
Dalam perjalanan kembali, supir itu menanyakan hal yang mengejutkan. "Apakah orang yang nona cari adalah pak Bagaskara dan tuan Alvaro?"
"Bagaimana bapak tau kalau saya mencari mereka?" tanyaku.
"Tidak sulit untuk mengetahui itu, nona. Nona adalah Alexa Olivia Harrison, cucu perempuan kesayangan Bagaskara Edric Harrison dan istri dari Allard Vincent Alexandro," jawabnya.
Deg...jantungku berdetak cepat. Mengapa supir ini bisa mengetahui tentang diriku sejauh itu? Padahal aku belum lama ada di Indonesia dan belum ada yang tau kalau aku adalah cucu perempuan dari pemilik perusahaan Harrison dan istri dari pemilik perusahaan Alexandro.
"Tenang, nona. Saya tidak ada niat apa-apa. Justru saya ingin meminta bantuan nona untuk mengecek kondisi tuan saya," sambungnya.
Mendengar itu aku sedikit lega. "Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Tentu. Sebutkan syarat yang anda inginkan, nona."
"Beri tau saya apa yang bapak tau tentang kakek dan Allard."
"Baiklah, itu bukan hal yang sulit. Bahkan saya bisa memberi tau tentang tuan Alvaro juga."
Kakak? Kakak juga terlibat sesuatu? Tanyaku dalam hati.
"Karena kita sudah sepakat saya akan mengantarkan nona ke tempat tuan saya berada."
Aku mengangguk.
20 menit kemudian, kami sampai di sebuah mansion yang sangat besar. Mansion ini bahkan lebih besar dari tempat kakek dan Allard.
Astaga seberapa kaya tuannya? Bahkan kakek yang pemilik perusahaan terbesar se-Asia saja tidak memiliki mansion sebesar ini. Ucapku dalam hati.
"Mari masuk, nona. Tuan sudah menunggu di dalam," ajak supir tersebut.
Setelah berjalan sebentar, kami sampai di depan pintu berwarna hitam dengan ukiran ular. Menyeramkan tapi indah.
Supir itu mengetuk pintu tersebut. "Permisi tuan, saya telah membawa nona Alexa."
"Masuklah."
Saat pintu terbuka, terlihat sosok pria tua yang kurasa umurnya sama seperti kakek.
"Kerja bagus, Regan. Kamu bisa melepas penyamaranmu sekarang dan Alexa kamu bisa duduk dan nikmatilah hidangan ini."
Supir itu melepas topeng kulitnya. "Hah? Ternyata itu hanya topeng? Terlihat sangat nyata."
"Menakjubkan bukan? Ini lah teknologi yang sedang kami kembangkan. Apakah kamu ingin menyentuhnya Alexa?" tanya pria tua itu.
Aku memegang topeng itu, teksturnya sangat mirip dengan kulit asli.
"Untuk apa kalian mengembangkan ini?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja untuk orang-orang yang ingin menyembunyikan identitasnya. Zaman sekarang kita harus berhati-hati, bukankah begitu Alexa?"
"Tunggu, dari tadi anda memanggil nama saya. Apakah anda mengenal saya?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak tau kamu, Alexa. Cucu perempuan kesayangan sang pemilik perusahaan terbesar se-Asia. Omong-omong minumlah teh ini pasti kamu sangat terkejut karena tiba-tiba dibawa ke sini, kan?"
Aku pun meminum tehnya dan kembali berbicara, "Tapi saya baru kembali beberapa tahun lalu dan belum lama ada di sini. Kakek juga belum memberitahu saya ke publik."
"Salahkan kakekmu yang tidak pandai menyembunyikan hal berharganya."
Suasana mulai mencekam. "Sebenarnya siapa kalian?"
"Hahaha kamu sangat berani, bertanya itu tanpa takut sedikit pun. Memang cucu dari Bagaskara. Bahkan anak perempuannya saja tidak seberani dirimu. Sepertinya keberanianmu itu turun dari ayahmu."
