Rahasia Keluargaku

Rahasia Keluargaku
Ingatan


__ADS_3

Di perjalanan ke supermarket, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah kami. Aku segera mendorong Bella lalu mobil itu menabrak tubuhku hingga terlempar lumayan jauh dan kepalaku terbentur keras ke jalanan. Mobil itu langsung pergi begitu saja.


"MOMMY." Bella berlari menghampiriku.


Kepalaku sangat sakit. Tiba-tiba muncul potongan ingatan-ingatan yang bahkan aku tidak tau kalau aku mempunyai ingatan itu.


"Mari kita menikah saat kita dewasa."


"Iya."


"Jangan membantah saya! Dasar anak tidak tau diri!"


"Kamu harus menjadi anak yang berguna, Alexa!"


"Papa, Alexa lapar."


"Jangan manja! Kamu adalah aset berharga keluarga Smith."


"Tubuhku sakit semua."


"Aku janji akan mengeluarkan kamu dari neraka itu."


"Tidak! Kamu telah dijodohkan dan kamu harus menikah dengan keluarga kerajaan!"


"Alexa, lari!"


"TANTE."


"Alexa, tetaplah hidup sayang. Kamu harus bahagia."


"Karena kamu, anak perempuan saya mati!"


"Halo adik kecil. Aku Alvaro, kakak laki-lakimu. Mulai sekarang aku akan menjaga dan menyayangimu."


"Mommy." Bella menangis melihatku.


Ah ternyata kepalaku berdarah karena benturan keras tadi.


"Jangan menangis, Bella. Mommy baik-baik saja," ucapku berusaha menenangkannya.


"Ke-kepala mommy berdarah," katanya sambil menangis.

__ADS_1


"Mommy hanya terluka kecil. Bella baik-baik aja, kan? Tidak ada yang terluka?" tanyaku sambil memeriksanya.


"Bella baik-baik aja," jawabnya.


Tiba-tiba Jessica datang. Jessica menghampiriku dengan raut wajah panik dan khawatir.


"Jessica? Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku bingung.


"Bella menelepon aku dengan handphonemu dan mengatakan kalau kamu tertabrak mobil," jawabnya.


Bella menjelaskan hal yang dia lakukan tadi. "Mommy diam saja tadi jadi Bella menelepon kak Jessica dan meminta tolong padanya."


"Kita ke rumah sakit sekarang." Jessica membantu aku berdiri dan masuk ke mobilnya. Bella mengikuti dari belakang.


Sesampainya di rumah sakit. Aku langsung ditangani oleh dokter. Selama lukaku diobati, terpikir olehku apa yang sebenarnya aku lihat tadi? Kenapa anak kecil yang dipukuli itu mempunyai nama yang sama denganku.


Tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti melayang dan...entah bagaimana aku berada di tempat yang aku tidak ketahui.


"Dimana ini? Bukankah aku ada di rumah sakit?" tanyaku.


Aku mencoba melihat-lihat ke sekeliling rumah itu. Mataku terfokus pada sebuah foto besar yang berisi seorang pria dewasa, seorang wanita dewasa, dan seorang anak perempuan. "Anak perempuan itu mirip denganku. Apakah ini aku? Dan dua orang dewasa ini adalah orang tua asliku?"


"Kenapa aku tidak bisa memegang gagang pintunya? Apakah aku bisa masuk tanpa harus membuka pintunya?"


Aku pun mencobanya dan berhasil. Aku masuk tanpa harus membuka pintunya.


Tapi saat aku melihat ruangan ini, tiba-tiba saja tubuhku bergetar hebat. Ada ketakutan yang sangat besar. "Kenapa aku seperti ini? Padahal aku tidak tau tempat apa ini."


Aku mencoba berjalan perlahan dan mencari sumber suara itu. Ternyata yang menangis adalah anak perempuan. Dia meringkuk di pojok ruangan ini. Aku mendekatinya dan mencoba berbicara padanya tapi dia tidak merespon, dia terus saja menangis. Saat dilihat dari dekat seperti ini, aku baru menyadari kalau tubuhnya penuh dengan luka cambukan dan lebam. Aku ingin memeluknya tapi tidak bisa. Seperti pintu tadi, aku juga tidak bisa menyentuhnya.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan sangat keras dan berteriak. "JANGAN TERUS MENANGIS!"


