
Aku dan nenek menemukan tempat makan yang dekat dengan bandara. Kita pun mampir ke tempat makan itu dan memesan makanannya. Saat makanan pesanan kami tiba, aku dan nenek langsung memakannya dengan lahap dan setelah kenyang, kami pun pulang.
Sesampainya di rumah, aku dan nenek langsung masuk dan membersihkan diri. Aku menunjukan kamar yang akan nenek pakai.
"Terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Nenek ga tau kalau tidak ada kalian berdua nasib Bella akan seperti apa," ucap nenek.
"Sama-sama. Nah sekarang kita tunggu Bella sama sama ya," jawabku.
"Alexa," panggil nenek.
"Iya nek?" tanyaku.
"Kalau nenek boleh tau, apa pekerjaan suamimu?" tanya nenek.
"Allard? Dia pemilik perusahaan," jawabku.
"Di umurnya yang masih muda, dia sudah memiliki perusahaan," kata nenek kagum.
"Ya itu juga perusahaan orang tuanya tapi karena mereka sudah tiada jadi yang bertugas memimpin perusahaan itu adalah Allard," jelasku.
"Alexa, nenek ingin kasih saran sedikit. Dalam sebuah hubungan harus ada yang namanya komunikasi dan kepercayaan. Cukup dengan itu saja maka masalah apapun yang terjadi nanti pasti kalian berdua bisa hadapi bersama-sama," nasehat nenek.
"Kenapa nenek tiba-tiba membicarakan hal itu?" tanyaku bingung.
"Nenek hanya memberi nasehat saja. Nenek takut suatu saat kalian berdua mengalami masalah rumah tangga yang belum pernah kalian hadapi. Setiap rumah tangga pasti akan mengalami yang namanya masalah dan nenek harap kamu dan suamimu bisa menghadapinya bersama-sama tanpa ada kata pisah," jelasnya.
"Terima kasih untuk nasehatnya tapi Alexa rasa di antara hubungan Alexa dan Allard tidak ada kepercayaan," jawabku.
"Kalau begitu komunikasikan dengan suamimu. Ajak dia mengobrol," ujar nenek.
"Sudah Alexa coba tapi dia malah melarikan diri dari," balasku.
Nenek mengelus rambutku. "Dia pasti memiliki alasan kenapa belum mau membuka dirinya padamu."
Aku mengangguk. "Iya, itulah mengapa Alexa bilang kalau hal itu akan sulit untuk kami karena Allard sendiri tidak mempercayai Alexa."
"Percayalah kalau Allard sangat menyayangimu," tuturnya.
"Benarkah?" tanyaku.
"Iya, nenek bisa melihatnya dari cara Allard menatapmu. Ikutilah kata hatimu ya," ujar nenek.
Aku mengangguk. "Terima kasih, nek. Sekarang istirahatlah, Alexa ingin mengerjakan sesuatu dulu."
"Baiklah. Jangan tidur terlalu malam."
Aku membantu nenek tidur dan menyelimutinya. Kemudian aku keluar dari kamar nenek.
Aku kembali ke kamarku dan membuka laptop untuk menghubungi seseorang.
"Halooo" sapanya dengan semangat.
"Jangan berisik!" omelku.
"Kenapa? Allard lagi tidur?" tanya kak Alvaro berbisik.
"Bukan tapi neneknya Bella lagi tidur di kamar sebelah."
"Neneknya Bella?"
"Iya, neneknya Bella. Kakak ingat kalau aku punya pasien yang bernama Bella, kan?"
Seseorang yang aku hubungi itu adalah Alvaro, kakak laki-lakiku yang sekarang sedang berada di Italia.
"Ingat."
"Nah Bella sekarang sedang di bawa ke Amerika untuk melakukan pengobatan yang intensif dan selama Bella di Amerika, neneknya Bella tinggal bersamaku."
"Bagaimana dengan Allard?"
"Allard ikut dengan Bella ke Amerika. Kebetulan dia juga ada urusan di sana."
