
5 bulan pun berlalu. Kini persiapan pernikahan aku dan Allard hampir matang, tinggal fitting baju dan semua selesai.
Sore ini Allard berjanji untuk menemaniku fitting baju. Yahh 5 bulan yang kamu habiskan untuk mempersiapkan acara pernikahan membuat kami cukup dekat sekarang.
"Allard, nanti jadi temenin aku fitting gaun, kan?" tanyaku.
"Maaf Alexa, nanti sore aku ada janji dengan salah satu klien dan dia merupakan klien penting," jawab Allard menyesal.
"Kamu udah janji dari jauh-jauh hari loh. Kok dibatalin tiba-tiba sih."
"Iya aku tau, tapi ini benar-benar penting. Maafkan aku."
"Jadi lebih penting klien kamu dibandingkan aku?"
"Bukan gitu, ck tolong mengertilah Alexa. Aku tidak bisa hari ini."
"Kamu berdecak? Jadi begitu sikapmu huh? Oke! Aku bisa kok fitting gaun sendiri tanpa ditemani olehmu!"
Setelah mengatakan itu aku langsung mematikan teleponnya.
"Apa apaan ini? Dia lebih mementingkan kliennya dibandingkan aku?!" omelku.
"Tenanglah, Alexa."
"Aku tidak bisa tenang, Merry. Kamu dengar sendiri tadi, Allard bahkan berdecak padaku. Dia sangat menyebalkan!"
"Baiklah. Lebih baik kamu minum teh ini dulu. Ini dapat menenangkan emosimu," ucap Merry sambil memberikan secangkir teh hangat.
Aku pun meminumnya.
"Wah teh apa ini? Sangat enak dan harum, stressku benar-benar berkurang setelah meminumnya," pujiku.
"Aku tau belakangan ini kamu pasti sedang lelah. Itulah mengapa aku bertanya pada temanku yang ahli tentang teh, tapi aku sangat kasihan dengan temanku itu."
"Kasihan kenapa?"
"Pengetahuannya tentang daun teh sangatlah luas. Bahkan dia bisa membangun perusahaan teh terbesar dengan pengetahuannya itu, tapi sayangnya tidak ada satu pengusaha pun yang ingin bekerja sama dengannya karena mereka semua meragukan temanku ini."
"Berapa umur temanmu itu, Merry?"
"15 tahun."
Mendengar itu, aku langsung tau alasan para pengusaha menolak untuk diajak kerja sama.
"Bisakah kamu mempertemukan aku dengannya?"
"Tentu saja Alexa, tapi untuk apa?"
"Aku cukup tertarik dengannya setelah mendengar ceritamu. Aku berniat mengajaknya bekerja sama dan aku harap dia sesuai dengan yang kau ceritakan tadi."
"Tentu! Dia tidak akan mengecewakanmu." Setelah itu aku melanjutkan pekerjaanku.
Sore harinya, aku pergi ke butik untuk fitting gaun.
"Bagaimana nona? Apakah anda suka dengan model ini?"
Kulihat diriku yang sangat cantik itu di cermin, aku sangat suka dengan gaun ini. "Suka! Sangat suka! Aku akan memilih model ini."
"Tidak bisa," ucap seseorang.
"Allard?!"
"Ganti model lain," kata Allard dengan nada tak suka.
"Tidak mau. Aku suka dengan model ini."
__ADS_1
"Aku bilang ganti, Alexa. Aku tidak suka dibantah."
"Berikan alasannya!"
"Gaun itu terlalu terbuka," jawabnya.
"Terbuka darimana sih?"
"Bahumu terekspos sangat jelas."
"Memang sengaja! Aku suka dengan bentuk bahu milikku ini, itulah mengapa aku memilih gaun dengan model bahu yang terbuka seperti ini."
"Aku tidak menyukainya. Ganti!"
"Tidak mau!"
"Alexa Olivia Harrison."
Saat Allard memanggil namaku dengan lengkap, itu artinya dia sudah pada batas kesabarannya. Tapi aku juga tidak bisa menurutinya begitu saja, ini adalah gaun pernikahan yang dimana hanya aku kenakan sekali seumur hidupku. Jadi tentu saja ini harus sesuai dengan keinginan aku.
"Maafkan saya, tuan. Saya mengerti alasan anda tidak suka dengan gaun yang dipilih oleh nona Alexa tapi anda juga harus memikirkan perasaan nona Alexa. Bagaimana pun ini adalah gaun yang hanya digunakan sekali seumur hidup," kata seseorang.
Siapa pria ini? Tanyaku dalam hati.
"Ah iya sebelumnya perkenalkan saya Dion Hastanta, asisten tuan Allard," ucapnya memperkenalkan diri, seakan dia tau apa yang sedang kupikirkan.
"Hastanta? Aku tidak asing dengan nama itu," gumamku.
"Pokoknya kamu harus ganti model gaunnya karena aku tidak suka!" perintahnya.
