Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Berita


__ADS_3

Setelah puas berjalan-jalan, aku dan Allard mengantar Bella kembali ke ruangannya.


"Terima kasih ya bu dokter dan kakak," ucap Bella.


"Bella senang?" tanya Allard.


Bella mengangguk. "Umm sangat senang."


"Setelah ini harus nurut sama perkataan nenek ya, tidak boleh membantah lagi!" nasehat Allard.


"Iya," jawab Bella.


"Good girl," puji Allard sambil mengelus kepalanya Bella.


"Kakak sering-sering main sama Bella ya?" pintanya.


"Kakak usahain ya. Sekarang Bella istirahat," jawab Allard.


"Kakak janji ya usahain main sama Bella?" tanyanya.


Allard mengangguk. "Ya, I promise."


"Yaudah Bella tidur dulu ya," kata Bella bersiap tidur.


Allard mencium kening Bella. "Have a good rest, princess."


"Allard," panggilku.


Allard menoleh ke arahku. "Ya?"


"Kamu ga berangkat ke kantor? Dion udah nanyain kamu terus dari tadi," ucapku.


Allard mengernyitkan dahinya. "Dion menghubungi kamu?"


Aku mengangguk. "Iya, tadi Dion chat aku buat nanyain kamu ada dimana."


"Dan kamu membalasnya?" tanyanya.


"Iya lah, kan kamu lagi sama aku," jawabku.


"Jangan pernah membalas chat dari laki-laki manapun selain aku dan keluargamu!" Allard memakai jasnya. "Aku pergi sekarang. Hubungi aku kalau kamu udah pulang, biar aku jemput."


Pria itu mencium keningku dan pergi.


Aku pun melanjutkan pekerjaanku.


Saat waktunya jam pulang, aku menelepon Allard.


"Halo."


"Allard, aku udah selesai nih."


"Maaf sayang, aku tidak bisa menjemputmu hari ini."


"Oh kamu tidak bisa jemput, yaudah tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri kok."


"Jangan. Aku akan menyuruh Dion untuk menjemputmu, tetaplah di sana dan tunggu Dion."


"Tidak perlu. Dion juga pasti sibuk."


"Sibuk apa? Dia hanya sedang duduk bersantai di ruanganku."


"Hahaha benarkah?"


"Iya."


"Itu bohong nona Alexa, saya dipaksa kerja rodi oleh tuan Allard," ucap Dion menimpali.


"Diamlah Dion, kamu berisik sekali!"


Aku hanya tertawa mendengar perdebatan mereka. "Aku pulang sendiri aja. Aku tau kalian berdua sedang sibuk."


"Tidak, Alexa. Berbahaya pulang sendirian. Tunggulah sebentar, Dion sedang dalam perjalanan."


"Dia sudah dalam perjalanan untuk menjemputku?"


"Iya. Yaudah aku tutup dulu ya teleponnya, masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Hubungi aku kalau sudah sampai rumah."


"Kamu akan pulang, kan?"


"Aku tidak tau tapi sepertinya aku tidak pulang malam ini. Kamu tidurlah duluan, jangan menunggu aku. Kunci semua pintu saat kamu sampai nanti."


"Baiklah. Jaga kesehatanmu, Allard. Istirahatlah sejenak kalau lelah, jangan terlalu memaksakan diri."

__ADS_1


"Iya."


Setelah itu telepon dimatikan. Tak lama Dion sampai. Aku menghampirinya dan Dion langsung membukakan pintu mobilnya. "Silakan masuk, nona."


Setelah aku masuk, Dion langsung menjalankan mobilnya dan mengantarku pulang.


Sampai di rumah, aku turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih padanya. "Terima kasih, Dion. Maaf kalau aku jadi merepotkan kamu. Padahal aku udah bilang ke Allard kalau aku bisa pulang sendiri tapi dia tetap memaksa agar aku dijemput sama kamu."


"Tidak apa-apa, nona. Lumayan saya jadi bisa istirahat sejenak dari dokumen-dokumen yang memusingkan itu hahaha," jawabnya yang diakhiri tawa.


"Pasti lelah ya bekerja sama Allard hahaha?" ledekku.


