Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Makan siang bersama Devan


__ADS_3

Akhirnya kita sampai di rumah.


"Selamat datang tuan dan nona," ucap Dion menyambut kami.


"Pelankan suaramu, Dion. Bella sedang tidur," bisikku.


"Biarkan saya yang membawa nona Bella ke kamarnya," bisik Dion.


"Tidak perlu. Kamu bisa pulang sekarang Dion, tugasmu telah selesai," tolak Allard.


"Baik, tuan. Saya pamit pulang," kata Dion.


"Aku antar Dion sampai depan ya," izinku pada Allard.


Allard mengangguk.


Aku pun mengantarkan Dion sampai ke depan gerbang.


"Terima kasih sudah menjaga nenek hari ini, Dion. Berkat kamu, kita semua bisa menikmati jalan-jalan hari ini," kataku.


"Sama-sama, nona. Saya senang kalian menikmati jalan-jalannya. Kalau begitu saya permisi." Dion masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya. Setelah memastikan kalau Dion telah pergi, aku pun masuk ke rumah.


Di kamar.


Allard sedang mengerjakan sesuatu. Aku menghampirinya dan memeluknya. Allard yang merasakan pelukanku, langsung menghadap ke arahku dan membalas pelukannya.


"Ada apa?" tanya Allard.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memelukmu saja," jawabku yang masih terus memeluk Allard.


"Tidak biasanya kamu seperti ini," ucap Allard merasa heran.


Aku hanya terkekeh. "Apa yang sedang kamu kerjakan?"


"Beberapa dokumen yang harus dibawa besok," jawabnya masih fokus dengan dokumen itu.


"Apakah masih lama?" tanyaku.


Allard mengangguk. "Iya. Kamu tidurlah duluan."


"Aku maunya tidur sama kamu," pintaku.


"Maaf, sayang. Dokumen ini sangat penting untuk besok jadi aku harus menyelesaikannya terlebih dahulu. Kamu tidur aja, aku akan tidur saat dokumen ini selesai," ujarnya.


Aku melepaskan pelukannya dan melihat dokumen itu. "Bolehkah aku membantumu?"


"Tidak perlu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri," tolaknya.


"Akan lebih cepat kalau dikerjakan berdua," sambungku.


"Kamu mengerti dengan dokumen-dokumen ini?" tanyanya.


"Sedikit. Kamu tinggal menjelaskannya dan aku akan mengerjakannya dengan baik," jawabku.


"Baiklah. Duduk sini, aku akan menjelaskannya." Aku menuruti perintah Allard. Aku mengambil kursi dan duduk disampingnya. Allard menjelaskan hal yang harus aku kerjakan. Karena Allard menjelaskan dengan sangat baik, aku pun cepat mengerti.


30 menit kemudian, semua dokumen itu selesai dikerjakan.


"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Allard.


"Sama-sama. Benarkan apa yang aku katakan, pekerjaannya jadi cepat selesai karena dikerjakan berdua," jawabku.


Allard mengangguk. "Ayo kita ke tempat tidur. Kamu pasti sudah lelah."


Aku dan Allard naik ke tempat tidur dan berbaring. Allard memelukku dan mengelus kepalaku. "Tidurlah sekarang sudah larut malam."

__ADS_1


"Allard," panggilku.


Allard menatapku. "Ya?"


"Apakah kamu menyayangiku?" tanyaku.


Allard terkejut mendengar pertanyaanku. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Jawab saja," ujarku.


"Tentu saja aku menyayangimu," jawabnya.


"Apakah kamu mencintaiku?" tanyaku lagi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya yang semakin bingung dengan pertanyaanku.


"Jawab saja, Allard," desakku.


Allard tidak menjawabnya.


"Kamu tidak mau menjawabnya?" tanyaku.


"Bukan begitu. Hanya saja aku masih bingung. Aku memang menyayangimu tapi aku tidak tau apakah aku mencintaimu atau tidak. Aku tidak mengerti apa itu cinta," ungkapnya.


"Coba pikirkan kalau suatu saat kamu kehilangan diriku, apakah kamu sanggup menjalani hari tanpa aku?" tanyaku.


Allard terdiam. "Aku rasa sanggup. Aku tinggal menjalani hari seperti biasa dan menyibukkan diriku dengan pekerjaan."


Aku mengangguk mendengar jawaban Allard.


"Ada apa, Alexa? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?" tanyanya.


"Aku hanya penasaran saja," jawabku.


"Lalu bagaimana denganmu?Apakah kamu mencintaiku?" tanyanya.


Bohong. Sebenarnya aku mencintai Allard, sangat mencintainya. Namun aku tidak tau apakah aku boleh mengatakan hal itu atau tidak. Perkataan orang yang aku temui di pasar malam tadi selalu terbayang di pikiranku.


Allard tertawa. "Hahaha ternyata kita sama sama tidak paham tentang cinta ya."


Aku mengangguk.


"Tidak apa-apa, waktu kita masih banyak. Kita akan mengetahui jawabannya suatu saat," ujarnya.


