang dokter.


"Maaf nona, apakah adik anda memiliki masalah pada kesehatan mentalnya?" tanyanya.


Jessica menggeleng. "Tidak, dokter. Keluarga kami sangat menyayanginya dan dia juga adalah anak yang baik, saat mengalami kesulitan dia cenderung bercerita pada saya daripada melakukan hal nekat."


"Apakah mungkin teman-temannya yang mempengaruhinya?" tanyanya lagi.


"Itu tidak mungkin, saya tau lingkungan pertemanannya dan teman-temannya baik," jawab Jessica.


"Dokter racun apa yang mungkin dia minum?" tanya Merry. Dia penasaran jenis racun apa yang telah diminum nonanya. Merry sangat berharap kalau itu bukanlah racun mematikan.


"Saya belum bisa memastikan jenis racun apa yang diminum olehnya tapi dia pasti meminumnya bersamaan dengan teh," jawab dokter itu.


"Bersamaan dengan teh?" tanya Jessica bingung.


"Iya, bisa saja racun tersebut dia larutkan dalam teh dan meminumnya," jelasnya.


Jessica terkejut mendengarnya. "Tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu. Apa motifnya kalau memang benar dia melakukannya sendiri?"


"Maka dari itu tadi saya bertanya pada nona apakah pasien memiliki riwayat penyakit mental," sahut dokter itu.


Risa pun ikut bertanya, "Lalu apa yang akan terjadi dengan nona Alexa?"


"Kemungkinan besar dia akan mengalami koma. Sejauh ini belum ada tanda-tanda yang muncul dari efek racun tersebut tapi kita semua harus tetap waspada. Hal seperti ini malah jauh lebih berbahaya karena kita tidak bisa mengidentifikasi keadaan pasien. Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU. Tolong segera beritahu keluarga pasien yang lainnya karena bisa saja mereka mengetahui sesuatu," jelasnya.


"Baik dokter, terima kasih."


Dokter itu mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu."


Dokter itu pun pergi.


Jessica terduduk lemas. "Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi pada Alexa? Aku yang sahabatnya tidak tau apapun tentang ini."


Merry memegang bahu Jessica dan membantunya untuk duduk di kursi. "Nona tolong jangan duduk di lantai. Duduklah di kursi."


"Merry sebenarnya apa yang telah terjadi?"


Risa membungkuk. "Maafkan saya, nona."


"Maaf untuk apa? Lalu siapa kamu?" tanya Jessica.

__ADS_1


"Nama saya Risa. Saya adalah orang yang akan diberi dukungan oleh nona Alexa," ucapnya memperkenalkan diri.


"Ah aku ingat. Lalu untuk apa kau minta maaf? Tunggu. Aku mengerti sekarang. Jangan bilang kau memasukkan racun ke dalam teh yang diminum oleh Alexa?!" ucap Jessica marah.


Risa langsung menggeleng dengan cepat. "Tidak mungkin saya berani melakukan hal seperti itu."


"Bagus karena kalau kau yang melakukannya, kau akan habis di tanganku!" peringat Jessica.


Risa melanjutkan kata-katanya, "Tapi tidak sepenuhnya saya tidak bersalah."


Jessica menatapnya dengan tajam. "Jangan berbelit-belit! Bicaralah dengan jelas!"


Risa menjadi tambah takut. "I-itu nona Alexa meminum teh yang saya beli di pedagang asing. Saya belum memeriksa teh tersebut jadi mungkin saja teh itu juga salah satu penyebabnya."


Jessica berdiri dan menarik baju Risa. "Apa kau bilang?! Kau memberikan teh yang bahkan kau tidak tau apakah itu aman atau tidak kepada Alexa?!"


"Ma-maafkan saya, nona," ucap Risa takut.


Jessica mendorong Risa hingga terjatuh. "Maafmu tidak akan membuat Alexa bangun! Bagaimana kamu bisa sebodoh itu?! Melihat pedagang yang tiba-tiba menawarkan daun teh saja sudah mencurigakan."


Risa berlutut. "Maafkan saya, nona. Saya bersalah. Saya akan menerima apapun hukumannya."


Merry pun ikut berlutut. "Saya juga bersalah, nona. Tolong hukumlah saya."


