
Beberapa hari kemudian. Akhirnya aku diperbolehkan pulang. Walaupun belum pulih sepenuhnya.
"Tolong untuk tidak minum teh dulu untuk beberapa hari ke depan ya, nona!" peringat dokter itu.
Aku terkejut mendengarnya. "Tidak minum teh?! Itu mustahil dokter."
Allard menatapku tajam. "Alexa!"
Melihat tatapan tajam Allard, aku pun menunduk. "Iya, maaf maaf."
"Nanti kalau sudah benar-benar pulih boleh minum teh lagi tapi untuk sekarang tidak dulu ya. Perbanyak minum air putih dan makan makanan yang sehat. Jangan beraktivitas terlalu berlebihan juga. Saya tau kalau anda juga seorang dokter tapi batasi pekerjaan anda. Tuan, tolong jaga istri anda. Dia cukup nakal selama anda tidak ada," adunya.
"Dokter!" kesalku.
"Saya akan selalu mengawasinya. Terima kasih atas kerja keras anda," ucap Allard.
"Kalau ada gejala lain atau dirasa tidak enak pada tubuh nona, silakan langsung temui saya," sambung dokter itu.
"Baik, dokter," jawabku.
Aku dan Allard pun pulang ke rumah. Aku masuk dan hendak membuat teh.
"Kamu tidak diperbolehkan minum teh untuk sementara waktu!" peringat Allard.
Aku menatapnya dengan tatapan memelas. "Kamu tau kalau aku tidak bisa kalau tidak minum teh sehari saja, kan?"
Allard menghiraukannya dan mengambil teh yang aku pegang lalu menyimpannya di tempat yang tinggi.
"Allard!" teriakku.
Allard menghiraukanku.
"Yaudah besok waktu aku kerja tinggal beli aja," ujarku.
Allard mengangkat sebelah alisnya. "Siapa yang bilang besok kamu boleh masuk kerja?"
"Besok bukan hari libur, jadi aku harus kerja," jawabku.
"Aku sudah meminta izin lebih lama untukmu jadi kamu bisa beristirahat," balasnya.
Mataku membelalak. "Allard! Aku punya banyak pasien, aku tidak bisa libur lebih lama lagi dari ini."
"Pasienmu sudah diurus oleh dokter lain. Jangan pikirkan pasiennya dulu," jawabnya.
"Aku punya pasien yang tidak bisa diurus oleh dokter lain, Allard," ujarku.
"Maksudmu gadis kecil itu?" tanyanya.
Dahiku mengkerut. "Gadis kecil? Kamu pernah bertemu dengannya?"
Allard mengangguk.
"Kapan?" tanyaku.
"Waktu itu, saat aku mencarimu ke rumah sakit. Aku mendengar suara anak kecil menangis dan perawat bilang dia adalah anak yang sangat dekat denganmu," jawabnya.
"Bella menangis?!" tanyaku merasa bersalah.
Allard yang melihat reaksiku, langsung menjahiliku. "Iya, sangat keras dan dia terlihat sedih sekali. Bahkan matanya sudah bengkak akibat banyak menangis."
Mataku mulai berkaca-kaca. "Allard, bagaimana ini? Aku telah membuatnya sedih. Aku membuat Bella menangis."
Allard semakin semangat untuk menjahiliku. "Entahlah tapi dia sempat bilang padaku kalau dia kecewa denganmu karena kamu pergi tanpa pamit padanya."
Mataku mulai berkaca-kaca. "A-aku tidak bermaksud seperti itu. Ke-kejadiannya terlalu tiba-tiba. Bella pasti marah padaku ya?"
__ADS_1
"Iya, sepertinya begitu," jawab Allard.
Keluar sudah air mataku. Aku menangis dengan kencang. Allard ingin tertawa tapi dia juga kasihan melihatku yang menangis tersedu-sedu.
Allard memelukku. "Udah udah, aku akan membantumu nanti."
"Be-benarkah?"
"Tentu. Aku akan membantu membujuk gadis kecil itu. Sekarang berhentilah menangis oke?"
Aku mengangguk dan menghapus air mataku. "Temani aku besok ya?"
Allard menggeleng. "Tidak besok. Nanti saat kamu sudah pulih baru kita temui gadis kecil itu."
"Kenapa? Jangan terlalu lama, nanti Bella tambah marah padaku," ucapku.
"Dia akan khawatir kalau melihat keadaanmu yang sekarang," jelasnya.
"Apakah dia akan khawatir? Dia kan sedang marah padaku," tanyaku.
"Walaupun dia marah tapi dia pasti tetap mengkhawatirkanmu," jawabnya.
"Baiklah aku akan cepat pulih supaya bisa cepat bertemu dengan Bella," kataku semangat.
"Makanya jangan menerima pemberian orang sembarangan. Kita tidak tau itu berbahaya atau tidak. Mungkin kamu tidak peduli dengan dirimu sendiri tapi orang di sekitarmu peduli denganmu. Jadi jagalah dirimu demi mereka yang peduli denganmu, Alexa," tutur Allard.
"Aku peduli sama diri aku sendiri. Makanya aku suka minum teh karena teh memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tubuh," jawabku.
"Iya iya, udah sekarang kita tidur ya? Kamu pasti lelah." Kami pun pergi ke kamar dan tidur.
Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai pulih. Selama masa pemulihanku, Allard sering mengerjakan pekerjaannya di rumah. Kakek dan kak Alvaro juga sering mengunjungiku. Merry juga sering menghubungiku walaupun dia sedang dalam masa hukumannya. Jessica juga sering berkunjung ke rumah. Kadang dia juga menginap saat Allard sedang pergi.
