Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Jalan-jalan di taman


__ADS_3

Sesampainya di depan ruangan Bella, aku tidak langsung masuk.


"Ada apa? Kenapa tidak masuk?" tanya Allard.


"Aku takut," jawabku pelan.


"Takut apa?" tanyanya lagi.


"Aku takut kalau Bella masih marah padaku, Allard," jawabku.


"Bukankah sudah aku bilang kalau gadis itu menyayangimu lebih dari yang kau pikirkan? Jangan khawatir," ucapnya.


"Perasaan kecewa tidak bisa hilang begitu saja," jawabku.


"Kalau begitu, minta maaflah. Katakan kalau kau sangat menyesal karena telah pergi secara tiba-tiba waktu itu. Aku yakin dia akan mengerti. Bella adalah gadis yang baik jadi dia tidak akan marah padamu kalau sudah mengetahui alasannya," jelas Allard.


"Baiklah. Kamu harus menemani dan membantuku," pintaku.


"Iya. Itulah mengapa aku ada di sini," jawabnya.


Akhirnya kita pun masuk ke ruangan itu. Di sana ada Bella yang sedang makan. Sang nenek sedang menyuapinya tapi Bella terus menolaknya. "Tidak mau nenek. Bella tidak lapar."


"Bella, kamu harus makan biar cepat sembuh. Ingat kata pak dokter? Kalau mau cepat sembuh, harus banyak makan," bujuk nenek.


"Pak dokter itu bohong! Bu dokter juga bohong! Bella udah banyak makan tapi ga sembuh-sembuh dan malah tambah parah. Bella sering sesak nafas dan badan Bella suka sakit semua. Nenek juga suka nangis kalau Bella sedang seperti itu, kan?"


Deg.....Perasaanku sakit saat mendengar perkataan Bella. Allard menggenggam tanganku dan berbisik kalau semuanya akan baik-baik saja.


Aku pun menyapa Bella. "Halo anak cantik."


Bella yang senang melihatku langsung memelukku.


"Bu dokter kemana aja?! Kenapa lama banget perginya? Kenapa ga pamit ke Bella kalau mau pergi" tanya Bella beruntun.


Aku membalas pelukan Bella. "Iya iya maafin bu dokter ya? Waktu itu bu dokter buru-buru jadi lupa pamit ke Bella."


"Kok bisa lupa sih? Padahal bu dokter punya janji sama Bella. Bu dokter ga sayang sama Bella ya?" tanyanya.


"Kata siapa?! Bu dokter sayang kok sama Bella, makanya bu dokter cepat-cepat menyelesaikan urusan itu," jawabku.


Neneknya Bella pun mendekat. "Syukurlah kalau dokter Alexa sudah kembali. Akhir-akhir ini kesehatan Bella semakin menurun dok. Saya khawatir dengannya, ditambah dia juga tidak mau makan."


"Maafin saya ya, nek," ucapku menyesal.


"Kenapa dokter minta maaf? Dokter tidak salah," ucap nenek.


Aku menggeleng. "Ini salah saya karena tidak profesional sebagai dokter. Padahal saya punya pasien tapi pergi tiba-tiba. Nanti kita naikin lagi ya kesehatan Bella? Nenek tenang saja, saya pasti akan berusaha yang terbaik untuk Bella."


"Terima kasih banyak dokter," jawab nenek.


Bella yang melihat Allard pun memegang tangannya. "Suami bu dokter ada di sini juga? Suami bu dokter mau jenguk Bella ya? Mau main sama Bella ya?"


"Bella kenal sama suami aku?" tanyaku pada Bella.


Bella mengangguk. "Iya, waktu itu kakak ini yang bujuk Bella buat diperiksa sama dokter lain."


"Bella, ingat kata bu dokter? Harus mau diperiksa sama dokter lain kalo bu dokter lagi tidak ada," ucapku.


Bella menunduk. "Maaf, bu dokter."


"Bella harus nurut sama nenek ya? Gimana mau sembuh kalau membantah terus," sambungku.


Bella memeluk Allard dan menyembunyikan wajahnya di perut Allard.


"Bella, dengarkan dokter Alexa, sayang," bujuk nenek Bella.


Bella malah menangis di pelukan Allard.


Allard menggendong Bella dan menenangkannya. "Hei cantik, kok nangis? Neneknya Bella sama dokter Alexa bukannya marah sama Bella."


Aku mendekati mereka berdua dan mengelus punggung Bella. "Bella sayang, bu dokter bukan marah sama Bella. Bu dokter cuma khawatir kalau Bella terus ga mau diperiksa sama dokter lain setiap bu dokter tidak ada."


