Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Koma


__ADS_3

Dokter dan beberapa perawat tiba-tiba berlari masuk ke ruangan ICU.


Dengan cepat aku bertanya pada dokter itu. "Ada apa, dokter?"


"Monitor menunjukan kesehatan nona Alexa menurun dan sekarang beliau mengalami kejang-kejang. Kami permisi dulu untuk memeriksa keadaan pasien." Dokter itu langsung masuk ke ruangan ICU.


30 menit kemudian. Dokter keluar dari ruangan ICU. Kami semua langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"


"Adik saya baik-baik saja, kan?"


"Cucu perempuan saya sudah sadar, kan?"


"Tenang, tuan-tuan. Kejang-kejang nona Alexa memang sudah berhenti tapi grafik kesehatan beliau masih menurun. Cobalah kalian mengajaknya berbicara setiap hari karena walaupun sedang koma, pasien tetap bisa mendengar apa yang kalian bicarakan dan banyaklah berdoa. Semoga saja ada keajaiban dari Tuhan karena sampai saat ini kami belum bisa menemukan penawar dari racun tersebut," jelasnya.


"Apakah jenis racunnya sudah diketahui?" tanya Alvaro.


"Belum tapi kami menyimpulkan kalau ini adalah racun yang membuat seseorang tertidur panjang dan lambat laun melemahkan organ-organ di dalam tubuh," jawab dokter itu.


"Tolong temukan penawar racun itu secepatnya dokter. Saya akan membayar berapapun biayanya asalkan cucu perempuan saya bisa selamat," ucap kakek.


"Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin. Sekarang mulailah mengajak pasien berbicara. Masuklah satu per satu dan jangan lupa gunakan pakaian steril yang sudah disiapkan." Dokter itu pun pergi.


"Biar kakek yang masuk duluan," ucap kakek.


Kami mempersilakan kakek yang duluan.


***POV AUTHOR***


Di dalam ruangan ICU. Kakek mendekat ke arah Alexa yang sedang terbaring lemah. Hatinya sangat sakit saat melihat cucu kesayangannya seperti ini.


"Halo cucu perempuan kakek yang paling cantik."


Tidak ada jawaban.


"Nyenyak banget ya tidurnya. Kakek tau akhir-akhir ini kamu kurang tidur makanya menggunakan kesempatan ini untuk tidur panjang, kan? Jangan lama-lama ya, kakek khawatir sama Alexa. Oh iya Alexa tau? Sebelum ke sini kakek sempat memimpikan kamu pergi sama ayah dan ibumu. Kalian memakai baju putih dan terus berjalan ke arah cahaya yang sangat terang. Kakek panggil kamu tapi kamu tidak mendengarnya. Terus waktu kakek bangun dan menanyakan keadaan kamu ke Allard ternyata kamu lagi tidur panjang gini. Tidak apa-apa, kakek tau kamu lelah tapi cepat bangun ya cucu kesayangan kakek? Kakek akan mengabulkan keinginan kamu kalau kamu bangun. Yaudah kakek keluar dulu ya, gantian sama yang lain. Yang lain juga khawatir banget sama kamu. Cepat bangun ya sayang," ucap kakek sambil mencium kening Alexa.


Kakek keluar dari ruangan ICU dan bergantian dengan Alvaro.


Alvaro yang melihat kondisi adiknya itu menjadi sangat sedih. Adiknya yang selalu ceria dan bawel kini hanya diam saja.


"Halo adik aku yang paling bawel. Lagi tidur panjang ya? Begadang mulu sih makanya ngantuk banget dan jadinya tidur panjang gini kan. Aneh padahal kamu baru sehari tidurnya tapi udah dibilang tidur panjang sama dokter. Padahal besok juga kamu pasti udah bangun, kan? Kamu selalu mengkhawatirkan pasien-pasienmu itu jadi tidak mungkin tahan tidur lama-lama gini. Padahal baru kemarin kakak khawatir karena kamu hilang eh sekarang kamu udah bikin kakak khawatir lagi. Kamu senang sekali membuat kakak khawatir sih."


Alvaro tak kuasa menahan air matanya.


