
***POV ALEXA***
Sudah lima jam aku mencobanya tapi belum juga berhasil.
"Alexa," panggil seseorang.
"Kakek Dhanu, aku masih belum berhasil membuatnya. Aku sudah mengikuti langkah-langkahnya dengan benar tapi kenapa selalu gagal? Apa yang salah sebenarnya?" aduku padanya.
"Istirahatlah dulu, kamu dari tadi belum makan," ucapnya.
Aku menggeleng. "Aku masih penasaran kenapa punyaku selalu gagal."
Kakek Dhanu mengelus rambutku. "Gagal dalam suatu usaha itu wajar nak, yang penting kamu tidak mudah menyerah. Sudah sekarang ayo kita makan dulu, kakek sudah meminta koki untuk memasak steak kesukaanmu."
Mataku berbinar mendengar nama makanan favoritku itu. "Steak?!"
"Iya. Itu makanan favoritmu, kan? Maka dari itu ayo sekarang kita ke ruang makan, pasti perutmu mulai keroncongan mendengar kata steak," ajaknya.
"Ayo." Aku menggandeng lengan kakek Dhanu dan pergi menuju ruang makan bersamanya.
Sesampainya di ruang makan tercium aroma steak yang sangat menggiurkan.
"Ayo cepatlah duduk dan makan," kata kakek Dhanu sambil menarik kursi untukku.
Dengan tatapan lapar aku melihat semua makanan itu. "Wah semuanya terlihat enak."
"Tentu saja, koki kakek ini orang asli barat jadi dia ahlinya membuat steak seperti ini," balasnya.
"Bolehkah aku makan semua ini?" tanyaku.
"Tentu. Ini semua memang disajikan untukmu, sayang," jawabnya.
"Terima kasih, kakek Dhanu yang terbaik," pujiku.
Mendengar itu hati kakek Dhanu menghangat, sudah lama sekali dia tidak mendengar itu. Kakek Dhanu mengelus kepalaku.
"Makanlah yang banyak Alexa, kamu terlalu kurus."
Aku hanya mengangguk polos.
Selesai makan, aku dan kakek Dhanu mengobrol di ruang tamu.
"Jadi bagaimana laboratoriumnya?" tanya kakek Dhanu.
"Sangat mengagumkan! Aku bahkan bisa di sana selama berjam-jam karena banyak sekali hal menakjubkan di sana," pujiku.
"Kamu bisa ke sana kapanpun kamu mau tapi tetap ingat dengan kesehatanmu."
"Baik, kakek."
"Ya udah malam ini kamu menginap saja di sini," ucapnya.
Aku menggeleng. "Aku tidak bisa, semua orang pasti akan mengkhawatirkan aku kalau tidak pulang sekarang. Lagi pula aku pergi tiba-tiba tadi jadi mereka semua pasti mencariku."
Kakek Dhanu mengangguk paham. "Baiklah, kakek akan menyiapkan mobil untukmu pulang."
"Terima kasih, kakek. Hmm apakah aku masih boleh ke sini lain kali? Aku masih ingin mencoba membuatnya lagi" tanyaku ragu.
"Tentu sayang, kamu bisa datang ke sini kapan saja tapi dengan syarat rahasiakan hal ini dari siapapun oke?"
__ADS_1
Aku tersenyum. "Oke."
Sesuai perkataan kakek Dhanu, dia menyiapkan mobil beserta supirnya dan mengantarku sampai rumah dengan selamat.
Aku pun masuk ke rumah.
"Loh kok pintunya tidak terkunci?" tanyaku.
Tiba-tiba seseorang memelukku. Karena ruangannya gelap aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang memelukku sekarang.
"Alexa, kemana saja kamu seharian ini?! Aku hampir gila mencarimu kemana-mana," ucapnya panik.
Aku menatapnya bingung. "Allard? Kok kamu di sini? Kamu harus dirawat beberapa hari lagi."
"Salahkan seseorang yang tiba-tiba pergi dari sisiku," jawabnya.
Aku terkejut mendengar itu dan merasa bersalah. "Maaf Allard, aku tidak bermaksud meninggalkanmu."
"Tolong jangan lakukan itu lagi."
"Iya."
"Berjanjilah!"
Entah mengapa sulit sekali bagiku untuk berjanji, padahal aku hanya tinggal bilang berjanji.
"Berjanjilah Alexa!"
Dengan ragu aku pun menjawabnya. "Iya, aku janji."
"Sekarang bisakah kita kembali ke rumah sakit? Suhu tubuhmu masih sangat tinggi."
"Tidak, aku tidak mau kembali ke tempat sialan itu lagi," tolaknya.
Allard menggeleng, dia tetap tidak mau ke rumah sakit.
Aku menghela nafas. "Terus sekarang kamu maunya gimana? Nanti ga sembuh-sembuh kalau ga dirawat sayang."