"Bella maunya sama bu dokter. Tidak mau sama dokter lain," jawabnya sambil menangis.


"Iya sayang, tapi ada saatnya bu dokter ga bisa, kan? Seperti kemarin saat bu dokter pergi. Itu lama loh masa selama itu Bella ga mau diperiksa sama dokter lain? Nanti ga sembuh-sembuh dong. Nanti kalau Bella ga sembuh-sembuh, neneknya Bella pasti sedih. Bu dokter juga sedih," ucapku.


"Kalau Bella sembuh, nanti ga bisa ketemu bu dokter lagi," ujarnya.


"Loh kata siapa? Kalau Bella udah sembuh terus mau ketemu bu dokter, nanti Bella tinggal telepon bu dokter. Nanti kita main bareng," jawabku.


"Be-beneran?" tanyanya.

__ADS_1


"Bener dong. Nanti kita main sepuasnya terus makan sepuasnya juga, nanti bu dokter beliin yang Bella mau," jelasku.


Bella mengangguk.


"Jadi mulai sekarang Bella harus janji ya nurut kata dokter dan neneknya Bella?" pintaku.


Bella mengangguk lagi.


Aku mengelus kepala anak itu. "Anak pintar. Tunjukkin dong wajah cantik Bella. Jangan sembunyi terus."


Bella akhirnya mau menunjukan wajahnya. Aku mengambil tisu dan mengelap wajahnya. "Anak cantik. Sekarang kita makan ya? Bella belum makan, kan?"


"Bella maunya disuapin sama bu dokter ya," pintanya.


Aku mengangguk. "Iya, boleh."


"Bella, ayo turun. Kasihan kakaknya gendong Bella terus, pasti berat," ucap neneknya Bella.


"Bella ga berat kok, nek," jawab Bella.


"Bella, kakaknya juga mau berangkat kerja. Jadi turun yuk sayang, sini sama nenek aja gendongnya," bujuk nenek.


Bella menggeleng.


"Tidak apa-apa, saya bisa nanti berangkat kerjanya," ucap Allard.


"Allard, kamu yakin? Semalam kamu bilang mau ada meeting," tanyaku khawatir.


"Iya, nanti aku minta Dion untuk mengundurkan jam meetingnya," jawab Allard.


"Terima kasih dokter Alexa dan suami dokter Alexa," ucap nenek.


"Sama-sama. Nenek belum sarapan, kan? Sarapan aja, biar Bella saya yang urus," ucapku.


"Dokter Alexa mau saya beliin sesuatu untuk sarapan?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Tidak usah. Kebetulan saya dan suami saya sudah sarapan di rumah tadi."


"Baiklah kalau gitu. Saya titip Bella sebentar ya dokter." Neneknya Bella pergi untuk sarapan.


Aku mulai menyuapi Bella. "Nah Bella, ayo buka mulutnya."


Bella melakukannya dengan patuh. Tanpa membutuhkan waktu lama, makanan Bella pun habis.


"Nah sekarang diminum obatnya," ucapku sambil memberikan obat pada Bella.


Tetapi Bella menolak. "Ga mau minum obat. Rasanya pahit."


"Nanti bu dokter kasih permen tapi diminum dulu ya obatnya?" bujukku.


Bella tetap menolak, tapi aku tidak kehabisan akal untuk membujuknya.


"Gimana kalau habis minum obat kita jalan-jalan keluar? Mau?" tawarku.


Bella mengangguk senang. "Mauuu."


"Diminum dulu obatnya, baru kita jalan-jalan keluar," ucapku.


Akhirnya Bella mau meminum obatnya.


"Obatnya udah Bella minum bu dokter. Ayo kita jalan-jalan keluar," ajaknya.


Aku mengangguk. "Iya, ayo."


Allard menahan lenganku. "Kamu yakin Bella boleh jalan-jalan keluar?"


"Yakin dong, aku kan dokternya," jawabku.


"Penyakit Bella?" tanyanya.


Aku menatap Allard. "Ah kamu udah tau penyakit Bella ya?"


Allard mengangguk.


"Tidak apa-apa, asal Bella tak melakukan aktivitas yang berat. Lagian kita cuma jalan-jalan sebentar dan Bella pakai kursi roda nanti jadi tidak masalah," jelasku.


Allard pun mengangguk paham. Aku mengambil kursi roda dan Allard meletakan Bella di kursi roda itu. Kita pun jalan-jalan di taman.


"Bu dokter, Bella mau jalan boleh ya?" pinta Bella.


"No, Bella harus tetap duduk di kursi roda," tolakku.

__ADS_1


"Kenapa? Kaki Bella baik-baik aja," ucapnya.