"Aku tidak punya wewenang untuk menghukum kalian. Keluarga Alexa yang berhak. Aku peringatkan pada kalian berdua, sampai hal yang lebih buruk terjadi pada Alexa, kalian juga tidak akan lolos dariku!"


Jessica kembali duduk dan mengacak rambutnya. "Bagaimana caranya aku memberitahu kakek dan kak Alvaro? Terlebih juga tuan Allard."


***POV ALLARD***


Akhir-akhir ini aku sibuk sekali dengan kerjaan kantor. Mengapa mereka semua sangat bodoh? Hal mudah seperti ini saja tidak bisa mereka selesaikan sendiri.


Tok...tok...tok


Dion masuk dengan membawa secangkir teh. "Permisi tuan, ini saya bawakan teh untuk meredakan rasa lelah anda."


"Taruh saja di meja, saya akan meminumnya nanti," ucapku.


"Minumlah selagi masih hangat tuan. Anda selalu bekerja keras akhir-akhir ini. Istirahatlah sejenak, kalau nona tau pasti akan khawatir," desaknya.


"Kau terlalu berisik, Dion. Salah siapa saya harus bekerja tanpa henti? Karyawan di sini tidak ada yang becus dalam menyelesaikan masalah sepele seperti ini," kesalku.


"Itu karena mereka belum pernah menghadapi masalah seperti ini, tuan," jawab Dion santai.


"Harusnya mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan ini," ujarku.


"Semua butuh waktu, tuan. Ayo diminum tehnya," balasnya.


Akhirnya aku menghentikan sejenak pekerjaanku. "Iya iya kau ini berisik sekali!Saya akan minum."


Aku pun meminum teh yang diberikan Dion.


Hmm lumayan juga. Ucapku dalam hati.


"Bagaimana tuan? Sesuai dengan selera anda, kan?" tanyanya.


Aku hanya berdehem.


Saat meminum teh ini aku jadi teringat dengan gadis nakal itu. Dimana dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Karena terlalu sibuk aku jadi tidak mengeceknya. Entah kenapa perasaanku tidak enak, mungkin karena aku meninggalkan dia dalam keadaan kita sedang bertengkar. Baiklah aku akan memeriksa keberadaannya dan menyusulnya ke sana untuk meminta maaf. Aku akan memberitahu apa yang dia ingin tau. Aku pun melacak keberadaannya dan ternyata dia ada di rumah sakit.


"Apa yang gadis itu lakukan di rumah sakit? Apakah dia masih bekerja?! Benar-benar gadis nakal, sekarang sudah larut malam dan dia masih di tempat kerjanya." Aku mengambil kunci mobil dan bergegas pergi. Dion dengan cepat mengikutiku.


"Anda mau pergi kemana tuan? Mengapa raut wajah anda tidak baik? Apakah ada masalah?" tanyanya heran. Pasalnya tuannya itu tiba-tiba saja mengambil kunci mobil dan bergegas pergi dan lagi raut wajahnya itu sangat tidak baik walaupun hal itu tidak melunturkan ketampanannya.

__ADS_1


Aku tidak menjawabnya. Saat ini diriku sedang dipenuhi oleh emosi dan kekhawatiran. Gadis nakal itu belum juga pulang padahal ini sudah larut. Bagaimana dia bisa bekerja besok kalau jam segini saja belum pulang? Apakah dia berniat untuk bermalam di rumah sakit seperti waktu itu. Aku akan menyeretnya pulang saat sampai di sana. Begitulah pikirku saat perjalanan menuju rumah sakit tempat Alexa bekerja.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung pergi menuju ruangannya. Kebetulan aku tau letak ruangannya dan aku yakin dia ada di sana. Namun saat aku membuka pintu, tidak ada siapapun di sana.


Dimana gadis nakal itu? Apakah dia sedang bersembunyi dariku? Tanyaku dalam hati.


Aku pun bertanya pada perawat yang kebetulan lewat. "Permisi, dimana dokter Alexa? Mengapa dia tidak ada di ruangannya? Benarkan ini ruangan dokter Alexa?"


"Benar, tuan. Dokter Alexa belum kembali setelah makan siang tadi. Kami semua sedang berusaha menghubunginya tapi tidak dijawab," jawab perawat itu.