Apakah waktu kita sebanyak itu? Entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku selalu merasa akan ada masalah besar yang akan terjadi nantinya. Ucapku dalam hati.


Nasehat nenek waktu itu juga tiba-tiba terlintas di pikiranku.


"Sudah sekarang ayo tidur. Kita masih harus bekerja besok," ucap Allard memecah lamunanku.


"Ah ternyata besok sudah waktunya untuk bekerja lagi," keluhku.


Allard hanya terkekeh mendengarnya.


Keesokkan harinya, aku menjalani hari-hari seperti biasa. Merawat pasien dan memeriksanya. Tapi terkadang aku tidak bisa fokus karena selalu teringat perkataan orang itu. Aku masih penasaran dengan maksud dari perkataannya.


Aku berada di tempat yang tidak seharusnya dan aku harus kembali ke tempat asalku? Dimana seharusnya aku berada? Pikirku.


Ditengah-tengah lamunanku, seseorang mengetuk pintu ruanganku dan masuk. "Hai Alexa."


"Ada yang bisa saya bantu dokter Devan?" tanyaku formal.


"Jangan berbicara formal seperti itu padaku, Alexa," rengeknya.


"Kita sedang di tempat kerja. Tentu saja saya harus bersikap profesional," jawabku.

__ADS_1


"Hanya ada kita berdua di sini dan sekarang adalah jam istirahat," balasnya.


"Sudah jam istirahat?!" tanyaku terkejut.


Devan mengangguk. "Iya, itulah mengapa aku ke sini. Aku ingin mengajakmu untuk makan siang bersama."


"Kamu duluan aja. Aku akan ke kantin nanti. Aku masih malas," tolakku.


"Jangan menolak ajakanku, Alexa," rengeknya.


"Aku belum ada mood untuk makan," jawabku.


"Maka dari itu aku mengajakmu untuk makan bersamaku. Kamu bisa menceritakan masalahmu ke aku. Kita adalah teman," balasnya.


"Aku tidak ada masalah apapun," elakku.


Devan menatapku tajam. "Alexa, aku mengenal dirimu lebih dari 7 tahun. Saat kamu sedang ada masalah pasti pekerjaanmu menjadi berantakan."


"Pekerjaanku tidak berantakan. Aku hanya sedikit tidak fokus saja," jawabku.


"See? Kamu mengakui kalau hari ini kamu tidak fokus," ujarnya.


Aku menghela nafas. "Huh aku memang tidak pernah menang melawanmu, Devan."


Devan terkekeh melihatnya. "Hehe kalau begitu ayo kita ke kantin."


Aku dan Devan pergi ke kantin.


Di kantin sangat ramai seperti biasanya. Aku memutuskan untuk memesan makanan yang tidak terlalu banyak pembelinya supaya tidak mengantre terlalu lama.


Selesai memesan makanan, aku dan Devan duduk di dekat jendela.


"Jadi ada masalah apa? Apakah kamu bertengkar dengan suamimu?" tanya Devan.


Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak bertengkar dengan Allard. Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Siapa tau. Lalu? Apakah ini berhubungan dengan pengobatan Bella?" tebaknya.


"Tidak. Bella sudah pulih sepenuhnya dan dia sudah kembali ke Indonesia," jawabku.


Devan terlihat terkejut mendengarnya. "Kapan?! Aku tidak tau."


"2 hari yang lalu," jawabku singkat.


"Ah tidak terasa waktu berjalan dengan cepat ya. Sekarang Bella sudah benar-benar sembuh," gumamnya.


Aku mengangguk. "Iya, aku juga tidak menyangka kalau aku akan kuat menahan rindu pada mereka."


"Syukurlah kalau Bella sudah sembuh. Jadi Bella bisa bepergian kemana pun yang dia mau," ucapnya sambil tersenyum.


"Hahaha ya. Bella sudah melakukannya kemarin. Bella meminta untuk diajak ke pasar malam dan dia sangat menikmati semua permainan yang ada di sana sampai dia kelelahan saat pulang," jelasku.


"Itu berita bagus. Izinkan aku untuk mengajaknya jalan-jalan lain kali," tuturnya.


"Aku mengizinkannya tapi tidak tau kalau Allard," jawabku.


Devan memanyunkan bibirnya. "Huh suamimu tidak ada hak untuk melarangnya."


"Tentu saja dia mempunyai hak. Dia yang menjaga Bella selama ini jadi sudah pasti Bella akan menuruti semua perkataan Allard. Lagi pula belum tentu Bella akan menerima ajakanmu hahaha," ledekku.


"Kamu menyebalkan!" kesalnya.


"Hahaha itu kenyataannya, Dion," jawabku sambil terus tertawa.


Penjualnya datang dan memberikan pesanan kami. "Permisi tuan dan nona ini pesanan kalian."

__ADS_1


"Ah iya terima kasih, pak." Aku dan Devan memakannya dengan lahap.


__ADS_2