"Nanti nafas Bella bisa sesak lagi kalau terlalu lelah," jawabku.


"Ga kok, nanti kalau emang udah lelah Bella janji deh bakal langsung duduk di kursi roda lagi. Boleh ya bu dokter, please?" pintanya dengan memohon.


"Huh yaudah boleh, tapi sebentar aja ya? Kadang Bella suka maksain walaupun udah lelah," ucapku.


"Iya, bu dokter," jawab Bella senang.


Allard membantunya untuk turun dari kursi roda.


"Kakak, gandeng tangan Bella," pinta Bella pada Allard.


Allard pun menurutinya dengan senang hati.


"Bu dokter juga, gandeng tangan Bella," pinta Bella padaku.


Aku juga menurutinya dengan senang hati.


Kami pun berjalan-jalan sambil bergandengan tangan.


"Wih udah kayak keluarga cemara aja nih," ucap Devan yang tiba-tiba saja datang.


"Devan? Ngapain di sini? Kamu lagi ga ada pasien?" tanyaku.


"Iya karena senggang jadinya aku jalan-jalan ke taman deh dan ga sangka ketemu sama kamu dan Bella," jawabnya.


"Halo pak dokter," sapa Bella.


"Halo Bella cantik. Bella lagi jalan-jalan ya? Kok pak dokter ga diajak sih," ucap Devan.


"Iya, Bella lagi jalan-jalan sama bu dokter dan suami bu dokter," jawab Bella.


"Pak dokter boleh ikutan jalan-jalan sama Bella ga?" tanyanya.


Bella menggeleng. "Ga boleh. Bella mau jalan-jalannya sama bu dokter dan suaminya bu dokter aja."


Devan memasang wajah sedih. "Yah kok gitu sih? Pak dokter juga mau ikut jalan-jalan sama Bella."


"Maaf pak dokter tapi lain kali aja ya," kata Bella.


"Emangnya kenapa pak dokter ga boleh ikut? Sama aja walaupun tambah satu orang, kan?" tanya Devan.


Bella menggeleng. "Beda. Soalnya kalau sama bu dokter dan suaminya bu dokter, Bella merasa seperti lagi jalan-jalan sama mama dan papa tapi kalau pak dokter ikutan jadinya ga sama dong. Pak dokter jadi apanya kalau ikut?"


"Jadi pacar bu dokter," ledek Devan.


"Ihh ga boleh pak dokter! Bu dokter itu udah punya suami, jadi ga boleh punya pacar lagi!" kesal Bella.


"Kata siapa? Boleh aja tuh, iya kan bu dokter?" tanya Devan.


Bella yang penasaran pun ikut bertanya, "Emang boleh begitu bu dokter?"


"Ga boleh dong. Kita itu harus setia sama pasangan kita. Jadi nanti Bella kalau udah punya pasangan ga boleh punya yang lain ya." Bukan aku yang menjawabnya, tapi Allard.


"Oh begitu ya? Oke deh nanti Bella akan setia sama pasangan Bella biar kayak bu dokter sama kakak," celetuk Bella.


"Yaudah deh kalau gitu pak dokter pergi aja karena Bella tidak mengizinkan pak dokter untuk bergabung." Devan berpura-pura pergi.


"Dadah pak dokter, hati-hati di jalan ya." Bukannya menahan Devan, Bella malah melambaikan tangan dengan riang.


"Ayo kita lanjutin jalan-jalannya," ajak Bella.


"Bella tidak lelah?" tanyaku khawatir.


"Tidak, bu dokter. Bella masih kuat," jawabnya.


"Bella, ayo duduk lagi di kursi roda ya sayang," bujukku.


"Tidak mau. Kalau duduk di kursi roda, Bella lihatnya tidak puas soalnya jadi pendek," tolaknya.


"Yaudah kalau gitu bu dokter gendong ya?" ucapku.


"No, nanti bu dokter lelah gendong Bella terus jalan-jalannya jadi sebentar deh. Padahal jarang-jarang Bella pergi keluar gini sama bu dokter," larangnya.


Tanpa aba-aba, Allard langsung menggendong Bella. "Yaudah kalau gitu sama aku aja digendongnya gimana? Lebih tinggi juga jadi Bella lihatnya lebih leluasa."


Bella tertawa senang. "Hahaha iyaa. Bella bisa lihat semuanya dari sini."


"Allard kamu tidak lelah? Dari tadi udah gendong Bella loh," tanyaku khawatir.

__ADS_1


"Tidak, Bella ringan jadi aku tak lelah," jawabnya.


Kami pun melanjutkan jalan-jalannya.


__ADS_2