Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Flashback


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian..


Semenjak hari itu, Alexa menjadi sangat pendiam. Dia tidak bekerja dan hanya terus berdiam diri di kamar. Dia tidak melakukan apapun selain duduk diam sambil melamun. Makan pun harus diambilkan dan disuapi, kalau tidak maka dia tidak akan makan. Intinya saat ini Alexa seperti mayat hidup.


***POV ALLARD***


Saat ini aku, Bella, dan nenek sedang berdiskusi di ruang tamu tentang sekolah Bella.


"Sebentar lagi Bella harus sekolah. Bella mau sekolah dimana sayang?" tanya nenek.


"Bella mau sekolah yang dekat sini aja," jawab Bella.


"Bukankah kamu pernah bilang mau sekolah di luar negeri?" tanyaku.


Bella menjawab dengan raut wajah murung. "Saat ini tidak memungkinkan untuk Bella sekolah di luar negeri."


"Kenapa?" tanyaku lagi.


"Bella tidak mau meninggalkan mommy sendiri di sini," jawabnya.


Aku mengelus kepalanya. "Mommy tidak sendiri di sini. Ada daddy."


"Iya Bella, ada nenek juga di sini," timpal nenek.


Aku menggeleng. "Tidak, nenek ikut dengan Bella. Harus ada yang menjaga Bella di sana."


"Tidak. Nenek tidak bisa meninggalkan Alexa saat keadaannya seperti ini," tolaknya.


"Jangan mengkhawatirkan Alexa, nek. Alexa tanggung jawab Allard," ujarku.


"Keputusan Bella masih sama. Bella akan sekolah di sini!" tegas Bella.


"Bella mempunyai mimpi untuk sekolah di luar negeri, kan?" tanyaku.


"Tidak apa-apa. Saat keadaan mommy sudah lebih baik baru Bella pikirkan lagi tentang sekolah di luar negeri. Lagi pula sekolah di sini juga tidak kalah bagus," jawabnya.


Aku mengangguk. "Baiklah kalau itu keinginan Bella. Daddy akan mendaftarkan Bella di sekolah internasional yang dekat dari sini."


Bella pun memeluk aku. "Terima kasih, daddy."


Aku membalas pelukannya. "Sama-sama, sayang. Daddy ke kamar dulu ya."


"Bella ikut," pinta Bella.


Aku menggeleng. "Izinkan daddy berbicara dengan mommy berdua saja ya?"


Akhirnya Bella mengalah dan mengangguk.


"Good girl," pujiku sambil mengelus kepala Bella.


Setelah itu aku pergi ke kamar dan duduk di hadapan Alexa. Aku menggenggam tangan Alexa yang sangat kurus karena sejak kejadian itu, Alexa menjadi susah makan. Makan pun hanya sesendok atau dua sendok.


"Hei sampai kapan kamu seperti ini?" tanyaku khawatir.


Tidak ada jawaban dari Alexa.


"Kami semua mengkhawatirkanmu," sambungku.

__ADS_1


Alexa masih diam dengan tatapan kosongnya.


"Lupain semuanya ya? Anggap semua itu hanyalah mimpi," ucapku.


"Mimpi? Kamu minta aku untuk menganggap itu semua mimpi?! Aku tidak bisa melakukan itu Allard!" balas Alexa marah.


"Lalu sampai kapan kamu akan seperti ini? Yang lain mengkhawatirkan kesehatan kamu. Kamu bisa sakit kalau seperti ini terus, Alexa," kataku.


"Itu bagus. Bahkan lebih baik kalau aku langsung mati saja," jawabnya.


"ALEXA!" bentakku.


Dia menatapku dengan tatapan tajam. "Apa?! Yang aku ucapkan itu benar Allard. Lebih baik aku mati saja bersama keluargaku yang lain."


Saat ini Alexa sudah tak bisa diajak bicara. Pikirannya pasti masih kalut dengan kejadian beberapa minggu yang lalu. Aku pun memeluk Alexa dan menenangkannya. "Alexa, jangan berbicara seperti itu."


"Aku harusnya mati, Allard. Tidak sepantasnya aku masih hidup dengan damai seperti ini," racaunya.


"Hentikan Alexa, aku mohon..." lirihku.


"Bunuh aku, Allard," pintanya.


Aku terkejut dengan permintaannya yang tidak masuk akal itu. "Kamu gila?!"


Alexa mengangguk. "Iya, aku gila karena itu bunuhlah aku. Tidak sulit bagimu untuk membunuhku, kan?"


"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu!" tolakku.


"Aku mohon, Allard. Aku lelah. Aku lelah dengan ini semua." Alexa terus memohon hal yang sama.


"Tidak, Alexa! Siapa yang akan menjadi ibunya Bella kalau kamu pergi?!" kataku dengan nada tinggi.


"Tidak! Bella tidak mau ibu baru!" ucap Bella yang tiba-tiba datang.


Bella menghampiri kami dan menangis. "Kenapa mommy berkata seperti itu?"


"Kamu sekarang sudah sembuh, Bella. Dengan kekuasaan yang dimiliki Allard, semua orang pasti mau menjagamu dan menjadi ibumu," jawab Alexa.


