Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 21


__ADS_3

Beberapa bulan terlewati...


Vina baru saja pulang dari memeriksakan kandungannya, saat ini usia kehamilannya telah memasuki empat bulan. Vina senang dengan hasil USG yang menunjukan kalau jenis kelamin anaknya adalah laki laki. Tapi rasa senang itu langsung hilang karena ingat setelah lahir anak itu akan diambil paksa oleh Dimas dan Desi.


Untuk menghibur hatinya yang sedih, Vina memutuskan untuk pergi ke pasar. Dia membeli beberapa pakaian bayi dan pernak perniknya. Semua berwarna biru, dengan motif bintang dan binatang lucu.


Dimas mana sempat menemani Vina berbelanja keperluan bayi mereka, menelfon dan bertanya kabar saja tidak. Usai mengatakan kalau Desi sedang cidera, Dimas belum datang untuk menjenguknya lagi. Tapi uang bulanan untuknya selalu rajin di kirim.


Pak Anton dengan setia mengawal kemanapun Vina pergi, keluar masuk toko pakaian, toko makanan dan kemudian Pak Anton juga rela menjadi kuli panggul untuk Nona mudanya.


"Setelah ini kita mau kemana lagi Nona?" Tanya Anton.


"Kita pulang saja, sepertinya belanja kita hari ini sudah cukup," sahut Vina.


Prang....


Suara benda terjatuh, Vina menoleh ke samping dan mendapati Ibunya sedang mematung dan menatapnya sambil menangis. Sebuah panci yang baru Karti beli penyok karena terjatuh dari genggamannya begitu saja.


"Ibu," Vina syok berat. Dia terhuyung dan hampir jatuh, untung saja Anton sigap menangkapnya.


🍃🍃🍃


Rumah kedua Tuan Dimas...


"Jadi ini yang kamu maksud dengan pekerjaan baru? Menjadi istri simpanan seorang pria hidung belang?" Karti menangi sesenggukan. Dia tak percaya kalau Vina rela menggadaikan kehormatannya untuk beberapa gepok uang. Meski uang itu yang berhasil menyelamatkan nyawa Ayahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku," hanya kata itu yang keluar dari mulut Vina.


"Ayahmu bisa mati mendadak kalau tau soal ini," ucap Karti.


"Jangan sampai Ayah tau, aku mohon Bu," Vina mengiba.


"Sekarang Ibu harus bagaimana? Mencoret namamu dari kartu keluarga dan mengusir mu pergi dari rumah begitu?" Karti meninggi suara.


"Ibu boleh melakukan apapun padaku, tapi jangan sampai Ayah tau soal ini. Aku melakukan semua ini untuknya, aku tidak mau dia merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku Bu,"


"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya pada Ayahmu. Tapi Tuhan tidak tidur, cepat atau lambat Ayahmu pasti akan tau soal ini."


Vina menundukkan wajahnya, dia tidak kuat membayangkan Ayah tercintanya mengetahui kebohongan yang telah Vina lakukan selama ini. Menjual diri adalah hal yang tidak terpuji, apa lagi menjadi istri kontrak sekaligus menyewakan rahim.


🍃🍃🍃


Disisi lain, karti merasa kasihan kepada Vina karena dia harus hamil dalam usia muda. Padahal, remaja seusianya masih senang bermain dan mengenyam pendidikan diluar sana.


"Kamu kenapa? Kenapa kedua matamu sembab?" Bayu menatap kedua mata istrinya yang basah.


"Aku tidak kenapa napa, hanya kemasukan debu saja tadi," Karti berbohong.


"Pancinya mana? Katanya kamu pergi ke pasar mau membeli panci,"


Karti menepuk jidatnya, dia baru sadar kalau panci yang tadi dia beli tertinggal di salah satu gang yang ada didalam pasar tadi. Semua karena Vina dan perutnya, Karti jadi kehilangan fokus.

__ADS_1


"Uangku kurang, tertinggal sebagian di rumah. Besok aku ke pasar lagi untuk membeli panci itu," Karti kembali berbohong lagi.


Wanita paruh baya itu menatap wajah suaminya lekat lekat, dia ingin menceritakan tentang nasib putrinya kini. Tapi dia tidak tega, apa lagi Bayu belum sembuh betul.


"Jangan melamun, masak sesuatu untukku, perutku lapar!" Perintah Bayu.


"Iya, sabar. Dasar pria cerewet!" Omel Karti.


Karti pergi ke dapur untuk membuat makan malam, dia memasak dengan porsi kecil agar bisa habis dalam sekali makan. Saat sedang memasak, setengah pikiran Karti melayang kearah putrinya, karti sampai lupa berapa kali dia memasukan garam, gula dan penyedap kedalam masakannya.


"Aku ceroboh sekali, kalau rasanya tidak enak pasti dia akan memarahi aku," Karti memarahi dirinya sendiri.


Karti menata makanan diatas meja makan, setelah semuanya rapih dia bergegas memanggil suaminya untuk makan malam bersama.


Wajah Bayu berubah saat memasukan beberapa sendok makanan ke dalam mulutnya. Rasa masakan istrinya sangat aneh, tidak enak seperti biasanya. Jelas sekali Karti memasak dengan pikiran yang bercabang.


"Apa ada masalah yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Bayu.


"Tidak, tidak ada. Kenapa memangnya?" Tanya Karti balik.


"Akhir akhir ini aku sering memimpikan Vina, aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Bayu.


"Dia baik baik saja, kalau dia ada masalah pasti dia akan telfon ke rumah," Karti mencoba menenangkan perasaan Bayu.


"Tapi, sudah beberapa bulan ini dia tidak pulang ke rumah, menelfon juga tidak," keluh Bayu.

__ADS_1


"Mungkin dia sedang sibuk, nanti kalau sudah ada waktu juga dia akan menelfon,"ujar Karti.


Bersambung...


__ADS_2