"Bangun dong Al, kakak khawatir banget sama kamu. Kakak tidak terbiasa melihat kamu diam seperti ini. Kamu tau ga? Tadi kakek mukul Merry tapi aku tahan. Ayo bangun terus marahin kakek, kamu kan sayang banget sama Merry. Oh iya kamu tau? Di saat kita semua lagi panik si Jessica bisa-bisanya masih mikirin pelakunya dan akhirnya kita semua dapat petunjuk karena dia. Ternyata dia pintar ya hahaha, kakak kira dia cuma bisa bawel dan nyebelin doang tapi tak disangka dia bisa memberikan pencerahan ke kita semua. Kakak akan memastikan kalau pelakunya akan tertangkap. Makanya kamu cepat bangun ya? Biar bisa lihat siapa orang yang berani nyakitin kamu seperti ini. Yaudah kakak keluar ya? Ga bisa lama-lama soalnya ga sanggup lihat kamu kayak gini. Cepat bangun my little sister," ucap Alvaro sambil mencium kening Alexa juga.


Alvaro keluar dari ruangan ICU dan bergantian dengan Jessica.


Jessica merasa asing dengan suasana ini, dimana sahabatnya itu hanya diam. Biasanya setiap mereka bertemu Alexa selalu menceritakan banyak hal. Namun pertemuan mereka yang sekarang berbeda. Kali ini Jessica yang lebih banyak berbicara.


"Alexa, kamu tau ga waktu dengar kabar ini jantung aku rasanya berhenti sejenak. Kenapa kamu ga cerita kalau akhir-akhir ini kamu suka minum teh sama orang lain? Kamu ingat kalau kak Alvaro melarang menerima minuman dan makanan dari orang tak dikenal? Kalau kamu emang pengen banget minum teh bareng seseorang, kenapa ga ajak aku? Walaupun aku sibuk, aku pasti turutin keinginan kamu kok. Cepat bangun ya? Kita semua khawatir loh sama kamu. Kita semua tidak terbiasa dengan kesunyian ini. Kata dokter kamu tidur panjang, tapi aku percaya kalau sebentar lagi kamu pasti bangun. Aku akan selalu nungguin kamu di sini oke?"

__ADS_1


Jessica keluar dari ruangan ICU dan bergantian dengan orang terakhir yaitu Allard. Merry, Dion, dan Risa tidak diperbolehkan masuk oleh kakek dan Allard.


Allard dengan ragu membuka pintu ruangan ICU dan masuk secara perlahan. Dia takut melihat gadisnya itu terbaring lemah dengan semua alat medis yang menempel di tubuh gadisnya itu. Allard mendekati Alexa secara perlahan. Dia menggenggam tangan Alexa yang tidak dipasang infus.


"Halo sayang. Kok mau tidur gini ga bilang-bilang hmm? Kamu pasti marah banget ya sama aku jadinya tidur panjang tiba-tiba kayak gini. Maafin aku ya? Aku janji setelah kamu bangun akan menceritakan semua tentang masa lalu aku dan akan menjawab semua pertanyaan kamu. Sekarang bangun ya? Buka mata kamu. Baru sehari tidak melihatmu tapi aku udah kangen banget. Aku kangen manja-manja sama kamu. Aku..." Allard menghentikan perkataanya, dia tak kuasa menahan tangisannya. "Aku lemah banget ya? Lihat kamu seperti ini udah bikin aku nangis."


Tak ada jawaban.


"Sayang, ayo bangun," rengeknya.


Tak disangka Alexa memberikan respon pada perkataan Allard. Air mata turun dari sisi mata Alexa. Allard yang melihat itu langsung memanggil dokter. Dokter segera tiba dan memeriksa kondisi Alexa.


"Kabar bagus. Kesehatan pasien telah meningkat walaupun sedikit. Anda berhasil merangsang pasien untuk bertahan hidup. Pasien yang merasa terangsang pastinya memberikan respon pada seseorang yang mengajaknya berbicara. Teruslah mengajaknya berbicara, tuan," ucap dokter itu.


Semua orang sangat bersyukur mendengar hal itu terutama Allard, dia senang mendapatkan respon dari Alexa. Allard akan terus berbicara pada Alexa walaupun Alexa tidak bisa menjawab perkataannya sekarang.


***POV ALEXA***


Saat membuka mata, hanya ada ruangan putih yang aku lihat.


"Dimana ini?" tanyaku.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Alexa?," tanya seseorang.


Aku melihat mereka dengan tatapan bingung. "Ayah ibu? Kok kalian di sini? Tunggu sebenarnya apa yang telah terjadi. Perasaan tadi aku merasa ngantuk setelah minum teh. Oh ini pasti mimpi ya?"


"Tidak,p Alexa. Ini bukan alam mimpi. Teh yang kamu minum membuatmu sampai di sini," jawab ayah.


"Teh? Itu cuma teh biasa," ujarku.


"Jadi Risa berusaha membunuhku?!" tanyaku terkejut.


"Tidak, anak itu baik. Dia hanya dimanfaatkan oleh seseorang yang memang mengincar kamu," jawab ayah.