Bella menggeleng. "Bella hanya ingin dokter Alexa yang menjadi ibu Bella."


"Setelah semua ini, apakah aku masih pantas disebut ibu? Aku bahkan membunuh seorang ibu juga," lirih Alexa.


"Mommy, Bella tidak pernah kenal siapa itu ibu kandung Bella. Bella hanya merasakan kasih sayang ibu dari mommy dan sejak saat itu Bella mau dokter Alexa yang jadi mommy Bella. Bella tidak mau orang lain." Bella ikut memeluk Alexa.


"Sebentar lagi Bella akan sekolah dan Bella harap mommy bisa mengantarkan Bella di hari pertama Bella sekolah bersama daddy," ujarnya.


Alexa tak menjawab permintaan Bella.


"Kita jalan-jalan keluar ya? Kamu butuh udara segar untuk menjernihkan pikiranmu," bujukku pada Alexa.


"Tidak. Tolong tinggalkan aku sendiri," tolak Alexa.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Ayo Bella, mommy butuh istirahat." Sebelum keluar, aku mencium kening Alexa.


***POV ALEXA***


Setelah Allard dan Bella keluar, aku menangis sekeras-kerasnya. Bagaimana mereka semua masih menginginkan aku di saat mereka telah mengetahui yang sebenarnya? Kalau kalian tanya kenapa aku tidak pergi saja dari sini, jawabannya adalah aku sudah pernah melakukannya. Namun saat itu mereka semua berhasil menangkap aku dan berakhir dengan pengawasan di rumah ini diperketat.

__ADS_1


Flashback on.


Aku berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari rumah itu. Aku berniat untuk pergi keluar negeri tapi ternyata di bandara ada banyak pengawal Allard dan alhasil aku tertangkap dengan mudahnya di sana. Aku pun langsung dibawa pulang oleh mereka.


"Astaga Alexa, apa yang kamu pikirkan hah?! Aku mengkhawatirkanmu," ucap Jessica sambil memelukku.


"Hal bodoh apa yang kamu lakukan itu?!" ucap kakek marah.


"Cukup kakek, jangan marahi Alexa dulu. Adikku sayang, lain kali kalau mau pergi jalan-jalan bilang sama kita ya," ucap kakak.


"Bodoh! Aku ingin pergi dari neraka ini. Kamu pikir aku pergi untuk jalan-jalan? Hahaha lucu sekali pemikiranmu itu," ejekku.


"Alexa! Jaga bicaramu pada kakak laki-lakimu!" bentak kakek.


"Kakak laki-laki? Siapa? Aku adalah anak tunggal dari keluarga Smith. Apakah anda lupa tuan?" tanyaku mengganti panggilan pada kakek.


"Alexa, kenapa kamu seperti ini sayang?" tanya Allard dengan lembut.


"Allard, ayo kita bercerai," ujarku.


Mendengar kata cerai, Allard pun tak bisa menahan emosinya. "Cerai?! Jangan mengatakan hal bodoh, Alexa!"


"Kita menikah karena perjodohan konyol itu. Tidak ada cinta di antara kita jadi aku mau kita selesai di sini," balasku.


"Setelah selesai, kamu akan pergi kemana hah?!" tanyanya.


"Itu urusanku jadi kamu tidak perlu tau," jawabku.


"Bawa aku pergi bersamamu, Alexa," pinta Jessica.


Saat itu aku bingung harus memperlakukan Jessica seperti apa. Jessica adalah teman terbaik yang pernah aku punya dan dia tidak pernah melakukan hal buruk apapun padaku tapi kalau Jessica tetap berada di dekatku mungkin saja dia akan dalam bahaya suatu saat nanti.


"Tidak. Kamu punya tanggung jawab di sini, Jessica," tolakku.


"Kamu juga punya tanggung jawab di sini, Alexa. Kamu adalah orang tua Bella jadi kamu harus menjaga dan merawatnya," balas Jessica.


Aku mengangkat sebelah alis. "Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak mau menjadi orang tuanya?"


"Bella menyayangimu, Alexa," kata Jessica.


"Aku tidak peduli. Keputusan aku sudah bulat, aku akan pergi dari rumah ini!" putusku.


"Siapa yang mengizinkan kamu pergi?" tanya Allard.


"Aku tidak butuh izin darimu. Kamu bukanlah siapa-siapa bagiku!" tuturku.


"Kamu lupa? Kita masih suami istri jadi kamu masih berada di bawah pengawasanku!" tegasnya.


Tiba-tiba dua orang pengawal dari memegang tanganku. "Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!"


"Bawa nyonya ke kamar dan jangan biarkan dia kabur!" perintah Allard pada dua pengawalnya itu.


"Baik, tuan," jawab mereka.


Mereka membawaku ke kamar. Aku berusaha untuk melepaskan diri tapi tidak bisa karena tenaga mereka sangatlah kuat. Sesampainya di kamar, mereka mengunci pintunya dari luar. Aku terus menggedor-gedor pintunya tapi semuanya menghiraukan aku.


Flashback off.

__ADS_1


Sejak saat itu, pintu kamar ini selalu terkunci rapat. Seseorang yang ingin bertemu denganku harus atas izin Allard.


__ADS_2