"Anda mengenal orang tua saya?"
"Ya, aku mengenal semuanya. Bagaskara, Alvaro, Merry, Jessica, Dion, bahkan Allard. Orang yang sangat sulit kamu dapatkan informasinya bukan?"
__ADS_1
"Siapa sebenarnya dirimu, tuan?"
"Segitu penasarannya? Baiklah, tidak sopan juga kan kalau tidak mengenalkan diri kepada tamu. Saya adalah Dhanurendra Leon Wesley. Pemilik perusahaan terbesar se-Eropa yang akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan."
Mataku berbinar mendengar itu. "Anda adalah tuan Dhanu?! Astaga saya sangat kagum dengan teknologi yang anda kembangkan karena itu sangat membantu dunia kesehatan."
"Hahaha kamu sangat lucu. Ternyata Bagaskara sangat menjaga cucu perempuannya."
"Jadi kali ini produk yang akan kalian buat apakah topeng kulit?"
"Iya, apakah kamu tertarik untuk bergabung dalam proyek ini?"
"Tentu, saya selalu ingin berpartisipasi dalam mengembangkan teknologi yang dilakukan oleh perusahaan Wesley."
"Hahaha baiklah, kamu bisa bergabung dalam proyek kali ini. Regan akan menunjukan letak laboratoriumnya."
"Oh iya saya hampir lupa, saya diminta untuk mengecek kondisi anda tuan."
"Tidak perlu, saya sudah lebih baik karena bertemu orang yang menggemaskan sepertimu. Dan tolong berbicara senyamannya saja padaku Alexa, kamu bahkan bisa memanggilku dengan sebutan kakek. Umurku tidak jauh dengan umur Bagaskara, jadi kamu juga bisa menganggapku sebagai kakekmu."
"Baiklah, kakek Dhanu."
"Good girl. Regan antar Alexa ke laboratoriumnya!" perintahnya.
"Anda yakin, tuan?"
"Tentu, Alexa sendiri yang menginginkannya jadi aku tidak bisa melarangnya."
"Baiklah. Silakan ikuti saya, nona." Regan pun mengantarku ke laboratoriumnya. Ah ya ternyata Regan bukan lah seorang bapak-bapak, tetapi dia seorang pria tampan dengan alisnya yang tebal.
Sesampainya di laboratorium, aku terkejut karena banyak sekali teknologi canggih yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Selamat datang di laboratorium Wesley, nona."
"Ini sangat menakjubkan," pujiku.
Saat sedang melihat-lihat, aku tak sengaja menemukan tumpukan kulit yang sangat banyak.
"Banyak sekali, omong omong kulit apakah ini?" tanyaku penasaran.
"Itu kulit impor. Seperti kulit asli, kan?"
"Iya, bahkan kalau anda mengatakan ini kulit manusia maka saya akan percaya."
"Hahaha apakah nona mau mencoba membuatnya sekarang?"
"Bolehkah?"
"Tentu, jika tuan sudah mengizinkan anda masuk ke sini itu artinya tuan menyukai nona dan mengizinkan anda untuk melakukan apapun."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
***POV ALLARD***
Khawatir. Itulah yang sedang dirasakan olehku. Saat terbangun tadi, aku tidak menemukan sosok Alexa di sampingku, padahal istrinya itu berjanji tidak akan pergi kemana-mana. Aku mencari Alexa di sekitar rumah sakit tapi nihil. Aku tidak bisa menemukannya.
"Tuan?! Kenapa tuan ada di luar?" tanya Dion kaget.
"Dimana Alexa?!"
"Nona..."
"Apa?! Kamu pasti tau Alexa ada dimana, cepat katakan!"
"Ada apa ini?" tanya Merry yang tidak sengaja melihat mereka berdua.
