
Ternyata anak itu sudah sampai duluan.
Aku sapa dirinya yang sedang duduk sambil melihat ke arah jendela. "Halo."
Dia menoleh ke arahku dan berdiri. "Halo nona, terima kasih sudah mengundang saya. Perkenalkan nama saya Risa."
"Berterima kasihlah pada Merry. Karena dia yang memperkenalkanmu padaku," ucapku.
"Tentu, saya tidak tau apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikannya."
"Berteman baiklah dengan Merry, selalu ada saat dirinya sedang senang maupun susah."
Dia mengangguk. "Tentu saja, nona."
"Nona Alexa, mari kita duduk," ucap Merry.
Kami bertiga pun duduk dan mulai masuk ke pembicaraan utama.
"Jadi apa yang kamu punya?" tanyaku.
Anak perempuan itu mengeluarkan semua daun teh yang dia bawa. "Ini adalah daun teh dengan kualitas terbaik yang saya tanam sendiri dan ini yang sudah saya seduh, silakan dicoba, nona."
"Hmm pilihkan aku beberapa yang benar-benar terbaik karena tidak mungkin aku meminum itu semua, kan? Perutku bisa kembung air hahaha."
Dia ikut tertawa. "Baiklah, nona. Ini adalah teh yang benar-benar saya rekomendasikan karena selain warnanya yang cantik dan wanginya yang harum, teh ini juga memiliki khasiat yang luar biasa."
Aku pun meminumnya. Hmm tidak buruk. Saat aku sedang minum teh, mataku terfokus pada satu daun teh yang memiliki bentuk cantik.
"Hmm daun teh apa itu?" tanyaku sambil menunjuk daun teh yang aku maksud.
"Ah ini daun teh yang saya dapatkan dari penjual dekat sini, karena bentuknya yang cantik saya jadi tertarik untuk membelinya. Dia berkata kalau teh ini bisa membuat orang yang meminumnya bermimpi indah," jawabnya.
"Tolong buatkan aku teh itu," pintaku.
Merry menatapku. "Anda yakin nona? Kita masih belum tau apakah teh itu berbahaya atau tidak."
"Aku juga tidak tau apakah teh yang aku minum tadi berbahaya atau tidak tapi aku tetap meminumnya dan baik-baik saja sekarang," jawabku santai.
Merry menghela nafasnya. "Itu dua hal yang berbeda, nona. Risa sendiri yang bilang kalau daun teh itu dia dapatkan dari penjual yang dia temui hari ini."
"Tidak apa-apa, Merry. Aku sangat tertarik dengan teh itu apalagi setelah tau manfaat daun teh itu. Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi buruk jadi aku ingin mencoba teh yang satu ini," balasku.
"Baiklah tapi biarkan saya yang mencobanya pertama," ujar Merry.
Risa menyelak pembicaraan kami. "Maaf Merry, tapi daun teh ini hanya cukup untuk satu orang karena aku hanya membelinya sedikit tadi."
"Kau dengar, Merry. Sudahlah aku pasti baik-baik saja." Setelah Risa selesai membuatnya, aku langsung meminumnya.
Risa memandangku dengan tatapan penasaran. "Bagaimana nona Alexa?"
"Ini enak, wanginya sangat menenangkan," jawabku.
__ADS_1
Risa menghela nafasnya lega. "Syukurlah kalau begitu. Berarti tidak salah saya membelinya."
Merry menatapku dengan tatapan aneh. "Nona, apakah anda baik-baik saja?"
"Hmm aku baik-baik saja tapi entah mengapa aku mengantuk sekali," jawabku.
Merry langsung berdiri dan menahan tubuh Alexa agar tidak jatuh. "Nona?!"
"Merry, aku mengantuk sekali. Biarkan aku tidur sebentar." Setelah mengatakan itu aku pun tertidur dan tak tau lagi apa yang terjadi.
***POV AUTHOR***
Merry mengguncang tubuh Alexa. "Nona?! Bangun nona!"
Risa menahan tangan Merry. "Ada apa Merry? Nona Alexa hanya tertidur, mungkin itu efek dari tehnya."
"Tidak Risa, ada yang aneh dengan teh itu," ujar Merry panik.
Risa mengernyitkan dahinya. "Aneh? Apa yang aneh?"
Merry mengambil teh tersebut dan meminumnya. "Sial aku lengah!"
Risa terkejut. "Ada apa, Merry?"
"Teh ini mengandung racun!" ucap Merry.