"Kalau yang namanya kerja, pasti lelah dong tapi saya senang bisa bekerja dengan tuan Allard," jawabnya.


"Apa yang membuatmu senang bekerja dengan Allard?" tanyaku penasaran.


"Tuan Allard adalah orang yang sangat serius dalam menjalani pekerjaannya dan beliau adalah orang yang baik," jelas Dion.


Alisku terangkat sebelah. "Allard baik?"


Dion mengangguk. "Iya. Walaupun tuan selalu marah-marah tapi beliau sebenarnya sangat peduli pada karyawannya. Itulah mengapa kami semua tidak ada yang keluar dari pekerjaan ini, begitu juga dengan saya."


"Beban yang diberikan oleh Allard pada kalian pasti sangatlah berat ya," ujarku.


"Itu pasti, nona. Pekerjaan apapun pasti memiliki tanggung jawabnya tapi selagi saya mampu, saya akan terus bekerja dengan tuan Allard. Lagi pula sejauh ini belum ada pekerjaan yang sangat membebani saya kecuali saat melakukan itu," ucapnya.


"Melakukan itu?!" tanyaku terkejut.


"A-ah no-nona, saya harus kembali sekarang. Tuan pasti telah menunggu dan ada banyak dokumen yang harus saya kerjakan. Selamat beristirahat, nona." Setelah itu Dion langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


Aku melihat mobil Dion yang semakin jauh sambil memikirkan ucapan Dion tadi.


Beberapa hari kemudian. Sejak saat itu, Allard belum juga pulang ke rumah. Dia bilang akhir-akhir ini ada masalah di perusahaannya sehingga dia harus menyelesaikannya dan tidak bisa pulang. Selama Allard tidak pulang ke rumah, aku merasa sangat kesepian tapi aku tidak boleh egois. Aku tau menyelesaikan masalah perusahaan tidaklah mudah dan sebentar. Aku harus mengerti dan bersabar.


Saat ini aku sedang menemani Bella.


"Bu dokter," panggil Bella.


"Iya Bella? Kamu butuh sesuatu?" tanyaku pada gadis kecil itu.


Bella menggeleng. "Bella cuma mau tanya, suami bu dokter kemana? Kok ga pernah jenguk Bella sih. Bella kangen."


"Maaf ya, Bella. Dia lagi sibuk banget sekarang jadi ga bisa jenguk dan bermain dengan Bella," jawabku.


"Nanti kalau udah ga sibuk pasti dia ke sini. Bella sabar ya? Sekarang Bella main dulu sama bu dokter," ucapku berusaha menghiburnya.


Bella mengangguk. "Yaudah."


"Gimana kalau kita nonton tv? Bella suka nonton apa?" tanyaku.


"Bella suka nonton upin & ipin," jawabnya.


"Yaudah, dokter nyalain ya tv nya." Aku mengambil remotenya dan menyalakannya.


Saat menyalakan tv, pertama kali yang muncul adalah berita. Aku sangat terkejut melihat berita itu.


"Ditemukan seorang pria dengan bentuk tubuh yang tidak dapat dikenali lagi. Di duga pria ini dibunuh dengan cara yang sangat kejam dan sadis. Polisi masih melacak siapa pelakunya dan apa tujuan pelaku melakukan hal mengerikan seperti ini."


Aku langsung mematikan tv nya. Nafasku mulai tidak beraturan dan tubuhku bergetar sangat hebat.


Bella yang melihatnya menjadi khawatir. "Bu dokter? Bu dokter kenapa? Kok gemeteran begitu?"


Nenek Bella yang baru saja datang langsung menghampiriku. "Bella, apa yang terjadi dengan dokter Alexa?"


"Be-bella juga tidak tau, nek. Setelah melihat berita di tv, bu dokter langsung gemetaran seperti ini," jawab Bella panik.


Nenek Bella memeluk dan menenangkanku. "Sssttt tenang."


Aku membalas pelukan nenek Bella dan menangis. "Ne-nenek."


"Iya iya nenek di sini," ucap nenek sambil mengelus rambutku.


"A-alexa takut," aduku.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya nenek.


Aku tidak menjawabnya.