"Ayah, seseorang yang mengincar aku pasti musuh kalian di masa lalu, kan? Ini pasti berhubungan lagi dengan hal itu, kan?" tanyaku.


Ayah hanya diam.


"Ayah, jawab aku!" desakku.


"Alexa, tenang nak," ucap ibu menenangkanku.


"Benar. Seseorang itu adalah musuh keluarga kita," jawab ayah terpaksa.


Kakiku terasa lemas. Kenapa harus itu lagi?


"Tenang, nak. Kamu memiliki Allard sekarang. Dia akan menjagamu," ucap ayah.


"Apa maksudnya?! Tentu saja dia tidak bisa menjagaku dari musuh kalian. Allard hanya seorang pengusaha bukan anggota mafia seperti kalian!" bentakku.


"Allard belum menceritakan tentang dirimu padamu ya? Kalau begitu kamu harus segera bangun dan tanyakan semua hal yang ingin kamu ketahui," kata ayah.


"Percuma. Dia ga bakal mau jawab. Terakhir kali aku bertanya, kami malah bertengkar," ucapku pelan.

__ADS_1


"Kali ini berbeda. Allard sudah berjanji akan menjawab semua pertanyaanmu," jawab ayah.


Aku mengernyitkan dahi. "Bagaimana ayah tau itu?"


"Walaupun kami telah tiada tapi kami selalu mengawasimu dan Alvaro dari atas sini. Kemari nak, lihatlah itu. Suamimu sedang menangis karena dirimu." Aku melihat ke arah yang ibu tunjuk.


Di sana Allard menangis sambil menggenggam tanganku. Tanpa disadari, air mataku meluruh begitu saja. Tiba-tiba Allard berteriak memanggil dokter. Dan dokter langsung memeriksa diriku.


"Lihat, kan? Allard sangat menyayangimu, maka dari itu cepatlah bangun dan tanyakan semua padanya," kata ibu.


Aku mengangguk.


Perlahan tubuhku mulai menghilang.


Sebelum aku benar-benar menghilang, ayah mengucapkan sesuatu. "Lepaskan dirimu dari masa lalu, jalanilah masa sekarang dengan berani dan kuat. Semua orang akan melindungimu, Alexa."


Lalu tubuhku benar-benar menghilang.


Aku pun membuka mata secara perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk.


Ruangan ini sepi. Tidak ada siapapun di sini. Ah iya aku sedang berada di ruangan ICU jadi tidak ada siapapun di ruanganku.


Tiba-tiba dokter datang. Dokter itu langsung memeriksa keadaanku. "Keajaiban. Anda benar-benar sadar semenjak suami anda terus mengajak anda berbicara."


Aku ingin berbicara tapi suaraku tidak keluar.


"Anda pasti kesulitan karena benda ini." Dokter melepaskan alat bantu pernapasanku.


Aku berbicara tanpa mengeluarkan suara. "Dimana semua orang?"


Dokter yang mengerti ucapanku pun menjawab, "Mereka semua sedang berdoa di ruang doa. Saya rasa sebentar lagi juga selesai."


"Selama menunggu mereka selesai. Anda akan kami pindahkan ke ruang inap," ucap dokter itu.


Aku mengangguk.


Aku pun dipindahkan ke ruang inap VIP.


***POV ALLARD***


Selesai berdoa, kami semua kembali ke ruangan ICU untuk bergantian berbicara dengan Alexa lagi. Namun saat kami sampai, perawat sedang mengeluarkan kasur kosong.


"Permisi, kenapa kasurnya dikeluarin? Adik saya ada di dalam, kan?" tanya Alvaro.


Perawat itu menjawab, "Saya kurang tau, tuan. Saya hanya diperintahkan untuk membawa ini dan di dalam tidak ada siapa-siapa."


Deg...Aku pun langsung menggenggam keras tangan perawat itu. "Apa maksudnya tidak ada siapa-siapa di dalam?! Jelas-jelas istri saya ada di ruang ICU!"


Dion langsung berusaha menahanku. "Tenang, tuan. Kita tanyakan ke resepsionis, mungkin saja nona dipindahkan ke ruangan lain."


Sebelum kami pergi, dokter yang menangani Alexa datang. "Kalian semua sudah selesai berdoa rupanya. Saya ingin memberitahu sesuatu."


"Dimana Alexa?" tanya Jessica.

__ADS_1


"Nona Alexa kami pindahkan ke ruang rawat anggrek. Keajaiban datang, beliau sadar dari komanya saat kalian sedang di ruang doa," jawabnya.


Kami semua langsung berlari ke ruang rawat anggrek.


__ADS_2