Mata Risa membelalak mendengarnya. "Ra-racun? Tapi mengapa kamu baik-baik saja setelah meminum teh yang sama dengan nona Alexa?"
"Aku sudah dilatih untuk kebal terhadap racun jadi aku baik-baik saja. Tapi nona Alexa tidak, ditambah tubuhnya yang rentan membuat racun ini menjadi 2 kali lipat lebih kuat," jelasnya.
Risa membukakan pintu mobil dan ikut masuk. Mereka berdua pun membawa Alexa ke rumah sakit dengan perasaan khawatir dan takut.
Di rumah sakit.
Merry menggendong Alexa dan membawanya ke dalam. "Suster tolong nona saya."
Suster itu mengarahkan Merry ke ruang UGD. "Silakan lewat sini, nona." Merry mengikuti suster tersebut.
Sesampainya di ruang UGD, Merry meletakan Alexa diatas ranjang secara perlahan. "Tolong selamatkan nona saya, suster."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, silakan anda tunggu di luar." Merry keluar dari ruangan UGD.
Risa yang melihat Merry keluar dari ruangan itu, langsung menghampirinya. "Bagaimana ini, Merry? Aku tidak tau kalau teh itu beracun."
"Kita berdoa saja semoga nona Alexa bisa bertahan dari racun itu," jawabnya.
"Ta-tapi kamu bilang tubuh nona Alexa sangat rentan. A-apakah nona Alexa bisa bertahan?" tanya Risa takut.
Merry menatap Risa tajam. "APA YANG KAMU KATAKAN?! TENTU SAJA NONA ALEXA BISA BERTAHAN!"
Risa ketakutan melihat Merry yang sedang marah. "Ma-maaf, Merry, aku bukannya bermaksud mengatakan hal buruk. A-aku juga berharap nona Alexa bisa bertahan."
__ADS_1
Merry mengacak rambutnya. "Sialan, aku lengah untuk kedua kalinya."
"Merry, apakah tidak sebaiknya kita menghubungi keluarga nona Alexa? Bagaimana pun mereka harus tau tentang keadaan nona Alexa," ucap Risa.
Bagaimana aku bisa menjelaskan masalah ini pada tuan? Kata Merry dalam hati.
"Kamu bisa saja mati kalau keluarga nona Alexa mengetahui masalah ini," ujar Merry.
Mendengar itu, Risa menjadi takut. "Tidak apa-apa. Keluarga nona Alexa harus tau kondisinya. Aku akan menerima konsekuensi dari kecerobohanku ini."
Merry mengangguk. "Aku juga akan menghadapi konsekuensinya bersamamu karena aku juga lalai menjaga nona."
"Siapa yang harus aku hubungi lebih dulu? Tuan Alvaro? Tuan Bagaskara? Atau tuan Allard?" gumam Merry.
Jujur saja menghubungi salah satu di antara mereka bertiga dengan kondisi Alexa yang belum diketahui hanya akan membuat suasana menjadi tambah runyam.
"Ah aku akan menelepon nona Jessica, aku harap nona Jessica bisa lebih tenang dibandingkan yang lain" Merry menghubungi Jessica. Teleponnya langsung diangkat.
"Halo Merry, ada apa? Alexa baik-baik aja, kan? Entah mengapa perasaanku tiba-tiba tidak enak."
Deg...Bagaimana Merry bisa memberitahu nona Jessica kalau seperti ini.
"Nona, sebelumnya bisakah anda berjanji untuk tetap tenang?"
"Janji? Sebenernya ada apa, Merry? Alexa baik-baik aja, kan?"
Lagi, Jessica mengulang pertanyaan itu.
"Nona Alexa...ada di ruangan UGD dan saat ini sedang ditangani oleh dokter. Saya belum tau bagaimana kondisinya."
Hanya itu yang bisa Merry beritahu, dia tidak berani bilang kalau Alexa baru saja meminum teh beracun.
Sedangkan di sebrang sana Jessica membeku mendengar perkataan Merry.
"Dimana rumah sakitnya? Aku akan segera ke sana sekarang."
"Rumah sakit pelita."
"Jaga Alexa sampai aku datang. Aku akan meminta penjelasan lebih lanjut nanti."
"Baik, nona."
"Apakah kakek dan kak Alvaro tau tentang hal ini?"
"Belum, nona."
"Kalau...tuan Allard?"
"Dia juga belum tau."
"Bagus, jangan beritahu mereka dulu. Kita belum tau bagaimana keadaan Alexa sekarang."
__ADS_1
"Baik, nona."
Setelah itu panggilan terputus.