"Urusan apa? Bukankah perusahaannya yang di Amerika baik-baik saja?"
Deg...mendengar itu, aku pun terkejut. "Baik-baik saja? Kakak yakin?"
"Yakin, kakak juga seorang pengusaha dan kakak tau kalau kondisi pemasaran perusahaan Allard baik-baik saja dan tidak ada masalah. Kalau pun ada masalah, pasti Allard memberitahu kakak."
"Siapa tau Allard memang tidak memberitahu kakak kali ini."
"Tidak mungkin, Alexa. Kakak adalah penasehat di perusahaan Allard jadi kalau perusahaannya sedang ada masalah, tentu saja kakak akan diberitahu untuk membantu menemukan solusinya."
"Buat apa kakak jadi penasehat di perusahaan Allard? Bukankah kakak juga udah sibuk dengan semua urusan perusahaan kakek?"
"Allard menawarkan gaji yang sangat besar dan kamu tau kalau kakak tidak bisa menolak uang yang banyak itu."
"Dasar, mata duitan!"
__ADS_1
"Kalau ga gitu mana bisa kakak jadi kaya seperti sekarang."
"Tanpa kakak menerima tawaran Allard pun kakak udah kaya tau. Gaji dari kakek untuk kakak juga pasti udah besar."
"Bagi kakak itu masih kurang."
"Itu namanya kakak haus kekayaan. Terlalu rakus juga ga baik tau kak."
"Biarin aja."
"Yaudahlah asal pekerjaan yang kakak lakukan bukanlah pekerjaan yang jahat."
"Apa maksudmu pekerjaan yang jahat?"
"Ya seperti pekerjaan yang tugasnya membunuh orang gitu. Oh iya kakak tau tidak? Beberapa waktu yang lalu, aku melihat berita korban pembunuhan. Hanya dengan menontonnya saja bisa membuat tubuhku bergetar dan nafasku menjadi sesak, bagaimana kalau aku melihatnya secara langsung ya? Pasti akan sangat menakutkan."
Kak Alvaro hanya diam mendengar ceritaku.
"Kak, kok diam aja sih?"
"Alexa, sebenarnya kenapa kamu takut dengan " hal " itu?"
Alvaro mengetahui kalau Alexa takut dengan hal-hal seperti itu tapi sampai sekarang dia belum mengetahui alasannya.
"Karena " hal " itu telah merebut orang tua kita kak."
"Merebut orang tua kita? Apa yang kamu katakan?! Ibu dan ayah meninggal karena kecelakaan bukan karena " hal " itu."
"Kakak bicara apa sih? Aku melihatnya dengan jelas kalau ibu dan ayah meninggal karena terlibat dalam " hal " itu."
"Alexa di sana udah malam, kan? Kita sudahi teleponnya. Cepat tidurlah, Alexa."
"Aku masih mau mengobrol dengan kakak."
"Masih ada hari esok. Sekarang tidur ya? Kakak masih ada pekerjaan di sini. Selamat tidur, my little sister."
Setelah itu kakak mematikan teleponnya.
Aneh. Pikirku.
Saat aku mau mematikan laptop, ada telepon dari Allard. Aku segera mengangkatnya.
"Kamu habis teleponan sama siapa?" tanyanya dengan nada dingin.
"Bagaimana kamu tau kalau aku baru saja menelepon seseorang?" Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya.
"Kamu ingin tau?"
"Aku tidak suka dipermainkan. Cepat katakan atau aku akan langsung mendatangimu sekarang," ancamnya.
"Astaga dasar pemarah. Aku baru aja menelepon kak Alvaro."
"Alvaro?"
"Iya, kakak laki-lakiku."
"Oh."
"Udah, kan? Sekarang giliran kamu yang jawab pertanyaanku tadi. Bagaimana kamu bisa tau kalau aku menelepon seseorang tadi?"
"Kamu berada dalam panggilan lain saat aku menghubungimu tadi."
"Oh begitu."
"Belum tidur?" tanyanya mengganti topik.
"Belum."
"Kenapa?"