Dia mendekati anak perempuan itu dan menjambak rambutnya. Saat melihat wajah anak itu, aku sangat terkejut karena ternyata anak kecil itu adalah aku. Apa sebenarnya ini semua? Aku masih tidak paham.


"Sakit, pa. Jangan tarik rambut Alexa seperti itu," ucap anak kecil itu sambil memegangi kepalanya.


"Sakit? Ini belum seberapa. Kamu harus terus bertambah kuat untuk bisa menguasai seluruh dunia," jawabnya.


"Alexa tidak mau menguasai apapun. Alexa hanya ingin hidup dengan tenang dan damai bersama mama dan papa," kata anak kecil itu.


"Hidup kita tidak akan bisa damai kalau belum menguasai dunia. Ikuti perkataan papa kalau kamu menginginkan hal itu!" bentaknya.

__ADS_1


"Alexa lelah, pa! Alexa lelah menuruti perkataan kalian semua!" teriak anak kecil itu.


Pria itu menampar pipi anak kecil itu. "Kamu tidak berhak mengeluh! Kamu pikir membiayai hidupmu itu murah hah?! Mulai dari sekolah, kelas menembak, kelas memanah, dan kelas lainnya. Emang kamu pikir itu semua murah, Alexa?!"


"Alexa tidak pernah memintanya!" jawabnya.


Pria itu pun tertawa. "Oh berani kamu melawan ya? Semenjak kamu bertemu dengan anak laki-laki itu, kamu jadi selalu membantah perkataan papa."


"Ini tidak ada hubungannya dengan Allard. Jangan bawa-bawa dia ke masalah ini," ujarnya.


Aku terkejut saat nama Allard keluar dari mulut anak kecil itu. Allard? Aku mengenal Allard sejak kecil?"


"Dia ada hubungannya dengan ini. Karena dia, kamu jadi selalu membantah. Papa akan memberi perhitungan padanya." Orang yang anak kecil itu panggil papa langsung keluar.


"JANGAN SAKITI ALLARD, PA!" Anak kecil itu berusaha mengejar papanya tapi tidak bisa. Dia tidak bisa berlari dengan benar karena kakinya penuh dengan luka yang menyakitkan.


Anak kecil itu hanya bisa menangis dan meminta maaf. "Maafin aku. Maafin aku karena kamu jadi ikut terlibat, Allard."


Tiba-tiba aku berpindah tempat.


"Tempat apa lagi ini?" tanyaku sambil melihat ke sekitar. Tempat ini sangat gelap dan berbau darah.


Terdengar suara cambukan dari ruangan sebelah sana. Aku menghampiri ruangan itu dan melihat apa yang sedang terjadi.


Aku menutup mulutku saat melihat seorang anak laki-laki yang sedang dicambuk oleh pria yang dipanggil papa oleh anak perempuan tadi.


"DASAR SIALAN! KARENA KAMU PUTRIKU JADI SELALU MEMBANTAH!" ucapnya sambil terus mencambuk anak laki-laki itu.


"Astaga, sampai kapan dia akan mencambuk anak laki-laki itu? Tubuhnya sudah mengeluarkan darah yang sangat banyak," ucapku.


"Dia membantah karena perintah anda yang tidak masuk akal. Bertobatlah tuan," ucap anak laki-laki itu tenang.


"Anak kecil sepertimu jangan sok mengajariku. Tau apa kamu? Kamu hanyalah bocah ingusan yang membuat putriku menjadi nakal," kata pria itu.


"Jadi bagi anda, anak nakal itu adalah anak yang tidak menuruti perintah tidak wajar dari orang tuanya? Hahaha lucu sekali." Anak kecil itu pun tertawa.


"Sialan. Kamu dan orang tuamu sama saja. Kalian sama sama sok suci dan bersih. Padahal keluarga kalian juga tidak jauh beda dengan keluarga Smith!" celanya.


"Keluarga kami memang terjun ke dunia mafia tapi orang tua saya tidak pernah sekali pun memerintahkan saya untuk melakukan hal yang kejam. Orang tua saya juga tidak pernah memukul dan menyakiti saya. Tidak seperti anda yang...ah saya sampai tidak habis pikir ada orang tua yang sekejam itu dengan anaknya. Kalian berdua bahkan lebih buruk daripada hewan. Hewan saja masih menyayangi anaknya," hina anak kecil itu.


Pria itu menarik rambut anak laki-laki itu dan memukulnya. Setelah puas, dia keluar dengan nafas memburu.

__ADS_1


__ADS_2