"Akhirnya besok udah mulai bisa bekerja. Aku tidak sabar bertemu dengan Bella," gumamku.
Aku menggeleng. "Tidak, Allard. Aku sudah terlalu lama izin. Lagi pula aku udah rindu dengan pasien-pasienku terutama Bella."
"Masa hukuman Merry belum selesai, kan?" tanyanya.
"Iya, tapi apa hubungannya pekerjaanku dengan Merry?" tanyaku bingung.
"Kamu jadi tidak ada yang menjaga. Bagaimana kalau aku menyuruh seseorang untuk menjagamu selama Merry masih dalam masa hukuman?" usulnya.
Aku menatap Allard. "Apa? Tidak perlu. Aku tidak nyaman dengan orang lain. Aku bisa kok sendiri. Di rumah sakit ga mungkin ada yang berbuat jahat. Kalau pun ada, banyak orang yang akan menolong aku."
"Kamu terlalu percaya diri. Mustahil seseorang akan menolong kita saat kita dalam bahaya walaupun dia teman baik kita sekalipun," ujarnya.
"Mustahil? Dulu Jessica pernah menolongku dari penculikan. Bahkan dia hampir terbunuh saat menolongku," jelasku.
Allard langsung menatapku. "Kamu pernah diculik?"
Aku mengangguk. "Iya. Sering sekali jadi tidak perlu terkejut seperti itu."
"Apa para penculiknya sudah tertangkap?" tanya Allard.
Aku menggeleng. "Belum. Kalau pun tertangkap, dia juga bisa bebas dengan mudah."
Allard mengernyitkan dahinya. "Bisa bebas dengan mudah?"
"Iya. Waktu itu aku pernah mendengar pembicaraan orang tuaku dengan polisi. Polisi bilang karena aku baik-baik saja dan tidak ada luka serius jadinya penculik itu tidak bisa dihukum terlalu parah," jelasku.
"Tetap saja itu tindakan kriminal dan dia harus dipenjara!" kesalnya.
"Ah waktu itu juga aku sudah lumayan besar dan penculikku menyamar menjadi anak sekolah. Jadi kemungkinan polisi mengira kalau aku hanya bertengkar dengan pacarku dan menolak untuk diantar pulang," sambungku.
Allard mengacak rambutnya frustasi. "****! Apakah itu masuk akal?! Polisi itu sangat bodoh."
__ADS_1
"Biarkan saja, udah berlalu juga. Aku juga tidak peduli lagi. Semakin dewasa, penculikan itu semakin berkurang dan hampir tidak pernah terjadi lagi jadi tidak perlu khawatir," kataku.
Sekarang kekuasaan Harrison sudah lebih besar dan kuat. Lalu sekarang ada aku yang ikut membantu menjagamu. Itulah mengapa penculikan itu bisa berkurang. Ucap Allard dalam hati.
"Ayo kita tidur. Aku udah ngantuk," ajakku.
"Kamu tidur duluan aja, aku masih ada kerjaan," jawabnya.
"Tidak bisa dilanjut besok aja?" tanyaku.
"Tidak bisa, ini untuk meeting besok pagi," jawabnya.
"Yaudah aku tidur duluan. Jangan tidur terlalu malam, Allard," ujarku.
"Iya sayang. Udah tidur sana."
"Good night, Allard."
Allard mencium keningku. "Good night, sweetie. Mimpi indah."
Aku pun tidur.
Keesokan harinya.
Akhirnya aku sudah bisa kembali bekerja. Saat ini Allard sedang mengantarku bekerja, dia khawatir kalau aku berangkat seorang diri dan karena dia juga sudah berjanji untuk menemaniku bertemu dengan Bella.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menyapa semua orang dan orang-orang juga menyapaku.
"Lama juga sembuhnya ya," ucap seseorang.
"Devan? Ngapain di sini?" tanyaku.
"Loh? Pertanyaanmu aneh. Aku di sini untuk bekerjalah," jawabnya.
"Oh iya ya," balasku.
"Sakit membuatmu jadi bodoh ya hahaha," ledeknya.
Aku menatapnya kesal. "Apa sih, aku cuma lupa!"
"Iya iya. Syukurlah kamu udah sembuh," ucapnya sambil mengelus kepalaku.
Allard yang melihat itu langsung menggenggam pergelangan tangan Devan. "Tolong perhatikan sikap anda, tuan! Alexa adalah istri saya. Tidak sopan anda mengelus kepala seorang wanita yang sudah memiliki suami."
"Oopss sorry. Kebiasaan hehehe," jawabnya santai.
Allard langsung menarikku ke belakang tubuhnya.
"Oh iya Alexa, selama kamu izin, yang memeriksa Bella adalah aku," adunya.
"Benarkah? Syukurlah kalau dokter yang bertugas menjaga Bella adalah kamu. Aku khawatir dia dijaga oleh dokter lain," ucapku lega.
"Iya, aku mengajukan diri untuk itu. Berhubung Bella lumayan dekat denganku," sambungnya.
"Terima kasih, Devan," kataku.
"Tidak masalah. Sudah sewajarnya sebagai teman, aku menolongmu," balasnya.
"Apakah kamu akan terus berbincang dengannya, Alexa? Aku bukanlah orang yang banyak waktu luang," ucap Allard.
"Ah iya, maaf Allard. Ayo kita ke ruangan Bella sekarang. Devan aku pergi dulu ya," pamitku.
Devan mengangguk.
Aku dan Allard pun pergi ke ruangan Bella.
__ADS_1