"Tuan, bagaimana kalau nona pakai outer jaring supaya bahunya tidak terlalu terekspos tapi juga tidak terlalu tertutup? Bukankah cukup adil untuk kalian berdua?" kata Dion memberi saran.
"Ide bagus! Kenapa saya tidak terpikirkan hal itu!" ucap pembuat gaun.
"Baiklah, aku setuju dengan itu," ucapku.
Tak terasa hari pernikahan pun tiba.
"Nona Alexa, 10 menit lagi ke aula," ucap seseorang.
"Baik."
"Aduh cucu kakek cantik banget," puji kakek.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Udah siap? Ayo kita turun, semua tamu sudah menunggu." Aku menggandeng tangan kakek dan berjalan ke aula. Setelah pintu besar terbuka, lagu pun dimainkan. Kakek berjalan ke pengantin pria untuk mengantarku.
Sesampainya di depan pengantin pria, kakek memberikan tanganku kepadanya. "Jaga cucu kesayangan kakek baik-baik, Allard."
"Pasti." jawabnya tegas.
Setelah kami mengucapkan sumpah setia, acara pestanya pun berjalan dengan lancar. Semua tamu tampak menikmati acaranya. Yah aku bersyukur untuk itu.
"Kamu terlihat sangat cantik," puji Allard.
Aku menghiraukannya.
"Kenapa? Kamu terlihat tidak bersemangat hari ini."
Waktu yang kamu habiskan untuk mempersiapkan ini semua memang membuat kami menjadi lebih dekat, tapi aku belum menemukan satu pun hal tentang dia. Yang aku tau sekarang hanyalah nama dan umurnya. Siapa sebenarnya dia? Mengapa susah sekali mencari hal tentang dia.
"Alexa."
"Iya?"
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kamu sakit? Mau pulang sekarang?" tanyanya beruntun.
"Aku baik-baik saja, Allard," jawabku.
"Bilang padaku kalau kamu lelah." Aku mengangguk.
Acara pun selesai. Semua tamu pamit untuk pulang.
"Menginaplah malam ini, Allard," ujar kakek.
"Saya mau tapi sayangnya saya tidak bisa pak Bagas karena masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan," jawab Allard.
"Panggil aku kakek, kau juga cucuku sekarang."
"Baik, kakek."
"Hmmm begitu. Yaudah apa boleh buat kalau kamu tidak bisa."
"Kamu masih memikirkan pekerjaan di hari pernikahan kita?" tanyaku kesal
"Maaf Alexa, pekerjaan ini sangat penting. Aku akan menjemputmu besok."
"Terserah."
Allard mencium keningku dan pergi. Di malam pertama kami, aku malah ditinggal sendirian.
Sesampainya di rumah kakek, aku langsung membersihkan diri dan tidur.
"Alexa, tidak semua orang yang berhubungan dengan " hal " itu buruk sayang," ucap seseorang.
"Siapa kamu?" tanyaku.
Aku tidak bisa melihat wajahnya. Gelap.
"Ikuti kata hatimu. Jangan karena masa lalu, kamu jadi mewaspadai semua orang."
Aku pun terbangun. Entah mengapa aku merindukan ayah dan ibu. Aku bergegas mandi dan pergi ke suatu tempat.
Aku mendekati kedua batu nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuaku.
"Ayah, Ibu, Alexa kangen banget sama kalian. Oh iya Alexa sekarang udah besar, Alexa udah jadi istri seseorang. Tapi Alexa bingung, Alexa tidak tau apapun tentang suami Alexa ini. Alexa takut kalau dia ada hubungannya dengan " hal " itu. Apa yang harus Alexa lakukan kalau ternyata dia memiliki hubungan itu? Alexa belum siap ayah ibu." Aku menumpahkan segala perasaan yang menumpuk selama ini.
"Yaudah Alexa pamit dulu ya, ayah dan ibu. Alexa bakal sering-sering ke sini. Sekarang Alexa harus kerja, banyak pasien yang menunggu Alexa." Setelah itu aku mencium kedua batu nisan itu dan pergi.
Tiba-tiba seseorang lari ke arahku dan memelukku. "ALEXA."
"Allard?!"
"Aku udah bilang akan menjemputmu!Kenapa kamu tidak menunggu aku?!"
"Maaf."
Dia mengacak rambutnya frustasi. "Jangan lakukan hal ini lagi!"
Aku mengangguk. Jujur aku takut dengan Allard saat ini.
Allard kembali memelukku. "Aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya khawatir. Sekarang kita pulang ya?"
Aku menggeleng. "Aku harus pergi bekerja, Allard."
"Hari ini kamu libur, aku udah minta izin tadi ke atasan kamu."
"Tidak mau. Untuk apa aku libur tapi kamu sendiri kerja."
"Aku juga libur hari ini. Jadi ayo kita pulang dan tata rumahnya sesuai yang kamu inginkan."
__ADS_1
Kita pun pulang.
Pulang? Kemana? Entahlah.