Karena tak mendapat jawaban dariku. Nenek Bella menanyakan pada Bella apa yang aku lihat di tv tadi. "Bella, sebenarnya apa yang dokter Alexa lihat di tv tadi?"


"Berita tentang korban pembunuhan gitu," jawab Bella.


"Tenang, di sini aman. Banyak yang berjaga dan kamu tidak sendirian. Sekarang tenang ya? Tarik nafas pelan-pelan," ujar nenek.

__ADS_1


Nafasku mulai beraturan dan tubuhku mulai tenang. Aku melepaskan pelukan nenek Bella.


"Sudah lebih tenang?" tanya nenek.


Aku mengangguk.


"Ini sudah waktunya jam pulang. Cepatlah pulang dokter Alexa, sebelum langit bertambah gelap," ucap nenek.


"A-alexa masih takut nek," kataku.


"Mau nenek temani?" tawarnya.


Aku menggeleng. "Tidak perlu."


"Tidak apa-apa, nenek masih kuat berjalan," balas nenek.


"Ti-tidak usah, nek. Alexa akan pulang nanti. Atau Alexa akan menginap di sini, lagi pula sudah sering Alexa menginap dan tidur di rumah sakit," ujarku.


"Apakah keluarga dokter Alexa tidak bisa menjemput? Atau bagaimana dengan suami anda?" tanyanya.


"Keluarga saya sedang berada di luar negeri dan suami saya sedang sibuk," jawabku.


"Bu dokter, tidur di sini aja sama Bella. Tempat tidurnya besar kok jadi cukup untuk Bella sama bu dokter," ajak Bella.


"Terima kasih Bella, tapi di ruangan bu dokter juga ada tempat tidurnya kok jadi bu dokter akan tidur di sana malam ini," tolakku halus.


"Bu dokter masih takut, kan?. Di sini aja ya sama Bella? Bella akan menyanyikan lagu nina bobo," bujuknya.


Aku mengelus kepala anak kecil itu. "Terima kasih cantik tapi kebetulan bu dokter juga masih ada pekerjaan. Bella tidur aja duluan ya. Besok bu dokter ke sini lagi."


"Yaudah deh. Kalau bu dokter takut, langsung ke sini aja ya," katanya.


"Iya, sayang. Sekarang tidur sana, bu dokter mau ke ruangan dulu," ucapku sambil mencium kening Bella.


"Anda yakin akan baik-baik saja?" tanya nenek khawatir.


"Iya. Terima kasih telah menenangkan aku tadi. Kalau begitu aku ke ruangan dulu ya, nenek istirahatlah." Aku pun keluar dan pergi ke ruangan pribadiku.


Di sana aku duduk sambil termenung.


Siapa manusia keji yang melakukan hal seperti itu? Pikirku.


Tubuhku mulai bergetar lagi setelah memikirkan berita itu. Ingatan-ingatan buruk di masa lalu mulai muncul kembali.


Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang.


"Allard?" Ternyata Allard yang memelukku.


"What happened to you?" tanyanya.


Aku membalas pelukan Allard. "I'm scared."


"Apa yang membuatmu takut?" tanya Allard lagi.


"Berita. Ada berita kalau ditemukan seorang pria korban pembunuhan sadis," jawabku.


Allard terdiam.


"Aku takut, Allard," aduku sambil menangis.


"It's okay. I'm here." Allard terus mengelus rambutku dengan sayang.


Aku menangis sesenggukan di pelukannya. Allard menggendongku dan memindahkanku ke tempat tidur. "Kamu terlalu lelah, Alexa. Tidurlah, aku akan di sini untuk menemanimu."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanyaku.


"Jangan memikirkan itu," jawabnya.


"Aku tidak mau membuatmu lembur lagi nantinya," balasku.


Allard mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Kamu takut di rumah sendirian?"


Aku mengangguk. "Aku juga khawatir karena akhir-akhir ini banyak orang jahat berkeliaran."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Alexa," ucapnya.


"Tetap saja, aku mengkhawatirkanmu," balasku.


"Baiklah sekarang sudah cukup berbicaranya. Tidur, Alexa!" perintahnya.


"Hug me," pintaku.


Dengan senang hati Allard memelukku.

__ADS_1


__ADS_2