"Aku mau dirawat di rumah aja," jawabnya.
"Yaudah tapi janji harus nurut ya? Tidak boleh membantah!" peringatku.
Dia mengangguk.
"Sekarang kita ke kamar. Kamu harus banyak istirahat."
Dia mengangguk lagi.
"Lepasin dulu dong pelukannya, aku susah jalannya."
Dia menggeleng. "Ga mau, nanti kamu pergi lagi."
Akhirnya aku mengalah sampai Allard puas memelukku. Aku duduk di sofa yang dekat dengan kami karena kalau berdiri terus bisa-bisa aku yang pingsan karena kelelahan.
Aku mengelus rambutnya. "Sebenarnya kenapa kamu selalu bersikap manja saat sakit? Waktu pertama kali ketemu juga kamu manja. Apa yang telah terjadi?"
Dia hanya diam.
"Tidak apa-apa kalau ga mau cerita, tapi kalau udah mau cerita nanti cerita aja ya. Aku mau tau semua hal tentang kamu," ucapku.
__ADS_1
"Kamu akan takut sama aku kalau tau masa lalu aku," jawabnya.
"Loh kata siapa? Aku cuma takut sama Tuhan dan kedua orang tuaku, tapi mereka sekarang udah ga ada jadi yang aku takuti cuma Tuhan," balasku.
"Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih. Maaf..." lirih Allard.
"Aku ga sedih kok, kejadian itu juga udah lama banget jadi udah ga terlalu ingat," ucapku.
"Kamu bohong, matamu masih menunjukan kesedihan," balasnya
Aku terkekeh. "Hahaha iya deh aku mengaku bohong. Sebenarnya emang aku masih sedih dan takut kalau mengingat waktu itu makanya aku berusaha melupakannya dan menjauh dari sumbernya."
"Menjauh dari sumbernya?" tanya Allard bingung.
"Iya, hal-hal yang berkaitan dengan itu. Aku benci banget dan sama sekali ga mau berhubungan dengan " hal " itu," jawabku.
Allard terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa istrinya takut dengan " hal " itu sedangkan orang-orang terdekatnya bersahabat baik dengan " hal " itu. Apa yang akan terjadi jika istrinya mengetahui hal ini? Tidak. Allard tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia akan menjaga hal ini supaya tidak ketahuan oleh istrinya.
Aku menguap. "Udah puas belum? Aku udah ngantuk banget nih."
"Iya, ayo kita pindah ke kamar." Aku dan Allard pun pindah ke kamar dan tidur.
Keesokkan harinya.
Saat aku bangun ternyata Allard masih memeluk diriku. Aku pun melepaskan pelukannya secara perlahan dan pergi mengambil termometer.
"Syukurlah udah turun panasnya."
Aku membersihkan diri dan menyiapkan sarapan. Untuk sarapan hari ini aku memutuskan membuat bubur agar Allard bisa makan dengan nyaman.
Setelah buburnya matang, aku menuangkannya ke mangkok dan membawanya ke kamar.
"Allard, bangun. Sarapan dulu." Dia menggeliat. Aku yang melihat itu tertawa karena saat ini Allard sangat menggemaskan. "Hey, ayo bangun."
Lagi. Dia hanya menggeliat dan membalikkan badannya.
"Yaudah kalau tidak mau makan, aku pergi nih."
Mendengar itu, Allard langsung membuka matanya dan bangun. "Jangan pergi."
"Makanya ayo bangun. Sarapan dulu habis itu minum obatnya."
Akhirnya dia pun mengangguk.
Di sela-sela sarapan, Allard bertanya, "Oh iya kamu belum menjawab pertanyaanku semalam, kemana kamu pergi seharian kemarin? Kenapa kami semua tidak bisa menemukan jejakmu?"
"Benarkah? Wah itu berita bagus," ucapku senang.
Allard bingung mendengarnya. "Berita bagus? Kenapa?"
"Ya, jadi di saat aku tidak ingin bertemu siapapun aku bisa pergi ke sana karena tidak ada yang bisa menemukanku." Jujur walaupun aku berbicara seperti itu tapi ada rasa janggal di hatiku. Bagaimana bisa keluargaku yang hebat itu tidak menemukan jejakku? Apakah rumah kakek Dhanu diberi penghalang sinyal jadinya mereka tidak bisa melacak?
"Handphonemu juga tidak bisa ditelepon."
"Itu karena aku meninggalkan handphoneku di rumah."
"Jangan pernah tinggalkan handphonemu lagi lain kali!" peringatnya.
"Iya."
__ADS_1
Selesai sarapan aku memberikan obat untuk Allard. Allard meminumnya dan tak lama kemudian tertidur.
Aku sengaja memberikan obat yang memiliki efek mengantuk supaya Allard bisa beristirahat setelah makan.