__ADS_1
Aku menghampiri perempuan itu dan meremas bahunya. "Kamu asisten pribadi Alexa, kan? Dimana dia?!"
"Tuan tolong tenang dulu," ucapnya.
"Tenang?! Bagaimana saya bisa tenang di saat saya tidak tau keberadaan istri saya."
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya kakek yang tiba-tiba datang.
"Iya, kenapa kalian ribut di luar gini? Allard kamu kenapa ada di luar dengan penampilan acak-acakan begini?" tanya Alvaro.
"Alexa hilang," jawabku.
Alvaro pun terkejut mendengar adik kesayangannya itu menghilang. "Hilang?! Bagaimana bisa?"
"Merry jelaskan apa yang terjadi di sini?!" ucap kakek.
"Maaf sebelumnya tapi lebih baik kita pindah tempat karena tidak sopan berbicara di sini."
"Benar, lebih baik kita pindah tempat terlebih dahulu."
Kami semua pindah ke ruangan pribadi Alexa.
"Sekarang jelaskan apa yang terjadi di sini!" perintah kakek.
Tiba-tiba saja Dion berdiri dan membungkuk. "Maafkan saya, tuan."
"Maaf? Untuk apa?" tanya Alvaro.
"Ini semua kesalahan saya karena tidak sengaja mengatakan hal yang tidak seharusnya saya katakan."
Brakk! Aku menggebrak meja dengan sangat keras. "Apa yang telah kamu katakan pada Alexa hah?!"
"Saya mengatakan kalau tuan sudah bosan dengan rumah sakit, karena hal itu nona menjadi curiga dan mengancam saya untuk mengatakan maksud dari perkataan saya. Saya bersikeras untuk tetap diam tetapi saya bodoh dan malah meminta nona untuk bertanya pada tuan Bagaskara dan tuan Alvaro. Setelah itu nona pergi begitu saja," jelasnya.
Seketika darahku terasa mendidih. Amarah menguasai diriku saat ini. Aku pun menghajar Dion secara brutal. "BRENGSEK! KARENA KECEROBOHANMU ITU KITA TIDAK TAU ALEXA ADA DIMANA SEKARANG!"
Semuanya mencoba menahan dan menenangkan aku.
"Tenanglah Allard, Dion bisa mati!"
"Iya, tuan. Ini juga salah saya karena tidak bisa menahan nona Alexa."
"CUKUP!" Semua berhenti saat kakek membuka suara. "Allard saya tau kalau kamu marah, tapi menghajar Dion tidak membuat Alexa ditemukan."
Aku pun terdiam.
"Merry."
"Iya, tuan."
"Kamu ditugaskan untuk menjaga cucu perempuan saya, tapi kamu gagal dan tidak bisa menjaganya. Kamu tau kan sekarang dia sudah menjadi lebih kuat, bagaimana kalau Alexa bertemu dengannya?!"
"Maaf tuan, saya pantas mendapat hukuman dari anda."
"Dan Dion saya sangat kecewa dengan kecerobohanmu itu. Bagaimana bisa asisten profesional sepertimu melakukan hal bodoh itu?!"
"Saya pantas dihukum, tuan Bagaskara."
"Kita harus bagaimana kakek? Alexa hilang dari beberapa jam yang lalu dan mustahil ditemukan kalau sekarang kita mencarinya dengan menggebu-gebu. Kenapa kalian berdua sangat bodoh! Mengapa menjaga satu perempuan saja kalian tidak becus!" ucap Alvaro sambil mengacak rambutnya. Dia frustasi karena adik kesayangannya menghilang dengan kondisi hati yang emosi.
"Aku akan mencarinya," putusku.
"Jangan gila, Allard! Kondisimu sedang tidak baik, kalau kamu mencarinya tanpa rencana itu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga," kata kakek.
"Aku tidak peduli! Saat ini Alexa lebih penting. Dan kalian berdua, kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan istri saya jangan harap kalian bisa lolos!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu aku langsung pergi.