"Belum kembali dari tadi siang?! Kemana dia pergi?" tanyaku terkejut.


"Saya juga kurang tau tuan tapi tadi beliau pergi bersama asistennya, tapi karena kita tidak tau nomor asistennya jadi kita tidak bisa menghubunginya," jelasnya.


Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon dari dalam ruangan Alexa. Aku pun masuk dan memeriksanya. "Ini handphone Alexa."


"Pantas saja dokter Alexa tidak bisa dihubungi, ternyata handphonenya tidak dibawa. Bagaimana ini?" Perawat itu terlihat kebingungan.


Dion yang penasaran dengan reaksi perawat itu pun bertanya, "Ada apa, nona? Mengapa anda terlihat gelisah?"


"Ada satu anak yang sangat dekat dengan dokter Alexa dan kondisi anak itu tiba-tiba saja drop. Padahal tadi pagi dia baik-baik saja. Ditambah dia selalu memanggil nama dokter Alexa dan tidak mau diperiksa oleh siapapun selain dokter Alexa itu sendiri," jawabnya.


Terdengar suara tangisan anak kecil dari ruangan sebelah.


"Aduh anak itu sudah menangis lagi. Padahal tadi sudah tenang sebentar," gumam perawat itu.


"Tunjukan kami ruangan anak itu," ucapku.


Perawat itu mengantarkanku ke tempat anak kecil itu dirawat.


Sesampainya di ruangan anak itu, aku melihatnya seorang anak perempuan dengan pipi tembam yang sedang menangis. Bahkan matanya sudah terlihat merah dan bengkak akibat banyak menangis.


Aku pun menghampiri anak tersebut. "Halo."


"Ka-kakak siapa?" tanyanya sambil menangis.


"Perkenalkan, saya Allard. Suami dokter Alexa," ucapku.


Dion menyenggol lenganku dan membisikkan sesuatu. "Tuan gunakanlah bahasa yang lebih santai, anda menakuti anak kecil itu dengan aura anda."


Tapi ternyata anak kecil itu tidak takut sedikit pun denganku. Dia malah mendekat dan memegang tanganku.


"Jadi kakak suaminya bu dokter? Kakak, bu dokter pergi kemana? Tadi dia bilang mau makan siang sebentar tapi sampai sekarang belum balik juga. Padahal Bella mau bilang kalau tadi Bella makannya banyak jadi bu dokter bisa kasih kekuatannya ke Bella biar Bella cepat sembuh. Apa jangan-jangan bu dokter bohong soal kekuatannya ya?" celotehnya panjang lebar.


Aku menggenggam tangan kecil itu dan berlutut di hadapannya. "Anak cantik, dokter Alexa pasti senang kalau dengar kamu makannya banyak. Nanti dokter Alexa kasih kekuatannya ke kamu kok biar kamu cepat sembuh, tapi saat ini dokter Alexa ada urusan jadi ga bisa lihat kamu sementara waktu."


"Urusan apa? Kenapa bu dokter ga pamit dulu ke Bella? Bella jadi khawatir dan malah berpikir kalau bu dokter berbohong," ucapnya.


"Iya, maafin dokter Alexa ya? Dia buru-buru banget tadi, makanya ga sempat pamit ke kamu," jawabku.


Anak kecil itu mengangguk. "Bu dokter beneran ada urusan, kan? Bukan ga mau ketemu Bella lagi?"


"Bener dong, lagian ga mungkin dokter Alexa ga mau ketemu sama anak cantik ini," balasku.


Dia pun tertawa. "Yaudah Bella bakal nungguin bu dokter sampai urusannya selesai."


"Nah gitu dong. Jangan nangis terus, nanti dokter Alexa sedih kalau tau kamu nangis terus."


"Iya, Bella tidak akan menangis lagi. Bella juga akan makan yang banyak."


Aku mengelus kepala anak itu. "Good girl. Sekarang mau ya di cek sama dokter lain dulu? Nanti kalau dokter Alexa udah selesai dengan urusannya baru diperiksa lagi sama dia."


Dia mengangguk.

__ADS_1


Anak itu pun akhirnya mau diperiksa oleh dokter lain.


__ADS_2