"Ga bisa tidur, soalnya ga ada kamu."
"Dasar. Cepatlah tidur, Alexa."
"Nanti dulu. Ayo ngobrol sebentar sama aku, Allard," ajakku.
"Oke oke tapi cuma sebentar ya?"
Aku mengangguk.
"Apa yang mau kamu obrolin?"
"Kamu sampai Amerika jam berapa?"
"Sekitar jam 7 malam. Setelah sampai aku langsung membawa Bella menemui dokternya supaya besok dia bisa langsung diperiksa."
"Apa yang sedang Bella lakukan sekarang? Aku tidak melihatnya."
__ADS_1
"Dia sedang tidur. Sepertinya dia sangat lelah karena setelah landing karena aku langsung membawanya ke rumah sakit."
"Kenapa tidak istirahat dulu? Kasihan Bella, Allard."
"Aku hanya ingin Bella cepat dirawat di sini. Supaya kita bisa pulang cepat juga."
"Kamu bukan dokternya jadi tidak bisa memutuskan kapan pengobatan Bella akan selesai."
Dari tempat Allard, terdengar suara anak kecil menangis.
"Ah Bella terbangun. Tunggu sebentar," ucap Allard.
***POV ALLARD***
Aku menggendong Bella dan menepuk pantatnya pelan tapi Bella tidak juga kembali tidur. Dia masih saja menangis. "Cup cup daddy di sini sayang."
Setelah memanggil Alexa dengan sebutan mommy, Bella juga meminta izin untuk memanggilku dengan sebutan daddy.
"Da-daddy kemana tadi? Kok Bella bangun, daddy ga ada di samping Bella?" tanyanya.
"Maaf ya, daddy lagi teleponan sama mommy tadi," jawabku.
"Bella mau lihat mommy," pintanya.
"Sekarang udah malam. Bella lanjut tidur aja ya? Besok kita telepon mommy lagi tapi sekarang Bella harus tidur," bujukku.
"Bella mau lihat mommy," tolaknya.
"Kenapa Allard?" tanya Alexa dari telepon.
Aku membawa Bella mendekati laptop dan mendudukkannya di pangkuanku.
"Mommyyy," rengek Bella.
"Hai sayang, ke bangun gara-gara mommy berisik ya?"
Bella menggeleng. "Bella bangun karena daddy ga ada di samping Bella."
Alexa nampak bingung. "Daddy?"
Bella mengangguk. "Umm daddy."
"Setelah memanggilmu mommy, dia juga meminta izin untuk memanggil aku dengan daddy," jelasku.
Alexa hanya ber-oh saja.
"Bella kangen sama mommy dan nenek," adunya.
"Baru juga satu hari."
"Bella mau cepat-cepat sembuh dan pulang ke Indonesia."
"Sabar ya sayang? Fokus dulu sama kesembuhan kamu. Mommy dan nenek selalu nungguin kamu di sini."
"Mommy janji ya?"
"Janji sayang. Udah sana tidur lagi. Besok harus ketemu dokternya, kan?"
Bella mengangguk. "Kalau gitu Bella lanjut tidur ya. Mommy jangan lama-lama telepon sama daddy nya. Ga boleh begadang pokoknya!"
"Iya sayang."
"Good night, mommy," ucap Bella sambil memberi kiss bye.
"Good night juga daddy," ucap Bella sambil mencium pipiku.
Kemudian Bella turun dari pangkuanku dan kembali tidur.
"She's so adorable," ucap Alexa sambil tersenyum.
"Yeah. Ayo kita sudahi teleponnya."
"Yahh sebentar lagi ya?"
"Tidak Alexa, ini sudah larut. Tidurlah."
"Ta—"
"Tidak ada tapi-tapi. Kamu tidak dengar apa yang Bella bilang tadi? Jangan begadang."
"Uhh iya iya"
"Good night, honey. Sweet dreams."
"Hmm good night."
Aku mematikan teleponnya. Aku pun naik ke tempat tidur dan tidur di samping Bella.
__ADS_1